Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Rahasia Dibalik Lelucon Taufiq


__ADS_3

Hari yang sangat melelahkan bagi Faridha dan Tim debatnya, sejak pagi mereka berkeliling entah kemana mana, mulai dari ketemu Walikota dan jajarannya, hingga Gubernur dan banyak stafnya, banyak yang memberikan hadiah. Walau semuanya penuh tawa, tapi badan semuanya begitu lelah, capek perjalanan kemarin saja belum selesai, ditambah yang ini, menjadi begitu melelahkan.


Usai makan siang semuanya kembali ke sekolah, termasuk Faridha. Walau sebenarnya sudah dibenarkan pulang, tapi Faridha dan kawan kawan memlih kembali ke sekolah karena berbagai alasan, Faridha sendiri kembali ke sekolah karena masih ingin ke pustaka, adiknya Irham minta di bawain buku cerita rakyat untuk disadur.


“Dha, ada yang nyari kamu tadi, sekarang orangnya di kantin”.


Faridha senyum menatap Bu Aida. “Siapa Bu ?”.


Aida menggeleng. “Ibu nggak tahu Dha, kamu temui saja sana”.


Faridha anggukkan kepala. “Terima Kasih Bu”.


Tak jadi menuju pustaka, langkah Faridha mantap menuju kantin sekolah, heran juga siapa yang mencarinya. Sampai di kantin, Faridha hanya menemukan dua orang yang Faridha yakin suami istri, melihat pakaiannya, itu pasti pejabat atau semacamnya, Faridha mendekat.


“Hai, kakak. Ah, aku jadi panggil kakak sekarang”.


Faridha menoleh kebelakang, ada Taufiq. Faridha agak heran. “Kenapa Fiq ?”.


Taufiq tak menjawab, ia malah menarik tangan Faridha lebih mendekat ke kedua orang tua yang tadi menjadi sasaran pandangan Faridha, kedua orang tua itu senyum merekah, dengan begitu Faridha juga menjadi tersenyum.


“Oh, ternyata ini boru[1]ku itu ?, cantik sekali”.


Faridha menyambut uluran tangan keduanya, Faridha tentu tak lupa, menunduk dan mencium tangan keduanya sebagai bentuk rasa hormat. Keduanya tampak makin melebarkan senyumannya, yang ibu malah memeluk dan mencium kening Faridha, tentu membuat Faridha makin bingung.


“Saya Fauzan Lubis, adik kandung Boumu Meeta. Ini istri saya Saniah, kami juga ayah dan ibunya Taufiq”.


Faridha malah memucat, entah kenapa ada rasa takut yang menyerangnya tiba tiba, artinya ini adalah keluarga inti ibunya Farhan. Faridha menjadi serba salah, takut kalau ada hal yang membuat keduanya kurang sepakat, apalagi penanpilan keduanya sangat menyakinkan, ini pasti keluarga yang mapan.


Saniah menarik Faridha duduk di sampingnya, senyuman yang terus mengembang itu yang membuat Faridha sedikit tenang, tapi jantungnya sama sekali tak punya ketenangan, terus dag dig dug sejak tadi, Faridha sekarang diam diam memanjatkan doa mudah mudahan mereka tidak macam macam.


“Uda[2]tadi kerumahmu Dha, tapi kata ayah kamu masih disekolah, makanya kami kemari. Uda penasaran sekali mau melihat boruku yang membuat si ganteng Farhan jatuh hati”. Jelas Fauzan membuat Faridha makin berdebar.


Tapi, mendengar mereka sudah sampai ke rumahnya, berarti keduanya juga sudah melihat keadaannya, sekarang Faridha jadi bertanya, apakah keluarga ini sama dengan keluarga Farhan, tidak membedakan perlakukan pada orang yang tak punya dan tak risih bergaul dengan orang yang seperti keluarga Faridha.


Saniah merangkul bahu Faridha. “Kau boruku sekarang. Jadi, apapun yang ingin kau keluhkan, mengeluhlah pada Nanguda[3], jangan pernah segan. Kau calon menantu kakak Meeta, berarti kau boruku, iyakan ?”.


Faridha terdiam, berulang kali ia memandangi ketiga orang yang kini duduk bersamanya, yang Faridha dapatkan hanya senyuman, ini yang membuat Faridha ikut tersenyum, tapi jelas, wajah Faridha masih sedikit memutih, masih dalam mode heran dan penuh pertanyaan.


