
Sejak menjadi dosen, jam pulang Asrul jadi tak menentu, tapi sekarang banyak waktu yang bisa dipakai untuk Risda, sekarang keduanya bisa tidur lagi beberapa menit setelah sarapan, karena sama sama jadwal kosong. Kesempatan untuk melihat rumah yang mereka bangun juga makin banyak.
Asrul dan Risda bahkan sudah banyak membuat hal baru di rumah ini, pinggiran kolam buatan Asrul sudah di penuhi bunga, bukan hanya Risda, Asrul juga jadi punya hobby baru, mengambil bibit bunga yang ia lihat cantik di seputaran kampus tempat ia mengajar.
Apabila ada bunga baru seperti ini, keduanya akan berlama lama di rumah mereka ini, sama sama menanam, bercanda di taman, dan sering juga berlanjut di dalam, tertidur hingga siang, lepas dzuhur baru beranjak dari sana, Asrul menuju kampus setelah mengantar Risda pulang ke rumah utama.
Kegiatan keduanya semakin menyenangkan, kunjungan ke rumah Natalia juga meningkat pesat, apalagi akhir akhir ini Natalia sering kurang enak badan, jika sudah begitu, Asrul dan Risda biasanya akan memilih menginap disana. Asrul juga sudah banyak memperbaiki dan memperindah rumah Natalia.
Sekarang taman depan dan taman belakang rumah Natalia sudah dengan wajah yang berbeda di tangan Asrul, tidak hanya Natalia, sekarang Widya juga menjadi lebih sering duduk berbincang dengan Natalia di taman belakang, keduanya sama sama suka dengan konsep yang dibuat Asrul, keduanya betah memandangnya.
Banyaknya waktu bersama ini membuat Asrul dan Risda tampak semakin mesra, keduanya bahkan sering membuat Farhan cemburu, membuat Farhan menjadi sangat rindu pada Faridha. Apalagi hari minggu, Asrul dan Risda bersama sepanjang waktu, sudah seperti pengantin baru, manja manjaan tak menentu, tak peduli dengan siapa saja, seakan dunia ini hanya milik mereka berdua.
Berulang kali Tomy harus balik kanan karena kepergok Asrul dan Risda yang sedang umbar kemesraan di tengah taman halaman samping. Jika sudah begini, Tomy hanya bisa geleng kepala, memilih jalan memutar atau malah membatalkan tujuannya, bisa kembali ke kamar, atau kadang lebih memilih membaca buku di musholla.
Bukannya kesal atau semacamnya, Tomy malah merasa salut dan suka dengan pasangan itu, Tomy banyak menemukan hal yang perlu dipelajari untuk dapat di praktikkan saat nanti diberi rejeki ketemu teman hidup. Tomy melihat Asrul dan Risda sebagai sepasang suami istri yang saling melengkapi, Tomy suka dengan sifat keduanya, Asrul dan Risda sama sama idola bagi Tomy.
Ini juga sering menjadi topik bahasan antara Farhan dan Tomy, secara terbuka, Farhan akan selalu mengaku rindu pada Faridha, Tomy hanya geleng kepala, Tomy juga hanya nyengir kalau Farhan memancing Tomy soal hubungan dengan wanita, tak ada jawaban dari Tomy soal ini, walau Farhan selalu mengatakan ada banyak wanita cantik dan sholehah di sekelilingnya, terutama di kampus.
Tapi Tomy nyengir bukan karena apa, Tomy sepertinya belum siap untuk itu. Tomy lebih memilih fokus pada kegiatan perkuliahannya. Tomy tak mau Ayah Agung dan ayahnya di kampung jadi kecewa, Tomy datang kesini hanya untuk belajar, belajar dan belajar hingga menemukan cita citanya, soal wanita menurut Tomy akan ada pada waktunya, akan indah pada masanya.
Asrul kelabakan melihat Risda yang pagi pagi buta sudah muntah muntah hebat, sampai sampai air matanya sudah mengalir deras. Asrul memeluk Risda dari belakang dengan seluruh rasa khawatirnya, Asrul ikut memucat, tak tahan melihat Risda yang begitu terpaksa mengeluarkan isi perutnya.
Asrul menuju pintu yang dari tadi digedor gedor dari luar, begitu pintu terbuka, Asrul langsung menyingkir karena di dorong ibunya ke samping dan langsung masuk di susul Mutia dan Reni, Asrul hanya menggeleng dan ikut melangkah mendekat, Asrul kini hanya berdiri menonton.
