
Kegembiraan menyelimuti seisi keluarga, pagi ini adalah gelaran wisuda Reni untuk gelar Sarjana Kedokterannya. Semuanya sudah pada sibuk, walau tahu nanti yang bakal bisa masuk ruangan hanya Agung dan Meeta, tapi yang lain tak ada yang mau ketinggalan, semuanya ikut ke gedung.
Yang lain tentunya hanya menunggu di luar gedung hingga kegiatan wisuda selesai, bahkan Haris dan Natalia juga sudah ada, Haris rela terbang dari Kalimantan hanya ingin ikut bergabung merayakan wisuda Reni, bagi Haris, anak anak Agung dan Meeta sudah seperti anak anaknya sendiri, dan faktanya, hanya Farhan yang memanggilnya Paman, selebihnya sejak awal memang sudah menyebutnya Ayah Haris dan Natalia dipanggil Mama Lia.
“Kak Tia”.
Mutia angkat kepala dan langsung sumringah. “Iskandar”.
Iskandar menyalami semuanya dengan penuh gembira, Iskandar memang sengaja mempercepat jadwal baliknya dari Australia karena tahu kekasih hatinya Reni wisuda hari ini, bahkan ini Iskandar tak lagi singgah di rumah tadi, dari bandara ia langsung kesini, ibunya bahkan bilang, mereka ketemunya disini saja.
“Ada lihat ayah sama ibu saya Kak Tia, katanya datang kesini juga”.
“Datang kesini ?”.
Iskandar anggukkan kepala. Tia mengitari semua sudut halaman gedung, tapi tak juga menemukan ayah maupun ibu Iskandar, justru Ariana yang melihat ayah dan ibu Iskandar yang baru turun dari taksi, Ariana memang sudah sangat kenal, sudah berkali kali Reni membawanya ke rumah keluarga Iskandar, adik Iskandar, Junaidi dan Hidayat bahkan sudah rindu jika seminggu tak melihat Ariana.
“Itu Wawak baru turun dari taksi Bang Is”.
Iskandar mengikuti telunjuk Ariana. “Oh, Iya .. bentar ya”.
Iskandar langsung mengejar ayah dan ibunya, Ariana juga ikut mengejar, bahkan ibu Iskandar hanya sekejab saja memeluk anaknya, justru lebih lama memeluk Ariana, ibu Iskandar sangat suka dengan Ariana, mungkin karena anaknya laki laki semua, sehingga langsung sayang pada anak perempuan yang hormat dan sayang padanya, ini juga yang membuat Reni betah berlama lama di rumah keluarga Iskandar, padahal sang kekasih berada jauh di benua lain.
Haris mencolek Mutia. “Itu siapa Tia ?”.
Mutia tersenyum lebar. “Itu pacarnya Reni Yah, Iskandar”.
Haris anggukkan kepala. “Yang Pulungan itu ya Tia ?”.
Mutia angguk kepala lagi. “Iya Yah. Iskandar Muda Pulungan”.
Hanya beberapa menit saja, ayah dan ibu Iskandar sudah bergabung dengan keluarga Agung yang menunggu diluar, perbincangan tampak hangat, semuanya senyum lebar terus menerus melihat Ariana yang begitu lengket dengan ibunya Iskandar, Mutia bahkan baru tahu kalau mereka sedekat itu, Mutia tampak senang.
Haris tampak berbincang serius dengan Bisma ayah Iskandar, terutama soal marga itu, karena memang Haris punya sejarah panjang tentang marga itu, Bisma tampak cukup antusias mendengar cerita Haris, sesekali terlihat keduanya sama sama tertawa renyah, sepertinya sama sama menemukan teman bicara yang mengasyikkan.
“Jadi abang aslinya dari Sibolga Bang ?”.
Haris anggukkan kepala. “Iya Bis, tapi begitulah, hanya sampai usia enam tahun, setelah itu ke Bandar Lampung, baru kemudian ke Kalimantan hingga sekarang”.
Bisma tersenyum lebar. “Sebetulnya aku manggil ipar ini Bang. Adek abang ini boru Nasution ini”. Jelas Bisma sambil melirik ke istrinya Naina.
“Oh ya, ia pula ya. Mantaplah itu”.
Keduanya kembali sama sama tertawa, cerita terus memanjang. Tapi Natalia, Mutia dan Farhan hanya diam diaman, tak ada topik, sedang ibu Iskandar Naina sekarang sudah beranjak membeli makanan kecil bersama Ariana, Iskandar menjadi pendengar budiman dalam dialog panjang ayahnya dengan Haris. Sedang Asrul masih fokus pada Risda yang bermanja ria padanya.
