Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Farhan Syaukani - Faridha Amalia Putri


__ADS_3

Lomba debat nasional yang dimana sekolah Farhan bertindak sebagai tuan rumah sudah berjalan sejak semalam, hampir semua tim sudah turun, penyisihan hanya sampai siang ini saja, tapi ini sesi yang paling banyak ditunggu, bukan hanya karena tim tuan rumah akan turun, akan tetapi juga sesi yang ini dihuni banyak tim pavorite.


Katakanlah beberapa tim dari Jawa dan Sulawesi, bahkan sesi ini juga dihuni oleh tim yang terkenal tangguh dalam hal debat, Sumatera Utara. Bahkan ada banyak orang yang menjagokan tim yang lebih banyak dihuni perempuan ini, Farhan tak begitu ambil pusing, ia fokus pada tugasnya sebagai panitia lokal.


Farhan sedang mengotak atik ponselnya sambil berjalan, dengan begitu Farhan jalannya sambil nunduk, untuk mencapai kamar mandi, Farhan tentu harus melewati gudung kesenian yang sedang mengalami renovasi karena memang sudah lumayan rusak, diperbaiki sebelum ada jatuh korban.


Farhan hanya senyum membaca WA Kakak Iparnya Risda, nggak tahu juga mau balas apa, akhirya Farhan hanya mengirimkan tiga huruf saja, Yes. Farhan senyum gembira karena kakak iparnya kini sudah hafal sepuluh surat pendek, satu hal yang tentu saja membuat Farhan sangat girang, hingga senyum senyum sendiri.


Mata Farhan terangkat saat mendengar ada suara lain yang ditangkap telinganya, seperti suara yang ingin jatuh, dan benar saja, mata Farhan jelas melihat ada material kayu di bagian atap gedung yang sudah tak dapat di kendalikan tukang, material itu tak tertahan lagi, akan segera jatuh.


Tapi yang membuat dada Farhan berdesir bukan itu, tapi ada seorang wanita yang berjalan keluar dari kamar mandi, sama dengannya tadi, berjalan menunduk karena memperhatikan ponselnya, melihat pakaiannya, Farhan tahu kalau itu pasti salah satu peserta lomba debat.


“Awas …”.


Farhan berteriak dan berlari mengejar, tanpa sengaja Farhan memencet tombol memanggil, otomatis Risda angkat, Risda yang jadi agak bingung, berulang kali Risda katakan halo Far, tapi tak ada jawaban, tapi banyak suara yang ditangkap telinga Risda.


Dengan sigap Farhan menarik wanita itu hingga masuk kedalam pelukannya, bahkan Farhan tangan kanan Farhan berada di kepala sang gadis, sehingga sang gadis benar benar menyandarkan wajahnya ke dada Farhan.


Braaakkkk. Material yang jatuh menimpa tanah, hanya berjarak sekian centi saja dari Farhan. Refleks Farhan merapatkan tubuhnya ke dinding dan sedikit menunduk, mengakibatkan pipi mereka saling menempel satu sama lain, Risda yang di telephon jadi berdebar, sangat terkejut.


Begitu tak ada suara jatuh lagi, Farhan sadar dan buru buru melepaskan pelukannya dengan muka yang sedikit memucat, sang gadis juga begitu, bahkan lebih pucat dari Farhan, melihat titik jatuhnya material, ia tahu jika laki laki ini tak menolongnya, maka material itu akan persis menimpa kepalanya.


"Maaf .. ". Farhan benar benar gugup. "Saya ...".


Walau pucat, gadis yang bernama Faridha itu masih bisa senyum. "Nggak apa apa Bang, terima kasih ..".


Keduanya malah tampak canggung, sedang Risda yang di seberang makin bingung, telephon juga tiba tiba mati. Risda menggeleng dan mengantongi ponselnya, mendengar percakapan tadi, sepertinya Farhan sedang menolong seorang wanita, itu tampak jelas bagi Risda.


Risda akhirnya menggeleng saja, yakin kalau Farhan tak apa apa, tak ada juga terdengar suara mengaduh atau semacamnya, sehingga Risda merasa tak ada yang perlu di khawatirkan, Risda mempercepat langkahnya masuk kelas, nanti saja di tanya, batin Risda.


Sedang Farhan benar benar tersihir dengan apa yang dilihatnya, walau sedikit pucat, tapi wajah itu membius Farhan, benar benar membuat Farhan terpana, terlihat begitu sempurna, perpaduan antara mata, hidung, alis, bibir dan dagu yang sama sekali tidak punya celah sama sekali.


Faridha cuga tampaknya punya getaran yang sama, ia melihat wajah tampan yang jarang ia temukan selama ini, wajah yang menatapnya membuat dada Faridha ikut berdebar, sangat tampan, sudah seperti artis saja, batin Faridha.


Melihat badname yang tergantung di leher Farhan, Faridha jadi tahu kalau anak muda yang menolongnya ini salahsatu panitia dan dipastikan juga anak SMA sini, dan berarti juga kakak kelasnya, karena sepengetahuan Faridha, panitia yang berasal dari siswa SMA setempat, semuanya berasal dari kelas XII, sedang Faridha saat ini masih kelas XI.


