Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Risda Memang Putrinya Haris


__ADS_3

Haris baru selesai mandi dan terkejut saat keluar kamar mandi menemukan Lufti yang sedang main hp di atas tempat tidur. Haris hanya membalas senyuman Lufti, cepat cepat ganti pakaian dan kemudian duduk di samping Lufti.


“Sekarang begini saja, gua tadi kemari diantar bini gua, itu Lia juga bawa mobil, jadi kita ngobrolnya sambil jalan saja, Lu antar gua ke sekolah, bagaimana ?”.


Haris anggukkan kepala. “Begitu juga boleh”.


Lufti langsung keluar kamar, Haris juga membereskan tasnya, Haris tak mungkin lagi balik kesini, selesai ngobrol dan antar Lufti, sepertinya Haris akan lebih baik langsung ke bandara, karena jam 10.00 WIB Haris harus sudah Chek In, sehingga tak ada waktu lagi untuk kembali kesini.


Haris keluar kamar dengan menenteng tasnya, Risda mendekat, ia tahu kalau ayahnya akan langsung pulang, Haris langsung merangkul bahu Risda sambil berjalan mendekat ke yang lain.


“Ayah langsung pulang ya, tapi nanti ayah mau ke sekelolahan Risda”.


Risda senyum saja. “Jam berapa ayah kesana ?”.


“Setelah antar Paman Lufti, ayah mungkin langsung kesana”.


Risda anggukkan kepala, Haris kemudian berpamitan kepada semuanya, semuanya juga terlihat sibuk, karena memang juga sama sama akan pergi untuk urusan masing masing, ada yang menuju kampus, sekolah dan tempat kerja.


Walau terkejut karena Asrul melepaskan helm yang sudah di pakainya, Risda hanya senyum saat Asrul menariknya ke mobil, Risda masuk saja dan keduanya menjadi yang pertama meninggalkan rumah, baru kemudian disusul Farhan dan Ariana yang menumpang di mobil Mutia, sedang Reni masih memilih naik motor seperti biasa.


“Okeylah Gung, Meet, aku permisi dulu”.


“Okey Ris, selamat jalan, hati hati”. Jawab Agung.


Haris, Lufti dan Natalia beranjak menuju mobil Natalia, kali ini yang menjadi pengemudi diambil alih Lufti, Haris duduk di depan, sedang Natalia senyum saja saat harus berada di kursi belakang, perlahan mobil masuk ke jalan raya.


“Jadi bagaimana ?, Lu masih yakin gua yang ngomong ?”.


Haris anggukkan kepala. “Iya, sepertinya begitu Luf, kau sajalah yang ngomong”.


“Ngomongin apa sih Bang ?”. Natalia menyambar dari belakang.


Lufti melirik Haris sejenak, anggukkan kepala. Haris lebih dulu menoleh kebelakang dan akhirnya tertawa kecil saat melihat anggukan kepala Natalia yang penuh dengan kebingungan dan rasa ingin tahu yang tinggi.


“Kenapa Bang ?”.


Haris menggeleng. “Nggak ada apa apa Dek, cuma keluhan kecil saja kemarin”.


“Keluhan kecil apaan Bang ?”.


Haris menggeleng. “Nggak, kemarin Risda bilang, dia rasa aneh melihat Asrul yang sampai sekarang belum kepikiran kerja, pulang kuliah malah tidur, gayanya masih kayak lajang begitu”.


Natalia cukup terkejut, ia sama sekali tak tahu itu, Risda juga nggak pernah omongin itu padanya. Tapi kemudian Natalia malah tertawa, ini tentu membuat Haris dan Lufti jadi cukup heran, kok kenapa Natalia malah tertawa.


“Jadi, Risda ngeluh ke abang gitu ?”.


Haris menoleh lagi kebelakang. “Ya, begitu Dek, Risda bilang gitu”.


Natalia kembali tertawa. “Risda ngeluh ?, perasaan, terakhir Lia lihat Risda ngeluh itu saat dia masih SMP. Risda memang anaknya Haris Arianda”. Natalia tertawa lagi.


Kening Haris jadi berkerut. “Apa sih Dek ?”.

__ADS_1


Natalia kembali tertawa. “Risda tak pernah bilang apapun pada Lia”.


“Jadi Lu ceritanya cemburu nih Li ?”. Sambar Lufti.


Natalia kembali tertawa lagi. “Cemburu ?, ngapaian. Lia justru bahagia lho Bang Luf, itu artinya Risda beneran sudah menempatkan Bang Haris sebagai ayahnya”.