Menjelang siang baru acara wisuda selesai, Reni keluar ruangan bersama ayah dan ibunya, tak perlu mencari cari, karena sejak pagi tadi semuanya sudah sepakat kalau nanti kumpulnya disini, sehingga Agung, Meeta dan Reni sudah tahu harus melangkah kemana begitu acara seremonial wisuda selesai.
Reni langsung tertegun saat tidak hanya menemukan Asrul, Risda, Mutia, Farhan dan Ariana yang berada disana, bukan hanya Haris dan Natalia yang membuat Reni terkejut, tapi juga keberadaan Iskandar lengkap dengan ayah dan ibunya. Reni jadi tampak malu malu, apalagi sudah sekian lama tak ketemu dengan Iskandar.
Apalagi kalau bukan acara photo photo, Risda yang langsung menjadi pengarah, awalnya Risda yang akan langsung sebagai juru photo, tapi posisi langsung berubah saat Tomy hadir, Risda langsung mendapuk Tomy sebagai juru photo, tentu Tomy menerimanya dengan senang hati.
Reni sudah photo dengan semua, ramai ramai sudah, dengan ayah dan ibunya sudah, dengan kakak dan adiknya sudah, dengan Haris dan Natalia juga sudah, dengan ayah dan ibu Iskandar juga sudah, sendirian sudah, bahkan dengan Tomy juga sudah, tapi ada satu yang tertinggal, bersama Iskandar.
Tomy menarik Iskandar ke papan bunga, walau baru kenal, Tomy berani saja, Iskandar dan Reni tampak malu malu, hampir lima kali Tomy memberikan arahan gaya, baru Tomy mendapatkan posisi yang tepat, sederhana saja, kedua tangan Reni mengamit lengan Iskandar, bahkan sudah pakai toga, tapi tinggi Reni hanya sebahu Iskandar yang memang lumayan menjulang.
Iskandar maupun Reni tampak sangat malu malu, apalagi kedua orang tua mereka ada disana. Tapi ini malah membuat Asrul senang, artinya Reni dan Iskandar menjalani hubungan yang sehat, keduanya tampak sangat kikuk, itu menandakan jika intraksi tubuh diantara keduanya masih sangat minim, hubungan Farhan Faridha lebih luar biasa dari yang ini, Asrul yakin dengan itu.
Sekarang semuanya duduk melingar di bawah pohon, Meeta memang sudah sengaja membawa ambal dari rumah untuk tempat duduk, sejak jaman Asrul, sudah menjadi kebiasaan keluarga ini, acara makan siang pasca wisuda mereka lakukan dengan cara begini, tidak kerestoran manapun, karena menurut Meeta, gaya seperti ini jauh lebih menyenangkan, akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan.
Untungnya memang persediaan piring cukup, Meeta kemarin sediakan untuk Lufti dan Widya yang mengaku mau datang, tapi keduanya gagal hadir karena anak keduanya Gunawan tiba tiba pulang pagi ini, sehingga kehadiran Iskandar bersama ayah dan ibunya tak menjadi masalah sekarang.
__ADS_1
Baru kali ini Bisma bersama dengan keluarga Agung, walau mereka sudah sering jumpa, melihat suasana ini Bisma jadi semakin tenang, dari dulu ia selalu khawatir akan hubungan putra tertuanya dengan Reni yang sudah berlangsung sejak mereka SMA, karena Bisma tahu Reni itu anak siapa, kuliah di kedokteran pula, sedang Iskandar bisa mencapai Australia bukan karena kemampuan orang tuanya, tapi karena Iskandar berhasil menembus beasiswa penuh.
Agung terlihat santai dan cerita makan lesehan seperti ini, sesuatu yang tidak pernah di bayangkan Bisma, selama ini Bisma menganggap kalau Agung selalu jaga gaya, tapi yang dilihatnya hari ini diluar dugaannya, ternyata benar apa yang dikatakan banyak temannya yang mengenal Agung, banyak mereka yang menegaskan kalau Agung bukan orang kaya tanggung, sehingga tak pernah menghitung hartanya.
"Lho, Bis. nggak nambah Lu ?".
Bisma tertawa. "Sudah Mas, sudah mantap ini".
Bisma kembali menggeleng, benar benar menemukan Agung yang tak beda dengan orang kebanyakan, berebut kerupuk dengan putrinya, meminum air dari gelas yang sudah di minum istrinya, hingga sang istri mendelik dan banyak hal lain. Bisma menjadi penuh ketenangan, kecanggungan yang tadi sudah hilang.
Farhan justru memperhatikan Reni yang telaten melayani Iskandar, Reni agak bebas, karena selempang dan toganya kini sudah dipakai Ariana, sehingga sudah bebas bergerak, Farhan malah jadi rindu ke Faridha, ingin rasanya Farhan menghubungi Faridha saat ini juga, tapi rasanya tak baik, karena sesuai jam, Faridha saat ini pasti sedang belajar di dalam kelas.
