Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Tentang Ayah


__ADS_3

Risda dari tadi melihat mamanya yang tampak aneh, duduknya penuh dengan kegelisahan, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Sudah berulang kali Risda mencoba cuek, tapi matanya terus terganggu dengan tingkah mamanya yang menurut Risda banyak anehnya.


“Kenapa sih Ma ?”. Risda akhirnya tak tahan juga.


Natalia menggeleng. "Kenapa memang ?".


Risda ikut menggeleng, masih terus diliputi rasa aneh. "Mama itu yang kenapa, dari tadi Risda lihat nggak bisa tenang. Ada masalah apa Ma ?".


Natalia balik geleng kepala lagi. "Bukan masalah sih".


Kening Risda berkerut lagi. "Jadi apa dong ?".


Natalia menghela nafas panjang, Risda juga jadi ikut ikutan menghela nafas yang sama panjangnya. Pikiran Risda bahkan sudah jauh entah kemana, Risda yakin, kalau ibunya sedang punya masalah, bahkan Risda sudah mulai menebak, jangan jangan ini masalah ekonomi, kredit mobil mungkin.


“Novel yang kemarin Ris”.


Risda kembali geleng kepala, terkejut dan merasa aneh, kenapa ibunya malah balik membahas novel itu lagi. “Novel Papa ?”.


Natalia anggukkan kepala. "Iya. Novel Papamu".


Risda yang kemudian jadi geleng kepala. Risda merasa heran dan melihat tingkah mamanya yang memang menurutnya benar benar aneh. Kenapa novel papanya dibahas kembali oleh ibunya, bahasan ke novel seperti tak ada habisnya. Lama lama Risda yang jadi pusing sendiri melihat tingkah mamanya.


“Kamu sudah baca lengkap ceritanya kan ?”.


Risda kembali geleng geleng kepala. “Sudah. Tapi .. kok cerita novel sih”. Risda malah jadi menggerutu.


“Karena itu berhubungan dengan kita”.


Kening Risda kembali berkerut tajam. “Maksud mana ?”.


Natalia meletakkan sendoknya berhenti makan. “Novel itu mengisahkan kita Ris..”.


Risda menjadi lebih memperhatikan wajah mamanya, Risda merasa cukup terganggu karena Air mata Natalia mulai turun cukup deras, sudah mengalir ke pipi dan bahkan sudah menetes ke atas meja.


Risda jadi tak tentu detak jantungnya, tapi jujur, kali ini ada rasa kesal dengan semua yang dilihatnya, Risda jadi punya kesal karena melihat sikap mamanya yang menurut Risda terlalu berlebihan dan tak seharusnya.

__ADS_1


”Tokoh utama dalam novel itu adalah Ibumu, Ayahmu, dan Kamu”.


Risda langsung berhenti menguyah. Matanya mengekori mamanya yang langsung beranjak meninggalkan meja makan. Pikiran Risda langsung melayang jauh, Risda masih berusaha menyuap makanan yang ada didepannya, tapi tak sampai lima sendok tak lagi ada suapan lain yang mampu masuk kedalam mulutnya.


Risda jadi tercenung dalam. Kembali Risda mengingat ingat cerita novel yang sebenarnya sudah lebih dua kali ia baca, pertama saat pertama melihatnya diatas meja, kedua saat mamanya katakan siapa pengarangnya, berikutnya saat Risda masih kepikiran omongan ibunya.


Dada Risda akhirnya berdebar dan kepalanya berdenyut cukup kuat. Akhirnya Risda memilih benar benar menyudahi makannya dan berdiri mencari Mamanya yang begitu beranjak tadi tak muncul muncul lagi.


Risda tertahan dipintu kamar, langkah Risda tertahan karena mendapati mamanya terduduk dan menangis ditepi ranjang. Risda tak kuat melangkah masuk sehingga ia memilih mundur dan duduk dikursi depan.


Tangan Risda kembali meraih novel yang kata ibunya karya Papanya, Risda kembali membaca dengan begitu perlahan, kata demi kata di cerna habis oleh Risda, kali ini Risda mendalaminya dengan penuh penghayatan, mencoba membuat cerita itu menjadi nyata dalam hayalannya.


Kali ini Risda betul betul runtuh, tak ada kekuatan yang cukup mampu menahan limpahan air mata Risda, Risda betul betul syok dan tak lama menjadi terisyak, bahkan Risda tidak sadar kalau ibunya sudah duduk disampinya, bersandar di sandaran kursi dan menatap langit langit rumah.


