Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kembali Ke Kalimantan


__ADS_3

Setelah sarapan pagi, Haris, Lufti, Widya dan Natalia permisi ke keluarga Maimun, semuanya saling menjabat tangan, berulang kali Maimun kembali mengucapkan rasa terima ksaihnya pada Haris, yang di jawab Haris hanya dengan anggukan dan senyuman saja.


Keduanya akhirnya berpelukan, kembali ada linangan air mata di sudut mata Haris, Maimun langsung mencoba menguatkan dan berjanji akan sering melihat makam orang orang yang dicintai Haris, janji ini cukup membuat Haris dan Natalia lega.


“Kami berangkat Mun, sehat sehat kita semua”.


Maimun anggukkan kepala. “Iya Bang, sehat sehat kita semua. Kalau ada waktu, abang sering seringlah datang kemari”.


Haris ikut angguk kepala. “Insha Allah Mun, Insha Allah”.


Lufti yang kembali pegang kemudi, Lufti juga sudah menghubungi Taufiq soal kepulangan mereka, Taufiq atur kapal yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta, Taufiq menyanggupinya.


Tetapi, Haris hanya sampai pelabuhan Bakauheni saja, dari sana Haris langsung menyeberang ke Kalimantan, dengan begitu, hanya tinggal bertiga saja yang melanjutkan perjalanan balik ke Jakarta, mereka berpisah di Bakauheni.


Tak lama, pelabuhan sudah terlihat, begitu Lufti memasuki pelabuhan, lambaian tangan Taufiq langsung terlihat. Ternyata, kapal yang akan membawa Lufti, Widya dan Natalia yang lebih dulu berangkat, bahkan penumpang sudah di minta masuk.


Semuanya sama sama turun, Natalia langsung memeluk Haris erat, bahkan sangat erat, tanpa diminta air mata kembali menjadi teman baik keduanya, bahkan Natalia terdengar terisak, Haris hanya bisa mengelus punggung adiknya.


“Abang akan sering datang Lia, abang akan sering datang”.


Natalia makin mengeratkan pelukannya. “Abang janji ?”.


Haris kembali mengelus punggung Natalia. “Iya, Abang janji”.


“Abang sehat sehat ya Bang, lihat Risda”.


Haris mengecup ubun ubun Natalia. “Abang akan sering melihatnya”.


Suara klakson kapal kembali terdengar meraung, Natalia melepas pelukannya dan melangkah bersama Widya memasuki kapal, sedang Lufti juga sempat memeluk Haris sesaat sebelum kembali masuk mobil dan membawanya masuk kapal.


Haris terus berdiri bersama Taufiq dengan mata mengarah lurus ke kapal, Haris menemukan Natalia dan Widya yang berdiri di geladak, memandang kearahnya. Kapal perlahan bergerak, baru setelah kapal nampak kecil, baru Haris berjalan menuju kantin bersama Taufiq.


Bakauheni penuh dengan kesibukan, tapi sebenarnya tak sesibuk hati Haris, berbagai kegiatan ada dalam hatinya. Ini membuat Haris terlampau sering terdengar menghela nafas panjang, Taufiq seakan tahu apa yang ada di hati Haris, sehingga memilih diam dan membaca koran.


“Berangkat jam berapa kapalnya Fiq ?”.


Taufiq melirik jam di tangannya. “Dua jam lagi Bro, sabar”.


Haris tertawa kecil. “Nggak apa apa”.


Taufiq meletakkan koran yang ia baca, pandangan Taufiq lekat ke Haris, ada banyak pertanyaan yang sejak kemarin Taufiq tahan. Kali ini, tak ada lagi Natalia, berarti Taufiq bisa dengan bebas bertanya sekarang, semalam segan karena ada Natalia.


“Ris ..”.


Haris angkat kepala. “Kenapa Fiq ?”.


Taufiq mendesah. “Gua dari semalam udah pengen nanya lu soal ini”.

__ADS_1


Haris mengerutkan keningnya. “Apa yang mau kau tanya memang”.


