Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Perubahan Hidup Farhan


__ADS_3

Husain sudah menyelesaikan semua dokumen yang di butuhkan Faridha, bukan hanya surat mandah dari Kantor Catatan Sipil, Husain juga sudah mengantongi NA Faridha, kesepakatannya memang begitu, saat Husain antar Faridha ke Jakarta, itu juga sekaligus acara pernikahan putrinya.


Walau masih ada resah, tapi Husain merasa memang itulah yang terbaik sekarang, apalagi putrinya Faridha juga tampak sudah begitu yakin, sudah sangat dekat dengan Farhan, rasa cinta di hati keduanya sudah tumbuh begitu suburnya, hingga tak ada lagi yang mungkin membuatnya layu.


Husein tak menyampaikan apapun pada Agung maupun Meeta, bahkan Faridha juga tak menghubungi Farhan, tapi faktanya Husain dan tiga anaknya sekarang sudah berada di Bandara Soekarno Hatta, sedang menunggu taksi untuk melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga Agung.


Jantung Husain sama sekali tidak tenang, degubannya kian lama kian kencang, dan semakin tak karuan saat taksi berhenti di depan rumah keluarga Agung. Sudah tiga kali Husain bertanya ke Faridha, jawabannya sama, ini memang rumah yang mereka tuju, Husain malah jadi sedikit gemetar, rasa tak mampu memasuki rumah besar ini.


Dua satpam setengah berlari mendekat saat melihat Faridha, keduanya tentu sudah kenal betul dengan calon istri Farhan ini. Keduanya langsung angkat semua barang milik keluarga Faridha, ini membuat Husain jadi senyum kecut, sikap kedua satpam itu makin menguatkan Husain kalau memang ini rumah yang akan mereka masuki.


Husain melangkah satu satu, makin berdebar saat masuk halaman rumah, Husain menggeleng, baginya ini bukan lagi rumah, tapi lebih tepat seperti Istana, sehingga merasa begitu canggung, serasa tak layak untuk menginjakkan kaki di rumah yang sebesar ini, tapi langkah Husein lanjut karena melihat Faridha yang begitu nyaman melanjutkan langkahnya.


Husain bergetar, bulu kuduknya malah naik saat melihat Faridha sudah saling peluk dan sama sama tertawa, bahkan hampir seperti meloncat loncat saat pintu terbuka dan ada yang keluar dari sana. Risda yang membukakan pintu begitu terkejut saat melihat Faridha ada di depannya.


Ini memang saat yang tepat untuk sampai, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, sehingga semuanya sudah berada dirumah, akan lain ceritanya jika mereka sampai siang hari, jangan jangan yang ada Cuma satpam doang, pintu akan tertutup rapi, entah siapa yang mengajari, tapi Husain yang ambil tiket kemarin, memang sengaja ambil tiket malam.


Husain mencoba meningkatkan rasa percaya diri saat melangkah masuk, masih gamang memang, tapi sedikit demi sedikit tenang menerima sambutan keluarga Agung yang tampaknya memang begitu ramah. Agung dan Meeta malah sekarang ada omelan sedikit, mengapa Husain datang nggak bilang bilang, paling tidak kan bisa di tunggu di bandara.


Suasana makin riuh saat Ariana setengah menjerit mengejar Faridha, kali ini benar benar melompat lompat, keduanya saling berpelukan dengan penuh gembira hingga memutar mutar setengah melompat. Husain, Irham dan Hasan sama sama menggeleng melihat Faridha sampai begitunya dengan Ariana.


Tapi ketiganya tampak senang, dari semua yang mereka lihat sekarang ini memberi bukti kalau apa yang dikatakan Faridha soal keluarga Farhan benar adanya, semuanya tampak begitu ramah dan begitu menghormati Husain, ini malah membuat Husain sangat terharu, pertanyaannya sekarang, dimana Farhan ?.


Agung mengenalkan semuanya pada Husain, mulai dari Asrul dan Risda, Mutia dan Mahdan, Reni dan Iskandar, hingga si bungsu Ariana. Husain senyum senyum saja membalas semua senyuman yang dilontarkan padanya. Obrolan terus berlanjut, Husain sebenarnya ingin bertanya Farhan dimana, tapi rasa segan menghalanginya, sehingga terus bersambut cerita dengan semuanya.


Tidak hanya Husain, Irham dan Hasan. Semua yang ada di ruang tengah sama sama menggelengkan kepala, heran bercampur kesal, bagaimana tidak, saat Farhan dan Tomy muncul, Faridha berdiri dan menghampiri, keduanya enak saja berpelukan di depan semua orang, Asrul sampai sampai menghusap muka, kesal melihat Farhan.


