Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Menjadi Guru Itu, Tidak Mudah


__ADS_3

Rapat guru semakin memanas, kini hanya tinggal debat panjang antara guru perempuan yang menginginkan adanya tekanan kepada siswa yang tidak ia suka dengan sikap tegas Pakde Rahman yang menolak adanya tekanan.


Risda terus menyimak, tapi lama lama Risda panas juga, menurut Risda apa yang di katakan Pakde Rahman semuanya benar, tapi ada satu guru perempuan yang dengan tegas menantangnya, Risda tak terima karena sang guru perempuan tak terima karena ada satu siswa yang tidak ia suka di kelas itu.


Risda tak tahan lagi, ia angkat tangan. Kepala Sekolah yang melihat Risda angkat tangan langsung memberikan isyarat persetujuan dan memberikan Risda waktu untuk menyampaikan pendapat, Risda tak buang waktu.


“Apa yang dikatakan Pakde Rahman saya rasa paling betul, kita harus melihat seisi kelas, bukan hanya satu, itu saya rasa bukan pertimbangan yang bagus. Lagi pula, kenapa kita mengikat diri dengan keadaan masa lalu, apakah memaafkan tidak lagi penting”. Tegas Risda.


Risda merasa apa yang dikatakannya hanya kalimat biasa, tapi tanggapan yang di dapat Risda membuatnya terkejut, tapi yang namanya Risda tetap saja Risda, ia kembali memberikan jawaban yang menurutnya benar.


Lagi lagi Risda terkejut, apalagi kata kata yang disampaikan padanya sudah tak sehat lagi, menurut Risda ini sudah kontradiktif dengan harapan semua orang kepada seorang guru, itu menurut Risda sudah melampaui keharusan.


Ingin sekali Risda kembali berargumen, tapi respon dari beberapa orang yang duduk dekat dengannya membuat Risda jadi berubah pikiran, terutama melihat gelengan kepala Pakde Rahman, ini yang membuat Risda akhirnya memilih bungkam, hingga rapat selesai.


Hingga sudah sampai di rumahnya, Risda masih belum menerima juga, perasaan Risda masih terus menolak sikap dari guru yang tampak tegang tadi, kini Risda juga merasa ada banyak yang kurang, kenapa yang lain selain Pakde Rahman juga memilih diam, kenapa tidak ikut melawan.


Risda sudah mulai menemukan beberapa hal yang sebelumnya Risda tak pernah bayangkan bisa berlangsung di lembaga pendidikan, jika ibu ibu menggosip sepertinya bukan hal aneh, bapak bapak ikut ikutan perkembangan gosip juga bukan hal yang tak mungkin terjadi.


Tapi, menemukan guru yang masih menyimpan dendam pada siswanya ini baru kali pertama Risda tahu, dan yang paling membuat Risda semakin menggeleng, karena kejadian yang membuat sang guru sakit hati itu sudah berlangsung lama, bahkan sudah hampir dua tahun yang lalu, apalagi ini ada hubungan dengan orang tua.


“Guru juga manusia Ris, seluruh sikap yang lumrah terjadi pada manusia juga bisa terjadi ke guru, tidak ada kelebihan guru, sama dengan yang lain, sama sama manusia biasa”. Terang Natalia.


Risda hanya senyum kecil dan menggeleng saja mendengar apa yang disampaikan ibunya, tapi Risda masih tetap tak habis pikir, apa ungtungnya menekan siswa dari kejadian yang sudah lama, apalagi pemicu utamanya bukan sang anak, tapi ibunya.


“Guru juga bermacam model dan bentuknya, tergantung bagaimana sikap dan kepribadiannya. Faktanya, guru itu hanya pekerjaan, bukan sikap dan tingkah laku”. Lanjut Natalia.


Risda kembali menggeleng dan menghela nafas berat. “Tapi kan Ma ..”.

__ADS_1


Natalia tertawa kecil. “Semestinya iya. Tapi, tak semua harus juga semestinya, ada kalanya juga yang muncul malah tidak mesti. Biasa saja Ris, yang penting kamu jangan begitu”.


Risda akhirnya anggukkan kepala. Liku liku sebagai guru kini mulai terpampang di depan Risda, selama ini Risda merasa jika semua guru hanya fokus pada bagaimana membuat anak anaknya pintar dan bisa, akan melupakan semua hal yang berhubungan dengan dendam dan sakit hati.


Tapi, ternyata tidak. Ada guru yang sangat tegang dan bahkan meminta semuanya dapat memberikan tekanan kepada seorang anak, padahal itu hanya kejadian masa lalu yang bersifat pribadi, seharusnya tak layak di jadikan masalah umum.


Menurut Risda, bahkan akan lebih baik dan lebih patut di acungi jempol jika sang guru memaafkan dan melupakan seluruh kejadian masa lampau, karena sebenarnya, sang guru sendiri tak ada di rugikan sama sekali.


Sehingga Risda sangat tidak terima dengan kekeras kepalaan itu, apalagi dengan mudahnya Risda yang mencoba memberikan tanggapan, malah di tuding nggak tahu apa apa, guru kemarin sore, guru bau kencur, belum layak banyak omong.


Walau sebenarnya Risda sangat tidak terima, tapi Risda pada akhirnya memilih diam dan tak komentar lagi, apalagi para guru yang duduk di samping didepan dan di belakangnya sama sama mencolek, itu menurut Risda adalah kode yang meminta Risda tak meneruskan perdebatan.


