Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Menuju Tanah Perbatasan


__ADS_3

Farhan terbangun saat mendengar ketukan di pintu kamar tempat mereka tidur, Tomy mencolek Farhan yang ternyata juga ikut terjaga, Farhan berdiri menuju pintu, begitu pintu dibuka Farhan terkejut, ada wanita cantik yang sedang memegang bungkusan plastik berdiri tersenyum didepannya, Linda.


"Ini makan siang, mandi dulu baru makan".


Farhan anggukkan kepala. "Terima kasih Tante". Mengulurkan tangan untuk menerima bungkusan plastik yang diulurkan padanya.


Linda mendelik, menarik kembali kantongan plastiknya. "What ?".


Farhan terpaksa menarik tangannya lagi, mengerutkan keningnya juga. "Kenapa Tante ?".


Linda makin mendelik. "What ?".


Tomy yang sudah disamping Farhan ikut mengerutkan keningnya. "Kenapa Tante ?".


Linda makin mendelik. "Ini lagi, sama saja".


Tomy makin mengerutkan keningnya. "Memang kenapa Tante ?".


"Tante .. tante ... siapa yang tante tante". Gerutu Linda.


"Situ ...". Farhan dan Tomy bicara bersamaan.


Linda semakin mengerutkan keningnya. "Tante apa ?, saya masih 22 Tahun, kamu berdua memang umurnya berapa ?".


"Saya 17 tahun Tante". Jawab Farhan.


"Sama". Sambung Tomy.


Linda kembali mendelik. "Masih tante juga ?".


Farhan angkat bahu. "Jadi apa dong ?".


"Kakak Kek, Tante .. apaan ?".


Linda menatap Farhan dan Tomy lekat, bahkan sampai membuat Farhan dan Tomy menunduk, mata tajam Linda tak mampu mereka lawan, baik Farhan maupun Tomy memilih menunduk saja.


"Emang kalian siapanya Pak Haris ?".


Farhan kembali menatap Linda. "Kami keponakannya Tante".


Kening Linda agak berkerut. "Keponakan ?".


Farhan anggukkan kepala. "Iya, kami keponakannya Paman


Haris".


“Keponakan ya ?”. Raut wajah Linda langsung berubah, senyumnya mengembang cukup manis, kembali menyerahkan bungkusannya, bahkan kini tampak tertawa, tapi tanpa suara. "Kalau begitu, bolehlah panggil Tante, makan sana".


Tomy yang menerima bungkusan, Farhan kini kembali mengerutkan keningnya, ingin bertanya lagi, tapi Linda sudah berbalik pergi meninggalkan mereka, di pintu Linda masih sekali menatap kearah keduanya dan kembali tampak mengirimkan senyuman manis yang lumayan lebar.


Begitu Linda menghilang, Farhan dan Tomy saling pandang dan sama sama tertawa cukup keras, kembali sama sama geleng kepala, walau tak bisa menjelaskan secara detail, yang pasti keduanya sekarang dalam posisi yang sama sama geli.

__ADS_1


Tampaknya keduanya sama sama bingung dengan sikap Linda, pertama kesal di panggil Tante, tapi kemudian setuju dengan panggilan itu, awalnya kecut minta ampun, tapi ujungnya berikan senyuman yang sangat manis.


Tomy dan Farhan hanya cuci muka dan menju ruang tengah, keduanya makan masih dengan balutan oroma lucu di hati masing masing, buktinya keduanya sesekali masih tertawa sendiri dan geleng kepala, ada banyak yang lucu menurut keduanya melihat tingkah Linda.


"Apa dia pacarnya Paman ya ..".


Kening Tomy langsung berkerut tajam mendengar pertanyaan Farhan. "Pacarnya Paman Haris ?, Tante kamu memang dimana Far ?"


Farhan menggeleng dan tarik nafas lumayan dalam. "Paman sudah pisah dengan Tante Tom, sudah sejak lama malah".


Tomy angguk kepala saja, tapi mata Tomy sudah singgah di photo besar yang terpajang didinding, tapi karena memang cukup lapar, Tomy lebih memilih melanjutkan makannya, walau sesekali terus mengarahkan pandangan ke photo itu.


