Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Persiapan Keberangkatan


__ADS_3

Natalia kembali membuang nafas berat. Ia teringat dengan ungkapan nenek Risda dulu waktu Risda beranjak remaja. Nenek Risda sangat khawatir kalau cucunya nanti akan menjadi anak penantang dan akan selalu bertentangan dengan orang tua, terutama ibunya.


Itu muncul karena wajah Natalia dan Risda terlalu mirip, orang yang kenal Natalia begitu jumpa Risda pasti akan langsung bisa menebak kalau Risda adalah anak Natalia, sama dengan orang yang kenal Risda begitu jumpa Natalia pasti akan mampu memberikan respon yang sama, akan mampu memberikan klaim kalau Natalia adalah ibunya Risda.


Wajah ibu dan anak itu memang terlampau mirip. Seperti potocopy dengan aslinya. Seperti kata teman teman Risda, Natalia adalah Risda versia tua, sedang Risda adalah Natalia versi muda.


Tapi setidaknya Natalia merasa cukup bahagia karena kekhawatiran ibunya tentang Risda hingga hari ini belum terlihat kebenarannya. Natalia malah menemukan anaknya yang berpikiran sangat dewasa, anak yang patuh dan tak pernah sekalipun menyakiti hatinya.


Natalia bahkan sering termangu sendiri mendapatkan sikap dan tingkah Risda yang menurutnya jauh lebih dewasa dari usianya. Risda yang tak begitu banyak bicara walau suka bercanda, menempatkan Natalia sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam semua kegiatannya.


Kalaupun mereka beda pendapat, Risda tak akan melanjutkan pendapatnya sebelum mampu menyakinkan Natalia kalau itulah yang paling benar.


“Okey Ma, Risda beres beres dulu”.


“Kamu benar benar serius Ris”.


Risda tersenyum lebar. “Risda serius Ma, nggak lama kok, kan Cuma tiga tahun saja”.


Natalia menggeleng. “Jika itu memang sudah final”.


“Okey Ma, semua akan indah pada waktunya”.

__ADS_1


Natalia hanya anggukkan kepala. Natalia menatap terus anaknya hingga lenyap dibalik pintu kamar tidur mereka, sejak lahir Risda tidur disampingnya, hingga kini tetap begitu, tak ada yang berubah. Natalia terus bisa mengelus dan memeluk tubuh Risda sebelum tidur dari sejak lahir hingga dewasa seperti sekarang ini.


Natalia kembali tertunduk, tak begitu peduli dengan suara suara yang ditimbulkan Risda dalam kamar. Bayangan Natalia kini jauh kebelakang, kepada semua hal yang pernah singgah dalam hidupnya. Ini kemudian membuat air mata Natalia meluncur tak terhalang.


Natalia sama sekali tidak takut harus tinggal dirumah sendirian, tak ada yang perlu ia khawatirkan. Yang paling berharga dirumah ini hanya nyawanya, tak ada harta yang harus dijaga ketat.


Yang ditakutkan oleh Natalia bukan dirinya, tapi Risda dan kehidupannya yang baru nanti di Pulau Kalimantan, di daerah perbatasan yang sangat jauh dan tak banyak akses. Yang paling ditakutkan Natalia adalah bagaimana kalau Risda betah dan tertambat disana, bagaimana ia dapat mengejar dan mencarinya.


Bayangan Natalia juga menghinggapi wajah Haris, entah sudah bagaimana sekarang Natalia tidak tahu, sejak meninggalkannya 21 tahun yang lalu Haris bagai lenyap di telan bumi, bukan hanya Natalia, seluruh anggota keluarga bahkan menaruh kesal pada Haris yang dianggap berlebihan dalam tindakannya yang menghilang.


Bahkan Haris tak muncul saat ayahnya Pram meninggal dunia, juga tak muncul pada saat Wak Jainal pergi untuk selamanya, Natalia juga hanya sendiri menenangkan Risda yang meraung raung saat neneknya meninggalkan dunia untuk selamanya, tak ada Haris disana.