Taufiq menghapus wajahnya. “Risda. Lu tahu tentang Risda ?”.


Air muka Haris langsung berubah, mengingat Risda membuat Haris menjadi sendu, yang terpikir sekarang kembali pada pikiran pikiran Haris sebelumnya, bagaimana cara Haris memberi tahu Risda, dan apa respon Risda jika tahu.


“Lu tahu Risda kan ?”.


Haris mengangguk lemah. “Itu yang buat aku datang Fiq. Aku bertemu Risda di pedalaman Kalimantan”.


Mata Taufiq langsung melotot. “Pedalaman ?, maksud Lu ?”.


Haris anggukkan kepala. “Risda dan kawan kawannya ikut Program Guru Mengajar di daerah Tiga T itu Fiq”.


“Dan Lu ketemu disana ?”.


Haris anggukkan kepala. “Iya Fiq, aku melihatnya disana”.


Taufiq kembali menggeleng. “Terus, lu apain Risda ?”.


Haris menggeleng. “Saat pertama melihatnya aku seperti sedang melihat Natalia yang masih muda, aku gemetar Fiq”.


Mata Taufiq makin melotot. “Setelah itu ?”.


Haris menghela nafas panjang. “Aku nyari infonya di medsos, aku ketemu, bingung, akhirnya aku balik ke Jakarta temui Lia”.


“Jadi beneran Lu kagak tau Lu punya anak dari adik Lu itu”.


Taufiq langsung tepuk jidat. “Gawat Lu Bro, benaran gawat Lu, pusing gua”.


Haris kembali menggeleng dan buang nafas berat, Haris kemudian menceritakan bagaimana ia pertama melihat Risda, bagaimana ia begitu terkejut dan nyaris tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Taufiq benar benar melongo, Taufiq sama sekali tak menyangka ceritanya begitu, tapi pada dasarnya semua teman Haris tahu soal Risda, tapi semua menutup kisahnya pada Risda, nggak nyangka ternyata pelakunya malah tak tahu apa apa.


“Jadi Ris, waktu lu ngilang begitu saja, lu kagak tahu kalo Lia hamil ?”.


Haris menggeleng. “Aku nggak tahu Fiq, sama sekali nggak tahu”.


Taufiq kembali geleng kepala, cerita macam apa ini, dulu saja saat pernikahan mereka yang bubar berantakan sudah membuat semuanya kelimpungan, beberapa bulan kemudian semuanya kembali terkejut saat tahu Natalia hamil.


Taufiq sendiri waktu itu memang tak bisa memastikan, apakah Haris tahu tentang kondisi Natalia atau tidak, Taufiq tak punya penjelasan. Bahkan semuanya kesal saat komunikasi dengan Haris benar benar terputus, nomor ponselnya sama sekali tidak bisa di hubungi lagi.


“Risda udah tau Lu siapa ?”.


Haris menggeleng. “Belum Fiq”.


Taufiq menggeleng, tapi menurut Taufiq itu untuk saat ini rasanya lebih baik, apalagi Risda sedang jauh dari Natalia, sebaiknya memang Risda tak usah tahu dulu, biarkan dia menyelesaikan programnya, Taufiq khawatir jika Risda tahu, itu bisa ganggu mentalnya.

__ADS_1


“Berarti Lu sering ketemu Risda di sana ?”.


Haris menggeleng. “Nggak juga Fiq, aku datang ke sana kalau ada urusan saja, paling sekali dalam dua bulan. Tapi, sekarang sepertinya aku harus sering kesana Fiq, ingin memastikan Risda nyaman”.


“Benaran Risda belum tau posisi Lu kan ?”.


Haris kembali menggeleng. “Belum Fiq”.


Taufiq menggeleng. “Saran gua, sabaiknya Lu kagak usah ngomong ke Risda dulu, kawal saja, gua takut jika Risda tahunya disana bisa bahaya”.