Tomy yang awalnya sangat ingin melihat wajah Faridha bahkan memalingkan wajah secepatnya, Farhan dan Faridha berpelukan di depannya, hanya berjarak satu langkah darinya. Tomy tertawa sambil geleng kepala, Tomy memang tahu kalau Farhan mencintai dan merindukan Faridha hampir sebanyak helaan nafasnya, tapi Tomy tak mengira kalau Farhan segila ini.


Husain bahkan begitu jengah, kepalanya malah jadi pusing melihat putrinya yang malah dengan mudah membalas pekukan Farhan. Mahdan mencolek Mutia, keduanya sama menggeleng dan senyum kecut, Iskandar sudah sangat maksimal menahan tawanya, tapi jebol juga, Reni juga menggeleng panjang.


Setelah keduanya duduk berdekatan seperti tanpa dosa, Agung dan Husain saling pandang, sama sama tersenyum kecut dan sama sama angkat bahu, pasrah. Husain menyerahkan berkas Faridha ke Agung, Meeta yang ikut membaca langsung sumringah, Agung juga senyum lebar, Agung memang inginkan ini, sehingga bisa secepatnya menikahkan Farhan dan Faridha, bahaya jika masih menunda.


Yang masih terus ngobrol sekarang hanya Agung, Meeta dan Husain. Yang lain sudah beranjak satu demi satu. Tomy bahkan sudah resah menunggu Farhan, Tomy sudah sejak lama berada di kamar, tapi Farhan tak juga muncul, walau Tomy yakin Farhan pasti masih cerita dengan Faridha, tapi menurut Tomy tak begitu juga, kan besok masih ada waktu yang banyak.


Kesepakatan diambil, Farhan dan Faridha menikah tiga hari kedepan. Bukan karena cuti Husain hanya sampai hari itu, tapi apa yang mereka lihat tadi membuat semua sepakat sebaiknya gelarannya di percepat, semua keperluan Faridha untuk kuliah juga sudah tuntas, besok hanya tinggal daftar ulang saja.


Tomy yang awalnya bingung bagaimana, menjadi menggeleng, ternyata Agung sudah memikirkan semuanya dengan matang, Tomy tak tahu kalau ada pembuatan kamar baru di samping kamar tamu, memang tak akan mengganggu keberadaan ruang depan, apalagi pintunya dari ruang tengah, ternyata kamar itu dibuat memang untuk Tomy, kedatangan Faridha mengharuskan Tomy pindah kamar tentunya.


Acara pernikahan dan resepsi sudah selesai, Husain, Irham dan Hasan juga sudah kembali, Faridha sudah menetap di kamar Farhan, keduanya banyak mengurung diri sekarang, bahkan untuk ngobrol saja sudah hampir tak pernah, Farhan dan Faridha benar benar menikmati kebersamaan mereka secara utuh.


Yang paling berubah sekarang Tomy, yang selama ini selalu bareng Farhan sekarang tak mungkin lagi, sehingga Tomy sudah banyak sendirian, bahkan ke kampus sudah sendirian juga, mobil yang biasa di pakai Meeta, sekarang digunakan Tomy, Meeta sekarang diantar dan di jemput Agung setiap harinya.


Risda yang sudah hamil besar juga tak banyak keluar rumah sekarang, ke sekolah hanya tiga hari dalam seminggu, itu selalu di antar dan di jemput oleh Asrul. Kalau tak ada kuliah, Tomy sekarang menjadi mitra baru Risda dalam mengurusi taman, Tomy yang membantu Risda melakukan banyak hal di taman, kadang kadang ada Faridha, itupun kalau Farhan lagi tak ada.


Dua bulan sudah berlalu, perut Risda sudah sangat besar, sudah mencapai puncak, ini sudah menunggu hari harinya saja, Risda juga sudah mudah sekali lelah, kadang Risda hanya duduk memandangi Tomy yang menyiram bunga, memotong beberapa tangkai sesuai dengan petunjuk Risda, gerakan Risda semakin berat, ini membuat seisi rumah fokus pada Risda.


Yang cepat mendapat rezeki adalah Reni. Ia hanya kosong tak sampai empat bulan, di akhir bulan keempat Reni sudah mengetahui kalau ia positif hamil, sekarang perutnya juga sudah mulai menyembul, usia kandungan Reni sudah mencapai bulan ketiga. Tapi Reni tentu beda dengan Risda, walau sama sama hamil, tapi Reni juga ikut fokus memperhatikan Risda, karena posisi Reni aman aman saja.


“Adek nggak pake kontrasepsi dek ?”.


Faridha melirik Reni sebentar, menggeleng. “Nggak kak”.

__ADS_1


Reni melotot. “Nggak gimana dek ?”.


Faridha menggeleng lagi. “Nggak ada kak”.


Reni makin melotot. “Nggak pake apa apa ?”.