Farhan juga hanya bicara sampai disitu, rasanya tidak mungkin juga ia mengatakan dengan lengkap bagaimana cerita panjang soal Haris dan bibinya Natalia, nggak penting menurut Farhan, Nggak perlu juga Tomy tahu soal itu


Sampai makan berakhir, pandangan Tomy terus menerus menuju photo besar yang terpasang di dinding itu, photo yang Tomy yakin itu adalah photo Ibu dan Anak, wajah yang sangat mirip antar keduanya, yang membedakan hanya kerut wajah karena usia, tapi cantiknya bolehlah dikatakan sama.


"Itu photo Bibi Tom. Yang muda itu Kak Risda, kakak ipar saya, istrinya Bang Asrul, cantik kan ?".


Tomy agak terkejut, agak malu juga ketahuan memperhatikan photo itu, Tomy tertawa kecil juga sambil mengambil minumannya, hanya menggeleng saja untuk menutupi rasa jengahnya, apalagi Farhan terus memasang senyum padanya.


Tapi pandangan Tomy kembali ke photo yang terpajang rapi itu, batin Tomy dengan jelas mengatakan, apa yang dikatakan Farhan menurut Tomy 1000% benar, wanita muda itu bahkan luar biasa cantik, bukan hanya sebatas cantik, kata cantik sama sekali tak cukup untuk mewakilinya, kata itu terlampau sederhana.


Tomy menatap Farhan dan kembali tersenyum lebar, masih lengkap juga dengan gelengan kepala. "Orang Jawa memang cantik cantik ya Far ?".


Farhan tertawa. "Boleh jadi”.


Tomy ikut tersenyum. “Boleh jadi bagaimana Far ?”.


Farhan kembali tertawa kecil, kini lengkap dengan mengangkat bahu sedikit. “Sayangnya Bibi dan Kakak Iparku bukan orang Jawa".


Farhan anggukkan kepala. "Bibi sama dengan Paman, mereka sama sama orang Sumatera, tepatnya Sumatera Utara, Paman bahkan masih kelahiran kelahiran sana, lupa kalau Bibi, tapi kalau nggak salah, juga kelahiran sana Tom, sama dengan ibuku, ibu juga kelahiran Sumatera Utara".


Tomy tersenyum lebar juga. "Ibu kamu juga orang Sumatera Utara ?".


Farhan anggukkan kepala. "Iya Tom, ayah yang orang Jawa".


Tomy angguk angguk kepala, ia juga punya banyak teman yang berasal dari Sumatera Utara, walau hanya sebatas kampung saja, ada malah yang bahkan ayah dan ibu mereka juga tidak lagi kelahiran sana, tapi mereka masih mengaku jika mereka orang sana.


Tapi pikiran Tomy masih ke photo, mengakui kalau kakak ipar Farhan memang sangat cantik, Tomy malah jadi menghayal nanti kalau punya istri bisa dapat secantik kakak ipar Farhan, kalau seandainya bisa begitu, mungkin Tomy akan sangat luar biasa bahagia, tapi apa itu mungkin ?.


“Kamu punya pacar Far ?”.


Farhan mendelik terkejut, bahkan kembali meletakkan minuman yang tadi ingin ia teguk, mata Farhan cukup bulat menatap Tomy, yang ditatap terus tersenyum, Farhan akhirnya tertawa lebar, tepuk jidat dan menggeleng.


“Emang kamu sudah punya Tom ?”.


Tomy senyum tipis, geleng kepala. “Belum Far”.


Farhan kembali tertawa. “Sama dong kalo gitu”.


Keduanya sama tertawa, walau Tomy agak kurang yakin kalau orang setampan Farhan belum punya pacar, Tomy memang belum punya, atau tepatnya memang nggak niat untuk punya, Tomy selalu minder dengan keadaan ekonomi keluarganya, sehingga lebih fokus belajar dan mencari sedikit pekerjaan ketimbang pacaran.

__ADS_1


Walau banyak teman Tomy yang meledeknya, tapi Tomy tetap dengan pendirian yang ia punya, lebih baik selesai sekolah dulu, cari kerja yang bagus, pada saatnya nanti, semuanya akan dapat tercapai, Tomy beranggapan belum saatnya untuk dekat dekat dengan wanita.


Farhan juga masih menggeleng, belum pernah kepikiran soal perempuan, bahkan rasanya Farhan hingga kini belum pernah merasa menyukai atau naksir semacam itulah pada seorang wanita, Farhan merasa belum pernah tertarik untuk dekat dengan siapapun, bagaimana mungkin pacaran.


