
Farhan sepakat tidak lagi kembali ke Perkebunan, tapi dari sini langsung balik ke Jakarta melalui Tarakan, Haris menyarankan itu karena kebetulan ada heli yang ingin ke Nunukan mau membeli dan mengantarkan kebutuhan pokok, Tomy juga setuju, karena merasa Farhan akan terlalu lama jika masih kembali ke perkebunan.
Sore ini mereka akan terbang ke Nunukan, bermalam disana, paginya Farhan akan terbang dengan pesawat kecil ke Tarakan, baru kemudian dari sana Terbang kembali ke Jakarta, itu rute yang paling baik bagi Farhan, setelah Farhan terbang ke Tarakan, Haris dan Tomy masih dengan heli yang sama kembali ke Perkebunan.
Hanya berselang beberapa menit saja, tak sampai satu jam, Farhan dan Tomy sudah berada di penginapan yang ada di Nunukan, tak ada niat jalan jalan, karena memang sudah cukup capek, sepertinya istirahat akan lebih menyenangkan, sehingga keduanya sama mengambil posisi di ranjang penginapan.
Farhan meraih ponselnya dan membuka buka hasil kerjaan Tomy, Farhan senyum senyum sendiri, ide Farhan muncul seketika, ia mengirim vidio nyanyian Meylani ke ponsel kakak iparnya Risda, plus beberapa photo di sekolah.
Farhan yakin kakak iparnya akan terkejut, dengan senyum penuh makna Farhan mengirim banyak photo, Farhan yakin kalau saat ini kakaknya sedang bersama abangnya, sehingga keduanya bisa melihat kiriman Farhan secara bersama sama.
Sementara di Jakarta, Risda sudah mendengar notifikasi di ponselnya, tapi Risda punya keinginan untuk mengambil ponsel karena sedang dalam kekuasan Asrul, tapi begitu Asrul menyudahi aktivitasnya dan berguling ke samping Risda, Risda langsung mengambil ponselnya.
Mata Risda langsung terbeliak, karena photo pertama yang dilihatnya adalah photo Farhan bersama Bu Kepala Sekolah pedalaman tempatnya mengabdi dulu, mata Risda makin terbeliak saat melihat photo photo yang lain, dan menjadi terharu saat menonton vidio yang dikirimkan Farhan.
"Lihat Bang".
"Apa ?".
"Ini, Lihat".
Asrul hanya melirik, tapi sontak memperbaiki posisi, duduk menyandar disamping Risda saat melihat photo yang ditunjukkan Risda. Asrul mengambil alih ponsel dan membukanya satu persatu, ada senyuman, ada juga rasa haru yang mencuat di hati Asrul, tak menyangka melihat itu.
"Jadi, Farhan pergi kesana ?".
Risda tertawa kecil. "Dengan Ayah kali Bang".
Asrul anggukkan kepala. "Berarti, habis perkemahan Farhan ke Perkebunan, bersama Ayah Mertua mereka ke pedalaman, sampai juga Farhan kesana".
Berulang kali Risda membolak balik photo itu, utamanya photo yang ada Meylani nya, ada yang menyusup tajam ke dalam hati Risda, ada rindu yang dalam, rindu pada suasana disana, rindu pada Meylani, anak manis yang penuh semangat itu, entah sudah bagaimana penyakitnya kini.
Asrul sudah tertidur, tapi Risda masih terus menerus mengulang vidio nyanyian anak anak pedalaman yang waktu itu ia ciptakan khusus buat mereka, entah kenapa Risda merasa tak bosan menontonnya, semangat mereka saat melantunkan nyanyian sederhana itu sangat indah dan mengharukan bagi Risda.
Hingga akhirnya Risda mengantuk juga, ia tertidur begitu saja, ponselnya masih terbuka, bahkan Risda lupa kalau belum pakai apa apa, tak pernah seperti ini sebelumnya, tapi nyatanya sekarang, Risda tanpa sadar tertidur hanya ditutupi selimut, itupun tak menutupnya secara sempurna.
Matahari pagi Nunukan sudah mulai terasa, alam sudah remang remang, tak lagi gelap saat Farhan terbangun dan duduk di tepi ranjang. Farhan mengambil air minum yang ada di atas meja dan meneguknya, belum sempat minuman yang digelasnya habis, Tomy sudah duduk disampingnya.
“Jam berapa Far ?”.
Farhan hanya senyum, tak menjawab. Farhan malah membuka jam tangannya dan memasangkan ke pergelangan Tomy. “Lihat saja sendiri”.
Tomy memandangi jam yang kini di tangannya dan melirik ke Farhan, ada yang aneh menurut Tomy. “Ini apa Far ?”.
Farhan merangkul bahu Tomy. “Saya tak punya apapun yang bisa menjadi cinderamata teman. Hanya itu yang bisa, saya harap kamu senang menerimanya”.
Tomy hanya menggeleng. “Terima kasih Far”.
