Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kepanikan Haris


__ADS_3

Pagi pagi sekali Buang sudah beranjak dari desanya, sesuai yang Buang biasa ketahui, hari ini Haris pasti berada di desa sebelah, biasanya jadwal Haris begitu, sehingga Buang tak membuang buang waktu langsung menuju kesana.


Tapi, kali ini Buang agak sial, saat ia sampai, Haris baru saja pergi. Buang cari akal, meminjam motor rekannya dan beranjak mengejar Haris. Sudah lebih satu jam baru Buang bertemu orang dijalan.


Mujur, orang ini mengenal Haris dan mengatakan Haris pergi ke desa lain, kepala desanya sakit, Haris dan kawan kawannya pergi kesana untuk menjenguk. Bagusnya lagi, orang ini malah mau menemani Buang agar tak tersesat.


Nafas Buang begitu lega, dari jauh ia sudah menemukan wajah Haris yang sedang bercengkrama dengan beberapa orang. Haris yang melihat Buang yang jadi terkejut, untuk apa Buang datang sampai sejauh ini, pasti ada masalah penting.


Haris langsung mendekati Buang. “Kenapa Pak Buang ?”.


“Ibu Guru Pak Nas”.


Jantung Haris langsung berdegub. “Bu Guru ?, kenapa dia Pak ?”.


“Semalam Bu Guru waktu pulang ketimpa dahan pohon sampai pingsan Pak Nas”.


Jantung Haris makin tak tenang. “Pingsan ?”.


Buang anggukkan kepala. “Pak Guru nyuruh saya nyari Bapak. Kata Pak Guru, kepala Bu Guru sakit kalau di gerakkan”.


Tubuh Haris langsung gemetar. “Iya, Iya. Sekarang dimana Bu Guru nya Pak ?”.


“Di rumah Bu Kepala Sekolah, di tempatnya tinggal itu Pak Nas”.


“Keadaannya bagaimana ?”.


Buang menggeleng. “Masih belum bisa duduk Pak Nas, Pak Guru yang jaga sejak kemarin, Pak Guru nggak pulang pulang Pak Nas”.


Haris benar benar panik, bayangan putrinya langsung kuat menusuk kepala Haris, bergegas Haris meminta rekannya ikut dengannya menuju desa tempat Risda lewat jalan darat, bahkan Haris mengambil alih kemudi.


Buang juga kembali ke desa tempat ia meminjam motor, ini berbeda arah dengan tujuan Haris, sehingga mereka berpisah di ujung desa, setelah Haris ucapkan terima kasih, ia langsung tancap gas membelah hutan belantara.


Haris mengambil jalan pintas, ia cukup hafal dengan hutan ini, tapi kecepatan yang dipaksakan Haris membuat dua rekannya mulai khawatir. Mereka tak tahu siapa Bu Guru yang dikatakan Buang, siapa dia untuk Haris.


Tapi sekarang keduanya yakin itu orang penting bagi Haris, sehingga menunjukkan kepanikan sehebat ini. Keduanya hanya mengeluh dan berpegangan kuat, karena mobil sudah terlalu sering bagai melompat karena ada akar atau gundukan tanah.

__ADS_1


Hampir sepuluh jam juga, baru Haris sampai ke pinggir desa, disini Haris tak mungkin melaju kencang, itu akan bisa memicu keributan, sehingga dengan terpaksa Haris menjalankan mobil dengan pelan hingga mencapai rumah yang dituju.


Begitu mematikan mobil, Haris setengah berlari masuk, matanya  nanar melihat Risda yang tergeletak lemah, bahkan dengan wajah yang cukup pucat. Dada Haris bagai di remas remas, sakit sekali, Haris nyaris tak sanggup melihat wajah pucat putrinya.


Haris melangkah mendekat dan mencolek bahu Asrul pelan. Colekan itu cukup membuat Asrul terbangun, begitu melihat wajah Haris, senyum Asrul langsung mengembang, ini orang yang sangat Asrul tunggu tunggu.


Haris duduk di tepi dipan. “Bagaimana Rul ?”.


Asrul menggeleng. “Kurang baik Pak. Apapun caranya, bapak harus bawa Risda ke kota, apapun caranya”.


Haris anggukkan kepala. “Iya Rul, bapak juga pikirkan itu”.


Keduanya sama saling pandang lama, Asrul terus menggelengkan kepala, ini membuat Haris makin tak mampu menguasai detak jantungnya yang terus meninggi, sekarang pertanyaanya, bagaimana membawa Risda.


Jika dengan perahu, akan sangat sulit, masalahnya melawan arus, gerakannya akan sangat mengganggu, kemudian hari juga sebentar lagi akan sore. Naik mobil lebih parah lagi, itu jangan jangan bisa menambah luka Risda.


