
Pagi masih amat dingin. Pram berdiri dan ganti pakaian, tujuan Pram tentunya sawah. Ireth ikut berdiri. Pram memeluk bahu Ireth dan mencium keningnya perlahan.
“ Papa pergi dulu Ma “.
“ Hati hati Pa “.
Pram melangkah keluar rumah, Ireth ikut sampai ke pintu. Pram melangkah aja, walau merasa seperti ada yang lain. Ireth tak biasa antar hingga kepintu, Ireth juga tak biasa memeluknya begitu erat padahal hanya untuk pergi kesawah. Tapi Pram merasa biasa aja dan terus melangkah.
Sore menjelang, Pram memegang perutnya, rasa lapar begitu membelit, hingga jam sudah pukul 16.00 WIB, Ireth tak juga datang mengantar makanan. Pram memilih duduk dipinggir pondok. Tapi laparnya kian menjadi, Pram akhirnya memutuskan untuk pulang.
Baru dihalaman rumah Pram mendengar ada kegaduhan, kepala Pram bagai pecah mendengar dia dibentak sebagai laki laki tak punya arti, Pram terus melangkah masuk kamar, kosong. Tak ada Ireth, bahkan lemari Pakaian juga tinggal separuh. Pram terduduk, suara suara dari luar kamar membuat kepala Pram terasa bagai pecah. Ternyata dipuncak keputus asaan, Ireth menyimpulkan pergi meninggalkan semuanya, pagi-pagi benar saat Pram sedang pergi kesawah Ireth melangkah meninggalkan kampung halamannya.
Kepergian Ireth membuat Pram amat tertekan, tertekan oleh banyak persoalan yang datang, apalagi dari keluarga Ireth yang menyalahkan Pram atas kepergian Ireth, apalagi Ireth pergi dalam keadaan berbadan dua, Pram dituding tak beradab, tak bertanggungjawab, tak punya otak, dan lain sebagainya. Hingga Pram juga tak kuasa dan akhirnya cabut dari kampung Ireth, tujuan Pram adalah temannya Jainal yang sukses di Bandar Lampung. Sama seperti Ireth, Pram pun melangkah dengan menggendong Haris yang masih berusia 2 tahun, Haris belum tahu apa-apa saat itu, dan langkah Pram yang mantap hilang menjauh dari kampung halamannya.
Di Bandar Lampung Pram disambut Jainal dengan senang hati, Istri Jainal, Indah tentu punya kegembiraan tersendiri dengan kehadiran Pram, kegembiraan itu ada pada Haris. Jainal dan istrinya belum juga punya keturunan ditahun ke 15 perkawinan mereka. Tentu tawa Haris, rengek Haris, bahkan tangis Haris, bukan gangguan bagi Indah, itu malah sebuah nyanyian merdu yang mampu mengalahkan suara emas Vina Vanduwinata, Rano Karno, Mariam Bellina, bahkan Pance dan Titiek Puspa. Sejak itulah Nama Arianda brtambah dengan Haris, menurut Indah Haris ada panjangnya, yaitu Hari Istimewa. Maksudnya Haris memberikan kehidupan yang berbeda bagi keluarga mereka, Haris merubah harinya yang biasa-biasa saja menjadi hari hari yang begitu istimewa, sangat istimewa.
Hidup Pram kembali membaik, Haris mendapat kasih sayang layaknya seorang Ibu, bahkan Pram sering menjadi begitu tak berarti, Indah jadi lebih dari semua, dan Indah pun amat sayang dan cinta pada Haris, jangan ada yang menyentuh Haris, kalau tak mau berurusan dengan Indah. Bahkan Haris tak kaku memanggil Indah Mama, hingga pada saat Indah meninggal Dunia Haris tak bisa terima, Haris meraung raung sekuat tenaga, Haris terus meronta dan tau mau melepaskan pelukannya dari jenajah Indah, justru prilaku Harislah yang membuat para pelayat tampak sangat sedih, air mata Jainal justru jatuh karena Haris yang terus menangis, Jainal malah lebih terpukul melihat kondisi Haris, ia sudah rela Indah pergi, itu lebih baik ketimbang Indah terus tersiksa dengan kanker yang diidapnya. Tangisan Haris tentunya membuat orang tahu betapa sayangnya Indah padanya, padahal saat itu Haris sudah duduk dikelas II SMA, mestinya anak seusia itu paling tidak sudah paham, tapi itu tadi, rasa sayang yang sudah dirasakannya membuat Haris tak terima kepergian Indah.