Risda sudah dibaringkan di tempat tidur, Mutia sudah mengeluarkan peralatannya dan Meeta langsung melakukan pemeriksaan, entah apa yang dikeluarkan Reni dari kantongnya, yang jelas Risda berdiri menuju kamar mandi dan saat keluar menyerahkan yang tadi diberikan Reni ke ibu mereka Meeta.
Asrul masih bingung saat ibu dan kedua adiknya langsung tertawa dan menciumi Risda bergantian, setelah itu Asrul yang menjadi sasaran, ibu dan kedua adiknya bergantian mencubit pipinya, walau dengan kening yang berkerut dalam, Asrul tetap tersenyum, masih bingung saat ketiganya keluar lagi dan menutup pintu.
Asrul mendekat dan duduk di tepi ranjang, kening Asrul makin berkerut dalam saat Risda malah senyum lebar dan memberikan apa yang tadi diberikan Reni dan dibawa Risda ke kamar mandi, Asrul menerima alat kecil itu dan anggukkan kepala, kode bertanya tentang apa yang sedang terjadi.
Risda mengelus perutnya. “Ini Bang”.
Asrul menatap perut Risda. “Adek sakit perut ?”.
Risda menggeleng. “Bukan sakit perut. Abang ada saja”.
Asrul makin mendekat dan kini memegang perut Risda. “Kenapa ?”.
Risda senyum lebar lagi membuat kerut kening Asrul makin meningkat, Asrul kembali anggukkan kepala karena makin bingung melihat Risda yang terus menerus menebarkan senyum yang sangat merekah.
“Kenapa sih dek ?”.
Risda kembali mengelus perutnya. “Ada penghuninya sekarang”.
Mata Asrul langsung membulat. “What ?”.
Risda senyum lagi. “Iya, ada orang di dalam”.
“Aduh, kita …”.
Risda anggukkan kepala. Asrul langsung memeluk dan menciumi Risda sepuasnya, tapi kemudian air mata Asrul malah turun, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil terus memeluk istrinya erat, berulangkali Asrul mengecup puncak kepala Risda dengan penuh kasih sayang, Asrul tak bisa menggambarkan perasaannya sekarang, semuanya sudah bersatu padu, bercampur aduk sedemikian rupa.
Nyaris tiga tahun mereka menikah, akhirnya khabar yang di nantikan Asrul datang juga, khabar yang selama ini sebenarnya menjadi idaman Asrul, tapi rasa sayangnya pada Risda membuatnya tak pernah berani menanyakan hal ini, sudah banyak teman yang menyarankan agar mereka periksa, tapi Asrul hanya menggeleng, ia takut itu menyinggung Risda.
__ADS_1
“Mama nggak suruh adek ke rumah sakit, periksa ?”.
Risda anggukkan kepala. “Iya sih Bang, Mama nyuruh begitu”.
“Ayo kalau gitu”.
Risda agak mendelik. “Abang nggak ke kampus memang ?”.
Asrul menggeleng. “Nggak, anak anaknya lagi PKL, jadi kosong sekarang”.
Risda tersenyum dan anggukkan kepala, kemudian langsung bersiap siap, tak lama keduanya sudah berada di atas kenderaan dan melaju menuju rumah sakit, hanya butuh waktu sekian menit saja, Asrul dan Risda sudah masuk lobby, keduanya di sambut manis yang berada di resepsionis, semuanya tampak senang melihat Asrul dan Risda datang berdua, karena itu memang jarang terjadi.
Yang namanya yang punya rumah sakit, Risda langsung ke ruangan Mutia, bukan Risda yang mendatangi doktenya, tapi dokternya yang mendatangi Risda ke ruang periksa khusus di ruangan Mutia. Dr. Laila tampak sumringah saat melakukan pemeriksaan, tapi ia tak merasa cukup, sehingga membawa Risda ke ruangannya.
Perawat yang ada di ruangan dr. Laila langsung sibuk menyiapkan semua hal yang dibutuhkan begitu Risda dan Asrul muncul, Risda kembali mendapatkan pemeriksaan, tapi hanya beberapa menit saja, dr. Laila sudah mempersilahkan Risda duduk, Asrul juga otomatis duduk di samping Risda.
“Gimana dok ?”.
