Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Keresahan Milik Asrul


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya Risda menemukan kegelisahan Asrul saat makan bersama, setelah berpikir sejenak Risda angguk kepala sendiri dan menyadari apa yang dirasakan Asrul, walau itu terlalu pribadi tapi memang cukup mengganggu, sangat mengganggu malah bagi Asrul.


Acara makan cukup singkat, merasa perlu membincangkannya, Risda menarik tangan Asrul selesai makan, Asrul walau agar terkejut mengikuti saja langkah Risda yang beranjak menjauh dari rumah tempat tinggal mereka menuju samping balai desa, disana ada bangku panjang yang teduh karena naungan pohon besar yang tumbuh didekatnya.


Risda dan Asrul duduk disana mengjadap pekebunan warga yang cukup luas membentang hingga kepinggiran sungai yang lebarnya lumayan juga.


“Aku melihat keresahanmu Rul”.


Asrul menatap sesaat. “Resah bagaimana ?”.


Risda tersenyum tipis. “Setiap makan kamu selalu resah”.


Asrul lebih dulu membalas senyum tipis Risda sebelum mengalihkan pandangan lagi ketepian sungai. Asrul tak menyangka Risda menangkap rasa gelisahnya, Asrul juga tak menyangka Risda memperhatikan hingga kesana, tapi bagi Asrul itu memang sangat baik, sebagai teman Risda memperhatikan temannya adalah hal yang lajim juga.


“Apa solusinya ?”.


Asrul kembali menoleh, geleng kepala. “Nggak tahu Ris”.

__ADS_1


“Jadi gimana, biar aja terus jalan begini ?”.


Asrul buang nafas berat. “Nggak dong Ris, aku …”.


Asrul tak melanjutkan kata katanya, Asrul tak tahu mau ngomong apa, Asrul juga tidak atau belum menemukan jalan keluar setuasi yang dihadapinya, setuasi yang sudah mengganggunya sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini.


Asrul hingga kini tak punya alternatif yang bisa dipilih, karena keadaan ini sama sekali tak pernah dibayangkan Asrul sebelumnya.


“Bagaimana kalau kita masak sendiri ?”.


Kening Risda agak berkerut. “Kita ? Aku juga kan …”. Kening Risda berkerut memandang Asrul.


Lama Asrul dan Risda saling pandang, saling lempar senyum dan sama sama juga mengalihkan pandangan. Asrul tepuk jidat juga akhirnya, Asrul baru sadar kalau yang bermasalah memang hanya dia, yang punya dilema dalam hal ini memang Cuma dia, tidak untuk Risda.


Risda tak punya dilema dengan itu, Risda tak perlu merasa bermasala dengan keadaan ini semua karena Risda berkeyakinan sama dengan yang punya rumah.


“Maaf.. aku lupa, aku lupa Ris”.

__ADS_1


Risda hanya senyum saja. Risda juga tak yakin dengan kemungkinan yang ditawarkan Asrul, hal yang paling sulit adalah bagaimana memulainya. Risda tak yakin mampu memberikan alasan yang cukup pada Bu Tania tentang apa yang ditawarkan Asrul.


Walau Risda yakin Asrul akan lebih nyaman begitu, lagi pula hingga kini, hingga sebesar ini, Risda belum pernah mengkonsumsi makanan atau hewan yang tak dibenarkan dalam keyakinan Asrul, karena keluarga Risda juga melakukan hal yang sama, Mama dan Neneknya.


Atau Asrul mungkin juga tahu kalau Kakeknya, Pamannya dan banyak keluarga Risda yang lain memiliki keyakinan yang sama dengan Asrul. Tapi Risda hanya bisa geleng kepala sendiri dan tak ada keinginan sama sekali untuk bercerita pada Asrul tentang Almarhun Kakeknya yang dulu tinggal di Bengkulu maupun Pamannya yang hingga kini tinggal di Kota Sibolga Sumatera Utara.


“Jadi gimana Rul ?”.


Asrul kembali hanya geleng kepala. “Nggak tahu Ris, bingung”.


Risda juga jadi ikut bingung, Risda agak buntu juga dengan apa yang dihadapi Asrul. Tapi Risda merasa yakin kalau Asrul pasti dapat jalan keluarnya dengan baik dalam waktu dekat, apalagi sekarang ini mereka baru dua hari disini, tentu belum banyak hal yang diketahui.


Risda juga punya keinginan agar Asrul dapat menemukan solusinya sekaligus menghilangkan keresahan yang terus menghimpit hatinya setiap berada dimeja makan.


Asrul juga belum punya teori yang tepat untuk itu, masalah kemungkinan menambah biaya hidup untuk sebuah ketenangan bagi Asrul bukan masalah yang perlu dipertimbangkan.


Masalahnya tidak sesederhana itu, bukan hanya sekedar Asrul yang tidak punya pengalaman masak memasak, akan tetapi lebih dari itu. Segala bentuk peralatan memasak juga tak punya, mau membeli juga bukan perkara mudah, jarak ke ibukota kecamatan sangat jauh, disana juga belum tentu ada, mau ke ibukota kabupaten akan terhalang jarak dan medan yang jauh lebih berat, pusing.

__ADS_1


... Bersambung ...


__ADS_2