Hampir tiap minggu Haris pergi jiarah kemakam Indah, Jainal dan Pram hanya geleng kepala saja, mereka tak bisa melarang Haris berbuat hal itu, Haris tentunya punya kesimpulan lain mengapa ia berlaku seperti itu. Hingga Haris sudah kuliah ke Jakarta, asal pulang kampung ia pasti tak lupa kemakam Indah, terkadang Haris dari terminal malah langsung kepemakaman baru kerumah, satu minggu Haris disana, bisa sampai empat kali ia jiarah.
__ADS_1
“ Kok Nangis Bang ?”.
Ayah Haris tersentak dan menyeka matanya mendengar pertanyaan Jamil. Ayah Haris memperbaiki duduknya dan kembali melihat Photo Haris yang memeluk Natalia dengan tawa yang khas.
“ Apa jadinya nanti Haris Mil “.
Dahi Jamil berkerut. “ Memang kenapa Bang ?”.
“ Aku takut Mil “.
“ Takut ?, kenapa takut ?”.
Jamil buang nafas berat, ungkapan itu cukup memukul otak Jamil, hal yang mungkin saja memang. Mungkin saja kisah itu berulang pada Haris, kisah yang dialami sang ayah kemudian berulang pada sang anak. Tapi mudah-mudahan tidak, bathin Jamil dalam dalam.
“ Kak Ireth gimana ya ?”.
Ayah Haris memandang adiknya Jamil. “ Tak ada yang tahu Mil “.
“ Lagi pula Abang juga udah disini, bagaimana abang bisa tahu “.
__ADS_1
“ Entahlah Mil “.
Kepala Pram jadi diisi istrinya Margareth yang tak tahu alamatnya dimana, Pram tak lagi tahu apa-apa tentang Ireth, apa jenis kelamin anak yang dikandung Ireth, anak keduanya Pram tak tahu, apa Ireth masih hidup apa tidak, sudah menikah lagi atau gimana, Pram benar-benar buta, tak tahu apa-apa.
“ Yang Jamil dengar, keluarga Kak Ireth juga tak tahu Kak Ireth sekarang dimana, sama sekali tak tahu “.
“ Aku jadi benar benar takut Mil “.
“ Udah lah Bang, tenang aja. Jamil yakin Haris akan paham dan mampu menangani itu semua “.
“ Semoga begitu “.
“ Doa aja Bang banyak banyak “.
Jamil buang nafas berat juga, jika Jamil berada dalam posisi abangnya Pram, Jamil juga dipastikan akan begitu sangat pusing dengan apa yang terjadi saat ini tentang anaknya, menantang perkawinan itu juga bukan hal yang baik, dan itu bukan tipenya ayah Haris, ayah Haris punya pikiran yang sangat fair, ia tak pernah membuat aturan yang kelat dan keras pada semua orang yang ada disekelilingnya selama ini.
Jamil jadi ikut pusing. Lagian Haris kenapa harus begitu, masa tidak ada yang lain dari itu. Tapi namanya juga jodoh, Tapi rasa takut ikut-ikutan juga menyergap Jamil. Ada bayangan yang aneh ikut mengambil alih pikiran Jamil. Namun begitu Jamil merasa yakin jika Haris mengerti apa yang dijadikannya sebagai kesimpulan, selain itu Jamil juga merasa bersyukur saat adiknya Mila mendapat jodoh disini sehingga bisa dekat dengan abangnya, dan memang selama ini Jamil setelah mengetahui abangnya terkena gula ia meningkatkan jumlah kunjungannya ke tempat abang tertuanya itu.
.... BERSAMBUNG ....
__ADS_1