
Faridha memilih diam saja saat Farhan menggenggam erat tangannya kembali masuk rumah saat Ariana dari pintu belakang setengah menjerit memanggil abangnya karena suruhan ibu mereka. Farhan terus membawa Faridha hingga kembali ke ruang depan, disana hanya ada yang perempuan saja, Agung dan Asrul tak tampak.
“Minta nomor ketua rombongan kamu Dha”.
Faridha hanya angguk kepala, mencari nomor ketua rombongan mereka dan membacakannya, Meeta dengan cepat menulis nomor yang disebut Faridha dan melakukan panggilan video.
“Namanya siapa Dha ?”.
“Pak Aswin Bou, marganya Siregar, orang Sidimpuan Bapak itu”.
Meeta acungkan jempolnya, tak lama panggilan Meeta menyahut. “Assalamu Alaikum Pak Regar”.
Walau agak bingung Aswin menjawab. “Wa Alaikum Salam Bu”.
“Faridha masih dirumah, ini dia”. Meeta mengarahkan kamera ke Faridha, yang otomatis juga menunjukkan Farhan. “Maksud saya Pak Regar, mau permisi Faridha disini dulu, besok mau saya bawa jalan jalan bentar, saya Bounya”.
Aswin hanya bisa angguk kepala, apalagi Meeta menggunakan Bahasa Mandailing, Aswin juga sudah melihat Faridha, melihat Farhan yang tadi bawa Faridha juga, sehingga Aswin seperti tidak punya alasan yang cukup untuk menidakkan permintaan Meeta.
“Tapi Bu, besok, andai kita masuk final, kita butuh Faridha Bu”.
Meeta angguk kepala. “Jam berapa Pak Regar ?”.
“Sekitar jam dua lah Bu”.
Meeta tampak berpikir. “Kalau nggak begini saja Pak Regar, kalau masuk final, bapak telephon saya, ini nomor saya, besok biar saya langsung yang antar Faridha, bagaimana Pak ?”.
“Okey Bu, sebaiknya memang begitu”.
“Okey Pak Regar, terima kasih sebelumnya”.
Aswin tersenyum juga. “Sama sama Bu”.
Telephon di tutup, Faridha agak menghela nafas panjang, itu artinya malam ini ia akan menginap di rumah ini, rumah yang sebenarnya masih begitu asing bagi Faridha, sebenarnya bukan karena apa, tapi Faridha lebih kepada canggung, agak malu dan merasa kurang pantas saja.
“Nanti Kakak tidurnya sama Ariana saja, nggak usah di kamar tamu”.
Faridha memandang Ariana, anak manis yang dapat dipastikan Faridha pasti manja, karena memang anak bungsu, semuanya pasti menghadiahinya kasih sayang sepanjang waktu, tapi Faridha juga menemukan sikap yang bagus dari Ariana, sama sekali tak ada sombongnya.
Farhan dan para lelaki keluar rumah saat mendengar adzan, Faridha memilih duduk di samping Risda saat yang lain ikut beranjak, Faridha sedang dalam posisi tidak bisa shalat, itu pula yang membuat Risda masih duduk menonton saat adzan terdengar.
“Lagi halangan ya Dek ?”.
Faridha senyum sambil anggukkan kepala. “Iya Kak”.
Keduanya berbagi senyum, Risda agak lama memandangi wajah Faridha, memang sangat manis, Risda jadi senyum sendiri, cukup bahagia membayangkan Faridha akan menjadi istri Farhan, entah kenapa, Risda juga merasa kalau Faridha gadis manis yang baik budi.
“Kakak istrinya abangnya Bang Farhan ?”.
Risda senyum dan anggukkan kepala. “Bang Asrul”.
Faridha tampak masih malu malu, Risda yang melihat itu hanya senyum saja, kemudian dengan panjang lebar bercerita tentang keluarga ini, Faridha angguk angguk kepala saja, tapi dari semua cerita Risda, Faridha menangkap makna, walau keluarga Farhan begitu kaya, tapi sikap rendah hati mereka tetap ada.
