Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Dahrul Perkasa Alam


__ADS_3

Usai makan, semuanya beranjak melanjutkan obrolan di ruang tengah, Ariana di bantu Risda yang membereskan dapur. Cerita masih seputar makanan baru ala Iskandar. Akhirnya Iskandar cerita juga, waktu di Australia, saat sedang tak punya uang yang cukup, ia dan temannya yang tinggal satu kost sering melakukan itu, agar banyak, maka mie instan dicampur sayuran.


Tawa semuanya langsung terhenti saat Meeta, Mutia, Reni dan Faridha muncul. Farhan langsung mengerutkan kening, memeluk Faridha yang lansung duduk di sampingnya, Farhan bingung karena mata istrinya yang sembab, sudah tiga kali Farhan bertanya, tapi Faridha hanya menjawab dengan gelengan.


Semua tentu menjadi heran dan kembali geleng kepala, terutama Asrul. Farhan dan Faridha sama parahnya, mau pelukan dimana saja nggak pernah masalah bagi keduanya, disini semuanya sedang duduk bersama, lengkap malah. Tapi Farhan dan Faridha seperti tak melihat siapa saja, keduanya begitu juga.


Faridha erat memeluk lengan Farhan dan bersandar dibahu suaminya, Farhan terus mengelus punggung Faridha dan sesekali mencium kepala sang istri. Mahdan dan Iskandar hanya buang nafas berat, keduanya sama sekali tak punya keberanian melakukan hal demikian di depan yang lain.


“Lu nggak mikir apa Far, Faridha itu masih 18 tahun, nggak mikir panjang elu ya”. Reni yang mengomel.


Iskandar langsung menarik tangan Reni. “Kenapa sih dek ?, kok ngomel malah ?”.


“Nggak ngerti Bang. Puyeng Reni mah liat si adek, nggak mikir apa, Faridha tuh masih semester I, masih 18 tahun itu”.


Kening Iskandar jadi berkerut. “Iya, emang kenapa ?, Faridha emang masih semester I, nggak mungkin langsung nyusun skripsi kan ?”.


Reni langsung manyun, ini membuat yang lain jadi sama sama tertawa kecil sambil geleng kepala, tapi pertanyaan tetap sama, apa yang membuat Reni malah omelin Farhan, yang di omeli juga tak tahu salahnya apa, sedang Faridha makin menunduk di bahu Farhan.


“Abang ah, bukan itu”.


Iskandar senyum tipis. “Apa dong kalo gitu ?”.


Reni menggeleng panjang. “Welcome to Farhan Family”. Reni senyum angkat bahu. “Farhan junior is coming”.


Apa ?, itu yang ada di kepala semuanya, membuat semua mata langsung mengarah ke Faridha, mata Farhan bahkan membulat sempurna, tapi Faridha malah makin membenamkan wajahnya di bahu Farhan, Faridha merasa malu, ia terus menggeleng dan makin mengeratkan pelukannya ke lengan Farhan.


Ariana yang langsung melonjak, Risda juga penuh dengan senyuman, keduanya langsung mendekat, Faridha kemudian jadi beralih, sekarang ia membenankan wajahnya di dada Risda.


Risda mengelus elus pelan punggung Faridha. “Ya, nggak apa apa dong dek, namanya istri ya begitu, kok malah nangis gitu”.


Faridha hanya diam, tapi kemudian jadi senyum juga, melepaskan pelukannya karena mendapat gelitikan dari Ariana. Farhan benar benar melongo, ia tak pernah berpikir ke arah itu, yang mereka tahu selama ini hanya bahagia, selalu bersama, pantang ketemu, namanya juga pengantin baru. Farhan tak pernah mengira kalau ia akan jadi ayah secepat ini, saat ia masih semester III dan Istrinya malah masih semester I.


“Jadi, bakal jadi ayah ayah lu dek ?”. Ledek Iskandar.


Farhan senyum kecut. “Abang juga kan ?, sama kan ?”.