"Peserta debat ya ?".


Faridha anggukkan kepala. "Iya Bang".


Farhan mengulurkan tangannya. “Farhan, Farhan Syaukani”.


Faridha tersenyum menerima jabat tangan Farhan. “Faridha Amalia Putri”.


Farhan mempersilahkan, dengan begitu Faridha langsung melangkah kembali menuju aula tempat lomba debat berlangsung, Farhan sudah lupa kalau dia ingin buang air kecil, sehingga ikut melangkah di samping Faridha hingga mencapai gedung.


Karena giliran Faridha dan tim masih cukup lama, Faridha ikut saja saat Farhan memintanya duduk di bangku panjang diluar gedung, Faridha mau, karena dari sini ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan dari dalam.


“Dari SMA mana ?”.


“Saya dari Sumatera Bang”.


“Sumatera ?”.


Faridha anggukkan kepala. “Sumatera Utara”.

__ADS_1


“Medan ?”.


Faridha anggukkan kepala. “Iya Bang, Medan”.


Farhan angguk angguk kepala. Terus terang, Farhan entah kenapa langsung begitu tertarik ingin mengenal Faridha lebih jauh, Farhan sangat suka melihat wajah dan senyuman wanita berhijab itu, terlampau manis menurut Farhan. Farhan belum pernah melihat senyuman semanis ini sebelumnya.


“Ibu saya orang Sumatera Utara, Kota Padangsidimpuan”. Jelas Farhan.


Faridha sedikit mendelik, tampak terkejut. “Oh ya … punya marga kalau begitu ibunya Bang ?”.


Farhan anggukkan kepala. “Lubis”.


“What ?”. Faridha makin tampak terkejut.


Farhan juga menjadi terkejut melihat ekspresi Faridha. “Why ?”.


Faridha senyum dan menggeleng. “Saya Faridha Amalia Putri Lubis”.


Farhan tepuk jidat. “Masha Allah, hebat, itu luar biasa”.


Faridha hanya geleng kepala melihat Farhan yang sampai sebegitunya, tapi entah kenapa Faridha juga seperti merasa begitu gembira, sudah dua hari ia ikut dalam kegiatan lomba debat tingkat nasional ini, baru hari ini Faridha ketemu dengan yang memiliki hubungan marga dengannya.


"Nginap dimana ?".


Faridha senyum lagi. "Di hotel sebelah Bang".


"Yang dekat ini ya ?".


Faridha anggukkan kepala, tapi kemudian sama sama berdiri karena sudah diminta bersiap siap untuk tampil ke depan. Farhan ikut masuk dan melihat walau hanya bisa dari kejauhan. Dan Farhan pun terkesima, ia begitu menikmati kata kata Faridha yang bagai air, menjadi takjub karena menggunakan bahasa Inggris.


Setelah kasak kusuk sekian lama, Farhan akhirnya memenukan cara yang paling tepat, keluarga. Farhan bisa mengaku sebagai keluarga Faridha, ini agak mungkin karena Faridha punya marga yang sama dengan ibunya, setelah kutak katik ponsel, Farhan tahu, pariban.


Untung di tas ada phocopy Kartu Keluarga, Farhan bela belain mengcopy ulang, melipat dan mengantonginya. Farhan agak kecewa saat kembali ke arena, ruangan sudah kosong, Farhan berpikir sejenak, tapi dengan mengumpulkan keberanian, Farhan melangkah menuju hotel tempat Faridha menginap.


Untung bagi Farhan, saat sampai dihotel, semuanya masih berada di Lobby, bahkan ketua rombongan sedang memberikan pengarahan, semua peserta boleh keluar tapi dengan alasan yang jelas, utamanya harus dengan pembimbing atau keluarga yang ada di Jakarta.


Farhan mendekat. "Faridha ..".


Faridha yang dipanggil menoleh dan tersenyum. "Bang Farhan".


Faridha mendekat dan duduk disamping Farhan yang memilih duduk di bangku panjang Lobby, rekan rekan Faridha jadi melihat, termasuk ketua rombongan, apalagi semuanya belum pernah melihat Farhan sebelumnya.


Ketua rombongan mendekat. "Kamu siapanya Faridha ?".


Farhan tersenyum. "Saya Pariban[1]nya Faridha Pak".


Ketua rombongan agak menggangguk, Faridha agak mendelik, terkejut juga dengan pengakuan Farhan, tapi Faridha akhirnya tersenyum, pada dasarnya yang dikatakan Farhan benar, dari segi marga, Farhan memang paribannya, tapi ketua rombongan ternyata belum begitu nyakin.


"Pariban bagaimana ?".


Farhan angkat bahu. "Pariban Pak, atau … ini".


Farhan memberikan copyan Kartu Keluarga mereka dan KTP miliknya. Ketua Rombongan pertama melihat KTP Farhan dan melihat Kartu Keluarga, memang jelas, nama Ibu Farhan tertulis Armeeta Aryani Lubis, tempat lahirnya juga Kota Padangsidimpuan.