“Lia …”.


Natalia anggukkan kepala dan semakin mendekat ke ibunya yang semakin melemah setiap harinya. “Ada apa Ma ?”.


“Sudah dapat khabar Haris ?”.


Natalia menggeleng. “Belum ma”.


“Berusahalah tetap mencari Haris, dia juga harus tahu jika ada seseorang yang lain yang butuh dia. Dia tak seharusnya se egois ini, puluhan tahun sudah berlalu, mama sudah teramat rindu”.

__ADS_1


Natalia menghusap air mata ibunya yang mengalir deras. “Lia janji untuk itu Ma, Lia janji”.


Itu menjadi perbincangan terakhir Natalia dengan ibunya, pagi harinya Ireth tak lagi menunjukkan gerakan yang biasa ia lakukan, dan akhirnya sekitar pukul 09.00 WIB Ireth pergi. Sejak saat itu, Natalia benar benar sendiri dalam mengasuh dan membesarkan Risda, benar benar sendiri.


Sudah jam 23.00 WIB. Tak lagi ada suara yang terdengar dari kamar, Natalia akhirnya memilih berdiri dan menuju kamar. Natalia hanya menggeleng saat menyibak tirai, Risda sudah mengambil posisi tidur, atau bahkan sudah tertidur. Natalia masuk, menutup pintu, menyelimuti Risda dan membaringkan tubuh disamping Risda.


Natalia betul betul resah, matanya tak mampu terpejam, semakin kuat usahanya untuk tidur semakin kuat pula rasa ngantuk menjauh dari matanya. Natalia sudah berpuluh kali membolik balikkan badan namun hasilnya tetap nihil, tak ada rasa kantuk yang dapat membawanya tidur.


Natalia teringat kembali pada ibunya, Natalia langsung merasa rindu, kini Natalia semakin menyadari bagaimana perasaan Ibu kepada anaknya, perasaan yang teramat resah seperti ini juga pasti pernah dirasakan ibunya terhadapnya, sama dengan  perasaannya kini pada anaknya Risda.


Apalagi mereka juga mempunya cerita yang hampir sama, sama sama harus membesarkan anak perempuannya sendirian karena keadaan yang tersaji memang harus demikian.


Jika dibandingkan dengan ibunya, Natalia mungkin lebih bagus karena Risda masih bertahun tahun menikmati kasih sayang seorang nenek, Risda juga sering menerima kunjungan dan telephon kakek. Bagaimana dengan dirinya sendiri, jauh lebih sedih dari itu.


Natalia tak pernah tahu siapa kakek dan neneknya, ia tahu hanya wawaknya saja, itupun tak sering jumpa, berkomunikasi hanya seperlunya saja. Dalam hal ini Natalia semakin terkesan dengan mendiang ibunya, neneknya Risda. Beliau bisa menghadapi semua dengan tegar dan sangat kuat.


Tangan kanan Natalia perlahan mengelus kepala Risda, Natalia berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan membelai rambut anak gadisnya. Belaian itu terus berlahan namun pasti. Natalia merasa itulah yang mungkin dapat membuatnya tenang, apalagi itu memang sudah kebiasaannya, dulu bahkan waktu masih kecil Risda yang akan meminta jika Natalia lupa melakukannya.


Risda sebenarnya juga belum mampu tidur, tapi ia tak bolak balik seperti mamanya, elusan Natalia dirambutnya membuat dada Risda berdegub dan bergemuruh, mata Risda juga ikut perih. Tapi Risda terus berusaha sekuat tenaga untuk tak bergerak, ia tetap diam menahan diri dan berusaha memejamkan mata.


Risda tak mau ia harus menunjukkan gambaran bathinnya kepada Mamanya, Risda tak mau terlihat galau dimata mamanya. Risda bahkan baru bisa tertidur setelah malam amat sangat larut, jauh sesudah belaian tangan mamanya berhentik bergerak diatas rambutnya.

__ADS_1


.... BERSAMBUNG ....


__ADS_2