Mutia langsung menjewer Farhan. “Lu ya dek, lu mau samain elu ama Iskandar, nggak cocok tahu ?, Iskandar ama Reni tu mah sudah mateng, eh elu dek, jangankan matang, mengkal aja belum, sadar nggak lu”.


Farhan meringis memegangi telinganya yang sedikit memerah, tapi sadar juga apa yang dikatakan kakaknya, usia Farhan saja belum genap 20 tahun. Semuanya kembali tertawa lengkap dengan gelengan kepala masing masing, memang terlihat lucu, menggelikan memang, bagaimana pasangan semuda Farhan dan Faridha akan menjadi ayah dan ibu, itu akan tampak lucu.


Agung hanya mampu tertawa kecil, tapi tawanya cukup panjang, tubuh Agung tampak terus bergoyang menahan tawa, sesekali Agung juga menepuk pelan jidatnya, saling pandang dengan Meeta, sama sama menggeleng dan sama sama senyum senyum kecil.

__ADS_1


Memang agak terasa aneh, Agung akan punya cucu dari anaknya yang baru 19 tahun, ia akan punya cucu dari menantunya yang beberapa bulan kemarin baru selesai UN. Agung memijit keningnya yang sebenarnya tak begitu pusing, ada mungkin yang terlupakan, membiarkan Farhan dan Faridha begitu saja, seharusnya ada antisipasi sebelumnya.


“Kalau di kampung Abang itu ada istilahnya tu Far ?”.


“Apa Bang ?”. Reni yang penasaran, Farhan hanya nyengir saja.


“Kalau di kampung namanya ayah ayah plastik itu namanya”.


Mutia ikut cekikikan. “Ayah ayah kurang umur ya Is”.


Iskandar anggukkan kepala. “Bisa jadi Kak”.


“Abang ada ada saja”. Reni ikut menggeleng dan tertawa juga.


Obrolan jadi makin renyah, Iskandar yang punya kemampuan dan keberanian bergurau dari barisan menantu, kalau Mahdan tak punya nyali untuk itu, tidak tahu apa alasannya, Mahdan hanya berani tertawa, untuk ikut menambah canda, sama sekali Mahdan tak bisa, padahal di kantornya, Mahdan termasuk orang yang suka buat keributan diantara pengacara yang ada di sana.


“Tapi nggak apa apa juga itu Bang Is. Nantikan bisa sama besar sama ayahnya”. Sela Tomy yang juga ikut menggeleng panjang.


“Iya sih Tom, takutnya nanti manggilnya Om”. Balas Mutia.


“Masih mending, nah, kalau manggilnya Kang Mas gimana”. Sambut Reni.


Asrul juga menggeleng panjang, ini yang Asrul agak khawatir sejak pertama, usia mereka yang terlampau muda tidak akan bisa menahan diri. Tapi menurut Asrul, merekalah yang dewasa yang salah jikapun ini sebuah kesalahan, seharusnya bisa memperhitungkan ini sebelumnya, sehingga ada upaya untuk mencegah atau bentuk lain yang semacamnya.


Mutia yang sedikit punya rasa minder, ada empat wanita anak bersuami di rumah ini, tiga yang lain sekarang sedang mengandung, hanya Mutia yang belum dapat, Mutia sudah periksa juga, semuanya aman dalam pandangan dokter Laila, Mahdan juga sudah ikut periksa, hasilnya juga normal, paling tidak itu yang membuat Mutia tenang, di tambah Mahdan yang tak persoalkan itu sama sekali.


Saat Reni kemarin diketahui hamil, Mutia mendesah, Mahdan malah tertawa dan memeluk Mutia dengan penuh mesra, Mahdan enteng mengatakan kalau Mutia hanya menunggu waktu yang tepat saja, Tuhan tahu mana yang terbaik, dia sudah membuat garisnya, kita di posisi menjalankannya sebaik yang kita bisa.


Itulah yang membuat Mutia semakin kuat, tapi kehamilan Faridha membuat rasa minder itu datang lagi, Mutia terus menerus melirik Mahdan, yang di lirik santai santai saja, Mutia tak menangkap perubahan apapun di wajah Mahdan, ini pula yang membuat cinta Mutia makin dalam, Mutia bersyukur punya suami seperti Mahdan yang tidak pernah membuat Mutia tertekan.