Kening Haris tambah kerut. “Abang kok jadi bingung gini Dek”.


Natalia senyum lebar. “Abang bayangin aja, sekarang Risda sudah menyampaikan hal yang paling pribadi ke Abang, sedang ke Lia saja Risda nggak ngomong, masa abang nggak paham maknanya”.


Haris malah jadi tercenung, ada benarnya yang dikatakan adiknya, tapi apapun cerita yang ada, Risda memang anaknya. Tapi kemudian malah ada haru yang menyusup dalam ke hati Haris, rasa ini bahkan membuat air matanya berlinang, Risda sudah benar benar menempatkannya sebagai ayah.


Lufti juga ikut merenung. Apa dan mengapa Risda selama ini, tentu yang paling paham adalah Natalia, apa dan bagaimana pandangan Risda pada Haris selama ini, itupun tentu Natalia yang paling tahu, yang jelas, jika dihitung mundur, Risda baru tahu jika Haris adalah ayahnya itu belum sampai lima bulan.


“Eh Li, Lu emang nggak ngerasa apa apa kalau Asrul belum kepikiran kerja gitu ?”.


Natalia menggeleng, walau tentunya Lufti tak begitu melihatnya. “Lia kenal betul dengan Asrul Bang, sangat kenal”.


“Lantas ?”. Kejar Lufti.


Natalia menghela nafas. “Bang, Lia sudah kenal Asrul sejak lahir, Asrul itu siswa bimbel Lia sejak SD sampai SMA. Lia tahu jalan pikirannya, Lia percaya penuh pada Asrul, pasti ada alasan rasional dari semua tindakannya itu, Lia yakin itu”.


Haris dan Lufti sama menggeleng, mau dikatakan kurang terima, tapi memang itulah pendapat Natalia, sebagai ibu, tentu Natalia punya banyak pertimbangan sebelum mengutarakan sesuatu, tapi mau katakan terima, juga terasa sulit, karena merasa ada yang salah dengan kesimpulan Asrul.


“Tapi Dek, Asrul itu sudah beristri, sudah sewajarnya dia itu mulai memikirkan mencari nafkah, paling tidak membantu Agung. Coba lihat Mutia, dia juga masih ambil spesialis, tapi sudah tiap hari ada di klinik Meeta, bahkan Reni yang masih kuliah S1 juga sudah bantu Meeta”. Jelas Haris panjang lebar.


Natalia masih tertawa kecil. “Apa abang memang tahu tujuan Asrul mau bergerak di bidang apa ?, abang yakin Asrul tertarik meneruskan usaha ayahnya ?, kalau itu yang dia mau, ngapaian Asrul kuliah lagi ?, buang waktu”.


Sekolah tempat Lufti mengajar sampai, Lufti tak masuk komplek sekolah, hanya berhenti di depan pagar saja, ketiganya sama sama turun, Haris dan Lufti lama saling pandang dan sama sama angkat bahu.


“Kau tetap berusaha tanya jugalah Luf, paling tidak kita tahu alasan jelasnya”.


Lufti angguk kepala dan menerima jabatan tangan Haris. “Okey Bro, siap”.


“Kalau begitu aku permisi Luf, aku tunggu jawabannya”.


Lufti mengacungkan jempolnya. “Siap. Hati hati, selamat sampai tujuan”.


Haris dan Natalia masuk mobil, Lufti masih berdiri memandangi mobil yang kini dikemudikan Haris hingga menghilang, Lufti berbalik, menggelengkan kepala dan melangkah masuk, masalah yang ada ada saja, batin Lufti.


Tak ada pembicaraan seputar Risda dalam perjalanan menuju sekolah tempat mengajar Natalia, perbincangan lebih mengarah kepada rencana Haris yang ingin pulang kampung ke Kota Sibolga saat liburan semester bulan depan, Haris ingin mengunjungi Paman Jamil dan Bibi Mila.


Rencana itu tentu disambut hangat oleh Natalia, ia baru mengenal Paman Jamil, tidak dengan Bibi Mila, Natalia semangat karena memang sama sekali belum pernah kesana, perjalanan Natalia yang paling jauh selama ini baru sampai Bandar Lampung saat bersama Haris dulu, lebih jauh belum pernah.


Saat sampai di gerbang, satpam yang sudah mengenal mobil Natalia langsung membuka pagar dengan lebar, dengan begitu Haris langsung memasukkan mobil hingga halaman, Natalia langsung turun, ia tahu Haris ingin ke tempat Risda.


