Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kepanikan Baru


__ADS_3

Haris mengikuti langkah dokter Hasan yang mencoleknya. Haris kembali duduk di kursi yang tadi malam sudah juga ia duduki, menghadap dokter Hasan yang langsung mengambil beberapa catatan.


“Hubungan Incest selalu saja menghadirkan efek”.


Dada Haris langsung berdesir. “Maksudnya dok ?”.


Dokter Hasan menghela nafas panjang, menggeleng juga. “Hubungan Incest belum pernah tidak memberikan efek pada keturunannya Pak Ris. Begitu juga dengan putri bapak”.


Jantung Haris langsung berdegub kencang. Haris paham apa yang dimaksud dokter Hasan, apapun ceritanya, Risda adalah anak dari hasil hubungan incest, hubungan tanpa sengaja antara Haris dengan adik kandungnya Natalia.


“Efek dari perkawinan sedarah itu ada yang fatal. Tapi, untuk Risda, kita hanya menemukan satu saja Pak Ris”.


Haris sudah mulai menggigil, sangat ketakutan. “Aapa itu dok”. Haris sudah gugup.


Dokter Hasan kembali hela nafas panjang. “Gangguan Jantung”.


Haris terhenyak. Bagaimana putrinya yang masih begitu muda sudah mengalami gangguan jantung. Haris tertunduk, ingin rasanya ia menangis, menyesal juga tak ada gunanya sekarang, karena semuanya sudah benar benar terjadi, yang penting hanya bagaimana mencoba mengatasinya dengan baik.


“Apa yang bisa kita lakukan dok ?”.


Dokter Hasan geleng kepala. “Untuk saat ini masih gejala, kita hanya bisa menyarankan agar Risda menjaga pola hidup sehat dengan mengurangi makanan berkolesterol tinggi serta melakukan olahraga secara rutin”.


“Contoh makanannya dok ?”.


“Banyak Pak Ris, Makanan cepat saji, hati sapi, daging ayam yang berlemak, udang, telur, es cream juga”. Jelas dokter Hasan.


Haris menghela nafas panjang, ia sama sekali buta dengan keseharian Risda, ia sama sekali tak tahu makanan kesukaan putrinya itu, sama sekali tidak tahu. Haris kembali menghela nafas panjang, mungkin nanti bertanya ke Natalia, atau mungkin Asrul juga tahu banyak, pikir Haris.


“Kesalahan masa lalu yang ternyata terus membekas”. Haris mengeluh.


Dokter Hasan gelengkan kepala. “Tidak seburuk itu Pak Ris. Yang terpenting Pak Haris benar benar kontrol makanan Risda, kalau tidak, bisa berakibat buruk di kemudian hari”.


Haris anggukkan kepala. “Insha Allah dok”.


Keduanya sama berdiri, Haris menyalami dokter Hasan dengan hangat, di pintu, dokter Hasan langsung menuju pasien lainnya. Pikiran Haris menjadi kalut lagi, ini hal yang diluar jangkauannya.


Bagaimana Haris bisa mengontrol makanan Risda, bagaimana Haris bisa melakukan itu dengan baik, Haris saja menjadi sering ke desa Risda bertugas lebih banyak karena curi curi waktu, sebenarnya tak ada jadwal khusus kesana.


Sebelum ini, Haris menjadi sering kesana karena hobby mancingnya, dan sudah sangat cocok dengan Buang, dimana Buang selalu paham apa yang menjadi kesukaan Haris, bahkan semua peralatan mancing Haris di tinggal di rumah Buang.


Tidak mungkin juga Haris tiap hari kesana, kalaupun bisa, itu juga tidak akan sepenuhnya bisa mengatasi pola makan Risda, sehingga yang paling tepat sebenarnya membawa Risda tinggal bersamanya, tapi dimana kemungkinan itu bisa ?.


Haris melangkah gontai kembali menuju kamar inap Risda, tapi langkah Haris tertahan di pintu saat mendengar Risda dan Asrul sama tertawa, Haris coba mengintip, kembali Haris geleng kepala, Asrul dengan telaten sedang menyuapi Risda makan.

__ADS_1


Haris tak jadi masuk. Haris melihat ada bangku panjang disana, akhirnya Haris memilih duduk saja, menunggu Asrul selesai menyuapi Risda. Tapi kemudian, Haris teringat Natalia, kenapa tak tanya saja, pikir Haris.


Akhirnya Haris menjauh, memilih taman halaman samping rumah sakit, ini tempat yang menurut Haris paling okey, udaranya juga sejuk. Harus ambil ponselnya dan langsung menghubungi Natalia.


“Abang ..”.


Haris bahkan harus menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar jeritan senang Natalia yang menerima telephon darinya. Haris geleng kepala juga akhirnya, ia tak menyangka adiknya sampai menjerit begitu.


“Abang apa khabar ?”.


Haris tertawa kecil. “Sehat. Lia bagaimana ?”.


“Sehat juga Bang”.


“Eh, Li. Risda biasanya suka makanan apa ?”.


Natalia tertawa kecil saja. “Banyak Bang, kenapa ?”.


“Lusa kan ulang tahunnya Li, Abang mau bawa dia ke kota”.


Haris tiba tiba dapat inspirasi, ini tentu cukup bagus, dengan begitu, Haris tak harus menceritakan ikhwal yang sesungguhnya. Natalia juga terdengar tertawa renyah mendengar ungkapan Haris.


“Iya ya Bang. Lusa Risda ulang tahun”.


“Itu dia. Abang mau bawa dia ke kota, ngajak makan gitu. Biasanya Risda sukanya apa Lia ?”.