Semua menghentikan tawa saat Risda meringis, wajah Mutia bahkan sudah memutih saat mendapatkan kening Risda yang sudah berkeringat dingin. Atas perintah Mutia, Mahdan langsung setengah berlari mengeluarkan mobil, Asrul langsung memapah Risda keluar, masuk mobil dan tancap gas.


Suasana yang tadinya penuh tawa sekarang berubah panik, Meeta memaksa Agung cepat cepat menyusul, Iskandar dan Reni ikut masuk mobil, Farhan dan Faridha menyusul bersama Tomy dan Ariana, dalam hitungan menit, rumah langsung kosong melompong, semua penghuni saling kejar mengejar menuju rumah sakit.


Dokter Laila yang memang sudah memperhitungkan kelahiran anak Asrul terjadi minggu ini langsung menyiapkan semuanya, dokter Muhli juga sudah standby di ruangan yang disiapkan Laila, dokter Muhli ikut ambil bagian karena kondisi Risda yang memiliki sejarah jantung, sehingga perlu antisipasi kemungkinan yang ada.


Beberapa perawat sudah menunggu dengan cemas di teras rumah sakit, begitu Mahdan menghentikan mobilnya, ia langsung buru buru membuka pintu, membantu Asrul memapah Risda ke ranjang dorong yang langsung menghampiri. Asrul, Mutia dan Mahdan setengah berlari mengikuti Risda yang semakin meringis menahan sakit diperutnya.


Mahdan menahan diri tak ikut masuk, Mutia juga memilih menemani Mahdan, praktis hanya Asrul yang menemani dokter Laila dan dokter Muhli yang sekarang sedang melakukan observasi. Dorongan sang junior sudah maksimal, tak ada kata lain, Laila langsung melakukan tindakan membantu.


Dokter Muhli acungkan jempol, tak bisa mengatakan apapun lagi, walau ada resiko, tapi dokter Muhli yakin tidak separah dugaan semula, gerak jantung Risda hanya naik sedikit saja dari yang semula, kondisi yang memungkinkan Risda melahirkan normal, walau perkembangannya terus harus di pantau.

__ADS_1


Semua anggota keluarga saling pandang di luar ruangan, tak ada wajah yang ceria, semua tampak tegang, Meeta dan Agung benar benar kasak kusuk, sekali berdiri, sebentar duduk, benar benar tak punya ketenangan barang semenit, Meeta berulang kali memeluk lengan Agung, tapi hanya sekian detik melepasnya lagi, melangkah sekali, mundur ke dekat Agung lagi, benar benar gelisah.


Akhirnya, setelah hampir satu jam menunggu, semuanya sama sama tersenyum, walau ada air mata yang menyertai, senyum itu merekah saat dengan jelas telinga semuanya mendengar suara tangisan bayi. Itu artinya Risda sudah berhasil melewati puncaknya, anak yang sama sama di nanti itu sudah lahir ke dunia.


Meeta, Mutia, Reni dan Ariana tak bisa di cegah lagi, berempat mereka berebut masuk. Untung yang ini keluarga pemilik rumah sakit, kalau yang lain, mungkin secepat kilat akan di cegah para perawat, tapi siapa yang berani mencegah yang empat orang ini, malah semua perawat memberi jalan untuk masuk.


Risda tersenyum lemah menerima ciuman bertubi tubi dari empat wanita yang ia sayangi, bahkan tak sampai lima menit bertambah satu lagi, Natalia datang dengan tergopoh gopoh setelah mendapat telephon Farhan. Natalia bahkan menangis haru memeluk semua yang ada bersama Risda.


Meeta kembali memeluk Natalia. “Kita benaran nenek nenek Lia”.


Natalia senyum dalam tangisannya. “Iya Kak, kita sudah nenek nenek sekarang”.