“Risda sudah cerita banyak ke Nanguda. Jangan pikirkan itu Boru, jangan melihat kebanyakan, kondisi ekonomi tak harus membangun perbedaan, seharusnya itu yang menjadi pemersatu, saling menguatkan, saling menutupi, hingga semuanya menjadi lebih baik”. Saniah langsung kesana karena yakin itu isi pikiran Faridha.


“Kita pulang, yok .. Faridha ikut”. Fauzan berdiri.


 Saniah ikut berdiri sambil menarik tangan Faridha. “Ayo Boru”.


Tak ada kata kata yang keluar dari mulut Faridha, ia hanya memilih diam, Faridha kemudian mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi WA dan mencari kontak Risda, Faridha agak senang melihat status Risda yang sedang online, cepat cepat Faridha mengirim chat yang menceritakan ia sedang bersama Fauzan dan keluarga.


Jawaban Risda diluar dugaan Faridha, Risda dengan enteng mengatakan kalau Fauzan itu seribu persen akan mendukungnya, Fauzan seorang pejabat di provinsi, tapi dia pejabat yang low profile, dia juga berawal dari orang yang sangat biasa, tidak akan ada masalah.


Faridha hanya membuang nafas perlahan, ikut turun saat sampai di depan rumah, kaki Faridha kembali seperti menginjak awan, tubuhnya sedikit terasa seakan melayang memasuki rumah mewah itu, tapi Faridha tetap ikut masuk, kuat dengan perkataan Risda tadi yang disampaikan lewat pesan WA.


Semuanya duduk, bercerita tentang banyak hal, Faridha dicecar pertanyaan seputar kegiatan debat yang berlangsung kemarin, Faridha menjawab semuanya dengan baik, dan selalu diakhir dengan tawa semuanya, Faridha akhirnya kembali mulai tenang, degub jantungnya sudah jauh turun.


Fauzan menerima panggilan video, langsung angkat. “Apa khabar Zan ?”. Meeta sudah penuh senyum di seberang.


“Sehat Kak, kakak sehat juga ?”.

__ADS_1


Meeta tampak anggukkan kepala. “Alhamdulillah Zan, Saniah gimana ?”.


Fauzan mengarahkan kamera ponsel ke Saniah. “Hai Kakak …”.


“Hei .. calon menantuku kok disitu ?”. Meeta juga melihat wajah Faridha.


“Iya Dong. Kan sekarang dia boruku”.


Meeta tertawa. “Iya juga ya. Gantengku mana ?”.


Fauzan mengalihkan layar ke Taufiq yang langsung sumringah. “Bou Sayang…”.


“Hai .. Ganteng Bou, sehat kan ?”.


Taufiq acungkan jempol. “Sehat Bou”.


Layar ponsel kembali ke Fauzan, cerita hanya seputar tanya tanya khabar saja, tapi tiba tiba ada yang menjerit dari belakang Meeta. “Tulaaaaaaang …”. Itu Ariana.


Fauzan langsung tertawa lebar. “Hai .. udah balik sekolah cantik ?”.


“Sudah Tulang. Babang Ganteng mana ?”.


Fauzan langsung serahkan ponsel ke Taufiq, Ariana langsung memekik membuat Taufiq geleng kepala, tapi Taufiq langsung ceria, keduanya langsung cerita panjang, Fauzan dan Saniah kembali hanya bisa saling pandang dan geleng kepala lagi, setiap video call begini, jika yang dua ini sudah ketemu, yang lain sama sekali tak perlu.


Faridha juga ikut senyum, ia membayangkan wajah Ariana, calon adik ipar yang sangat ceria, periang dan sangat manja. Walau kadang tampak bertindak sesuka hati, tapi Ariana tak sampai membuat yang lain tersakiti, sebegitupun Ariana, tapi ia tetap punya rasa hormat yang tinggi kepada kakak dan abangnya.


Lebih tiga puluh menit baru perbincangan selesai, hanya Faridha yang jadi terkejut heran, begitu meletakkan ponsel ayahnya, Taufiq langsung menghusap matanya yang sudah berair, benar, Taufiq sekarang menangis, padahal beberapa detik sebelumnya, ia masih tertawa riang bersama Ariana.


Bahkan sekarang Taufiq sudah menunduk, menutup muka dengan kedua tangan, sudah sesunggukan. Tentu Faridha makin heran, tapi untuk bertanya ia tentu tak punya keberanian, apalagi Faridha juga menemukan hal yang mirip terjadi juga pada kedua orang tua itu.


Fauzan berdiri, Faridha jelas melihat orang tua itu menghusap sudut matanya. “Ayah ke kantor dulu. Dha, Uda tinggal ya, cerita sama Nanguda dulu, nanti kalau mau pulang, minta antar ke Taufiq”.