__ADS_1
“Kakak kerja apa Kak ?”.
Risda menoleh sebentar. “Kakak guru Dek”.
“Abang ?”.
Risda geleng kepala. “Abang masih kuliah, ambil S2”.
Kening Faridha agak berkerut, yang terbayang di kepala Faridha nanti akan begitu, jika semuanya benar terjadi, Faridha akan menikah muda, bahkan saat usianya belum genap 20 tahun, kemudian ia akan kuliah, akan sama menjadi mahasiswa seperti suaminya, bagaimana keluarga model begitu, batin Faridha.
Tapi kemudian Faridha menggeleng dan menepis semua bayangannya, karena memang, hingga kini, Faridha masih saja bertanya tanya, sejauh mana semua yang ia alami hari ini benar benar nyata, Faridha masih saja menemukan beberapa hal yang membuatnya belum yakin, bagi Faridha, ini semua masih terlalu prematur.
“Ayo tidur Kak, sudah jam sembilan”.
Faridha agak terkejut, tapi akhirnya berdiri mengikuti tarikan tangan Ariana. “Memang Adek sudah ngantuk ?”.
Ariana senyum saja. “Bagus tidur cepat Kak”.
Faridha angguk kepala saja, permisi ke Risda dan ikut langkah Ariana menuju kamar tidur. Begitu masuk kamar, Faridha kembali melongo, besar sekali kamarnya, ukuran kamar ini sudah hampir dua pertiga ukuran rumah mereka, ukuran kamar yang menurut Faridha terlampau luas, ranjangnya juga bagus, Faridha hanya bisa menghela nafas dan menggeleng.
Hanya beberapa menit saja, Ariana sudah benar benar tidur, tapi Faridha sama sekali belum bisa memejamkan mata, ini yang membuat Faridha masih berhayal jauh, walau sudah membaringkan tubuh, sudah pakai selimut, tapi mata Faridha masih terbuka lebar, selebar lebarnya.
Faridha membayangkan apa yang berlangsung hari ini, pertemuan mereka berawal saat Farhan menolongnya dari kejadian hampir tertimpa material sisa bongkaran bangunan, kemudian mereka ngobrol lumayan panjang di luar ruang debat.
Kemudian Faridha ikut debat, tak lagi terpikir soal Farhan, bahkan Faridha sudah boleh dikatakan lupa, tapi sorenya muncul di hotel dan mengaku sebagai paribannya, Faridha tak tahu mengapa, yang jelas ia ikut naik taksi dan sampai kerumah ini. Cerita makin panjang saat Ibu Farhan menghubungi ayahnya dengan video call.
Terus terang mengatakan kalau ia ingin menjadikan Faridha sebagai menantunya, padahal Farhan saja belum sama sekali bicara soal suka. Berlanjut hingga ayahnya pasrah dan menerima, cerita makin dalam saat ayah Farhan datang dan mengatakan mereka akan menikah saat Faridha lulus SMA.
Faridha kembali mendesah, apakah cerita hidupnya akan benar benar begini, apakah memang bisa seindah ini seterusnya, melihat sikap dan perlakuan semua keluarga Farhan, Faridha sepertinya harus mengakui kalau ini adalah benar, tapi bagaimana bisa, sejarah hidupnya bisa berubah sedemikian mudah, semuanya berlangsung tak sampai dua belas jam.
Faridha tak tahu, apakah ini awal kebahagiaan atau apa, tapi rasanya Faridha pantas untuk bersyukur dan mencoba melihatnya dari sisi yang positif, semoga apa yang kini berlangsung akan seterusnya berlangsung, dan pada muaranya nanti, Faridha benar benar bisa membangun keluarga bahagia dengan Farhan.
