Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Mengunjungi Orang Orang Kesayangan


__ADS_3

Natalia tak perlu minta cuti ke sekolahnya untuk bisa ikut bersama Haris ke Bandar Lampung karena memang sekarang sedang libur semester, sehingga bebas mau kemana saja, ternyata Widya dan Lufti juga meminta ikut.


Setelah menimbang nimbang, mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan mobil saja, karena mobil peninggalan Mama Haris dan Natalia dianggap terlalu tua, maka mereka memutuskan menggunakan mobil milik Lufti saja.


Sebelum benar benar menuju Bandar Lampung mereka terlebih dahulu singgah di makam Ireth, mama Natalia dan Haris. Disana Haris benar benar menumpahkan seluruh perasaannya, Natalia juga ikut ikutan menyampaikan keluhan yang ada di hatinya. Widya dan Lufti memilih menonton saja, tapi jelas terlihat keduanya sama menghapus air mata.


Setelah perjalanan hampir mencapai Merak barulah Lufti yang memegang setir memulai cerita. Tentu saja berkaitan dengan teman temannya bersama Haris, mulai dari Firman abang iparnya yang juga menikah dengan wanita yang dikenal baik oleh Haris, istri Firman adalah Rasti, salah satu pesaing Haris dulu saat pemilihan presiden mahasiswa.


“Firman dengan Rasti ?. Ah, aku jadi kangen mereka Luf”.


Lufti mendengus. “Kangen apaan ?”.


Haris angguk kepala. “Kangen saja. Lu kenapa sih ?, sewot terus ?”.


“Lu sih, ngomong doang. Kangen lah, apalah, buktinya ?”.


“Aku benaran kangen Luf. Serius ini”.


“Serius ?, setelah 22 tahun nyungsep entah dimana, lu katain serius ?”.


Haris menggeleng. “Kan, tadi sudah bilang”.


Lufti tertawa keras, ada lucunya juga melihat Haris yang kesal, tapi terang, Lufti kini malah membayangkan bagaimana bahagianya mereka dulu, kebahagiaan yang tak pernah habis habisnya.


Semua masalah di tanggung bersama, kebersamaan yang luar biasa, bukan hanya mereka yang asal Jakarta saja, tapi juga mereka yang datang dari daerah, Haris misalnya, dikenal sebagai mahasiswa asal Bandar Lampung.


“Firman juga sering kok nanya lu”.


“Nggak sopan ?”.


Lufti melirik sebentar. “Apa Lu ?, ngomong gitu”.


“Kau tuh yang nggak sopan”.


“Apaan ?”.


“Firman, Firman, Bang Firman”.


Lufti tertawa renyah. “Lha, memang dari dulu gitu kan ?”.


“Itu kan dulu, sekarang kau asyik renang ama adiknya, masih panggil nama, enak sama kau saja gitu Bro”.

__ADS_1


Lufti hanya tertawa, yang dibelakang hanya bisa geleng kepala, untuk hal ini Haris sama sekali belum berubah, masih seperti dulu, ngomong asal lepas saja, nggak punya rem sama sekali, yang ada Cuma gas nya doang.


“Tapi kan Firman nggak pernah lihat”.


“Nggak pernah lihat apa ?”.


“Gua renang ama adiknya”.


Haris nepuk jidat. “Mau siaran langsung kau ?. macam aja”.


Kembali banyak tawa. Lufti melanjutkan cerita, Hilman punya istri bule asal Finlandia, seorang akuntan publik, sekarang Hilman tinggal di Singapura, dia dosen di salahsatu perguruan tinggi di Singapura, hidupnya sangat bagus sekarang.


Cerita juga sampai kepada yang lain, mulai dari Yunita yang hanya nikah setahun kemudian bercerai begitu saja, hingga bagaimana Irfan yang hingga kini entah kenapa masih belum juga berhasil menemukan jodohnya.


Ada Agung yang ternyata anak pengusaha, kini mengelola puluhan SPBU peninggalan ayahnya, punya istri yang berprofesi sama dengan ibunya, seorang dokter, hingga Raihan dan Naufal yang berhasil memenangkan pemilihan kepala daerah di kota asalnya.