Dokter Laila senyum lebar. “Aman Pak Rul. Kandungan ibu bagus bagus saja, sekarang sudah berusia 36 minggu. Inikan hamil pertama, jadi ibu kudu hati hati juga, apapun itu, semua ada resiko, tapi itu muncul jika kita mengabaikan petunjuk”.
Asrul dan Risda sama sama anggukkan kepala. Setelah perbincangan selesai, Asrul dan Risda beranjak keluar dan bahkan langsung pulang. Laila intip keduanya untuk memastikan memang pulang, setelah yakin, Laila bergegas naik ke lantai empat, menuju ruangan Meeta.
Laila langsung masuk tanpa mengetuk lebih dulu, Meeta yang melihat Laila masuk langsung meluruskan cara duduknya, Meeta tahu kalau Laila baru saja memeriksa kandungan menantunya, langsung ada rasa khawatir Meeta, apalagi melihat Laila begitu terburu buru.
“Ada masalah dengan menantu saya La ?”.
Laila hela nafas panjang. “Entahlah Meet, aku hanya menduga saja, nanti pastinya ke dokter Muhli”.
Kening Meeta langsung berkerut. “Menantuku ada riwayat jantung ?”.
Meeta langsung mendelik. “What ?, Membuangnya ?. Apa sih La”.
Laila angkat bahu. “Aku bilang kalau bahaya, belum tentu, ini cuma perkiraan. Makanya cepat cepat, jangan sampai nanti larut, semuanya jadi serba sulit”.
Meeta menghela nafas, anggukkan kepala. “Okey La, terima kasih, besok aku minta mereka temui dokter Muhli”.
Laila berdiri. “Baguslah kalo begitu. Jangan lama lama Meet”.
“Iya La, iya. Terima kasih sebelumnya”.
Laila anggukkan kepala. “Aku tunggu hasilnya Meet”.
Meeta hanya anggukkan kepala. Tapi, saat Laila sudah hilang di balik pintu, Meeta yang ingin melanjutkan pekerjaannya surut, Meeta bahkan menggigit pelan pulpen yang ada di tangannya, Meeta tiba tiba menjadi begitu resah, sangat tak tenang sekarang.
Membuangnya ?, itu kata yang begitu menusuk jantung Meeta, membut kepalanya juga menjadi berdenyut, itu kata yang sama sekali tak di inginkan Meeta, itu tak hanya akan membuatnya kecewa, tapi seisi rumah akan mengalami hal yang sama, terutama Asrul dan Risda tentunya.
Tapi jika memang itulah yang terbaik, Meeta juga tak punya alasan cukup untuk menantangnya. Meeta menjasi benar benar sangat pusing, kepalanya makin denyut, makin sakit. Tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarganya jika memang itu yang terjadi.
Asrul dan Risda sekarang sudah di rumah baru mereka, tadi kesimpulannya tidak balik ke rumah utama, mau jalan jalan dulu. Tapi, Asrul tidak ingin jalannya jauh jauh, nanti Risda capek, Asrul tak mau itu, sehingga hanya memilih rumah masa depan mereka sebagai tujuan, disini keduanya bisa melakukan apa saja, tak akan ada yang memberikan gangguan.
Kegembiraan memang benar benar hinggap sempurna di hati Asrul dan Risda, kegembiraan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, Asrul tak punya kemampuan untuk menggambarkan hatinya, rasa senang yang begitu membuncah, akan menjadi ayah menjadi hal yang sebenarnya selama ini sangat di idamkan Asrul.
Asrul diam diam selalu cemburu melihat teman temannya yang tampak selalu bahagia dengan anak anaknya, bahkan mereka ada yang jauh lebih muda dari Asrul yang sekarang hampir mencapai usia 29 tahun. Ada banyak temannya yang sudah puas menggendong bayi kecilnya saat baru menginjak usia 25 tahun.
__ADS_1
Sehingga berita tentang hamilnya Risda menjadi berita yang paling besar bagi Asrul, berita yang bakal merubah cerita hidupnya, cerita yang akan membawanya jauh ke depan, cerita yang membuat Asrul akan memiliki kehidupan yang lebih berwarna, akan lebih bermakna, dan tentunya akan lebih bahagia.
Hampir sore baru keduanya pulang, bahkan Asrul sudah mangkir dari kegiatan mengajarnya di kampus, Asrul benar benar lupa dengan itu, ia terlampau larut dengan apa yang baru ia ketahui, sehingga isi kepala Asrul hanya Risda, Risda, dan Risda saja, tak ada yang lain, membuatnya lupa segalanya.
