
Panitia benar benar menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik, ini sudah seperti pemilihan umum benaran, panitia menyediakan beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dibagi berdasarkan Fakultas walaupun dengan jarak yang tidak begitu jauh lengkap dengan jumlah bilik suara yang mencukupi untuk dapat mengimbangi jumlah mahasiswa yang akan menyalurkan pilihan masing masing, akan tetapi sejak awal sudah diputuskan bahwa para kandidat seluruhnya memilih di TPS yang sama, dan pilihannya jatuh pada TPS untuk Mahasiswa Jurusan Non Pendidikan. Bagi Haris, itu langkah yang sangat menguntungkan, karena dengan demikian peluangnya bertemu Natalia dapat menipis.
Para mahasiswa juga sudah melalukan registrasi di beberapa meja yang disediakan panitia, tentu dengan menunjukkan kartu mahasiswa sebagai tiket masuk. Melihat antrian yang begitu panjang dan berjubelnya mahasiswa di berbagai sudut lapangan pemilihan menandakan jika pemilihan ini di dukung oleh antusias yang sangat tinggi. Bahkan beberapa dosen yang ikut memantau dipenuhi senyum bahagia, mereka saling berbincang satu sama lainnya, harapan para dosen agar pemilihan ini menjadi ajang pembelajaran berdemokrasi sudah mendekati kenyataan, sekarang hanya melihat proses jalannya pemilihan hingga penetapan hasil pemilihan.
Para kandidat masih berjalan beriring menuju meja registrasi, begitu sampai dimeja Raihan ambil Micropon. “ Saudaraku.. kami berempat adalah bagian dari Saudara semua, pemilihan hari ini bukan menjadi mana yang benar mana yang salah, tapi mana yang terbaik, kita semua adalah Saudara, maka pilihlah dengan pikiran yang sehat dan jernih “.
Tepuk tangan menyambut ungkapan Raihan, kemudian mereka berempat masuk TPS bergantian, diawali Agung, Raihan, kemudian Rasti, Haris mendapat giliran paling akhir. Setelah itu kembali mereka berangkulan dan bubar dengan langkah masing-masing, dengan senyum dan tepuk tangan semua yang melihat kejadian itu.
Haris menuju kantin dan SMS Widya. Hanya berjarak 15 menit Natalia udah muncul dipintu kantin, tersenyum manis dan duduk didepan Haris yang juga memasang wajah penuh senyum.
“ Kok ramai ramai Li “.
“ Pemilihan presiden Kampus Bang “.
Haris anggukkan kepala. “ Sampai Kapan ?”.
“ Hari ini aja Kok “.
__ADS_1
Sama seperti pertemuan pertemuan sebelumnya, yang tertangkap adalah rasa ceria diantara keduanya, dan Haris sama seperti sebelumnya, saat bertemu seperti ini Haris terus memasukkan kata kata mutiara yang ditujukan untuk mengambil hati Natalia, semua unkapan terus Haris hadirkan, tapi Natalia tetap seperti yang dulu-dulu, hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata manis Haris yang terus menerus menghantam otaknya.
“ Li.. Abang mau bicara sesuatu “.
Natalia sampai angkat kepala. “ Apa Bang ?”.
Ada keraguan yang sedikit menguasai Haris. Sebenarnya sejak pagi tadi Haris udah janji bakal bicara jujur hari ini pada Natalia. Haris ingin ungkapkan rasa cintanya secara terbuka. Haris sampai harus buang nafas berat.
“ Lia.. Abang sayang kamu Li “.
“ Abang serius dengan itu “.
Lia tertawa kecil. “ Abang ada aja “.
Haris menatap Natalia tajam. “ Tapi itu benar, Abang pikir apa salahnya jujur, terlalu lama dipendam juga takutnya salah “.
“ Maksud Abang “.
__ADS_1
“ Abang Sadar kalau abang mencintai kamu Li “.
Natalia hanya melirik sebentar, tersenyum tipis, Natalia sebenarnya agak terkejut juga, selama ini Haris terus pakai kata sindiran, hari ini Haris makin berani ungkapkan kata hatinya.
Terang, sebenarnya Natalia kadang hampir luluh juga, tapi ada pikiran yang lain menghantuinya, pikiran tentang prinsip Mamanya tentang laki-laki. Mama Natalia sangat perhatian dengan itu, sudah banyak laki-laki yang lumayan dekat dengan Natalia berangsur menjauh setelah mendapati prinsip mama Natalia yang tegang, bahkan sangat tegang.
“ Abang sadar kalau abang sedang jatuh cinta “.
Natalia makin tak bisa bicara. Kata kata itu makin menyatakan hal yang sebenarnya. Haris jatuh cinta padanya. Natalia hampir tak bicara, Haris tak mau memaksa, dan memang Haris sengaja tak minta Natalia untuk sekedar menjawabnya.
“ Lia duluan Bang “.
“ Kemana ?”.
“ Ada Kuliah “.
Haris anggukkan kepala saja, walau Haris sedikit resah, mereka berpisah tanpa ada kata yang mengiyakan atau menidakkan dari Natalia. Haris hanya bisa pandangi punggung Natalia yang begitu cepat menghilang dibalik pintu kantin.
__ADS_1