Bedanya, Raihan sebagai Bupatinya, sempat masuk MK dan ramai ramai kawan kawan memberinya support, sedangkan Naufal wakil gubernur yang berpasangan dengan incumbent, asyik asyik saja tanpa kendala.


“Hebat hebat juga teman teman kita ya ?”.


Lufti anggukkan kepala. “Lu saja yang ngilang. Kita sudah tiga kali reuni, bahkan reuni terakhir di Singapura, di fasilitasi Hilman”.


Haris melongo. “Ah masa ?”.


Haris menerima ponsel Lufti dan memasukkan nomornya disana, kemudian Haris juga me miscall nomornya, dengan begitu ia juga dapat menyimpan nomor Lufti di ponselnya.


Haris mengembalikan ponsel Lufti dan memberikan ponselnya ke Widya dan Natalia yang duduk di belakang, keduanya paham maksud Haris dan secara bergantian memasukkan nomor masing masing, sekaligus juga menyimpan nomor Haris.


“Anakmu berapa Luf ?”.


Lufti menoleh sejenak. “Baru dua”.


Haris tertawa. “Kok pake baru ?”.


“Siapa tahu masih ada”. Jawab Lufti enteng, tapi setelahnya ia terpaksa menggeliat dan meringis karena dapat cubitan dari Widya.


“Yang pertama ?”.


“Laki Laki, kerja di Surabaya, lepas kuliah dia diterima kerja disana ?”.


Kening Haris agak berkerut. “Lepas kuliah ?, Risda saja baru setahun usai kuliah. Emang kapan kau kawinnya ?”.

__ADS_1


“Anak gue Diploma”.


Haris anggukkan kepala. “Ngomong dari tadi kek”.


“Apa lu nanya ?”.


Tapi kemudian, Lufti dan Haris hanya tertawa, Natalia dan Widya yang duduk di belakang saling pandang dan sama sama geleng kepala. Sudah paham dengan ulah dua orang yang di depan, jadi merasa biasa saja.


“Yang kedua ?”.


Lufti melirik sebentar. “Masih kuliah. Dia dapat beasiswa di Selandia Baru”.


“Laki .. Cewek ?”.


“Cewek”.


Haris mengalihkan pandangan ke Lufti. “Anak cewek kau lepas ke Selandia Baru, gila kau Luf”.


Lufti angkat bahu. “Mau gimana. Rejekinya begitu”.


“Kau nggak takut apa ?”.


Lufti tertawa kecil. “Gua tetap ayah Ris, gila apa gua nggak takut. Nggak usah itu, anak gua yang laki juga masih gua pikirkan hampir tiap jam”.


Haris mendehem. “Tiap jam ?. Jadi, mikirin mamanya kapan ?”.


Lufti tertawa lagi. “Itu dia”.


“Apanya yang itu dia”.


Lufti masih tertawa kecil. “Lagian bagus juga dua duanya jauh”.


Haris mendelik. “Maksud mu ?”.


“Kan seperti Lu bilang tadi, jadi bebas berenang bareng mamanya”.


“Dasar”.


Haris tertawa, Natalia juga ikut tertawa. Tapi Lufti terpaksa menunda tawanya, yang ada justru ringisan pedih yang keluar dari mulutnya akibat menahan pedasnya cubitan Widya yang mendarat mulus di perutnya.


Natalia terus menerus senyum senyum sendiri, keadaan saat ini membawanya pulang pada keadaan puluhan tahun yang lalu saat masih kuliah, Haris dan teman temannya termasuk Lufti selalu menjadikan ia dan Widya menjadi objek keisengan, dasar Widya saja yang memang sudah kebal, karena abangnya Firman punya ulah yang sama.

__ADS_1


Begitu sampai di pelabuhan Merak, mobil yang dikendalikan Lufti langsung masuk kapal, sebelum perjalanan dimulai tadi, Lufti sudah lebih dulu mengontak keponakannya yang bekerja disana untuk mengamankan keberangkatan mereka, sehingga sampai disana seluruh kebutuhan untuk menyeberang sudah selesai.


… Bersambung …


__ADS_2