"Is. Bukannya itu abangmu Mahdan".
Bukan hanya Iskandar, yang lain juga mengarahkan mata ke yang di tunjuk Naina. Iskandar anggukkan kepala. "Iya Bu, itu Bang Mahdan, ngapain dia disini".
"Panggil saja Is".
Iskandar menatap Mutia. "Dipanggil kesini Kak ?".
"Nggak. Suruh ke rumah saja".
Iskandar tersenyum kecut, Iskandar langsung berdiri menghampiri Mahdan yang baru selesai bicara dengan seseorang di teras gedung, sepertinya itu salah satu orang tua yang anaknya juga ikut wisuda, sama dengan Reni.
"Bang ..".
Mahdan menoleh dan langsung tersenyum lebar. "Is, ngapaian disini ?".
Iskandar menggeleng. "Aku yang mau nanya, ngapain abang disini, tuh, di suru ibu sama Kak Mutia kesana".
Kening Mahdan agak berkerut, melihat ke arah yang ditunjuk Iskandar. "Mutia ?, dokter Mutia maksudmu".
Mahdan tertawa kecil, berbisik. "Sudah lama Abang suka tuh Is. Kau kenal Mutia bagaimana caranya ?".
Iskandar jadi tertawa. "Aku sudah lama pacaran sama Reni Bang".
Kini keduanya berjalan mengarah ke tempat semuanya berkumpul, Mahdan menyalami satu persatu dan anehnya langsung duduk di samping Mutia, lebih aneh lagi, Mutia malah menyediakan makanan ke Mahdan, dan keanehan bertambah aneh saat Mahdan dengan tenang menyantap makanannya, walaupun yang makan hanya Mahdan sendiri saja, yang lain sudah selesai.
Keanehan masuk fase puncak, saat Mutia menyodorkan air ke Mahdan saat Mahdan selesai makan, Mahdan langsung meneguknya habis, gelas yang kosong bukan ke ambal, tapi balik ke tangan Mutia. Ternyata ini menjadi perhatian Asrul dan Risda, keduanya saling mencolek dan saling menganggukkan kepala, seperti melihat ada sesuatu disana, apalagi mereka belum pernah melihat Mutia begitu sebelumnya.
"Pacarnya Mutia Bang ?". Bisik Risda.
Asrul menggeleng. "Mana abang tahu, tanya saja sendiri".
"Abang yang nanya napa ?". Bisik Risda lagi.
"Ogah, adek aja".
Semua mata menjadi mengarah ke Asrul dan Risda yang saling sikut, melihat semua mata mengarah ke mereka, Asrul dan Risda jadi salah tingkah dan menghentikan kegiatannya. Kening Meeta sudah berkerut dalam melihat ulang anak dan menantunya yang menurutnya perlu di pertanyakan.
"Kenapa Rul, Ris, kenapa ?".
Asrul menggeleng. "Nggak ada Ma, mana ada, ini nih entah apa saja". Elak Asrul.
"Mana ada Ma, Abang aja yang banyak ulah, kurang kerjaan". Sanggah Risda.
Meeta sudah menggeleng sambil senyum, terkadang memang lucu melihat anak dan menantunya ini, suka berbuat sesuka mereka, suka berdebat juga, walau akan selalu Risda yang menang, Asrul pasti selalu kalah atau mengalah.
"Iya kenapa ?". Meeta masih penasaran.
__ADS_1
Risda tersenyum malu malu. "Itu Ma, tadi abang nanya, itu calon suaminya Tia kok nggak pernah datang kerumah, gitu Ma. Risda bilang, mungkin ketemuannya di rumah sakit, soalnya Risda pernah lihat, gitu". Jawab Risda mengarang cerita.
Meeta hanya menggeleng, tapi mata Agung langsung naik dan menatap Mutia dan Mahdan bergantian, Farhan sudah cekikikan menutup mulutnya, Iskandar dan Reni juga menatap tajam ke Mutia dan Mahdan, Haris, Natalia, Bisma dan Naina juga melakukan hal yang sama, cuma Ariana yang tak berubah, tetap santai dengan ponsel dan makanan kecilnya.
Dipandangi begitu membuat Mahdan dan Mutia sama sama pucat, jantung Mahdan sudah tak tentu bagaimana degubannya, Mutia juga mengalami hal yang sama, bahkan jadi gemetar sedikit, duduk mereka yang cukup rapat membuat Mahdan merasakan tangan Mutia yang gemetar, eh, Mahdan malah meraihnya dan meremas pelan, sialnya Mutia malah diam dan membiarkan.