Risda menoleh kesamping dan sadar kalau ibunya ada disampingnya, Risda menatap wajah Natalia cukup lekat, perasaan terenyuh kembali menjadi penguasa hati Risda, semakin lama ia menatap wajah Natalia, entah kenapa semakin dalam perasaan pedih menimpa kepalanya.


“Mama tidak bergurau kan ?”. Risda berusaha menyakinkan.


Natalia memperbaiki duduknya, menggeleng. “Tidak Ris. Mama tak pernah bergurau soal itu”.


Natalia kembali anggukkan kepala. “Betul Ris, kisah dalam novel itu nyata, tak ada yang ditambahi sama sekali”.


“Jadi aku …”.


Natalia anggukkan kepala, Natalia lama menatap Risda, seakan mengumpul kekuatan yang ada panya. Sekali lagi Natalia anggukkan kepala. “Ya. Ayah dan Ibumu saudara kandung yang terpisah sejak ibu dalam kandungan”.


Kepala Risda terus berdenyut makin sakit menyimak cerita mamanya. Apa yang dikatakan Natalia sama sekali tak beda dengan apa yang dibaca Risda dalam novel yang ditangannya. Risda menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Risda merasa kisah itu terlalu imposible.


Tapi Risda tak punya pilihan untuk tidak percaya karena itu semua ia dengar dari ungkapan mamanya sendiri, terlalu aneh kalau Risda masih berusaha untuk tak menyakininya.


“Jadi ayah di mana Ma ?”.


Natalia menatap Risda yang juga sedang menatapnya. “Pak Nas”.


Kening Natalia makin berkerut. “Pak Nas ?”.

__ADS_1


“Berapa Pak Nas yang kamu kenal ?”.


Risda gelengkan kepala berupaya mencari jawaban dari pertanyaan mamanya, sesaat kemudian yang terbayang di kepala Risda adalah orang yang selama berada di Kalimantan selalu membantunya, setiap minggu datang membantu kegiatannya.


“Ada satu. Dulu waktu di Kalimantan”. Risda tampak menunjukkan wajah ragu, sangat ragu. “Hubungannya apa sama Pak Nas ?”.


Natalia saling tatap cukup lama dengan Risda, Natalia kemudian anggukkan kepala berulang kali. “Itu Ayah kamu”.


Risda mendelik. “Pak Nas ?”.


Natalia anggukkan kepala lagi. “Pak Nas yang kamu kenal di Kalimantan adalah Kakak Kandung mama satu satunya, dia Ayah kandung kamu”.


Kini Natalia malah menangis sambil menutup muka dengan kedua tangannya. Bahu Natalia bergunjang hebat, Natalia tak mampu menahannya lagi. Sekarang ia sudah lega, sudah menyampaikan hal yang sudah hampir 23 tahun di tutupinya dengan sangat rapat, Natalia kehilangan ketangguhan, ia benar benar sesunggukan.


Kepala Risda makin berdenyut denyut, serasa bagai tak tertahankan lagi, tapi Risda berusaha keras menahan diri, Risda tak ingin ia sama jatuh seperti ibunya, Risda ingin berusaha tenang, agar ibunya tidak makin larut dalam sedihnya.


Pikiran Risda kini benar benar melayang jauh, ada kesadaran kini yang menghampiri Risda, Pak Nas yang ia kenal selalu tampak kikuk dihadapannya, selalu mau memberikan apa yang ia minta, melindunginya dengan luar biasa, selalu menjadi yang terdepan dalam menyokong programnya.


“Ayah tahu soal Risda ?”.


Natalia anggukkan kepala. “Ayahmu langsung datang ke sini setelah bertemu denganmu waktu Upacara 17an itu”.


“Ayah kemari ?”.


Natalia kembali anggukkan kepala. “Ayahmu ingin memastikan tentang kamu Ris. Ia datang kesini untuk memastikan kamu”.


“Jadi, ayah tahu soal Risda ?”.


Natalia anggukkan kepala. “Tahu, Sangat tahu. Ayah kamu juga sering menghubungi mama soal kamu”.


Risda gelengkan kepala lagi. “Tapi kenapa selama itu Ayah nggak ngomong ke Risda ?”.


Tak ada jawaban yang terdengar. Natalia tak tahu mau bilang apa karena ia memang tak tahu apa yang menjadi alasan Haris tak bercerita atau mengakui tentang dirinya kepada Risda. Natalia tak juga pernah tanya soal itu, tak tahu apapun tentang isi pikiran Haris.


… Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2