Tidak hanya kedua nenek baru ini, yang lain juga ikut tertawa cukup lebar. Risda juga terus mengumbar senyuman, sekuat tenaga ia menahan rasa berdenyut di dadanya yang cukup berbeda dari biasanya, tapi Risda memilih sekuat tenaga menahan itu semua, takut jika Risda mengaku, kegembiraan atas kelahiran anaknya bisa memudar, itu tidak baik.


Setelah mengumandangkan adzan ke telinga putranya, Asrul kembali masuk, semuanya berebut ambil alih sang bayi, pemenangnya adalah Meeta, bersama Natalia keduanya mencolek pipi merah bayi Risda, keduanya sama sama begitu ceria, penuh tawa, walau mata keduanya juga berlinang, ada haru yang tinggi.


“Siapa namanya Rul ?”. Natalia yang bertanya.


“Dahrul, namanya Dahrul Ma, Dahrul Perkasa Alam”.


Meeta kembali mencolek pipi cucunya. “Nanti nama panggilan cucuku sama dong dengan ayahnya, Rul. Kenapa sih Rul ?”.


Asrul tertawa saja. “Masalahnya apa Ma, nggak apa apa kali Ma”.


“Terserah kamu sajalah, emang gua pikirin”. Ucap Meeta yang terus menimang cucunya, membuat Asrul tertawa cukup keras.


Meeta tak lagi peduli, mau apapun namanya Meeta tak peduli, yang penting sekarang ia punya cucu, cucu laki laki yang genteng, nggak penting yang lain. Tapi Meeta harus kalah dulu kali ini, Dahrul terus menggerakkan bibirnya, artinya sedang haus. Meeta di bantu Mutia langsung menyiapkan Risda, membuat Risda bisa menggendong dan menyusui Asrul.


Risda juga menangis saat menggendong putranya, rasa letih dan sakit semuanya sudah tak terasa melihat wajah imut sang bayi, apalagi sekarang Dahrul langsung menikmati ASI ibunya dengan rakusnya, sampai mengeluarkan suara berdecak, Asrul yang duduk di samping Risda geleng kepala.


Kegembiraan sekarang tak hanya milik keluarga Agung atas kelahiran cucu pertama di keluarganya, kegembiraan juga menghampiri seluruh pegawai rumah sakit, karena Agung memberikan hadiah kepada seluruh karyawan separuh gaji, tentu membuat semuanya sumringah, gegap gempita kelahiran Dahrul langsung mengangkasa, semua penghuni rumah sakit dalam jalur bahagia.


Karena semuanya dalam posisi yang aman, esok paginya Risda dan Dahrul sudah dibawa pulang. Kegembiraan menyelimuti semuanya, Dahrul hanya jika haus saja kembali ke ibunya, selebihnya selalu berada dalam pelukan yang lain. Jika Ariana pulang sekolah, yang pertama di carinya adalah Dahrul, begitu juga dengan Meeta, Mutia dan Reni, pulang kerja, ketiganya akan berebut Dahrul.


Asrul juga sudah hampir tak pernah nongkrong dengan teman temannya, begitu selesai menyampaikan materi, Asrul akan bergegas pulang. Asrul sadar kini, ternyata begitulah saat pertama kali menjadi ayah, semuanya berubah drastis, kepedulian dan perhatian benar benar fokus pada sang anak, semua tersedot kesana.


Asrul sudah rindu padahal baru setengah hari tak bertemu, Asrul bisa berjam jam terpaku melihat wajah putranya. Ini juga menambah rasa sayang dan hormat Asrul pada ayah dan ibunya, Asrul menjamin jika ayahnya juga mengalami hal yang sama dengan apa yang ia rasakan sekarang ini, Asrul yakin ayahnya juga punya perasaan yang sama dengannya, tak ingin jauh jauh dari anak anaknya.


Natalia juga sekarang jadi berubah rute dan jadwalnya, pulang sekolah Natalia langsung ke menemui Dahrul, jika sedang tak ada privat, Natalia baru pulang jelang sore, bahkan kadang malah malam baru pulang, Natalia sama dengan Meeta, ingin berlama lama dengan cucunya. Ada kesenangan dan kegembiraan yang tak bisa di gambarkan saat bisa melihat wajah sang cucu.


…. Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2