Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Ternyata, Kejutannya Jadi Juga


__ADS_3

Ariana benar benar komitmen dengan apa yang dimintanya, masih pukul 05.00 WIB Ariana sudah menggoyang tubuh Mutia dan Reni sehingga keduanya sama sama bangun, hanya bisa senyum melihat Ariana yang menarik tangan keduanya untuk segera beranjak dari tempat tidur.


Begitu Ariana keluar kamar, Mutia dan Reni saling pandang dulu, sama tersenyum dan ikut melangkah keluar menuju dapur, ternyata semuanya sudah siap, untungnya yang mau dikejutkan memang belum bangun, bahkan setelah semuanya shalat subuh yang di imami Agung.


“Bangunin Paman Haris Tia”.


Mutia anggukkan kepala dan berdiri. “Okey Ma”.


Mutia tak sendiri, Reni juga ikut berdiri, keduanya sama sama melangkah menuju kamar tamu dan mengetuk pintu, hanya Mutia yang berusaha membangunkan Haris, sedang Reni hanya berdiri saja, tanpa pergerakan apapun.


Mata Haris masih sangat berat saat ada yang mengetuk ngetuk pintunya, mata Haris lebih dulu ke jam dinding, Haris cukup terkejut, ternyata sudah Pukul 06.00 WIB, Haris bingung sendiri, ternyata ia lelap sekali tidurnya, bahkan tak mendengar adzan shubuh.


Haris memaksakan diri untuk berdiri, membuka pintu. Mata Haris jadi langsung terbuka lebar, mengapa tidak, di depannya kini ada Mutia dan Reni dengan senyum yang mengembang.


“Paman harus ikut ..”. Jelas Mutia.


Kening Haris agak berkerut. “Kemana ?”.


“Ayo Paman, kita mau buat kejutan ke Kak Risda, Bibi Lia juga sudah datang”. Sambung Reni.


Haris jadi mengembang senyumnya, Haris keluar dan mengikuti langkah Mutia dan Reni, ternyata sudah semuanya ada di depan kamar Asrul dan Risda, di tangan Ibu Asrul sudah ada kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya.


Begitu ketiganya sampai, Ariana yang bertindak sebagai tukang ketok pintu, cukup lama, bahkan Ariana sampai kesal, tidak lagi sekedar mengetuk, tapi juga sudah meninju lengkap dengan jeritannya memanggil nama Risda.


“Bentar Dek, ada a…”.


Risda tak bisa meneruskan pertanyaannya, Risda malah melongo karena semua tersenyum lebar kearahnya. Disaat yang sama, semua ramai ramai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, Asrul yang muncul dari dalam juga ikut menyanyi.


Risda menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tapi jelas Risda tak kuasa menahan haru, semua orang melihat kalau Risda menangis, ia betul betul terkejut, Risda sama sekali tak menyangka ini, selama ini ia hanya menghadiri ulang tahun temannya, tapi sama sekali tak pernah merayakannya.


Risda malah tak ingat kalau hari ini ia ulang tahun, sehingga apa yang dilakukan oleh orang orang terdekatnya ini betul betul mengejutkan Risda, ini yang membuat Risda tak kuasa menahan air mata, ada banyak haru dan bahagia yang kini benar benar menguasai hatinya.


Ariana menarik tangan Risda lebih dekat dan meminta Risda untuk meniup lilinnya, Risda yang masih dengan derai air mata meniup lilin diatas kue yang ada ditangan ibu mertuanya, sekali hembus langsung mati.

__ADS_1


“Hore .. sekarang, kakak potong dan suapi. Eh, tunggu dulu. Siapa yang pertama kakak berikan suapan ?”. Ariana tampak sangat ceria. “Ayo kak, siapa ?”.


Risda tersenyum tipis, ia mengambil potongan kuenya dan langsung menyuapi Ariana, tentu anak kelas VIII SMP ini tampak sangat riang, ia sama sekali tak menyangka kalau ia akan mendapat suapan yang pertama.


Semuanya ikut riang, terutama melihat kegembiraan Ariana. Asrul yang tampak kecut, setelah Ariana, Asrul ingin ia yang dapat suapan berikutnya, tapi ternyata tidak, giliran berikutnya justru Farhan, kemudian Reni, Mutia, ibunya Natalia, ibu mertuanya, ayahnya Haris dan kemudian ayah mertunya Agung.