Faridha tak bisa ingkari hatinya sekarang, dengan cepat Faridha menyadari, benar kalau saat ini, ada perasaan indah yang tumbuh cepat bagai parasit di hatinya, perasaan yang mengarah pada satu pintu besar, Jatuh Cinta. Ya, Faridha dalam waktu singkat sudah tak mampu menghindar dari pesona milik Farhan.
Faridha menggeliat, saat membuka mata, Faridha tak menemukan Ariana. Tapi Faridha langsung tersentuh saat duduk, disamping ranjang, ia menemukan Ariana yang sedang sujud, shalat. Faridha agak terkejut melihat jam di dinding, ternyata Ariana sedang shalat shubuh.
Faridha berdiri saat ada yang mengetuk pintu, kembali ada rasa terkejut saat pintu di buka, ada senyum manis dari Reni yang bahkan langsung masuk, Faridha hanya senyum saja, hanya melihat apa yang dibawa dan diletakkan Reni di ranjang.
“Badan kita nggak jauh jauh amat kan Dek. Pakai pakaian kakak saja ya, nggak bawa baju ganti kan ?”.
Faridha mengangguk malu. “Iya Kak. Kan nggak tahu kalo mau nginap”.
Reni hanya senyum dan langsung keluar lagi. Faridha duduk di tepi ranjang, meraih pakaian yang diberikan Reni. Resah kembali menghampiri Faridha, melihat merk pakaian ini Faridha tahu ini pakaian mahal, semuanya lengkap, bahkan dengan pakaian dalamnya, Faridha menggeleng, benar benar tak habis pikir.
“Mandi dulu Kak, ini handuk kakak”.
Faridha anggukkan kepala. “Terima kasih Dek”.
Faridha membawa semuanya masuk kamar mandi. Faridha kembali menggeleng, untung ia sering ikut kegiatan sekolah dan menginap di hotel bagus, kalau tidak, Faridha dapat di pastikan bingung dengan fasilitas kamar mandi ini, kamar mandi di kamar Ariana bahkan setara dengan fasilitas kamar mandi hotel bintang lima.
Mandi sudah usai, ganti pakaian juga sudah, ternyata semua pemberian Reni sesuai dengan ukuran Faridha, hanya memang, pakaiannya agak gantung sedikit, karena Faridha sedikit lebih tinggi dari Reni, tapi itu baru akan ketahuan jika diperhatikan dengan seksama, kalau tidak, sama sekali takkan terlihat.
__ADS_1
Faridha lumayan bingung saat keluar kamar mandi, Ariana sudah tak ada, pakaian kotor ini mau di taruh dimana, Faridha berpikir untuk membawanya saja, tapi mau dibawa pakai apa, mana ada plastik atau semacamnya di kamar ini. Faridha benar benar bingung, akhirnya kembali menggantung pakaian kotornya di kamar mandi.
Faridha keluar kamar, suasana rumah sudah sunyi, Faridha perlahan beranjak ke ruang makan, pikiran Faridha mengatakan meraka semua sedang sarapan, tapi Faridha salah, sampai disana, tak ada seorangpun yang Faridha temui.
“Faridha sudah sarapan ?”.
Faridha hampir melonjak, ia berbalik dan menghusap dada. “Belum Bou”.
“Ayo sarapan. Semuanya sudah pada berangkat, Farhan juga sudah kesekolah. Nanti jalan sama Bou saja”.
Faridha hanya anggukkan kepala, ikut sarapan dengan Ibu Farhan, Faridha melirik jam yang ada di dinding, baru pukul 06.15 WIB, tapi semuanya sudah beranjak pergi, secepat itu. Tapi kemudian Faridha mengingat pernah membaca artikel yang mengatakan kalau orang orang di ibukota memang begitu, terlambat sedikit, akan terjebak macet.
Faridha masih kikuk saat Ibu Farhan mengajaknya keluar, Faridha naik saja ke mobil dan mobilpun langsung meninggalkan rumah keluarga Farhan, Faridha pasrah saja mau di bawa kemana, kemudian mata Faridha mengecil saat mereka malah masuk butik, tapi Faridha ikut saja.