Terus terang, Mahdan tentunya sangat bersyukur jika memang itu benar, Mahdan akan sangat bahagia jika Mutia benaran adalah calon istrinya, tapi faktanya tidak, Mahdan melirik ke Risda sebentar, apa gembira atau tidak dengan ungkapan itu, tapi melihat ekpresi Mutia, Mahdan malah berharap itu benar benar berlangsung nyata.
"Sekarang gini aja dah ..".
Semua jadi menatap ke Farhan, bahkan banyak lengkap dengan anggukan kepala, semua tampak menunggu apa yang ingin di katakan Farhan, bahkan Meeta sudah tiga kali anggukkan kepala, sudah tak sabar mendengar apa yang ingin Farhan katakan.
"Gini." Farhan menghela nafas dulu. "Gua tuh hanya tinggal nunggu 8 bulan lagi bakal mo nikah nih sama permaisuri gua Faridha, semua sudah pada tahu kan. Itu usulnya Papa terganteng di dunia, gua mah is okey, senang gua malah".
Meeta mengerutkan keningnya. "Lantas ?".
"Nah, itu Ma. Mumpung dua calonnya ada disini, gua mau bilang nih, kakak gua yang cantik cantik ini nanti jangan ngeles kalau gua nikah duluan. Salah lu bedua dong, sudah ada calon nggak ada lamaran juga, iya kagak Ma ?".
Meeta mengacungkan jempolnya. "Kalau itu Mama setuju Far, best kalau yang itu".
Reni mendelik. "Lu apaan sih Far, lu minta gua nikah sekarang maksud lu, eh Far, gua masih mau ambil profesi kali, lagian Bang Is masih di Australia dianya, enak lu saja, kalau ngebet nikah, lu saja kali Far".
"Bang Is sudah kelar di Australia kan Bang ?".
Iskandar anggukkan kepala. "Sudah Far, sudah nggak balik lagi abang kesana".
"Nah Lho". Farhan tertatawa kecil. "Sudah, pokoknya gua kasih kakak cantik bedua nih ya, waktu cuma enam bulan kedepan, ampe sayangku Faridha UN, Okey. Kalau belum juga, entar dulu deh, rem dulu, karena semua harus fokus ke gua ama Faridha, gimana Ma ?, Valid ?".
Meeta kembali acungkan jempol. "Valid".
Reni masih menggeleng. "Entar dulu dong, gua sekolah profesi dulu".
Agung tertawa kecil, semua jadi melirik ke Agung. "Nggak masalah sih, dulu mama juga gitu, ambil profesi setelah menikah, kayaknya nggak apa apa, iya kan Ma".
Untuk yang kesekian kalinya Meeta acungkan jempol. "Sip. Papa tahu saja".
"Deal dong Ma ?". Masih Farhan.
"Deal". Meeta kembali acungkan jempolnya.
Farhan bahkan salaman dengan Meeta layaknya seperti acara TV itu. Asrul dan Risda sudah menggeleng panjang sejak tadi, terutama Risda yang merasa sudah termakan omongan sendiri, Risda tak menyangka reaksinya menjadi seperti ini, tapi mendengar ada harapan Mutia dan Reni akan menikah dalam waktu dekat menimbulkan kegembiraan juga bagi Risda.
Bisma yang dari tadi hanya mendengar sambil bingung, sudah terlampau banyak menggelengkan kepala, tapi melihat semangat Farhan yang malah mendapat dukungan penuh dari ayah dan ibunya membuat Bisma menghela nafas panjang, ia mencolek istrinya, kemudian keduanya saling berbagi anggukan.
"Iya Mas Gung, Kak Meeta. Kalau begitu, kapan kami bisa berkunjung". Bisma akhirnya bicara.
Senyum Agung dan Meeta langsung melebar. Agung menepuk paha Bisma yang memang duduk disampingnya. "Pintu rumah selalu terbuka Bis, tak ada aturan waktu, kapan saja silahkan berkunjung, kami menunggu".
"Siap Mas, siap". Tegas Bisma.
Agung mengacungkan jempolnya. “Kami nunggu Bis”.
Bisma kembali anggukkan kepala. “Siap Mas, siap”.
Semuanya tampak senyum merekah, tampak sekali ada banyak bahagia di mata semuanya, Meeta juga mengalami hal yang sama, senyumnya begitu mengembang sangat sempurna.
Tapi Mutia dan Mahdan tidak untuk senyuman. Keduanya saling pandan dan sama sama menggeleng, tak tahu mau mengatakan apa apa. Untungnya topik berganti dengan cepat, sehingga Mahdan dan Mutia bisa kembali sedikit tenang, walau yang tenang hanya di luar saja, jantung masing masing belum sama sekali ingin bergerak normal.
…. Bersambung ….
__ADS_1