"Itu suara adzan, berarti ada masjid dekat sini, kita kesana saja Far".


Farhan anggukkan kepala. "Cocok juga, ayo".


Tomy yakin kalau masjidnya tak akan jauh, atau mungkin di dekat pabrik, karena suara adzannya terdengar sangat jelas. Tapi, baru saja membuka pintu, wajah keduanya kembali agak berubah, namun senyum mereka mengembang, membalas senyum Linda yang juga mengembang.


“Kalian berdua mau kemana ?”.


Farhan menggaruk kepalanya yang nggak gatal. “Mau ke Masjid Tante”.


Kali ini Linda senyum makin cerah, tak lagi mendelik seperti pertemuan pertama tadi, Linda malah tampak malu malu. “Oh ya .. kata Pak Haris memang begitu, kalian ketemu di Masjid, nanti dari sana langsung berangkat”.


Tomy dan Farhan saling pandang. Seperti paham, Farhan kembali ke dalam mengambil tas mereka, begitu Farhan keluar, Tomy mengunci pintu dan serahkan kuncinya ke Linda, karena memang Linda memintanya.


Farhan agak heran melihat Linda yang meminta kunci. “Tante tinggal disini juga ?”.


Linda langsung mendelik. “Dimana ?”.


“Disini, sama Paman Haris, iya Tante ?”.


Linda makin mendelik. “Tinggal gimana maksudnya, jangan macam macam ya”.


Farhan dan Tomy tentu terkejut. “Lha, Tante kok minta kuncinya ?”.


“Emang nggak boleh ?”.


Farhan dan Tomy benar benar ciut. “Kan Cuma nanya”. Tomy yang bicara, tapi sangat pelan, bahkan nyaris berbisik.


“Sudah .. sudah. Banyak pertanyaan, ke Masjid sana”.


Farhan dan Tomy langsung langkah seribu meninggalkan Linda yang masih terus melotot, Farhan maupun Tomy memilih menghindar saja, keduanya merasa akan lebih baik jika menjauh dari lototan mata Linda, bukan takut, tapi keduanya lucu melihatnya.


Sudah cukup jauh baru keduanya memperlambat langkah, sempat juga menoleh kebelakang secara bersamaan, saat tak lagi melihat Linda, keduanya langsung cekikikan dengan menutup mulut dengan telapak tangan masing masing, betul betul geli melihat Linda.


“Si Tante aneh, sekali senyum sekali melotot”.


Farhan melepas tawa sambil menolak bahu Tomy. “Untung cantik, sempat jelek, mau bagaimana coba ?”.


Tomy ikut tertawa. “Iya juga memang, untung cantik”.


Keduanya bahkan harus memegangi perut dan sedikit membungkuk menahan tawa, benar benar merasa geli dengan tingkah Linda, keduanya melihat Linda sangat menggelikan, lototan matanya sama sekali tak menakutkan, justru disitulah lucunya.


Farhan dan Tomy bergegas ambil wudlu karena saat mereka sampai, shalat ashar sudah dimulai, cepat cepat keduanya ambil posisi menjadi makmum masbuk, Farhan tadi sebelum takbir sempat mencari Haris dan menemukannya di shaf paling depan.


Usai shalat, Farhan dan Tomy langsung mendekati Haris yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya, melihat Farhan dan Tomy muncul, Haris hanya memberikan kode, keduanya ikut melangkah dan masuk ke mobil yang lebih dulu Haris masuki, dan mobil langsung meluncur meninggalkan afdeling.


Awalnya Farhan dan Tomy mengira mereka akan sampai ke tujuan dengan mobil yang mereka tumpangi, ternyata salah, hanya sekitar satu jam, mobil berhenti di pinggiran sungai, Farhan dan Tomy kembali mengikuti Haris naik ke perahu yang langsung berjalan begitu ketiganya naik.

__ADS_1


Awalnya memang begitu indah, sungai besar yang kanan kiri dipenuhi hutan yang sangat lebat, hanya sesekali saja terlihat ada perkampungan, itupun tidak banyak, hanya bertumpuk sedemikian rupa, pemandangannya sangat bagus, Farhan sama sekali tak bicara, ia terus memandangi keindahan alam yang belum pernah ia lihat sebelum ini.


… Bersambung …


__ADS_2