
Risda memulai hidup yang benar benar baru, kini untuk sementara masih tinggal di rumah kediaman mertuanya, tapi ayah Asrul sudah janji kalau ini tidak akan lama, begitu rumah baru mereka selesai, Asrul dan Risda akan langsung pindah kesana.
Walau pada dasarnya Risda merasa tak penting buru buru meninggalkan rumah mertuanya untuk memulai hidup mandiri, karena Risda merasa nyaman di rumah ini, sangat nyaman sebenarnya, sehingga Risda akan dengan senang hati jika diminta tetap tinggal disini.
Semua penghuni rumah memiliki tingkat keramahan yang super tinggi, semua adik adik Asrul menyenangkan, apalagi ibu mertuanya, perhatiannya yang super tinggi malah membuat Risda kikuk.
Begitu jam pelajaran usai, Risda beranjak ke parkiran, Risda belum menerima tawaran Asrul untuk membeli mobil, karena Risda merasa tak cocok, masa guru honor ke sekolah naik mobil, itulah yang membuat Risda lebih memilih naik motor.
Bahkan untuk itu, Asrul tak harus membelikan Risda motor, karena Risda memilih menerima tawaran ayah mertuanya, menggunakan motor matic yang selama ini sering digunakan ayah mertuanya jalan jalan.
Risda tak jadi memakai helmnya saat ada colekan yang mendarat di pundaknya. Risda menoleh dan langsung berhambur memeluk, karena yang mencoleh pundaknya adalah Natalia, ibunya, yang sengaja singgah ke sekolah tempat mengajar Risda.
Risda kembali meletakkan helmnya dan mengikuti tarikan tangan ibunya menuju kantin. Risda nyaman saja, karena memang ini baru pukul setengah satu, biasanya ia pulang hampir jam tiga sore, jadi tak masalah berbincang panjang dengan ibunya.
Risda juga yakin kalau Asrul masih di kampus, Asrul juga biasanya pulang dari kampus bisa hampir sore juga, sehingga tak begitu masalah untuk menunda jam pulangnya hari ini, apalagi ini ibunya, Risda juga sudah cukup rindu.
“Mama sudah balik memang ?”.
Natalia anggukkan kepala. “Sudah Ris. Sudah nggak ada jam lagi ?”.
Risda tersenyum renyah. Risda menatap wajah ibunya cukup lama, tampak ada yang lumayan berbeda, Risda melihat wajah ibunya yang lebih cerah, tampak lebih segar sehingga menjadi tampak lebih muda, Risda sangat yakin dengan itu, kembali tersenyum dan berharap ibunya terus begitu.
“Besok kata Abang, kami mau datang kok Ma”.
Natalia tersenyum. “Asrul sudah bilang kok”.
Kening Risda berkerut. “Bilang ?. Kapan Ma ?”.
Natalia tersenyum lagi. “Tadi pagi”.
Risda hanya geleng kepala dan senyum saja. Ini juga termasuk hal yang membuat Risda cukup bahagia, komunikasi Asrul dengan ibunya cukup bagus, Asrul yang selalu menghubungi ibunya, walau hanya sekedar nanya khabar saja, dan keduanya tampak selalu nyambung kalau bicara.
“Ris …”.
Risda angkat wajah dan menatap ibunya. “Iya Ma ?”.
Natalia tersenyum. “Mungkin kamu akan lebih cantik kalau berjilbab”.
Kening Risda berkerut dalam, berjilbab ?. Risda belum pernah kepikiran soal itu, Asrul juga nggak pernah nyinggung soal itu, tapi ini yang bicara ibunya, yang jelas sekarang beda keyakinan dengannya, Risda jadi sedikit menebak, jangan jangan ini permintaan Asrul.
__ADS_1
“Abang ngomong gitu ke Mama ?”.
Natalia menggeleng. “Tidak”.
Kening Risda makin berkerut. “Jadi Ma ?”.