Faridha kembali menggeleng. “Nggak ada kak”.


Reni menggeleng panjang. “Kalo nanti adek hamil gimana dek ?”.


Faridha malah tertawa. “Ya, syukur kalo gitu. Apa salahnya kak ?”.


Reni kembali menggeleng, malah memencet hidung Faridha. “Eh, adek sayang. Adek itu masih 18 tahun, hamil, jangan dulu lah dek”.


Faridha cukup terkejut, bahkan langsung berhenti memotong sayuran, menatap Reni cukup lama. “Masih 18 tahun Idha ya Kak”.


Kali ini Reni cekikikan, kembali memencet hidung Faridha. “Emang 18 kan ?”.


Faridha jadi nyengir juga, baru sadar kalau ia memang masih 18 tahun, masih semester satu, nanti kalau benar benar hamil payah juga jadinya, bagaimana mau konsen kuliahnya, masih semester awal sudah gendong anak. Faridha malah jadi begidik, apalagi potensinya ada, Farhan tak pernah absen untuk kegiatan itu.


“Haid terakhir kapan dek ?”.


Faridha menilirik dan geleng kepala. “Sudah lama kali ya Kak”.


Reni kembali mendelik. “Lama ?, sampai adek lupa kapan terakhir ?”.


Faridha menggeleng lemah. “Selama disini”. Faridha tampak berpikir. “Selama disini, nggak pernah kayaknya ya kak”. Faridha menggeleng lagi.


Reni balik mendelik. “Kok nanya Kakak sih dek ?”.


Reni meletakkan pisaunya, juga meminta Faridha melakukan hal yang sama, Reni menarik Faridha keluar, yang di tarik hanya ikut saja, masuk mobil dan langsung beranjak keluar rumah. Faridha tetap tak bicara saat turun di rumah sakit, masuk ruangan yang biasa ditempati Mutia, dan duduk di sofa yang tersedia.


Mutia muncul dan sedikit mengerutkan keningnya melihat adik iparnya duduk di sofa sambil memandangi layar ponselnya. Mutia melihat ada tas Reni disana, berarti Reni ikut, padahal hari ini jadwal Reni libur, bukan jadwal periksa juga. Sehingga Mutia menjadi sedikit menggeleng kepala.


“Kenapa Dek ?, Kak Reni mana ?”.


Faridha angkat kepala, senyum tipis dan menggeleng. “Sampai, kak Reni langsung keluar Kak, Idha nggak tahu kemana”.


Mutia anggukkan kepala dan ikut duduk di samping Faridha, Mutia menggeleng saat melihat layar ponsel Faridha, ternyata adik iparnya sedang main games, hebatnya, itu games yang sama dengan games yang biasa dimainkan Ariana, itu games untuk anak anak remaja, itu yang membuat Mutia menggeleng, bagaimana adik iparnya malah memainkan permainan yang sama.


Kening Mutia kembali berkerut saat Reni muncul, bukan Reni yang membuat Mutia heran, tapi dibelakang Reni ada dokter Laila. Bukan hanya Mutia, Faridha juga terkejut saat Reni malah memintanya naik ke ranjang untuk diperiksa dokter Laila. Faridha ikut saja walau ada ribuan pertanyaan di kepalanya, Mutia yang seakan tangkap masalah, langsung hela nafas panjang dan geleng kepala.


“Selamat ya … ada Farhan junior disini”. Dokter Laila senyum lebar sambil mengelus perut Faridha.


Faridha langsung melonjak. “Apa dok ?”.


Laila kembali senyum lebar. “Ada Farhan junior disini”.


Faridha malah memucat, ia memandangi Mutia dan Reni bergantian. Mutia dan Reni sama sama mendesah, sama sama menggeleng dan bahkan sama sama menepuk jidat sendiri berkali kali. Faridha jadi ketakutan, Faridha terus memandangi Mutia dan Reni cukup lama.


“Kak, Kakak, ini … Idha …”. Faridha benar benar gugup.

__ADS_1


Mutia mendekat dan menangkup pipi adik iparnya. “Ya, mau bagaimana, kakak bakal punya tiga keponakan dalam tahun ini, Kak Risda, Reni dan Farhan junior”.


“Tapi Kak … Idha ..”.


Mutia menggeleng. “Mana ada tapi tapian, wong sudah jadi”.


Faridha lemas dan bahkan menangis, ini membuat dokter Laila malah tertawa. “Yang namanya perempuan yang punya suami ya begitu Dha, kalau semuanya aman, ya hamil, mau gimana coba”.


Mutia langsung memeluk Faridha yang tangisnya malah makin menjadi jadi, Reni geleng kepala walau sudah tertawa kecil. Bagaimana tidak hamil, kondisi sehat dan tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Reni mengambil photo Faridha yang menangis di pelukan Mutia dan mengirimkan ke ibunya.