“Selesai dari Risda, nanti abang kesini, baru ke bandara”.


Natalia angguk kepala. “Iya Bang”.


Haris langsung beranjak pergi, karena jarak antara sekolah tempat Natalia mengajar dengan sekolah tempat Risda mengahar hanya beberapa ratus meter saja, Haris hanya batuh waktu sekian menit saja untuk mencapainya, Haris paham betul karena itu sekolah tempat Haris dulu menjadi guru.

__ADS_1


Haris berhenti dan turun di depan pagar, karena satpam tak langsung membuka pagar, tentu saja begitu karena satpam yang sudah cukup berumur itu tak mengenal mobil yang sudah sangat dekat dengan pintu pagarnya, Haris turun karena merasa mengenal sang Satpam.


“Pak Burhan, boleh masuk ?”.


Burhan membuka pintu sedikit dan mendekat. “Pak Haris ?”.


Haris tersenyum dan anggukkan kepala. Keduanya langsung bersalaman dan bahkan lengkap dengan pelukan, walau sudah puluhan tahun tak bertemu, Burhan masih sangat hafal wajah Haris, Burhan dulu bahkan termasuk orang yang kecewa saat tahu Haris menghilang.


“Wah .. Pak Haris, masih ingat kesini juga ?”.


Haris tertawa. “Masa lupa Pak Bur, nggak mungkin kan ?”.


Keduanya sudah duduk di post satpam. Burhan terus menerus menatap wajah Haris dan terus dengan senyumnya yang mengembang, semua kebaikan dan keramahan Haris kini kembali terang benderang di kepalanya, Burhan termasuk orang yang rindu pada Haris selama ini.


Burhan mendesah. “Tapi semuanya sudah berubah Pak Ris. Selain saya, guru lama yang masih bertahan tinggal dua sekarang, Bu Olivia dan Bu Shinta saja, yang lain sudah nggak ada, Pak Saruksuk juga sudah meninggal dunia”.


Haris ikut mendesah. “Sudah lama Pak Bur, sudah dua puluh lima tahun lebih”.


Burhan anggukkan kepala. “Iya Pak Ris, sangat lama. Saat Pak Haris pergi, saya masih lajang Pak, sekarang anak saya malah sudah menikah, sebentar lagi saya akan punya cucu, kakek kakek”.


Haris tertawa sambil menepuk pelan bahu Burhan. “Saya ke kantor guru bentar ya Pak Bur, ada yang mau saya temui”.


Burhan tersenyum. “Bu Olivia ?”.


Haris tertawa. “Ada ada saja Pak Burhan, bukan”.


“Siapa tahu kan, masih ingat kenangan lama”.


Haris dan Burhan sama tertawa, Haris terasa geli juga, dulu memang banyak yang mengatakan kalau Haris cocok dengan Olivia, dan memang mereka cukup dekat, tapi Olivia tahu kalau Haris dekat dengan Natalia, sehingga kedekatan mereka hanya sebatas omongan rekan kerjanya saja.


“Bu Olivia masih single lho Pak Ris. Masih ada peluang”.


Haris mendelik. “Olivia belum menikah ?, masa sih Pak Bur ?”.


Burhan terkekeh. “Serius, belum juga dapat jodoh dia”.


Haris menggeleng, ada ada saja. Masa Olivia belum juga menikah, usianya tak jauh beda dengan Haris, Olivia sekarang tentu sudah berumur lebih dari empat puluh tahun, bagaimana bisa ia belum menikah sama sekali, aneh juga.


“Jadi, Pak Ris mau ketemu siapa dong ?”.


Haris tersenyum. “Risda, Risda Nalia”.


Kening Burhan agak berkerut. “Siapanya Pak Ris Bu Risda memang ?”.


Haris angkat bahu. “Risda itu putri saya Pak Bur”.


Burhan benar benar mendelik. “Putri Pak Ris ?”.


Haris anggukkan kepala. “Iya, dia putri saya, satu satunya putri saya”.


Burhan angguk angguk heran, berdiri membuka pagar lebih lebar, Haris masuk mobil dan menjalankannya masuk halaman, menuju ruang guru. Burhan masih bertanya tanya dalam hati, selintas kemudian Burhan seperti mengingat pernah melihat mobil yang di bawa Haris datang kesekolah ini, tapi Burhan lupa persisnya.

__ADS_1


…. Bersambung ….


__ADS_2