Natalia kembali tersenyum. Natalia menggeleng melihat kerut kening Risda yang tampak terkejut dengan ungkapannya, tapi Natalia mengatakan itu memang bukan karena Asrul, sama sekali bukan, ini tak ada hubungannya dengan Asrul.
Tapi, karena hal lain, Natalia ingin jika Risda sepenuhnya ikut dengan konsep yang di anjurkan oleh keyakinannya sekarang, jangan setengah setengah, Natalia merasa kalau Risda perlu demikian, agar tidak hanya sebatas ikut ikut saja, tapi benar benar mendalami.
“Kenapa Ma ?”.
Natalia kembali senyum. “Semalam mama baca buku, katanya begitu, wanita muslim itu wajib pakai penutup kepala, apalagi di luar rumah”.
Risda menghela nafas panjang. Seisi rumah mertunya tak ada yang pernah anjurkan itu selama ini, jika yang dikatakan ibunya benar, Risda yakin mereka tak memberi anjuran karena alasan tertentu, segan atau bagaimana, Risda juga kurang yakin.
Kepala Risda kini dipenuhi semua penghuni rumah kediaman mertuanya, ibu mertuanya begitu, adik adik iparnya juga berpenampilan begitu, bahkan Ariana yang masih SMP juga begitu, benar memang, dirumah itu, Risda satu satunya wanita yang tak pakai jilbab.
Tapi, kalau itu pilihannya, maka Risda harus mengganti seluruh pakaiannya, hingga kini Risda bahkan tak punya rok yang panjang selain gaun pengantin yang ia kenakan waktu menikah dulu, semua pakaiannya sebatas lutut, semuanya, baik baju kerja maupun baju kesehariannya.
“Ini bukunya Ris”.
“Jadi, Risda harus bagaimana Ma ?”.
Natalia angkat bahu. “Terserah kamu Ris, Mama hanya ingin kamu sepenuhnya, jangan separuh separuh, jangan gantung gantung”.
Risda menghusap wajahnya. Pikiran Risda melayang jauh, sepertinya itu memang pilihan yang baik, apalagi seluruh wanita di keluarga mertuanya berpakaian begitu, Risda mengingat isi tabungannya, untuk membeli beberapa mungkin masih bisa, atau ngomong ke Asrul saja ?.
Risda tampak merenung, kembali ia memandangi wajah ibunya cukup lama, senyum ibunya yang terus mengembang membuat Risda ikut tersenyum, tapi beberapa kali Risda jadi geleng kepala, bagaimana bisa, ungkapan itu justru datang dari mamanya, yang jelas jelas beda dengannya.
Risda malah terbanyang ayahnya, Haris menurut Risda termasuk orang yang cukup taat dalam menjalankan ajaran agama, kegiatan keagamaan selalu menjadi hal penting bagi ayahnya, Risda tahu itu, saat berada di Kalimantan dulu saja, Risda sudah melihat semuanya dengan lengkap.
“Khabar ayah bagaimana Ma ?”.
Natalia tampak terkejut, ia seperti tak menyangka pertanyaan Risda malah mengarah kesana. Natalia menggeleng. “Mama kurang tahu, sudah lama ayah tak telephon”.
Risda anggukkan kepala. “Mudah mudahan ayah sehat”.
Natalia ikut anggukkan kepala. “Semoga”.
__ADS_1
“Kita balik Ma ?”.
Natalia melirik jam di tangannya dan anggukkan kepala, keduanya sama berdiri, Risda kembali memeluk ibunya, membayar semua yang mereka makan dan menuju parkiran, Risda langsung menuju motornya, Natalia juga menuju mobilnya.
Natalia masih memandangi Risda hingga menghilang baru menjalankan mobilnya menuju pulang. Natalia terus mengembangkan senyumnya, ia sangat bahagia, setelah Risda menikah, semua ganjalan yang selama ini menghilang begitu saja, tak ada lagi tangisan dan keluh kesah.
Hari hari Natalia kini penuh dengan senyuman, Asrul dan ibunya selalu secara bergantian menghubungi Natalia, komunikasi yang bagus ini sangat melegakan Natalia, beban beratnya selama ini soal status anaknya Risda benar benar lenyap.