Saat Risda mendekat, Asrul memasang wajah cemberut, ini membuat yang lain jadi tertawa, tapi akhirnya Asrul menerima juga suapan Risda, tapi kemudian Asrul terkejut saat Risda langsung memeluknya tanpa aba aba.


Asrul langsung membalas pelukan itu, semuanya malah tertawa dan tepuk tangan, Asrul jadi malu sendiri dan melepaskan pelukannya, ungkapan terima kasih yang dibisikkan Risda sebenarnya cukup mengganggu Asrul.


Kenapa tidak, semua kejutan ini sama sekali tanpa sepengetahuan Asrul, bahkan ia termasuk orang yang terkejut, sehingga ucapan terima kasih Risda menurut Asrul salah alamat, tapi Asrul memilih tersenyum, dalam hati punya janji, akan memberikan hadiah apapun yang di minta Risda nantinya.


Semuanya beranjak ke ruang makan, tawa dan canda masih terdengar seperti belum juga kehabisan kamus. Tapi, Asrul kini jadi banyak diam, Asrul menjadi termenung sendiri, pikirannya jauh melayang entah kemana, Asrul kini merasa, kalau ia ternyata kurang punya perhatian pada istrinya.


Asrul menghela nafas sendiri, bagaimana ia bahkan lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun istrinya, sedangkan hari ulang tahun temannya saja Asrul tak pernah alpa, tapi kenyataan hari ini, bahkan ulang tahun istrinya saja Asrul tak ingat sama sekali.


Seandainya tak ada kejutan ini, Asrul benar benar tak akan ingat hari spesial wanita yang sangat ia cintai. Asrul menghela nafas kembali, pertanyaan saat ini jadi tambah satu lagi, bukan hanya sebatas siapa yang merancang kejutan ini, tapi juga ada tanya yang cukup menyesakkan dada Asrul, layakkah ia disebut suami yang baik.


Asrul jadi mempertanyakan diri sendiri, selama pernikahan mereka, Asrul belum pernah bertanya apa yang menjadi keinginan Risda, Asrul masih terlampau larut dengan dirinya sendiri, kuliahnya dan teman temannya, Asrul masih tenggelam dalam keinginan pribadinya.


Asrul kembali menggeleng, bahkan ayah dan ibu mertuanya juga ada, pertanyaan Asrul bertambah lagi, kehadiran keduanya membuat Asrul sekarang malah merasa malu, Risda itu istrinya, wanita yang sangat ia cintai, tapi mengapa Asrul malah hanya sebagai pelengkap penderita.


Asrul tak menyangka kenapa ia sampai sebegitunya, ini yang membuat Asrul kehilangan kata kata, ternyata kejutan ini memberikan arti besar bagi sang istri, dan Asrul hanya bisa menyesali diri, kenapa tak terlibat langsung dengan semua agenda ini.


Asrul menggeruk wajahnya yang tidak gatal, sekarang ada banyak pertanyaan lain di kepala Asrul, apakah ini bukan egois namanya ?. Asrul kembali menghela nafas panjang, siapapun yang mengusulkan kejutan ini, Asrul patut beterima kasih, apalagi sepertinya Risda mengira, ini semua usulan Asrul yang padahal tak tahu apa apa.


"Abang kok diam saja Bang, mau sarapan apa ?".


Asrul menatap Risda yang juga sedang menatapnya, Asrul hanya tersenyum kecut, menggelengkan kepala. "Sudah Ris, biar abang ambil sendiri".


Kening Risda agak berkerut, punggung telapak tangan Risda singgah ke kening Asrul, ikut menggeleng. "Abang kenapa ?".


Risda menemukan hal yang tidak biasa di wajah suaminya, ini tentu membuat Risda malah menghentikan makannya, ini juga membuat semua mata sekarang mengarah langsung ke Asrul, semua ikut bertanya tanya, kenapa Asrul yang biasanya paling ribut, kini diam seribu bahasa.