Yakin, Ketua rombongan kembali menyerahkan apa yang diberikan Farhan. "Mau bawa Faridha jalan jalan ?".

__ADS_1


Farhan menggeleng. "Mau ke rumah Pak".


Ketua rombongan anggukkan kepala dan berlalu pergi, kini Faridha yang jadi deg degan, bagaimana laki laki yang baru di kenalnya sekian jam kini mengaku pariban dan ingin membawanya ke rumah mereka, semudah itu ?, batin Faridha.


"Ibu saya masih asli Padangsidimpuan, pasti ibu bahagia kalau bertemu kamu, saya yakin itu, gimana ?".


Faridha tampak bingung. "Abang serius ?".


Farhan anggukkan kepala. "Kamu ragu ke saya ?".


Agak lama, tapi Faridha akhirnya menggeleng. "Bukan begitu Bang".


"Jadi apa dong. Kita ke rumah saya, bukan kemana mana".


Faridha masih tampak bingung, tapi entah kenapa, Faridha seperti merasa kalau laki laki tampan ini anak yang baik, apalagi dia mau di bawa ke rumahnya, Faridha tampak berpikir keras.


Ada rasa takut, ada rasa khawatir, dan banyak perasaan lainnya, tapi Faridha tak bisa mendustai diri, prilaku Farhan saat menolongnya tadi, jelas menggambarkan kalau Farhan laki laki yang baik.


"Faridha ganti pakaian dulu Bang".


Farhan tersenyum merekah. "Abang tunggu".


Faridha meninggalkan Farhan di bangku lobby dengan senyuman, menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, Faridha merasa, apa salahnya ikut dengan Farhan, mudah mudahan ia bisa melihat keluarga Lubis di Ibukota ini, dan memang, Faridha merasa kalau tak akan apa apa dengan Farhan.


Begitu Faridha masuk kamar, semua teman wanitanya mendekat, kasak kusuk nanya pariban Faridha yang tampan, Faridha hanya senyum saja, cepat cepat ganti pakaian, begitu selesai langsung turun lagi menemui Farhan yang masih duduk santai di bangku Lobby.


Begitu Faridha ada di depannya Farhan ikut berdiri, berdua melangkah keluar hotel dan mencegat taksi. Faridha naik, walau hatinya masih bertanya tanya, kenapa mau saja ikut dengan Farhan, tapi entah kenapa Faridha ikut begitu saja, hingga akhirnya taksi berhenti di depan rumah Farhan.


"Ayo Dha, kita masuk".


"Iya Bang".


Jantung Faridha agak berdegup, tapi ia melangkah dengan tenang, Satpam yang tersenyum saat membuka gerbang tak bisa dibalas Faridha. Baru dua langkah masuk pekarangan, Faridha sangat terkejut, ini rumah apa istana, batin Faridha, tapi ia tetap ikut melangkah.


Farhan memencet bel, tak lama pintu terbuka, Mutia yang membuka pintu agak mendelik, terkejut melihat Farhan pulang dengan seorang perempuan, tapi Mutia memilih senyum dan mempersilahkan Faridha masuk.


Faridha langsung tenang begitu melihat senyum Mutia, apalagi Farhan dengan cepat memperkenalkan Mutia sebagai kakak perempuannya. Walau begitu, debar jantung Faridha tetap ada, apalagi saat memasuki rumah, Faridha langsung ciut melihat kemegahan rumah ini, serasa tak pantas memasukinya.


"Ini namanya Faridha, peserta debat dari Sumatera Utara, ini sodara Mama, karena dia juga Lubis, sama kayak Mama". Jelas Farhan.


"What ?". Dokter paruh baya itu malah mendekat dan memeluk bahu Faridha. "Kamu boru Lubis ?".


Faridha anggukkan kepala. "Iya Bou[2]".


Meeta tampak sangat senang. "Um, Parumaenku yang cantik. Maukan kalau nanti jadi jodohnya Bang Farhan ?".


Farhan yang langsung mendelik. "Mama kenapa sih ?".


Mutia dan Reni malah memepet Farhan, keduanya mencubit pipi Farhan kiri dan kanan. "Mama kenapa sih ?, bilang aja, itu memang rencananya Ma". Mutia yang bicara.


Farhan langsung memerah pipinya, apa yang dilakukan kedua kakaknya membuat Farhan mati kutu, Farhan juga nggak bisa membohongi diri, ia memang langsung tertarik saat pertama melihat Faridha, ini kali pertama Farhan merasa ingin dekat dengan wanita, Faridha membuat Farhan menjadi berbeda.


…. Bersambung …


[1] Pariban : Panggilan untuk saudara sepupu silang (bagi laki laki, merupakan saudara sepupu dari saudara laki laki ibu, bagi perempuan, merupakan sepupu dari saudara perempuan ayah)

__ADS_1


[2] Bou : Panggilan kepada saudara perempuan ayah, dalam bahasa Mandailing, Bou juga digunakan seorang wanita untuk menyebut ibu mertuanya


__ADS_2