Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Pernikahan Mutia dan Reni


__ADS_3

Agung hanya angkat bahu, tak bisa komentar apapun saat teman temannya memilih tidur berjamaah di ruang depan yang besok akan di jadikan venue akad nikah. Agung tak bisa mengapa mengapa dan akhirnya ikut merebahkan tubuh di apit Hilman dan Haris, semua terletak berbaris, termasuk anak anak laki laki, mulai dari yang sudah menikah sampai yang masih anak SMP.


Asrul dan Farhan yang geleng kepala, orang orang yang terlentang tidur berbaris ini bukanlah orang orang yang sembarangan, selain senior manager perkebunan, kepala bank di luar negeri juga ada, bahkan ada Wakil Gubernur, ada pula yang sekarang menjabat sebagai seorang Bupati. Tapi sekarang semuanya sama sama tertidur di ruang depan, satu pemandangan yang membuat Asrul dan Farhan terus menggeleng.


Yang perempuan memenuhi kamar Risda dan Asrul, juga memadati kamar Farhan dan Tomy, kamar Mutia dan Reni tak mungkin di ganggu, karena sudah ada riasan disana, sedang kamar utama yang biasa di tempati Agung dan Meeta sekarang di penuhi pernak pernik untuk keperluan acara besok, Meeta sendiri tidurnya di kamar Farhan dan Tomy bersama Natalia dan Tiffani.


Di kamar Ariana lebih parah lagi, anak anak yang seusia Ariana berkumpul disana, tak hanya di atas ranjang, ada juga yang memilih di bawah saja dengan menggunakan ambal. Jadilah rumah Agung layaknya barak, dimana mana ada orang yang tidur, belum lagi keluarga Meeta yang sampai malamnya, suasana menjadi lebih ramai.


Ariana akhirnya memilih pindah tempat tidur, ia memilih tidur sambil di peluk Saniah di kamar tamu yang juga di huni tiga Nantulangnya yang lain di tambah si centil Yulia yang ngoceh panjang sebelum tidur tadi, Ariana hanya mendengar ocehan Yulia dengan senyum dan anggukan kepala.


“Bang, itu yang di bus di bawa kemana Bang ?”.


Asrul menatap Lukman. “Apaan Man ?”.


“Banyak tuh Bang, Salak, jeruk, nenas, banyak tuh Bang”.


“Oh ya. Kemana ya, ke dapur aja kali Man”.


Lukman anggukkan kepala, saat Asrul dan Lukman menuju keluar, Farhan, Tomy dan anak tertua Lufti Gunawan ikut menyusul. Asrul, Farhan dan Gunawan sama sama melotot melihat bagasi bus mini yang muatannya di paksa masuk. Mereka membongkar semuanya, sakin banyaknya, lima orang ini harus bolak balik sampai lima kali agar barang dapat beralih tempat ke dapur rumah Agung.


“Abang sudah toke salak sekarang ya Bang ?”.


Lukman tertawa mendengar kelakar Farhan. “Toke apanya, Tokek iya”.


Farhan ikut tertawa. “Kalo gede dan garisnya mantap, duit juga itu Bang”.


Lukman hanya tertawa saja, Tomy dan Gunawan juga ikut tertawa, Gunawan malah jadi nanya soal kegunaan tokek, kali ini Asrul ikut tertawa, lama lama pusing mendengar adik adiknya yang membicarakan hal hal yang menurut Asrul kurang masuk akal, tak tertangkap pikirannya.


Usai memindahkan barang, Asrul dan yang lain masih duduk di teras, sama sama menggeleng melihat setuasi rumah yang penuh sesak, Asrul juga memperhatikan mini bus yang dipakai keluarga ibunya menuju ke sini.


Asrul awalnya tak menyangka jika rombongan saudara kandung ibunya datang bersama sama menggunakan jalur darat, melihat mini bus ini, Asrul yakin ini milik kantor atau kampus, yang berarti ini datangnya dari Tulangnya Fauzan, melihat plat nya juga, ini plat Medan.


Yang Asrul bayangkan bukan apa apa, letihnya mereka, jangan jangan Lukman yang menjadi sopir tunggal, tak mungkin ia membiarkan ayahnya atau pamanya yang lain, paling yang mau itu Tulang Fauzan, kalau Tulang Sabar jangan harap, kalau ramai ramai begini, belum satu kilometer, si Tulang Kecil sudah pasti ngorok.


“Bang. Kita tidur di mosholla saja kenapa Bang ?”. Usul Gunawan.