__ADS_1


Semua kini malah menatap heran, Asrul membelai pucuk kepala Risda perlahan, Risda juga jadi makin bingung, apalagi mata Asrul sudah mulai berkaca kaca, Risda juga hanya menatap sendu saat Asrul meraih kedua tangannya, makin bingung saat Asrul mengecup punggung telapak tangannya.


"Maafkan abang Ris ...".


Kening Risda makin berkerut. "Abang kenapa ?".


Asrul menggeleng. "Abang suami yang egois, suami yang bahkan tidak tahu hari ulang tahun istrinya. Maafkan abang ya ..".


Risda tersenyum lebar. "Nggak ada yang salah bang, memang ..".


"Tapi Ris ..". Asrul memotong membuat Risda tak melanjutkan kata katanya. "Tapi, abang benar benar mencintaimu, abang janji, hanya maut yang akan memisahkan kita, seumur hidupku, istriku hanya satu, kamu ..".


Asrul mendekatkan wajahnya ingin mencium pipi istrinya, tapi saat yang bersamaan Agung mendehem, Asrul tak jadi melakukan aksinya, bahkan buru buru Asrul melepaskan pegangannya, bahkan sekarang meluruskan duduknya.


Risda juga melakukan hal yang sama, keduanya sekarang malah asyik menyantap sarapan masing masing, seakan tak ada hal aneh yang baru mereka lakukan, keduanya sesekali saling lirik, jika mata mereka bertemu, keduanya saling lempar senyum.


Ayah dan ibu Asrul, begitu juga dengan Haris dan Natalia sama sama saling pandang dan sama sama geleng kepala, Mutia, Reni dan Farhan sama sama menghembuskan nafas berat, juga ikut geleng kepala, heran melihat abang dan kakak ipar mereka.


Mutia hanya menggeliat kecil menerima colekan Reni, Mutia menatap Reni dan keduanya kembali menggeleng sambil hembuskan nafas panjang, sama sama heran melihat abang mereka Asrul yang mau main sosor saja di depan banyak orang.


Mutia memang tak paham bagaimana hubungan laki laki dan perempuan, untuk hal ini Reni mungkin lebih paham dari Mutia, karena walau sudah dokter penuh dan kini sedang studi spesialis anak, tapi Mutia sama sekali belum punya pacar.


Sedangkan Reni pada nyatanya sudah cukup lama dekat dengan Iskandar, teman SMA nya yang juga sedang kuliah tekhnik di Australia. Keduanya sekarang sedang menjalani pacaran jarak jauh, satu kali setahun belum tentu pernah ketemu.


Tapi Reni cukup dekat dengan keluarga Iskandar, bahkan Reni cukup sering berkunjung, itu yang membuat keluarga Iskandar, ayah, ibu dan adik adik Iskandar sangat menyukai Reni, adik adik Iskandar selalu gembira jika Reni datang, bahkan komunikasi Reni jauh lebih intens dengan keluarga Iskandar ketimbang Iskandar sendiri.


Farhan yang gelengan kepalanya paling bayak, Farhan sudah cukup dewasa untuk melihat yang begituan, akan tetapi Farhan tentu saja keberatan jika Asrul dan Risda melakukannya di depan banyak orang, bukan hanya orang tua mereka, tapi ada juga Ariana yang masih anak kecil.


Dari semuanya, hanya Ariana yang tersenyum lebar, ia malah menggoyang kepalanya seperti sedang menari, entah anak SMP ini mengerti atau tidak, tapi yang jelas, dari semua yang ada berkeliling di meja makan pagi ini, hanya dia yang senyum lebar dan satu satunya yang tidak gelengkan kepala.


Ariana sama sekali tak tahu jika abang tertuanya sedang merasa bersalah, Asrul juga begitu, ia juga dalam posisi yang tidak tahu, bahkan sekarang masih bertanya tanya siapa yang punya ide ini, Asrul tak tahu dan dipastikan tidak menyangka jika semua ini adalah idenya Ariana.


Ariana lah yang mendatangi satu persatu kakak dan abangnya untuk menyusun rencana ini, tapi memang Ariana hanya kasi usul saja, semua hal yang berkaitan dengan pelaksanaannya sepernuhnya ditanggung jawabi Mutia dengan bantuan penuh Reni dan Farhan.

__ADS_1


…. Bersambung …


__ADS_2