
Risda keluar dari ruang kelas IX-F, ini bukan kelas yang seharusnya milik Risda, posisinya di sini hanya menggantikan, tapi tampaknya Risda cukup nyaman, karena semua siswa tampak antusias, bahkan ada yang bicara, kenapa tidak Risda saja yang mengajar mereka seterusnya.
Tentu Risda hanya tertawa kecil mendengar ungkapan itu, Risda mana mungkin bisa menjawabnya, posisi Risda hanya guru biasa, masih honor pula. Tak ada kekuatan yang cukup untuk meminta, karena posisinya jelas, menunggu dan menjalankan perintah yang tertuju padanya.
Karena ada jam kosong, Risda memilih menuju kantin, mau sekedar minum dan melihat panganan kecil, Risda memang terbiasa ke kantin, karena dari rumah tidak bawa bekal, sehingga untuk mengganjal perut jam makan siang, Risda selalu mengandalkan apa yang ada di kantin.
Risda senyum sendiri melihat status temannya Wiwik di akun media sosialnya, disana Wiwik menuliskan keluhannya menjadi guru di daerah, mengajar dengan fasilitas yang minim, sehingga Wiwik harus mencari banyak akal untuk bisa sekedar membuat media pembelajaran.
Ada kalimat “Enaknya kamu yang masih disana..”, setelah kalimat itu, Wiwik menandai beberapa temannya yang masih tinggal di kota, termasuk Risda, Asrul, Arman dan beberapa temannya yang lain, seakan mengatakan, kalau mereka masih enak tinggal di kota.
Ini yang membuat Risda senyum sendiri, lucu membayangkan Wiwik yang repot, apalagi Risda tahu, Wiwik orang yang mudah resah. Dan memang yang dikatakan Wiwik menurut Risda banyak benarnya juga, dari sisi fasilitas saja misalnya, sekolah yang ada di kota besar tentu berbeda dengan yang di kota kecil.
Ini bahkan menjadi banyak bahasan, Risda jadi teringat dengan apa yang mereka hadapi di pedalaman Kalimantan, bahkan disana nggak usah sama sekali bicara fasilitas, semuanya benar benar tak ada, kosong besar.
Risda iseng menuliskan komentar di status Wiwik, baru selesai di kirim, terlihat ada notifikasi ada yang sedang mengetik, Risda menunggu, ternyata komentar dari temannya yang lain, dan akhirnya status Wiwik banyak mendapat komentar.
Risda kini jadi asyik membaca komentar komentar yang masuk, ada rasa gembira yang datang tiba tiba, ada rasa rindu juga, karena petemuan terakhir mereka saat berada di kapal waktu pulang dari Pulau Kalimantan, bahkan di pelabuhan merak semuanya sudah sama bubar dan menghilang dengan keluarga masing masing.
Saat audiensi dengan Dinas Pendidikan, juga tak banyak yang datangnya bersamaan, karena berasal dari kota yang beda, sehingga saat ini, hanya media sosial yang bisa menjadi ajang perbincangan mereka jika ingin bincang bersama sama
Rencana reuni dan ketemuan juga masih terganjal banyak hal, apalagi mereka yang sudah menikah, Wiwik misalnya, untuk kembali berkumpul bukan hal mudah, sekarang Wiwik berada di Sulawesi, ikut suami. Sehingga untuk datang berkumpul tak lagi semudah saat masih kuliah dulu.
Risda membayangkan Wiwik yang kini tinggal jauh di Pulau Sulawesi, ia berpisah dengan Asrul, menikah dengan teman satu lokasinya saat menjadi guru di pedalaman Kalimantan, keduanya kini sudah jadi guru di kabupaten asal suami Wiwik, Risda tak begitu kenal karena memang tak sekampus dengan mereka.
Yang sudah menikah bukan hanya Wiwik, tapi juga Reshi dan Arman. Reshi menikah dengan pacarnya sejak SMA yang jadi Anggota Kepolisian, mereka tinggal masih di Jawa memang, tapi di Jawa Tengah, tepatnya Pringsurat, Temanggung, cukup jauh sekarang.