“Kenapa Gun ?”.

__ADS_1


Gunawan angkat bahu. “Abang lihat sendiri, gimana Far ?”.


Farhan tertawa kecil. “Iya sih Mas Gun, kita disini mau di mana coba”.


Kelimanya sama sama tertawa, sepakat dengan usulan Gunawan, Tomy beranjak ambil kunci musholla sebelum bersama sama keluar pagar rumah dan menginap di musholla. Rasanya itu pilihan yang paling okey, apalagi kelompok ayah sudah bertambah empat orang.


“Taufiq nggak bisa datang ya Bang. Katanya lagi tengah semester mereka”. Lukman bertanya sekaligus menjawab.


Farhan menolak bahu Lukman pelan. “Kalau bisa, kenapa nggak sekalian sama yayangku Bang”.


Lukman tertawa juga. “Oh iya, Faridha satu sekolahan sama Taufiq ya”.


Semuanya sama tertawa, kecuali Asrul yang hanya geleng kepala, selalu pening kalau mengingat Farhan dan Faridha, gaya mesranya yang kelewatan menurut Asrul, utamanya setelah apa yang Asrul lihat selama berada di Sibolga. Asrul sudah wanta wanti ke ayah dan ibunya agar menikahkan saja Farhan dan Faridha secepatnya.


Tomy terus menggeleng, sekarang bertambah ingin melihat langsung yayangnya Farhan yang selalu ia bangga banggakan itu. Tomy jadi ingin mengetahui lebih jauh tentang sosok Faridha yang terlampau sering menjadi topik bahasan Farhan, sialnya Farhan tak pernah mau menunjukkan wajah Faridha padanya, termasuk jika mereka sedang video call, membuat Tomy makin penasaran.


Asrul yang berbaring persis di samping Lukman sebenarnya ingin bertanya soal Deasy, tapi Asrul menahan nafsu ingin tahunya, Asrul hanya anggap Deasy tak ikut karena alasan yang sama dengan Taufiq, karena kunjungan kali ini, selain anak Tulang Kecil Sabar yang memang masih kecil, barisan anak hanya ada Lukman.


Kalau Usman yang tak ikut, Asrul yakin karena tak mungkin membawa Nadia dengan putri kecilnya, tidak mungkin pula meninggalkannya, sedang anak anak Tulang Besar Rohim kemungkinannya sama dengan Taufiq juga, mungkin juga termasuk Feby yang saat ini masih kelas I SD.


Sampai kini, pikiran Asrul soal sikap dingin Deasy masih terus mengganggu, tapi untuk bertanya masih belum berani juga, walau Lukman sekarang berbaring di sampingnya, nyali Asrul untuk bertanya tetap tak ada, sehingga memilih memejankan mata, membiarkan Farhan dan Tomy yang masih ngobrol.


Baiknya, semuanya selesai dan sudah rapi tepat waktu, usai sarapan pagi, semuanya sudah sama sama duduk di ruang depan, hanya berbincang sederhana saja, menunggu acara inti berlangsung, sehingga tampak cukup serius kali ini.


Acara akad nikah seharusnya sudah dimulai, tapi yang datang baru pengantin Reni, sedang Mahdan dan keluarga belum sampai sesuai dengan waktu yang ditentukan. Sudah berulang kali di telephon, tapi tak diangkat, Agung optimis saja, itu pasti karena mereka sedang dijalan.


Pihak KUA sudah empat kali bertanya dan Mutia sudah hampir mau menangis, tapi semuanya langsung sumringah saat Mahdan dan keluarga sampai di halaman rumah, tak ada banyak pertanyaan, semua langsung meminta Mahdan masuk cepat, karena memang konsepnya begitu, yang lebih dulu melalui proses ijab kabul adalah Mahdan, karena Mutia yang lebih tua.


Meeta kali ini hanya duduk manis, Rasti yang mengambil alih semuanya, Rasti yang mengatur banyak hal, sehingga Meeta bersama kakak dan adik adik iparnya hanya duduk menunggu prosesi di laksanakan, dibagian belakang ada Natalia, Widya dan Muliani, di kamar rias ada Tiffani, ini yang membuat Meeta duduk nyaman.


Ijab kabul Mahdan dan Mutia sukses dengan cepat, kawan kawan Agung sama sama ucapkan sah dengan kuat dan serentak. Setelah penandatangan berkas selesai, sekarang masuk giliran Iskandar yang maju untuk menerima ijab kabul. Agung awalya masih sangat tegas, tapi saat hadirin mengucapkan kata sah, Agung tiba tiba tertunduk, menangis.