Selama ini, Natalia punya ketakutan besar, jika Risda menemukan orang yang ia cintai, tidak ada jaminan orang itu masih bertahan saat mengetahui bagaimana Risda ada ke dunia, dan penyakit jantung yang ikut bersamanya sejak lahir akibat dari hubungan itu.
Ini selalu menjadi beban berat Natalia, rasa bersalah, malu dan banyak rasa lainnya yang terus mengganggu hari hari Natalia tanpa henti hentinya, perasaan dan rasa bersalah yang terus memburu hingga ke dasar hati Natalia, membuatnya tak pernah merasa ada kata tenang untuknya.
Hadirnya Asrul dan keluarganya yang menghormati Natalia dan Risda tanpa sedikit saja membahas apa yang berlaku bagi Risda membuat Natalia bagai lepas dari jerat panjang, jikapun akhirnya Risda beralih dari apa yang ia yakini selama ini, bagi Natalia bukan pilihan yang buruk.
Setidaknya Risda punya ikatan yang kuat dengan keyakinan barunya, ayahnya, juga kakeknya Risda juga memiliki keyakinan yang itu, jadi bukanlah satu hal harus Natalia perdebatkan, yang paling penting bagi Natalia adalah putri tersayangnya hidup bahagia, itu saja.
Sementara Risda berjalan sangat lambat, laju motornya sangat pelan, pikiran Risda terus dipenuhi apa yang menjadi ungkapan ibunya, Risda bahkan putar balik saat ia melewati toko pakaian yang menjual busana muslim, Risda sudah punya niatan untuk mencoba mengikuti anjuran ibunya.
Risda memarkirkan motornya, masuk dan mulai memilih milih. Kepala Risda agak pusing, karena ia melihat semuanya hampir sama, apalagi Risda bukan orang yang hobby mengikuti perkembangan mode, Risda malah bingung, tak menyangka ternyata busana muslim itu banyak modenya.
“Jadi, pilih yang mana Mbak ?”.
Risda melirik ke pelayan toko, senyum tipis dan menggeleng. “Belum tahu Mbak”.
Sang pelayan tersenyum dan mengambil satu. “Ini bagus untuk si Mbak. Yang kulitnya putih bagus pakai warna ini Mbak”.
Risda hanya senyum kecil dan anggukkan kepala. “Boleh juga”.
Secepat kilat pelayan toko mengantar pilihan Risda ke kasir. Disini Risda kembali geleng kepala dan bahkan mendelik melihat harga yang disampaikan, Risda bahkan sempat ragu, dengan jumlah itu, Risda sudah bisa membeli tiga pakaian yang biasa ia pakai.
Tapi, karena sudah kadung, akhirnya Risda mengeluarkan ATM dari dompetnya untuk membayar, pakaian yang lengkap dengan hijabnya itu dibungkus rapi dan akhirnya pindah ke tangan Risda, dengan senyum tipis Risda meraih dan langsung menuju motornya.
Risda tak tahu, ada dua pasang mata yang dari tadi memperhatikannya, pemilik kedua pasang mata itu saling pandang dan sama tersenyum melihat apa yang Risda beli, keduanya tampak senang, terlihat mata keduanya berbinar, tampak begitu bahagia, walau yang membeli pakaian bukan mereka.
Ya, pemilik dua pasang mata itu adalah Mutia dan Reni, dua adik perempuan Asrul, dokter Mutia dan Calon dokter Reni, mereka lebih dulu berada dalam toko, memilih hanya melihat apa yang dilakukan kakak ipar mereka, bahkan lengkap dengan mencuri dokumen photonya.
Keduanya tidak hanya sekedar memphoto Risda diam diam, tapi juga mengirimkan photo Risda pada abang mereka Asrul dan juga pada ibu mereka ditambah dengan kalimat pendek, “Si Kakak Beli Hijab”.
… Bersambung …
__ADS_1