Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
17-an dan Awal Pertemuan


__ADS_3

Buang terus menerus bercerita tentang dua guru muda asal Jakarta itu, keduanya sama hebat dan sangat memberikan arti pada desa tempat Buang tinggal. Gairah belajar anak anak di desa tempat Buang tinggal kini sangat tinggi, dua guru muda itu berhasil menciptakan banyak hal baru yang sangat menggembirakan.


Satu hal yang penting kata Baung, dua anak muda itu tidak memiliki rasa sombang sedikitpun, sangat ramah dan cara bicaranya menyenangkan sekali.


Haris hanya angguk angguk kepala. Setidaknya cerita Buang harus diakui banyak benarnya, acara 17an tahun ini yang lain dari biasanya memberikan bukti fisik tak terbantahkan kalau dua guru muda itu memang brilian.


Haris dari tadi betul betul merasa senang karena melihat antusias warga yang sangat hebat. Ada gairah yang sangat bagus untuk terus dikembangkan. Haris dan Buang terus menerus membalas senyum warga yang berpapasan dengan mereka hingga memasuki halaman kantor desa yang dijadikan lapangan upacara.


“Itu guru muda yang saya ceritakan ke Bapak”.


“Yang mana ?”.


“Yang baju biru muda dengan yang pakai batik Kalimantan itu Pak”.


Haris tersenyum dan menepuk nepuk pelan bahu teman mancingnya yang tampak antusias mengikuti upacara bendera tujuhbelas agustus tahun ini. Sebenarnya Haris pun tak perlu bertanya begitu detil.


Dari pandangan kasat mata dia juga bisa tahu kalau Guru Muda yang dimaksud Buang adalah dua orang yang membelakangi mereka itu, karena penampilan keduanya jauh beda dengan kebanyakan orang yang memadati lapangan upacara.


Sambil mengikuti upacara Buang sepertinya belum kehabisan kamus, ia masih terus menerus bercerita panjang lebar, semuanya tetap saja tentang betapa hebat dan baiknya dua guru muda asal Jakarta itu.


Haris kembali hanya angguk anggukkan kepala sambil terus memperhatikan guru muda yang diceritakan Buang, tapi karena posisinya membelakang, Haris tak begitu bisa memberikan gambaran, kini malah menjadi rasa penasaran, apalagi kata Buang yang wanita itu batak dan sangat cantik.


Dada Haris tiba tiba berdesir dengan degub dada yang kuat saat berhasil melihat dengan jelas wajah guru muda yang wanita itu, garis garis wajah guru muda berbaju biru muda itu langsung menyetrum dada Haris, sesaat kemudian membuat dada Haris tiba tiba berontak tidak tenang.


Ada bayang bayang yang membuat Haris seakan menemukan sesuatu, membuatnya kembali pada bayangan 22 tahun silam. Pandangan sekilas itu mampu memberikan kejutan yang sangat mengganggu gerak jantungnya.


Kini Haris malah jadi penasaran dan memiliki banyak tanya yang beralih menguasai kepalanya, bahkan Haris tak lagi begitu mendengar apa yang sedang dikatakan Buang yang belum juga berhenti mengumbar pujian kepada dua guru muda asal ibukota itu.

__ADS_1


Haris juga tak lagi begitu antusias mengikuti jalannya upacara, wajah itu betul betul menampar ingatannya, Haris gelisah tak menentu, merasa gelisah sekali walau ia sendiri tak paham apa yang sedang ia gelisahkan.


Begitu upacara selesai, Buang si sopir perahu langsung menarik tangan Haris mendekat kearah Risda dan Asrul. Risda dan Asrul menyambut mereka dengan senyum dan langsung berkenalan.


“Ini teman mancing Bapak yang Bapak katakan orang Batak itu”.


Risda dan Asrul menebar senyum ramah. Haris tentu melakukan hal yang sama, dengan begitu dekat seperti ini membuat Haris semakin merasa bahwa ada sesuatu yang perlu diketahuinya dari guru muda ini, khususnya yang wanita, ada daya tarik yang sangat kuat mengikat Haris terus memandangnya, wajah itu benar benar membongkar hatinya.


Mata Haris serasa tak ingin lepas dengan wajah Risda. Dada Haris juga betul betul tak bisa tenang, terus berdebar semakin kuat.


Letih berdiri, berempat mereka memilih duduk, tapi itu tak lama. Asrul dan Buang berdiri dan melangkah kearah Pak Kepala Desa meninggalkan Haris dan Risda berdua.


“Kata Pak Buang kamu orang Batak ya..”. Haris mencoba memulai.


Risda menoleh dan tersenyum. “Betul Pak”.


“Kata Mama, marga Risda itu Nasution”.


Jantung Haris semakin tak terkendali, degupnya semakin kuat, tapi Haris kemudian sedikit merasa aneh dengan jawaban itu, seperti jawaban yang kurang maksimal.


“Kok Kata Mama ?.. memangnya .. ayah ..”.


Risda buang nafas agak berat, tapi masih tetap senyum kearah Pak Nas. “Karena saya hanya punya Mama Pak”.


“O. maaf kalau begitu. Sejak kapan ?”.


“Sejak lahir Pak”.

__ADS_1


Kali ini kening Haris betul betul berkerut. Dadanya yang tadi tak enak semakin tak enak, bukan karena cerita Risda, tapi ada sesuatu yang seakan memaksa dadanya bergetar tanpa ia tahu apa yang membuatnya demikian.


“Dari Medan ?”.


Risda geleng kepala. “Nggak Pak. Malah saya belum pernah ke Medan seumur hidup. Dari lahir hingga sekarang udah di Jakarta”.


Haris angguk angguk kepala. “Jakarta dimana ?. Bapak juga lama di Jakarta, Bapak dulu kuliah disana”.


“Jakarta Barat Pak, di Daan Mogot”.


Kali ini kepala Haris ikut seperti terbentur. Itu tempat yang sangat dekat dengan hidupnya dulu. Haris kembali mendapatkan senyum tipis Risda, kali ini Haris betul betul tersentak, senyum itu.. Haris mengingatnya sekarang, itu milik wanita cantik yang dulu amat sangat dicintainya, Natalia.


Debar dada Haris makin keras berontak menendang nendang hingga mencapai ulu hatinya. Apakah ini benar ?, apakah guru muda ini adalah putri Natalia, apakah ?, apakah ?.


Beribu pertanyaan yang kini menjadi penguasa kepala Haris, makin ia memandang wajah Risda, semakin ia mendapatkan keyakinan kalau apa yang menjadi isi kepalanya memiliki kemungkinan yang nyata.


Memandang Risda seakan memandang Natalia, walau ada beberapa beda tapi secara umum amat sangat sama, Haris merasa seakan sedang menatap Natalia.


“Kalau boleh tahu…”. Haris tampak ragu.


“Ada apa Pak ?”. Risda kembali menoleh dan lagi lagi melempar senyum yang membuat Haris makin tak mampu menguasai dadanya.


Haris berusaha tenang dengan angguk angguk kepala. “Bapak juga pernah di Daan Magot, tapi tak sampai dua bulan”.


Risda tampak berbinar. “Masa Pak ?”.


Haris angguk angguk kepala lagi. “Iya, Bapak pernah di sana”.

__ADS_1


... Bersambung ...


__ADS_2