Haris langsung ciut, badannya malah jadi gemetar, Haris malah mulai merasakan keringat dingin mengalir di tubuhnya. Semua yang dikatakan Natalia adalah makanan yang mestinya di hindari Risda.


“Yang lain nggak ada li ?”. Haris mencoba tenang.


Natalia balik terdengar tertawa kecil. “Nggak ada lagi Bang. Biasanya memang itu.”.


“Gitu ya, yah .. nanti lah abang ajak dia makan makan”.


“Bang ..”. Natalia seperti menjerit lagi.


Haris kembali jauhkan ponselnya dan gosok telinganya. “Apa sih dek, kok main jerit saja, sakit kuping abang”.


Natalia malah tertawa cekikikan. “Hadiah untuk Lia mana ?, kan cuma beda dua hari dari Risda, malah Lia yang duluan kok Bang”.


Haris tertawa kecil, itu juga Haris ingat, bahkan sudah kirim. “Tapi sudah Abang kirim, masa belum nyampe, kan Online”.


“Itu Abang yang ngirim ?”.

__ADS_1


Haris tertawa kecil. “Iya, itu abang yang ngirim, kurang ?”.


Natalia kembali terdengar tertawa. “Nggak ah, sudah cukup itu. Tapi sudah habis semua Bang”.


Kening Haris agak berkerut. “Lho, kenapa ?”.


“Mobil rusak, Lia bawa ke bengkel, mahal Bang, habis semua”.


Haris menggeleng. “Iya, Iya, nanti abang ganti ya”.


“Serius Bang ?, nanti uang abang habis”. Tapi jelas, nada suara Natalia gembira.


“Nggak lah. Habis juga nggak apa apa, orang sama adek sendiri, memang kenapa kalau habis”.


Natalia jadi kembali terdengar tertawa. “Abang bisa saja”.


Haris balik tertawa kecil. “Bulan ini abang ada bonus, nantilah kita lihat ya, kalau cukup, Adek ganti saja mobilnya, tapi mobil yang biasa biasa saja ya dek, uangnya nggak banyak juga itu”.


Natalia langsung terdengar riang. “Beneran Bang ?”.


“Iya, Iya, doakan saja bonusnya banyak ya, biar bisa beli yang baru”.


Natalia langsung tertawa girang. Cerita kemudian sudah ngalor ngidul entah kemana, hingga keduanya sama capek dan menyimpulkan menyelesaikan perbincangan lewat ponsel ini, karena kuping keduanya sudah sama sama panas.


Begitu telephon terputus, Haris menunduk, untuk yang kesekian kalinya Haris kembali tak mampu membendung air matanya. Menyesal, sangat menyesal, kenapa semua kisah ini hadir, seharusnya Natalia adalah adik manjanya, adik yang harus ia jaga, tapi ia sendiri yang merusaknya.


Kenapa ketidaktahuan itu terlampau lama memakan masa mereka, kenapa hingga ada kejadian yang membawa Risda lahir kedunia baru ketidaktahuan itu terbuka, ini sangat menyakitkan sebenarnya, sangat membuat luka.


Apalagi Risda, ternyata ia membawa beban sejak lahir kedunia, beban yang juga hadir karena ketidaktahuan ayah dan ibunya. Beban itu kini nyata, dokter sudah menemukannya, semuanya sudah terbuka.


Mendengar makanan kesukaan Risda, Haris menjadi panik sendiri, berulang kali Haris menghusap wajahnya, hembuskan nafas kuat kuat, duduknya juga serasa tak bisa nyaman, Haris benar benar kasak kusuk, bingung sendiri.


Jangan jangan selama ini jantung Risda sudah terpicu, jika memang itulah kebiasaan makannya, maka bukan tidak mungkin sebenarnya sekarang kondisi jantung Risda tidak sehat sama sekali, karena belum fatal sekali, belum terlihat.


Haris kembali tertunduk dan menutup wajahnya dengan dua tangan, kembali hela nafas dalam. Haris bagaimanapun caranya harus memiliki trik untuk menghindarkan Risda dari makanan makanan itu, tapi bagaimana caranya ?, Asrul, Asrul mungkin jadi salah satu caranya, berharap Asrul punya strategi.


Tapi Haris malah punya ragu, apakah nanti setelah tahu soal jantung Risda, Asrul malah berpikiran lain ?. Haris punya ragu yang cukup, tapi juga punya keyakinan yang cukup juga, tinggi malah.


Kalau memang Asrul benar benar suka pada Risda, maka kondisi Risda bukan hal yang akan mampu menghempang jalannya. Itu memang penyakit yang sering membawa kematian, akan tetapi bukan penyakit yang tak bisa dikendalikan.


Jika ada kesungguhan dan kegigihan, maka semuanya bisa berjalan baik, Haris yakin jika Risda juga demikian. Putrinya pasti anak yang kuat, bukan anak manja yang hanya berlindung di pelukan mamanya, ia kuat, buktinya Risda bisa sejauh ini hingga ke pedalaman, jika bukan karena karena kuat, itu tak akan terjadi.


Haris akhirnya berdiri juga, kembali melangkah menuju kamar Risda, Haris terlebih dahulu mengintip, ia melihat Asrul yang duduk di kursi disamping tempat tidur Risda sambil membaca buku yang ada di tangannya.

__ADS_1


Risda mengarah ke Asrul, ia tidur menyamping, tapi jelas matanya terpejam. Haris yakin jika Risda sedang tidur. Perlahan Haris membuka pintu dan masuk, Asrul menyambut Haris dengan senyuman yang mengembang sempurna.


… Bersambung …


__ADS_2