Haris dan Naufal langsung maju menenangkan Agung. Haris dan Naufal paham apa yang di rasakan Agung, menikahkan putrinya tentu punya tekanan tersendiri, melepas putri yang ia sayangi dan cintai dengan sepenuh jiwa raganya kepada lelaki pilihannya tentu bukan hal yang mudah, akan ada benturan yang menghantam hati, Agung tentu merasakan itu saat ini.


Agung sudah netral, ia sudah duduk di samping Meeta yang juga baru selesai menyeka air matanya. Mutia dan Reni juga sudah keluar dan sekarang sudah berada di samping suami masing masing, acara terus berlanjut, setelah memasangkan cincin ke istri masing masing, sekarang menyampaikan nasehat untuk pengantin.


Naufal yang maju lebih dulu, ada beberapa hal yang Naufal ingatkan, kedua pasang pengantin hanya tertunduk, sebagi seorang Bupati, ungkapan Naufal memang benar benar formal, tetapi mudah dipahami, mudah di mengerti. Kemudian Resti maju bersama Natalia dan Widya, hanya menyampaikan hal hal sederhana saja, setelah itu Agung dan Meeta maju.

__ADS_1


Agung ambil microfon. "Mahdan, Iskandar. Mutia dan Reni adalah putriku, darah dagingku, belahan jiwaku, separuh hidupku. Sekarang kami serahkan pada kalian sepenuhnya, dia adalah istrimu sekarang, milikmu, tanggung jawabmu". Agung menyeka air matanya yang mulai jatuh. "Aku yang mencintai mereka lebih dulu, aku yang menghapus air mata mereka lebih dulu, bukan kalian".


Agung kembali menyeka matanya, air mata Meeta sudah runtuh, Meeta sekarang malah sudah sesunggukan, Meeta menggenggam jemari Agung dengan erat, Agung juga melakukan hal yang sama, Agung juga membiarkan kepala Meeta yang sekarang sudah bersandar di bahunya.


"Jika satu saat kau tak mencintainya lagi, kau tak siap bersama sama dengannya lagi, mohon jangan pukul dia, jangan bentak dia, jangan berikan sumpah serapah padanya”. Agung berhenti bicara sesaat, menghela nafas. “Kalau sudah seperti itu, kembalikan dia padaku, kami siap menerima apapun itu, karena dia adalah putriku, mutiara hidupku. Aku tak pernah bisa memukulnya, tak pernah membentaknya, juga tak pernah memberi sumpah serapah padanya. Aku ayah kalian sekarang, Ayah hanya ingin ingatkan itu".


Tak ada satupun yang tidak meneteskan air mata, apalagi Mutia dan Reni, hati keduanya menjadi begitu sunyi, keduanya merasa bagai dilepas jauh dan seakan tak akan lagi kembali, Mutia dan Reni tertunduk dengan air mata yang terus mengalir deras, Mahdan dan Iskandar juga mengalami hal yang sama, keduanya juga sama sama genggam kuat jemari istri masing masing. Ada pesan yang mendalam menusuk sanubari keduanya, baik Mahdan maupun Iskandar sama sama berjanji, akan memberikan rasa sayang yang paling hebat didunia untuk istrinya.


Setelah itu acara selanjutnya adalah pengantin menyalami seluruh anggota keluarga, biasanya disebut sungkem. Agung dan Meeta yang mendapat giliran pertama. Tangis Mutia langsung pecah saat mendapat pelukan ayahnya, Mutia seperti bersujud di pangkuan ayahnya dengan tangisan yang terdengar jelas.


Agung mengelus punggung Mutia dengan lembut, ia mengangkat bahu putrinya, saat Mutia sudah tegak, Agung memegang kedua pipi Mutia dan mengecup keningnya, Mutia kembali runtuh, Mutia bergeser ke Meeta, ibu dan anak ini sama sama terisak, Mahdan juga erat memeluk Agung.


Giliran Reni dan Iskandar suasananya persis sama, bahkan Reni lebih lama dari Mutia, Reni memeluk Agung sangat lama, seperti tak ingin ia lepaskan, pelukan Reni baru lepas saat Resti dan Natalia datang dan menarik Reni pelan, kepada Meeta juga sama, tarikan Resti dan Natalia yang membuat Reni bisa melepaskan pelukannya.