Haris anggukkan kepala. “Lufti juga bilang begitu Fiq, tahan diri dulu, sebaiknya yang kasih tahu biar Natalia saja”.


Taufiq anggukkan kepala. “Kalau itu gua setuju Ris”.


Haris kembali terpukul untuk yang kesekian kalinya, ternyata seluruh teman temannya punya perhatian khusus pada Natalia dan Risda, berbanding terbalik dengan Haris, yang seharusnya sebagai pemilik tanggung jawab.


Menyesal juga sudah tak penting lagi, yang sekarang adalah bagaimana Haris bisa memastikan bagaimana Risda bisa hidup lebih bahagia, Haris harus bisa membuat satu kepastian jika Risda hidup lebih tenang.


“Sebetulnya dulu gua takut amat liat Risda Ris”.


Haris kembali menatap Taufiq. “Takut ?, kenapa ?”.


Taufiq menggeleng. “Lu tahu kan, anak yang lahir dari hubungan sedarah itu, selalu ada masalahnya, makanya waktu Risda lahir kemarin, kita ngebahas itu”.


Haris tersentak. Apa yang dikatakan Taufiq benar, Haris juga pernah baca artikel soal itu, tiba tiba Haris menjadi begitu takut, jangan jangan Risda juga punya hal yang membuatnya berbeda.


“Kita konsultasi ke dokter dan minta pemeriksaan penuh untuk Risda, pertama dokternya nolak, tapi waktu kita cerita semua, doktenya baru setuju”.


Mata Haris kian meredup. “Hasilnya Fiq ?”.


Taufiq menggeleng. “Al hamdulillah, hasil pemeriksaan menyakatan semua kondisi fisik Risda aman, maka yang menjadi kekhawatiran dokter jatuhnya ke mental”.


Haris buang nafas berat. “Mental ?”.


Taufiq anggguk kepala. “Tapi melihat Risda yang berkembang dengan baik, bahkan tampak pintar, kekhawatiran kami agak hilang”.


Haris untuk yang kesekian kalinya buang nafas berat, tak menyangka begitu besar perhatian kawan kawannya pada Natalia dan Risda. Ini tentu akan menjadi hutang Haris, hutang yang tak akan terbayar olehnya hingga kapan saja.


Akhirnya Haris juga harus berpisah dengan Taufiq, keduanya berpelukan untuk yang kesekian kalinya, kembali lagi air mata yang menjadi teman Haris, ia sama sekali tak mampu membendungnya.


Haris melangkah dengan gontai memasuki kapal, tak lama kapalpun bergerak meninggalkan Bakauheni. Haris kembali menghembuskan nafas kuat, tiga hari yang mengesankan, tiga hari yang membawa Haris kembali jauh pada kenangan hidup yang pernah ia jalani.


Sekarang, Haris akan kembali ke Kalimantan, kembali ke perusahaan tempat Haris bekerja, tapi ini berbeda, semangat yang Haris punya tak lagi seperti dulu, semangat yang sepenuhnya untuk meninggalkan.


Sekarang yang penting harus sebaliknya, Haris kini punya semangat untuk kembali menjadi Haris yang dulu, Haris yang punya tanggung jawab besar dengan aib yang juga luar biasa besar, aib yang sampai kapanpun tak akan tertutupi.


Haris harus sadar kini, kalau dia punya adik perempuan yang harus ia buat bahagia, sejarah mereka yang dulu kelam, adik yang seharusnya Haris jaga sepenuh jiwa, oleh keadaan dan ketidak tahuan malah sudah melahirkan anaknya. Memberikan Risda untuk mengisi kehidupannya.

__ADS_1


Haris begitu lemas, Haris merebahkan badannya, Taufiq menempatkan Haris di kelas VIP, sehingga ada kamar yang tersedia. Haris sudah berupaya untuk tidur, tapi sama sekali tak bisa, detak jantung Haris yang membayangkan akan kembali bertemu Risda membuatnya sama sekali tak bisa tenang walau sesaat.


… Bersambung …


__ADS_2