“Aku rindu Ariana Ma, sangat rindu. Sama dengan besarnya rinduku pada Bulan”.


Saniah buang nafas berat. “Mama juga rindu Fiq”.


Taufiq masih berulang kali menghusap mukanya. “Taufiq terus tak kuat Ma”.


Saniah buang nafas berat, entah apa yang ia ingin sampaikan lagi, setiap kali ada pertemuan dan perbincangan dengan Ariana, Taufiq selalu sangat riang dan ceria, karena Ariana juga akan melakukan hal yang sama, Ariana akan memekik saat pertama melihat wajah abanynya Taufiq.


Tapi begitu pertemuan itu berakhir, Taufiq akan langsung runtuh. Cerianya akan lenyap dalam ukuran detik, semuanya berubah menjadi rasa pilu yang dalam, terutama tentang almarhuman adiknya Bulan. Hingga kini, Taufiq sama sekali belum mampu melupakan Bulan, walau kepergian Bulan sudah hanpir dua tahun.


Taufiq semakin tak terkendali soal ini, karena tidak bisa menemani adiknya di saat saat terakhir, bahkan Taufiq tak sempat melihat jenazah adiknya, hobby Taufiq mendaki saat itu, membuatnya kehilangan moment, saat Taufiq kembali, ia hanya menenukan makam adiknya.


Ini mungkin menjadi hal yang paling menyakitkan bagi Taufiq, apalagi saat Taufiq ingin berangkat dengan teman temannya, Bulan sempat merengut dan meminta Taufiq tidak ikut, karena akan melewatkan hari ulang tahun Bulan. Tapi Taufiq bersikeras untuk pergi dan berjanji membawa hadiah ulang tahun yang paling istimewa dari pendakian.


Hadiah berupa bunga itu memang ada. Tapi tak sampai ke tangan Bulan, penerima yang seharusnya ternyata sudah tak ada saat Taufiq kembali, sanga Ayah membawa bunga itu ke makam Bulan dan menanamnya disana, dan bunga itu kini tumbuh subur di makam Bulan.


Taufiq berdiri. “Aku di kamar Dha, kalau mau pulang, nanti panggil saja ya”.


Faridha kembali hanya anggukkan kepala, sama seperti yang tadi, Faridha juga menatap Taufiq hingga menghilang di tirai ruang tengah. Kini hanya tinggal berdua dengan Saniah, Faridha menatap ibu paruh baya itu cukup lama, serasa mengerti, Saniah melepas nafas kuat dan merangkul bahu Faridha.


“Ariana adalah obat paling mujarab bagi semua kami Boru, pengobat yang bisa meredakan rindu kami pada almarhumah Bulan, adik perempuan Taufiq”.


Faridha jadi mendesah, teringat sesuatu. “Bulan ?”.

__ADS_1


Saniah agak mengerutkan keningnya. “Iya Boru, adiknya Taufiq, Bulan”.


Faridha makin kuat mengingat sesuatu, ada bayangan Bulan sekarang di kepala Faridha. “Bulan yang dulu Taufiq bawa saat jalan jalan ke Danau Toba waktu perpisahan kami SMP itu Nanguda ?”.


Saniah mengangguk lemah. “Kau pernah bertemu Bulan boru ?”.


Faridha anggukkan kepala. “Pernah Nanguda, waktu itu, waktu jalan jalan ke Danau Toba itu Nanguda”. Faridha kemudian menggeleng. “Iya memang mirip sekali dengan Ariana, iya, benar Nanguda, mereka memang mirip,


sangat”. Faridha benar benar menggeleng panjang.


Saniah kembali buang nafas berat. “Entah mengapa mereka terlampau mirip”.


Faridha kembali menggeleng. “Biasa memang itu Nanguda, saudara sepupu mirip, itu banyak, bukan hal yang luar biasa, banyak yang begitu”.


Saniah anggukkan kepala, kembali membuang nafas berat. “Taufiq punya banyak penyesalan tentang Bulan, dia belum bisa lupa banyak hal Boru”.


Faridha terdiam, terpikir banyak hal. Faridha kini membayangkan wajah Bulan, adik Taufiq yang waktu jalan jalan ke Danau Toba kemarin itu sering nempel pada Faridha, ada banyak kemiripan dengan Ariana memang, tidak hanya wajahnya, termasuk mengenai cerianya, Bulan juga punya gaya dan sikap yang ceria, sama, juga semeriah Ariana.