“Bapak bisa usahakan Heli ?”.


Haris menepuk jidat. “Betul Rul, heli”.


Haris keluar dan menemui dua rekannya, keduanya tampak terkejut mendengar Haris meminta mereka ke kantor dan sesegera mungkin membawa heli kesini. Keduanya saling pandang lebih dulu baru kemudian kembali memandang Haris.


Haris kembali masuk, anggukan kepala Asrul menyambut Haris. Haris menghela nafas dan ikut anggukkan kepala. Asrul jadi ikut buang nafas berat, sekarang punya harapan dapat mengecek keadaan Risda yang sebenarnya.


Sejujurnya, satu hari satu malam ini Asrul sama sekali tidak bisa tenang, sangat takut Risda ada apa apa yang membahayakannya, apalagi ini soal kepala. Ketakutan Asrul bertambah karena Risda merasa sakit jika menggerakkan kepalanya.


“Bagaimana kejadiannya Rul ?”.


Asrul menggeleng. “Saya kurang tahu Pak Nas, saya di kejar pemuda disini memberi tahu kejadian ini, karena arah tinggal kami berbeda”.


“Nggak lihat lokasi, dahannya maksud bapak ?”.


Asrul kembali menggeleng. “Nggak kepikiran sama sekali Pak Nas, saya ketakukan saat dikatakan Risda pingsan, jadi saya langsung kemari”.


Haris anggukkan kepala, kembali menghela nafas panjang, Haris juga yakin kalau Asrul pasti panik, tak kepikir soal lokasi kejadian. Mata Haris dan Asrul kini sama sama lekat ke wajah Risda dengan isi pikiran masing masing.

__ADS_1


Haris malah sekarang harus berkali kali menghapus air mata yang mengalir dari sudut matanya. Haris benar benar tak kuat memandang muka pucat Risda, hati Haris benar benar teriris, perih dan sangat menyakitkan.


Ingin sekali Haris mencium dan memeluk putrinya dan mengatakan kalau ia adalah ayahnya, tapi Haris harus menahan diri, itulah sebenarnya yang paling menyakitkan hati Haris, apalagi mendengar rintihan Risda bila kepalanya bergerak.


“Pak Nas ..”.


Haris cepat cepat menghapus air matanya dan memasang senyum manis. “Sudah bangun Ris ?”.


Risda anggukkan kepala, tapi disaat yang sama Risda langsung mengeluh. Ini yang menambah resah Haris, apalagi heli yang di minta belum datang juga, padahal hari sudah semakin gelap.


“Nggak usah bergerak dulu Ris”.


“Iya Pak”.


Haris mendekat, Asrul langsung bergeser agar Haris bisa semakin dekat. Tak bisa menahan lagi, tangan Haris membelai rambut Risda, yang di belai hanya senyum tipis saja, karena bergerak merespon akan membuat kepalanya sakit.


“Sebelah mana yang sakit ?”.


“Semuanya Pak Nas”.


Kening Haris jadi berkerut. “Yang kena timpa yang ini ?”.


Haris menyentuh kening Risda, tapi tangan Haris langsung beranjak cepat saat Risda kembali meringis saat mendapat sentuhan tangan Haris. Akhirnya Haris hanya bisa memandangi wajah Risda saja sembari berharap heli cepat sampai.


Asrul dan Haris begitu lega saat mendengar deru heli dan teriakan anak anak di luar, Haris langsung berdiri dan memastikan jika itu memang heli yang ia minta, dan benar, itu memang heli dari perusahaan.


Haris masuk lagi. “Kita ke rumah sakit kota ya Ris, helinya sudah sampai”.


Kening Risda berkerut. “Malam malam begini Pak ?”.


Haris tersenyum. “Memang kenapa ?”.


Risda pasrah saja saat Asrul malah mengangkat tubuhnya, Risda sekuat tenaga menahan sakit kepalanya, Haris juga mengikuti langkah Asrul yang menggendong Risda, permisi ke Bu Kepala Sekolah dan suaminya yang juga kepala desa.


Keduanya hanya angguk kepala, Haris menyusul naik ke heli, dan helipun beranjak naik kembali, tujuannya langsung ke kota kabupaten, ke rumah sakit swasta milik perusahaan tempat Haris bekerja.

__ADS_1


Risda tak mengerti apa yang membuat semuanya menjadi seperti ini, diatas heli, Risda kembali hanya bisa tiduran, bantalnya adalah paha Asrul. Walau agak risih karena Asrul terus menerus membelai kepalanya, tapi Risda tak berontak juga, mata Risda justru lebih banyak ke wajah Haris yang duduk di depan mereka.


… Bersambung …


__ADS_2