Kemudian semua juga mendapatkan jabat tangan dan pelukan Mutia dan Reni, setelah ayah dan ibunya, Mutia dan Reni lebih dulu mendatangi abang dan adik adik ibu mereka yang semuanya memang hadir, dimulai dari Rohim dan Fauziah, kemudian ke Fadli dan Risna, beralih ke Fauzan dan Saniah, baru kemudian keduanya menuju Sabar dan Citha.


Semuanya memeluk dan mencium keponakannya dengan sepuas hati lengkap dengan tangis bahagia. Abang dan adik adik Meeta memang sangat sayang kepada keponakan mereka, anak anak Meeta memang punya arti lebih bagi semuanya, bukan hanya karena Meeta saudara perempuan mereka satu satunya, tapi anak anak Meeta memang menempatkan saudara ibunya dalam posisi istimewa.


Setelah menyalami teman teman ayahnya yang ditutup oleh Haris dan Natalia, dua pasang pengantin ini mengarah ke Asrul dan Risda. Asrul langsung menyambut adiknya dengan pelukan, tangis Mutia kembali pecah, entah kenapa Mutia sangat sedih, Mutia sendiri tak tahu apa yang ia sedihkan, tapi tangisnya tak bisa ia tahan saat Asrul mencium dan memeluknya erat.


“Maafkan Tia Bang, Tia banyak salah selama ini ke Abang”. Lirih Mutia.


Asrul mengelus bahu Mutia lembut. “Adikku tidak pernah salah”.


Mutia makin mengencangkan pelukannya, kali ini gantian seperti Reni tadi, pelukan Mutia baru lepas saat ada yang menariknya, kali ini tidak Natalia dan Rasti lagi, tapi sudah digantikan oleh Widya dan Muliani. Risda juga sesunggukan menerima peluk dan cium adik adik iparnya, ada rasa haru yang menusuk hati Risda dalam.


Ini memang perpisahan, bukan perpisahan fisik, tapi perpisahan non fisik, sejak hari ini, Mutia dan Reni tidak hanya sebatas seorang putri, adik, adik ipar, atau kakak saja, tapi juga seorang istri, seorang menantu dan sebutan lain dari keluarga baru. Ini perpisahan sikap, status, kesempatan, konsentrasi dan prioritas.


Mutia dan Reni sejak hari ini punya kehidupan dan perhatian baru, kehidupan dan perhatian yang harus dijadikan nomor satu, keluarganya kini harus sebatas pendorong atau bentuk lain yang serupa, bukan lagi menjadi penentu seperti yang selama ini berlaku, Mutia dan Reni wajib memahami itu.


Ada yang berubah saat dua pasang pengantin menghampiri Farhan dan Ariana yang memang duduk berdekatan. Mutia dan Reni menangis mencium dan memeluk adiknya, tapi Farhan dan Ariana malah tertawa, bahkan Ariana sampai cekikikan, ini membuat Mutia maupun Reni, senyum dalam tangisnya.


Keduanya sama sama mencubit kedua pipi Farhan dan Ariana dengan gemas, semua yang berada di ruangan jadi tersenyum dan geleng kepala, Agung dan Meeta juga menemukan senyum dan tawa terpaksa dari bibir masing masing, keduanya sama menggeleng melihat ulah Farhan dan Ariana.


Kalau Ariana mungkin masih bisa diterima, tapi Farhan yang sudah mahasiswa melakukan hal yang sama tentu membuat banyak orang jadi menggelengkan kepala, aneh sekaligus lucu melihat tingkah Farhan yang lain dari yang lain, apalagi mereka yang tahu kalau Farhan sudah punya tunangan dan akan menikah dalam waktu dekat.


Hilman juga senyum, bahkan termasuk paling lebar dari semuanya, tapi senyum Hilman bukan karena ulah Farhan atau Ariana, senyum Hilman akibat dari apa yang sedang terlihat di sudut ruangan, putrinya Giovanni duduk bersandar ke dinding sangat rapat dengan Lukman, bahu dan bahkan kepala keduanya bertemu, terlihat begitu konsen memandang ke layar ponsel yang di pegang Lukman.

__ADS_1


Entah kenapa, Hilman malah berdoa agar Lukman bisa merubah pandangan Vanni tentang pernikahan, Hilman tahu kalau keduanya sama dengan Reni, baru saja selesai dari semua rangkaian pendidikan strata satunya, sama sama memegang kontrak kerja yang dapat menjamin kelanjutan hidup di masa depan.


…. Bersambung …


__ADS_2