Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Menyusun Rencana Besar


__ADS_3

Ini minggu keempat, artinya sudah tiga minggu berlalu, nyaris sebulan sudah Risda tinggal didesa yang nyaris tak terlihat dalam peta ini. Risda kini agak senang walau juga lumayan sedih.


Senang karena Asrul akhirnya menemukan warga yang punya keyakinan sama dengannya didesa sebelah, sedih karena Asrul akhirnya memilih tinggal disana yang membuat mereka bertemu hanya disekolah saja.


Risda kini pergi dan pulang sekolah berjalan sendiri, malam lebih banyak membaca dan menulis karena tak ada lagi Asrul yang menjadi teman bicara. Tapi demi untuk kenyamanan Asrul itu memang harus ditempuh, sedangkan Risda sudah merasa nyaman tinggal di rumah Bu Tantia.


Risda langsung beranjak saat bel tanda istirahat berbunyi menuju ruang kecil disudut sekolah yang dijadikan ruang kantor. Risda langsung duduk disamping Asrul yang sedang mengetik dilaptopnya.


“Proposal 17an”.


Asrul hanya anggukkan kepala dan melanjutkan pekerjaannya. Risda memperhatikan dan sesekali memberikan saran, Asrul kadang mengikuti saran Risda kadang memberikan argumen dengan pilihannya.


Keduanya terus saling memberikan pendapat, kadang ada debat kecil yang diakhiri dengan tawa kecil dan penuh canda, keduanya tanpak sangat asyik tanpa menyadari kalau sedang diperhatikan oleh Bu Tantia dan dua guru lokal yang bersama dengan mereka.


Sikap keduanya yang sangat fair membuat Bu Tantia dan dua guru yang sebelumnya hari demi hari bertambah kagum dan hormat kepada keduanya, karena baik Asrul maupun Risda juga terus menunjukkan rasa hormat kepada semuanya, seperti kata istilah, jika ingin dihormati maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghormati orang lain.


“Udah siap”.


“Okey… tinggal print”. Asrul tampak sangat gembira.


Tapi keduanya kembali saling tatap karena setelah mengitari ruangan kecil tersebut tak menemukan sama sekali barang yang bernama printer. Asrul garuk garuk kepala karena ia juga tak bawa printer.


“Printer… disini tak ada printer, saya juga nggak punya”. Keluh Asrul.


Risda juga memasang wajah lesu. “Printer saya tak dibawa”.


“Dewi bawa kan ?”.


Risda mengangguk. “Kita ke tempat Dewi ?”.


Asrul tertawa kecil dan geleng kepala. “Ente pikir lokasi Dewi dekat ?”.

__ADS_1


Risda geleng kepala. “Memang jauh ?”.


Asrul mendengus. “Jaraknya satu kecamatan dari sini”.


“Jauh memang ?”.


Asrul malah tampak kesal. “Itu sudah seperti perjalanan Jakarta Yogya nona, separuh jawa”.


Risda hanya mendelik terkejut dan geleng kepala. Asrul juga tahu kalau Risda juga tak bawa printer sama dengannya, seingat Asrul dari group mereka yang jumlahnya ada 20 orang, hanya Dewi yang membawa printer, lainnya tidak sama sekali.


Sehingga pertanyaan sekarang adalah, dimana menemukan printer di desa ini ?. merasa paham dengan apa yang menguasai benak Asrul dan Risda, Bu Tantia mendekat ke keduanya.


“Setahu Ibu, Printer hanya ada di Ibukota Kecamatan. Ibu pernah dengar teman kalau mau print kesana, kalo disini tak ada”. Bu Tantia menjelaskan.


“Jadi ?”. Asrul tampak terkejut.


“Iya, Pak Guru harus ke kecamatan Pak, yang ada disana”.


Asrul dan Risda saling pandang dan mendelik, Asrul tepuk jidat dan geleng kepala sambil senyum senyum sendiri. Asrul agak pusing mendengarnya, masa untuk print aja harus menempuh jarak sejauh itu.


“Udah.. tulis tangan aja Rul”.


Asrul makin mendelik. “What ?”.


“Tulis tangan”. Risda ngomong sambil memperagakan.


Asrul geleng geleng kepala. “Manual abis kalo gitu mah”.


Tidak hanya Risda, Bu Tantia dan yang lain yang ada diruangan sama sama tertawa. Geli melihat gaya Asrul yang tampak masih bingung dan kurang percaya dengan keadaan yang sedang dihadapi.


“Serius begini ?”. Asrul masih tak yakin.

__ADS_1


Risda kembali tertawa kecil. “Mau gimana lagi, atau aku yang tulis ?”.


Asrul geleng kepala. “Sudah sudah, biar aku saja”.


“Serius ?”. Tanya Risda seperti meledek.


Asrul hanya bisa senyum kecut. “Nasib … Nasib”.


Tak ada lagi suara yang kedengaran hingga Bu Tantia membunyikan bel tanda istirahat sudah selesai. Sebenarnya itu juga tak betul juga disebut bel, lebih tepat kalau disebut lonceng walau lonceng juga nggak begitu modelnya, hanya potongan besi yang berbentuk bulat ditambah dengan palu kecil, dipukul.


Tapi siswa sudah paham dengan pertanda itu, cukup dua kali pukul seluruh siswa sudah langsung beranjak berdesakan masuk kelas. Ini yang membuat Risda maupun Asrul punya kesan tambahan.


Sebenarnya anak anak disini sangat tertib bila dibanding dengan daerah yang lebih kota, tingkat kepatuhan yang cukup tinggi membuat mereka mudah untuk diberi pengertian.


Asrul bersamaan dengan Risda dan Bu Tantia melangkahkan kaki keluar kantor menuju ruang kelas masing masing. Kali ini Asrul mengajar di dua kelas sekaligus, kelas yang hanya dipisah oleh triplek dengan pasangan kayu kecil, sehingga saat Asrul duduk di kursi guru yang tersedia, kedua kelas dapat melihatnya dengan baik.


Mode kelas yang dibuat seperti ini bukan karena ruang kelas yang tidak ada, nyatanya ada dua ruangan kosong yang tersedia, persoalannya guru yang tidak tersedia, akan cukup sulit jika kelasnya dibuat terpisah, bagaimana gurunya bisa bolak balik keluar ruangan, dengan cara seperti ini semuanya menjadi lebih mudah.


Sebelum pulang Asrul menemui Risda kekelasnya yang masih sibuk memperhatikan anak anak yang membersihkan kelas. Risda memang memberikan aturan itu, semua anak harus ikut ambil bagian membersihkan kelas dan itu dilakukan setelah jam pelajaran berakhir.


“Besok kemana Ris ?”.


“Gereja”.


Asrul anggukkan kepala. “Jam berapa keluarnya ?”.


“Sekitar jam 12an lah”.


Asrul anggukkan kepala lagi. “Okeylah.. aku datang jam 1 aja”.


Risda anggukkan kepala bersamaan dengan langkah Asrul yang membalikkan badan dan berlalu pergi. Kini memang tak ada peluang pulang sama karena jalan yang mereka tempuh untuk pulang sudah terpisah sejak dari halaman sekolah.

__ADS_1


Risda masih terus menatap Asrul hingga hilang ditikungan, baru ia kembali memberikan perintah kepada anak anaknya, sejurus Risda merasa prihatin juga lihat Asrul yang kini harus menempuh jarak lebih jauh. Dengan tempat tinggalnya kini, untuk mencapai sekolah Asrul harus berjalan kaki hampir 1 kilometer jauhnya.


 …. Bersambung ….


__ADS_2