Walau sebenarnya sangat tercengang, tapi Faridha serasa tak bisa protes, ada tiga pakaian yang menjadi pilihan Ibu Farhan untuknya, harga harga dari pakaian itu yang membuat Faridha menggeleng, harga satu pakaian seimbang dengan gaji ayahnya dua bulan, untuk apa pakaian semahal itu, batin Faridha.
Faridha bingung lagi saat mereka sekarang malah masuk Bank, Faridha hanya bisa hela nafas panjang dan menyerahkan buku tabungannya yang memang selalu ia bawa kemanapun pergi, karena tersimpan di dalam tasnya. Faridha bahkan ingin menangis saat melihat hasil print buku tabungannya, bertambah hingga delapan digit.
“Bou, kenapa begini ?, Bou .. Faridha …”.
Faridha tak bisa meneruskan kata katanya karena Ibu Farhan memegang kedua pipinya, bahkan mencium keningnya. “Saya Boumu, calon mertuamu”.
Faridha hanya bisa menggeleng, tak tahu mau bilang apa lagi. Tapi, tetap saja seperti awal kemarin, Faridha merasa semua perlakuan keluarga Farhan sudah melebihi batas daya tangkap pikirannya, tapi memang ini nyata, ini bukan hasil skenario, ini kisah nyata, benar benar terjadi.
Faridha kemudian dibawa ke rumah sakit, disana Faridha gamang lagi, ia baru tahu kalau Ibu Farhan punya rumah sakit sebesar ini, bahkan mungkin menjadi cleaning servis disini saja sudah bisa membuat Faridha bangga, tapi yang terjadi jauh melebihi itu, ia diperkenalkan kesemua orang sebagai calon menantu.
“Bou, Faridha melihat lihat ya ..”.
Meeta anggukkan kepala. “Jadi, Kak Mutia di lantai satu biasanya”.
Faridha anggukkan kepala, keluar dari ruang direktur, Faridha turun melalui anak tangga, melihat lihat sedikit, hanya beberapa kamar dan terus turun ke lantai lebih bawah tetap dengan menggunakan anak tangga, hingga tanpa sadar, Faridha sudah sampai ke lantai satu.
Resepsionis tersenyum manis pada Faridha, mereka tentu tak tahu apa yang ada di kepala Faridha, mereka hanya melihat Faridha yang cantik, semampai, anggun, sangat cocok untuk Farhan, walau mereka juga bisa menebak kalau Faridha masih SMA, karena semua juga tahu Farhan masih kelas XII.
“Lho, Kok disini Dek, ngapain disini. Kok nggak di ruangan Mama ?”.
Faridha senyum dan geleng kepala mendengar pertanyaan beruntun Reni yang ditujukan padanya. “Kakak sudah selesai kuliah ?”. Faridha malah balik nanya.
Reni anggukkan kepala. “Kesana yok”.
Faridha ikut tarikan tangan Reni. Resepsionis terus mengekori keduanya hingga hilang, sesama resepsionis saling pandang dan saling angguk kepala, melihat ke akraban Reni dan Faridha tadi mereka tahu kalau Faridha disukai oleh seluruh keluarga bos mereka.
“Berarti itu calonnya Farhan ya kan ?”. Resepsionis bernama Santi bertanya.
Rekannya Ros angguk kepala. “Cantik ya, dua menantu Bos sama sama cantik”.
Santi ikut angguk kepala. “Cantikan mana kira kira Ros ?”.
Ros tampak berfikir, tapi kemudian menggeleng. “Nggak bisa milih, dua duanya sama sama cantik”.
Semua resepsionis yang berjumlah lima orang sama sama tertawa, semuanya sama mengakui kalau tak bisa menentukan mana yang lebih cantik antara Risda dan Faridha, semuanya sepakat kalau keduanya sama cantiknya, sama sama punya pesona tersendiri, kesimpulannya, sama sama sangat cantik.
__ADS_1
…. Bersambung …