Asrul tak begitu peduli melihat Ibu dan dua adik perempuannya sedang berbincang serius di ruang tengah, Asrul lewat saja saat Risda malah memilih singgah, Asrul langsung masuk kamar, ada yang membuatnya cukup letih, lagi pula memang harus buru buru mandi karena sebentar lagi adzan maghrib, sedang tadi Asrul dan Risda bahkan lebih dari sekali melakukannya.
Tapi, baru hendak menuju kamar mandi, Asrul mendengar notifikasi di ponselnya, Asrul tak pikir panjang, langsung ambil ponsel dan membaca pesan WA yang masuk ke ponselnya, mata Asrul agak mengecil, pesan datang dari ibunya, pesan yang meminta waktu untuk bicara, tapi mengapa harus tanpa Risda.
Asrul membalas ya, kemudian langsung menuju kamar mandi. Tapi, sama sekali tidak nyaman, Asrul akhirnya mandi dan terkesan buru buru, selesai dan kelyar kamar mandi, Asrul menemukan senyuman lebar Risda yang juga sudah bersiap siap masuk, bahkan sudah membawa semua perlengkapan mandinya.
"Abang ke masjid besar ya dek". Asrul mendekat sambil menyium pipi Risda.
Risda anggukkan kepala. "Pulangnya Bang ?".
"Mungkin sekalin isya di sana saja".
Risda hanya anggukkan kepala saja dan langsung masuk kamar mandi. Itu sebenarnya hanya alasan Asrul saja supaya Risda tak mencarinya, Asrul hanya ingin memastikan apa yang ingin di bicarakan ibunya, waktu antara maghrib dan Isya mungkin akan cukup.
"Ada apa Ma ?". Asrul sudah didepan Meeta, Mutia dan Reni lengkap dengan kerut keningnya yang lumayan dalam.
"Risda mana ?".
"Lagi mandi".
Meeta tampak berpikir panjang. "Kita keluar saja Rul".
Asrul hanya anggukkan kepala plus dengan herannya yang makin bertambah, sikap ibunya yang seperti ingin menyembunyikan sesuatu dari Risda membuat Asrul makin bertanya tanya. Tapi Asrul ikut saja saat ibunya menyerahkan kunci mobil ibunya, Asrul melangkah dan kemudian bergerak keluar rumah.
"Kita kemana Ma ?".
Meeta menggeleng. "Terserah, yang penting bisa ngobrol banyak".
Kening Asrul makin berkerut, adzan maghrib berkumandang. Akhirnya Asrul masuk masjid besar, setidaknya Asrul merasa tidak berdusta kepada Risda, ia memang benar benar ke masjid besar. Meeta juga ikut turun dan ikut melaksanakan maghrib berjamaah, tapi hati Meeta sebetulnya belum menemukan ketenangan.
Asrul masuk mobil saat melihat ibunya sudah masuk duluan. "Sebenarnya Mama mau ngomongin apa Ma ?".
Meeta menghela nafas panjang. "Bagaimana caranya, yang jelas besok pagi, upayakan membawa Risda ke rumah sakit menemui dokter Muhli".
Kening Asrul agak berkerut. "Dokter Muhli ?".
Meeta anggukkan kepala. "Semestinya kau tidak perlu penjelasan panjang dari Mama, karena semestinya kau tahu jantung istrimu bagaimana".
Asrul tersentak. "Maksud Mama ?".
Meeta angkat bahu. "Kau harus melakukan pemeriksaan total, apakah kandungan Risda tidak memberi pengaruh pada jantungnya. Kalau tidak, alhamdulillah, artinya aman, kalau ternyata iya... ". Meeta menghela nafas. "Mama nggak tahu bagaimana".
Kening Asrul benar benar berkerut. "Maksud mama sebenarnya bagaimana Ma, Asrul kok malah jadi bingung".
Meeta kembali buang nafas berat. "Jika ternyata itu aman, ya aman. Kalau ternyata itu memberi dampak yang membahayakan, kita masih aman untuk membuangnya".
Asrul langsung mendelik. "Mama bilang apa ?".
Meeta menggeleng pasrah. "Mama hanya menyampaikan apa yang dikatakan dokter Laila. Yang penting sekarang, bagaimana caramu bisa membawa Risda besok ke dokter Muhli, kita dengar apa yang dia katakan nanti".
__ADS_1
…. Bersambung …