Risda bahkan tak tahu, apakah Rishi menjadi guru seperti dirinya atau tidak. Tapi, jika tidak termasuk sayang juga, setelah tiga tahun mengabdi di pedalaman, kemudian memilih tak jadi mengajar sepertinya agak aneh juga, kenapa mati matian bela belain jauh kesana kalau akhirnya nggak jadi guru juga.
Beda halnya dengan Asrul, sejak awal ia memang tak niat untuk jadi guru, Asrul berangkat ke Kalimantan hanya untuk mencari pengalaman, kemudian setelah itu mau menersukan kuliahnya, walau Risda tetap merasa aneh, padahal, jika Asrul langsung ambil S2 kemarin, sekarang sudah tamat seharusnya.
Arman yang menikah dengan teman sekampus mereka dulu, tapi lain jurusan. Istri Arman anak Pendidikan Ekonomi, tapi ia tidak bekerja sebagai guru, justru sekarang mengelola keuangan di salahsatu supermarket di kawasan Marunda, masih sangat mungkin untuk berkumpul.
Risda coba menghitung, selain dia, Asrul, Aruan dan Arman, yang mungkin ngumpul dalam waktu cepat tak lebih dari lima belas orang, sedang mereka yang satu ruangan dulu semasa kuliah ada tiga puluh lima orang, artinya tidak sampai separuhnya, sehingga kemungkinan reuni utuh akan tampak sulit terwujud.
Baru saja Risda ingin memasukkan ponselnya ke dalam tas, ada nada panggilan yang cukup kencang. Risda senyum juga melihat siapa yang memanggil, Asrul. Risda penuh tanya juga, karena sejak pulang dari Kalimantan, ini panggilan telephon pertama dari Asrul, Vidio call pula, Risda langsung angkat.
“Kok lama ngangkatnya Say ..”.
__ADS_1
Risda langsung cemberut. “Say .. say .. apa say ?”.
Asrul langsung tergelak. “Nggak usah cemberut gitu dong Say”.
“Bodo”.
Asrul kembali tergelak. “Lu cemberut itu, makin cantik tau. Makin rindu gua”.
“Sialan lu, mau apa sih ?”.
Asrul masih terus tertawa. “Lu lagi dimana Ris ?”.
“Di sekolah”.
Asrul geleng kepala. “Gua tahu di sekolah, maksudnya di sekolah tuh persisnya dimana, lagi dimana ?”.
“Emang Lu nggak bisa lihat gua lagi di kantin ?”.
Asrul tertawa lagi. “Gua di rumah lu nih Ris, lu nya nggak ada”.
Kening Risda agak berkerut, dan akhirnya senyum juga saat Asrul mengarahkan kamera, benar, Asrul sedang berada di depan rumahnya, tapi memang tak bisa masuk, pintu pagar terkunci, tak ada orang disana.
Asrul masih tertawa. “Gua rindu, mau apa lagi”.
Risda kembali menggeleng. “Masih di sekolah jam begini”.
“Jam berapa pulangnya Say ?”.
“Setengah tiga, masih lama”.
Asrul agak mendelik. “Lama nya ?. Nggak bisa di percepat itu ?”.
“Iya, memang pulangnya begitu. Mana bisa di cepat cepatin, ada saja”.
“Siapa tahu kan Say. Eh … sekolah lu yang di seberang sekolahnya Calon Mama Mertua kan ?”.
Risda menggeleng. “Iya, kenapa memang ?”.
__ADS_1
“Gua boleh datang kan ?”.
Risda langsung mendelik. “Ngapain ?”.
Asrul menggeleng. “Kan tadi sudah bilang, gua rindu, nanya lagi”.
Risda kembali geleng kepala. “Terserah”.
Asrul tampak sumringah. “Okey Say, di tunggu ya”.