Memang bukan hal yang aneh kalau saudara sepupu memiliki banyak kemiripan, itulah yang juga ada pada Ariana dan sepupunya Bulan, Faridha juga mengetahui ada beberapa orang yang begitu, almarhum ibu Faridha juga cukup mirip dengan sepupunya yang sekarang tinggal di Kerinci, Jambi. Pantas saja Taufiq begitu senangnya melihat Ariana, dan begitu sedihnya lama tak bersua.


Faridha agak mendesah. “Kenapa Taufiq jadi begitu Nanguda ?, maksudnya punya penyesalan begitu ?”.


Saniah buang nafas berat. “Hobbynya mendaki dulu, membuatnya tak ada di rumah saat Bulan kecelakaan saat pulang les sore, kalau Taufiq ada, biasanya dia yang jemput Bulan, bahkan hingga fardhu kifayah Bulan selesai, Taufiq belum kembali”.


Faridha menggeleng. “Itu yang membuat Taufiq tak mau mendaki lagi”.


Saniah anggukkan kepala. “Saat sampai, ia hanya menemukan makam Bulan. Disana ia bersumpah tidak akan mendaki lagi seumur hidupnya, begitu Boru”.


Faridha ikut buang nafas panjang, sekarang tahu alasan mengapa Taufiq menghindar dari organisasi pencinta alam, Faridha tahu persis sejak SMP Taufiq sangat aktif dalam organisasi ini, Faridha sebenarnya iya juga, tapi memang tak pernah ikut mendaki karena tak mau meninggalkan rumah lama lama.


Saniah mengelus punggung Faridha. “Berarti Boru Lubis yang baik hati yang diceritakan Bulan itu kamu Boru ?”.


Faridha agak mengerutkan keningnya. “Maksud Nanguda ?”.


Saniah senyum tipis. “Waktu pulang dari Danau Toba waktu itu, Bulan cerita panjang soal Kakak Ida Boru Lubis yang selalu menemaninya kemana saja yang ia mau, Taufiq pergi mancing, pergi berenang, minum kopi dengan kawan kawan, Kak Ida yang temani dia katanya, Kak Ida, ternyata Faridha”.


Faridha ikut senyum tipis. “Iya Nanguda, Bulan bahkan malamnya tidur dengan Faridha, katanya takut sama Bona”.


Saniah jadi tertawa. “Padahal Bona hanya bercanda, memang suka ganggu Bulan. Itu Bona lakukan karena tidak punya adik perempuan, hanya ingin dekat saja, tapi mungkin Bona keseringan, jadi membuat Bulan takut”.


“Nanguda kenal Bona kalau begitu ?”.


Saniah kembali senyum tipis. “Ayah Bona teman sekantor Udamu”.


Faridha anggukkan kepala, bayangan Faridha kembali mengarah pada Bulan, almarhumah Bulan. Ada rasa kasihan juga sekarang, Farudha ikut merasa sedih dengan apa yang dihadapi Taufiq, mungkin siapapun akan merasakan hal yang sama, jangankan pergi untuk selamanya, adiknya sakit saja sudah membuat Faridha kebakaran jenggot, khawatir dan kasak kusuk.


Faridha kembali menggeleng, ia baru tahu ternyata ada saudara sepupu yang bagai kembar. Walau sebetulnya Faridha juga bisa membayangkan perbedaan keduanya, mulai dari rambut, Bulan agak ikal sedang Ariana lurus, kulit Ariana lebih putih, sedang Bulan lebih ke sawo matang, tapi secara keseluruhan memang mirip, Faridha baru sadari itu sekarang.


Selain itu, ada juga hal yang membuat Faridha tak habis pikir, Faridha sudah berteman dengan Taufiq sudah berlangsung lama, sejak mereka masih di SMP, bahkan waktu SMP dulu mereka berada di rombel yang sama, hanya waktu SMA mereka berada di rombel yang beda, bahkan beda jurusan, Taufiq memilih IPS, sedang Faridha ada di MIPA.


Tapi, pertemanan mereka terus berlanjut, apalagi di SMA sekarang, mereka yang dulu satu SMP ada lebih sepuluh orang. Setahu Faridha, Taufiq adalah anak yang ceria, suka bercanda dan punya banyak koleksi cerita lucu, Faridha baru tahu, kalau ternyata Taufiq temannya menyimpan luka yang begitu perih.


…. Bersambung …


[1] Anak Perempuan

__ADS_1


[2] Adik ayah


[3] Istri Adik Ayah


__ADS_2