Meeta yang langsung membaca agak heran, Reni hanya mengirimkan gambar tanpa kata kata, Meeta awalnya agak bingung, tapi kemudian tepuk jidat saat melihat dokter Laila ada diantara mereka. Meeta menggeleng dan langsung ambil langkah turun ke bawah, Meeta jadi penasaran dan ingin memastikan.


“Kenapa Ren ?, Mutia ?, adik kalian kenapa ?”.


Reni tertawa. “Farhan junior”.


“What ?”.


Reni angkat bahu, kembali tertawa kecil. “Farhan Junior Is Coming”.


Meeta tak tahu entah mau gembira atau tidak, jelas gembira karena cucu yang kelahirannya ia tunggu jadi bertambah, kini tidak dua lagi, tapi sudah menjadi tiga bakal cucu yang akan lahir kedunia. Tapi stress juga, menantu perempuannya ini masih terlampau muda, sangat muda malah, semestinya jangan dulu.


Meeta mendekat, pelukan Faridha jadi beralih ke Meeta, tangisannya makin keras, Meeta mencoba menghibur dengan tertawa kecil, mengelus elus punggung Faridha perlahan, mau bilang apa lagi, ini bukan aib yang perlu di tangisi, Faridha resmi dan sah sebagai istri, hamil tentu sama sekali bukan hal aneh.


“Sudah ah, sudah. Nggak apa apa, kok malah nangis. Kita pulang ya, ayo”.


Faridha masih menggeleng. “Tapi Ma …”.


“Sudah, nggak ada tapi tapian. Sudah, ayo pulang bareng Mama”.


Dokter Laila ikut tertawa kecil dan gelengkan kepala. Semua wanita bersuami akan gembira kalau di beritahu sedang hamil, baru kali ini Laila melihat sebaliknya, malah menangis tersedu sedu. Tapi mengingat usia Faridha yang masih sangat belia, Laila paham juga, tapi semestinya kan sudah di antisipasi sejak awal, kalau sekarang mau apa lagi, mau tak mau, memang harus di hadapi.


Di rumah, para lelaki pada bingung, tak ada makanan apapun yang terhidang di meja, dan tak ada satu wanitapun kecuali Ariana yang berada di rumah, di dapur mereka hanya menemukan sayuran yang belum terpotong semuanya, malah lengkap dengan pisau pisaunya, sengaja di tinggalkan.


Semuanya kembali menggeleng saat Iskandar menunjukkan balasan pesan WA dari Reni yang mengatakan ada sedikit urusan dengan Faridha, Farhan yang agak bingung, pesannya jangankan dibalas, di baca saja belum. Tapi, pesan Reni ke Iskandar sudah mengamankan semuanya.


Sudah tak kuat, Iskandar dan Tomy bekerja sama memasak mie instan, jadilah semuanya makan dengan mie instan ala Iskandar dan Tomy, termasuk Risda yang baru pulang dari mengajar juga menikmati makanan yang sama, karena memang tak ada pilihan lain yang tersedia.


Asrul menatap ayahnya sambil geleng kepala. “Ini Pa, makanya Papa perlu juga Asisten Rumah Tangga, kejadian begini, Papa bingung kan ?”.


Agung hanya tertawa. “Baru sekali ini kan ?”.


Asrul tertawa kecil. “Iya sih Pa, Asrul juga baru kali ini makan mei instan pake kangkung, sebelum ini belum pernah tuh”.


“Tapi enak lho Bang”. Sambut Mahdan. “Dapat ide dari mana Tom ?”.


Tomy tertawa kecil. “Itu ide Bang Iskandar Bang, Tomy cuma ngikut doang”.


Semuanya jadi tertawa, sakin terkekehnya, mata Agung bahkan sudah berair. Tapi ini adalah kegembiraan dan kebahagiaan baru Agung sekarang, berkumpul dengan anak dan menantunya, ada saja yang bisa membuat tertawa, seperti siang ini, entah dapat ide darimana Iskandar dan Tomy memasak mie instan pakai kangkung yang tadi mereka temukan belum terpotong semuanya.


Iskandar meminta Tomy memotongnya habis dan mencampurkannya ke mie instan yang ia masak. Maka, jadilah semuanya makan mie instan sayur, walau aneh, tapi tampaknya semua menikmatinya dengan baik, bahkan Ariana cuek saja, nambah dianya malah.

__ADS_1


Risda juga senyum senyum sendiri, hari ini yang masak seharusnya Reni, karena jadwal Reni memang libur sekarang, dibantu oleh Faridha, karena Faridha juga sedang kosong kuliah hari ini, tapi keduanya tak terlihat dirumah, entah kemana.


…. Bersambung …


__ADS_2