Farhan memeluk Tomy erat, keduanya sama sama mengembangkan senyuman, tapi air mata keduanya sama sama tak terbendung. Farhan dan Tomy sama sama punya rasa haru yang tinggi, setelah sekian hari bersama sama, bahkan hingga ke daerah pedalaman Kalimantan, ada perasaan berat untuk berpisah.
"Apakah kita bertemu lagi Far ?".
Farhan membuang nafas berat. "Insha Allah, akan selalu ada jalannya".
__ADS_1
Tomy menghusap air matanya. "Bagaimana mungkin Far, apakah kamu akan datang kesini lagi ?".
Farhan cukup tersentak, benar memang, untuk bertemu lagi bukan hal yang mudah dilakukan, jarak mereka yang jauh membuat kemungkinan itu semakin tipis, Farhan sadar, ia kemari hanya kebetulan sedang ada perkemahan, selepas ini mereka akan ujian akhir dan masuk kelas XII.
Tak akan ada lagi kegiatan yang melibatkannya, bahkan sudah menjadi kebiasaan, anak kelas XII tidak akan di ijinkan ikut kegiatan keluar kota, apalagi luar pulau, karena waktu yang tersedia di kelas XII tak akan banyak.
Farhan tersenyum. "Ada jalan Tom, ada banyak".
Tomy agak mengerutkan keningnya. "Jalan apanya ?".
Farhan kembali tersenyum. "Kamu nanti kuliah ke Jakarta Tom".
Tomy tertawa kecil dan menggeleng. "Itu mimpi Far".
"Why ?".
Tomy kembali menggeleng. "Kamu sudah sampai di rumahku, kamu sudah lihat kondisinya, apakah tidak aneh kalau kamu ngomong soal kuliah, di Jakarta pula, Itu mimpi di siang bolong teman".
Farhan tersenyum lebar. "Tak masalah Tom, kamu tinggal di tempat kita, nanti saya ngomong ke ayah, kita nanti bisa kuliah sama sama, pasti bisa Tom, tenang saja".
Tomy hanya menggelengkan kepala, tentu ia tak tahu bagaimana keluarga Farhan, itu sesuatu yang sangat mudah bagi Agung, Tomy merasa bagai mimpi saja jika mungkin melanjutkan pendidikan di Jakarta. Sehingga Tomy hanya menganggap kalau omongan Farhan hanya omongan penggembira saja.
Keduanya sudah selesai mandi, saat keluar dari kamar, Haris ternyata sedang berjalan ke arah mereka, Haris berhenti karena melihat keduanya sudah keluar kamar, begitu sejajar, ketiganya sama melangkah ke kantin penginapan, tujuan utama tentunya sarapan.
"Kita ke bandara agak siang Far, Kita kemana kira kira ?".
Farhan dan Tomy sama menggeleng. "Terserah Paman". Farhan yang jawab.
"Okeylah, kita ke kantor perwakilan perusahaan, gimana ?".
Di kantor perwakilan perusahaan, sambil menunggu waktu, Farhan dan Tomy memilih menuju perpustakaan yang memang ada, keduanya sama asyik membaca hingga tak sadar sudah larut dengan buku masing masing hingga berjam jam lamanya.
Keduanya sama tersentak saat Haris muncul mengajak makan siang, Farhan dan Tomy anggukkan kepala dan mengikuti langkah Haris menuju kantin kantor, sama sama memesan dan sama sama makan siang, tanpa ada obrolan sama sekali.
"Kita ke bandara ya, sudah waktunya ini".
Farhan anggukkan kepala. "Paman sama Tomy balik kapan ?".
"Farhan terbang, kami juga langsung balik".
Farhan anggukkan kepala. "Baik Paman".
Hanya berjarak kurang lebih tiga puluh menit, ketiganya berdiri meninggalkan kantin kantor perwakilan perusahaan menuju bandara yang bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Tak ada perbincangan sama sekali hingga ketiganya sampai di pintu masuk bandara, hanya Farhan yang boleh masuk tentunya.
"Aku permisi Paman, Tom".
Haris menerima jabat tangan Farhan, tapi beda dengan Tomy, keduanya kembali berpelukan cukup erat, masih dengan derai air mata, kenangan yang mereka ukir beberapa hari belakangan ini membuat keduanya merasa saling terkait satu sama lainnya, sehingga berpisah menjadi hal yang mengharukan.
Tomy melambaikan tangan sampai Farhan menghilang diantara ratusan penumpang, Tomy bahkan menuju pinggir gedung dan terus menatap hingga pesawat yang membawa Farhan terbang dan menghilang.
Tomy kembali menghusap air matanya, ada rasa sedih, kebersamaan dengan Farhan yang hanya beberapa hari, terasa bagai tahunan, kini Farhan sudah pergi, teman yang baik itu sudah pulang ke kotanya, Farhan nyakin, mungkin hanya bermimpi jika punya harapan dapat bersama Farhan lagi.