“Bu Lusi sudah cerita ke Mama, apa yang menurut kamu itu salah, Mama juga akui kalau itu salah. Tapi, seperti yang mama katakan di awal tadi, guru juga manusia, dan manusia banyak yang tak siap disalahkan, apalagi oleh orang yang seusia dengan anaknya”.


Risda kembali menggeleng mendengar penjelasan panjang ibunya. Risda sekarang mulai merasa, apa yang di katakan ibunya banyak benarnya. Tak semua orang dapat menimpakan kesalahan pada dirinya sendiri, ada juga yang siap bersitegang dengan pendapatnya, walau itu tidak sesuai kriteria umum.


Setidaknya hari ini Risda sadar, apa yang sering di katakan dosennya dulu, menjadi guru itu bukan hal yang mudah, banyak orang yang layak jadi guru, bahkan berpendidikan guru, tapi tak memilih menjadi guru, ada pula yang tak layak jadi guru, malah sudah benaran guru.


Selama tiga tahun Risda disana, tak ada pergolakan seperti apa yang Risda rasakan hari ini, tak ada rasa kesal yang harus di kubur dalam dalam, tak ada bibit emosi yang membuat tensi naik begitu cepat, disana semuanya adem saja.


Tapi, Risda juga merasa, hal tersebut karena perbedaan keadaan, di pedalaman memang tak banyak orang yang menjadi guru, di sekolah tempat Risda mengabdi misalnya, saat di tinggal Asrul dan Risda, otomatis sekolah itu kembali hanya punya tiga guru, empat dengan kepala sekolah.


Padahal kelas yang harus diurus ada enam kelas, itu tentu sangat tidak cukup, sehingga setuasi lama sebelum Asrul dan Risda datang kembali terulang, ada dua guru yang harus mengajar di dua kelas yang berbeda di waktu yang sama.


Sementara disini, guru sangat melimpah, sehingga bukan cerita aneh, ada orang yang alumni perguruan tinggi bidang pendidikan tak bekerja di bidang pendidikan, tidak menjadi guru, karena tak kunjung mendapat tempat.


Namun begitu, Risda tetap tak terima dengan sikap guru yang masih dikendalikan oleh cerita lama, bahkan berusaha begitu maksimal untuk melampiaskan perasaan yang ia punya dengan melakukan tekanan, bukan hanya ia sendiri, tapi juga berusaha mempengaruhi orang lain.

__ADS_1


Ini juga salahsatu yang membuat Risda semakin kesal, orang orang yang semestinya tahu itu hal yang tidak tepat, karena berbagai alasan yang Risda bahkan bingung apa maknanya, justru ikut mendukung, apa itu tidak aneh ?.


“Latar belakang orang orang yang menjadi guru itu tidak sama, tidak semua orang memiliki motivasi yang sama saat memilih menjadi guru, bukan tidak mungkin karena terpaksa atau bentuk lainnya, kamu harus juga paham itu”.


Risda hanya melirik ibunya sebentar, kemudian kembali pada pandangannya semula, semua penjelasan ibunya Risda terima dengan baik, akan tetapi nalurinya tetap saja berontak, Risda sama sekali belum menerima dan menganggap kalau sikap guru yang tadi dapat diterima.


“Ada juga yang tidak menyadari keberadaannya sebagai seorang guru, ia masih saja mengedepankan sikap aslinya, masih menonjolkan keegoisan dan sikap yang menang sendiri, terima atau tidak terima, itu pasti ada. Yang terpenting, kita jangan malah mendukung dan ikut ikutan”.


Risda kembali hanya tersenyum tipis, Risda tak tahu bagaimana ibunya mengajar, bagaimana ibunya bersikap dalam kelas dan atau terhadap anak didiknya, karena Risda tak pernah bersekolah di tempat ibunya mengajar.


Hanya saja, melihat seringnya para siswa dan bahkan alumni siswa ibunya berkunjung ke rumah mereka, Risda dapat mengklaim jika ibunya guru yang baik, kalau tidak demikian, mustahil banyak anak didiknya yang peduli padanya.


Risda berdiri, memeluk dan mencium pipi ibunya sebelum beranjak pergi, Natalia hanya senyum saja, Natalia yakin sekali, kalau Risda pasti belum bisa menerima apa yang tadi dihadapinya di sekolah, Natalia tahu persis bagaimana Risda, ia anak yang selalu tak suka melihat orang yang kurang baik menurut pandangannya.


Risda memilih pergi saja meninggalkan ibunya karena nanti akan makin banyak nasehat yang lahir, Risda tahu bagaimana ibunya, ibu yang selalu mengalah, yang selalu siap mengaku salah, walau bukan ia yang pantas di salahkan.


Walau kadang hal itu sangat mengganggu Risda, tapi apa mau dikata, itulah ibunya, wanita yang kadang menurut Risda terlampau lemah, tapi apapun itu, Risda sangat bangga punya ibu seperti Natalia, yang lebih mementingkan perasaan orang lain ketimbang perasaannya sendiri.


Risda melangkah ke luar rumah, yang menjadi tujuan Risda tidak jauh jauh, tujuan Risda kali ini adalah rumah Lufti dan Widya, tetangganya, Risda ingin meminjam buku Widya, sudah berjanji semalam.


… Bersambung …


Keluarga


Syamsuddahri Pulungan


Kota Sibolga, Sumatera Utara

__ADS_1


Mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin


Mohon Maaf Lahir dan Bathin


__ADS_2