Risda hanya anggukkan kepala, panggilan terputus. Risda hela nafas panjang, Asrul yang selalu ngomong sesukanya semenjak Pak Nas yang ternyata ayahnya mengakui Risda sebagai putrinya dan Asrul sebagai menantunya pada family ghatering ke Kota Tawau.
Sejak saat itu, Risda hanya bisa pasrah Asrul menyebut ibunya calon mama mertua, entah apa nanti tanggapan ibunya jika mendengar itu, tapi Risda malah sekarang jadi penasaran, apa kira kira tanggapan ibunya jika mendengar Asrul menyebutnya calon mama mertua.
Risda jadi geli sendiri, senyum sendiri, lama lama Risda jadi terbiasa dengan semua omongan Asrul, tak lagi peduli Asrul mau bilang apa. Dalam hati Risda hanya bisa mengeluh, sulit menggambarkan isi hatinya soal semua ulah Asrul.
Dibilang tidak suka, nggak juga. Risda juga mengakui kalau Asrul adalah teman terbaik yang kini ia punya, Asrul menjadi salahsatu teman curhatnya, bahkan apa yang dilakukan Asrul selama mereka berada di Kalimantan belum bisa Risda lupa.
Semua tindakan Asrul dan segenap perhatiannya memang terus membekas dalam ingatan Risda, tapi untuk menjalin hubungan, Risda masih berpikir panjang, ada banyak hal yang harus di redam dulu, ada banyak perbedaan diantara meraka yang tidak bisa di pandang mudah.
Belum lagi masalah kisah hidup Risda yang begitu mirisnya, Risda belum nyakin jika Asrul tahu, sikapnya tak juga berubah, dan kalaupun ia tetap tak mengapa, bagaimana pula dengan keluarganya, apakah siap menerima anggota keluarga dengan sejarah hidup seperti Risda, tak ada jaminan untuk itu.
Risda melangkah menuju kelasnya, Risda masih ada kelas hingga jam terakhir, karena hari ini Risda memang lumayan padat, apalagi salahsatu guru Bahasa Indonesia ikut PLPG, jamnya banyak di serahkan ke Risda sebagai guru pengganti, ini yang membuat Risda untuk beberapa minggu ini punya banyak jam masuk.
Sudah sesuatu yang lumrah juga, jika ada guru yang sedang tugas belajar atau diklat, maka guru honor akan menjadi sasaran sebagai guru pengganti. Dan guru honor semacam Risda memang tak bisa apa apa juga, mau tak mau harus menerimanya dengan lapang dada.
Tapi, secara ekonomi ada juga untungnya memang, akan ada konpensasi yang lumayan juga untuk proses penggantian ini, biasanya semua akan di tanggung sekolah, bukan guru yang di gantikan, karena memang bukan libur, absen atau mangkir, tapi memang resmi atas nama sekolah.
Semua siswa berteriak hore saat mendengar ada pengumuman kalau guru akan ada rapat, Risda hanya tertawa kecil, ini juga ulahnya dulu bersama dengan banyak teman temannya, semua akan gembira jika mendengar ada rapat guru, itu artinya semua siswa akan pulang lebih awal.
Risda berdiri setelah siswa terakhir dikelasnya menyalami dan berlari keluar ruangan, Risda melangkah menuju ruang guru, karena memang rapatnya diadakan disana, Risda sedikit terlambat, sehingga harus rela duduk agak di belakang, bergabung dengan guru guru yang laki laki.
Risda yang awalnya masih menunggu info soal Asrul karena khawatir Asrul datang saat acara rapat masih panas panasnya akhirnya agak lega, Risda menjadi lega karena ada SMS Asrul yang masuk yang menjelaskan tak bisa datang karena tiba tiba di minta ibunya ke rumah sakit.
Risda hanya membalas okey dan kini fokus ke rapat guru yang sudah mulai ada perbedaan pandangan yang melahirkan perdebatan antara beberapa guru senior, termasuk Rahman yang biasa dipanggil Pakde oleh banyak guru, guru honor senior yang sudah hampir berusia lima puluh tahun.
…. Bersambung …
__ADS_1