__ADS_1
"Kita balik Tom, atau mau jalan jalan lagi ?".
Tomy menggeleng. "Kita balik saja Paman".
Haris anggukkan kepala, keduanya langsung menuju heli yang memang sudah bersiap sejak tadi, Haris dan Tomy naik dan heli pun terbang. Tomy yang masih terus geleng kepala, bersama dengan Farhan ia mendapat banyak pengalaman baru, salahsatunya ini, naik heli.
Tak sampai satu jam heli kembali mendarat di tempat yang memang sudah tersedia tak jauh dari pabrik, Tomy melihat jam tangan milik Farhan yang sekarang sudah melingkar di pegelangan tangannya, melihat jam yang sekarang, sepertinya Tomy masih sempat untuk pulang.
"Saya langsung pulang saja ya Paman".
Haris senyum tipis. "Ini sudah terlalu sore lho Tom".
Tomy tertawa kecil. "Kalau diburu sekarang, malamnya sudah di perkampungan juga itu Paman, nggak apa apa".
Haris anggukkan kepala. "Okeylah Tom. Ini untuk jajan jajan".
Tomy menerima saja dengan senang hati. "Terima kasih Paman, saya langsung saja ya Paman".
Haris angguk kepala lagi. "Hati hati di jalan, kalau ada waktu main juga kesini".
Tomy anggukkan kepala dan langsung beranjak menuju sepeda motornya yang diparkir di halaman samping rumah Haris. Tomy sudah menghidupkan motornya, tapi rasa penasaran akan isi amplop yang diberikan Haris, Tomy akhirnya membuka.
Mata Tomy langsung terbeliak, isi amplop itu ada dua juta rupiah. Tomy geleng kepala, banyak sekali. Tomy mengalihkan pandangan ke kantor, Tomy hanya bisa melihat punggung Haris yang masuk kantor.
Tomy menjalankan motornya, pikiran Tomy masih melayang jauh ke Farhan, andai benar ia bisa kuliah di Jakarta seperti kata Farhan, Tomy tak tahu bagaimana besarnya rasa gembiranya nanti, tapi rasanya Tomy tak wajar juga jika berharap banyak, walau percaya Farhan serius dengan ucapannya.
Entah kenapa, Tomy juga yakin kalau Farhan berasal dari keluarga yang berada, dari penampilan dan barang barang miliknya, ditambah lagi pamannya Haris, Tomy yakin dengan itu, sangat yakin dengan itu, percaya penuh.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah keluarga Farhan mau dan bersedia mengikuti permintaan anaknya, menyekolahkan teman yang hanya beberapa hari saja bersamanya, sesuatu yang kurang masuk akal bagi Tomy, walau Tomy juga yakin jika itu bukan sesuatu yang tak mungkin, tapi tak boleh berharap lebih.
Tomy sampai di gang menuju rumahnya hanya beberapa menit saat waktu isya selesai, Tomy melihat ada mobil di depan gang, itu mobil Kepala BRI Cabang sini, ia selalu datang ke rumah Tomy, karena ayah Tomy yang mengurus kebunnya, pasti ada yang mau dibicarakan.
Tomy masuk rumah dan menyalami Pak Hamid, tapi mata Hamid justru ke jam tangan di pergelangan tangan Tomy, merasa kalau yang diperhatikan Hamid apa yang ada di tangan kirinya, Tomy menunjukkan ke Hamid.
"Ini dihadiahkan teman dari Jakarta Paman, Farhan namanya, saya temani dia ke perkebunan menemui pamannya, katanya untuk cindramata". Jelas Tomy.
Hamid tersenyum. "Temanmu pasti orang kaya dong Tom".
Tomy agak mengerutkan keningnya. "Kenapa Paman ?".
"Ini Bremont, jam tangan mahal Tom. Kamu tahu harganya berapa ?".
Tomy menggeleng. "Memang berapa Paman ?".
Hamid masih senyum. "Itu satu kelas dengan Rolex lho Tom".
Tomy makin mendelik. "Masa Paman ?, berapa harganya memang ?".
Hamid menggeleng dan tertawa kecil. "Itu sekitar 70 Juta".
Bukan hanya Tomy, ayah dan adik Tomy sama mendelik, lama Tomy menatap jam yang ada ditangannya, tidak percaya ke Paman Hamid, itu bodoh namanya. Yang aneh, bagaimana Farhan dengan begitu mudah memberikan barang semahal ini, ini bahkan lebih mahal dari rumah yang mereka tempati.
__ADS_1
Tomy tampak begitu termenung, ia sama sekali tak menyangka Farhan sampai sebegitunya padanya. Tomy awalnya mengira, harga barang yang dihadiahkan Farhan padanya paling cuma ratusan ribu rupiah, tapi ternyata sangat jauh dari pemikiran Tomy, ini sangat luar biasa.
…. Bersambung …