
Saniah menatap Faridha sejenak, membayangkan Farhan. Saniah langsung sepakat kalau keduanya memang cocok, Farhan akan sangat serasi jika disandingkan dengan Farhan, perpaduan yang sangat sesuai, Saniah sepakat dengan itu, sepakat dengan apa yang dikatakan kakak iparnya Meeta.
Dari garis wajahnya, Saniah dengan pengalamannya sebagai orang tua juga merasa kalau Faridha memang gadis yang baik, penurut dan memiliki rasa hormat terhadap orang lain, entah kenapa, Saniah malah berhayal jika Faridha memang benar benar anak perempuannya, tampaknya itu sangat membahagiakan.
Saniah juga kembali membayangkan bagaimana dulu almarhumah Bulan begitu semangat menceritakan betapa baiknya Kakak Ida Boru Lubis itu, Bulan setengah mati memuji, katanya Kakak Ida Boru Lubis itu juga cantik, menuruti semua permintaan Bulan, bahkan membayarkan makanan Bulan saat Bulan kehabisan uang beli pakaian, sedang Taifiq belum kelihatan batang hidungnya.
Saniah jadi senyum sendiri, ada rasa senang sekarang. Mungkin jika Bulan masih hidup dan mengetahui kalau Kakak Ida Boru Lubis yang ia puji puji ini akan menjadi kakaknya, calon abang sepupunya Farhan, Saniah yakin Bulan akan sangat bahagia, atau mungkin juga saat ini di alam sana Bulan sedang tersenyum.
“Jadi, lepas SMA nanti kamu ke Jakarta Boru ?”. Saniah alihkan topik.
Faridha anggukkan kepala. “Ayah Agung minta begitu Nanguda”.
Saniah tersenyum tipis, membelai kepala Faridha. Saat ini hati Saniah sudah benar benar terkunci, sudah begitu yakin kalau Farhan akan bisa menemukan kata bahagia bersama dengan Faridha. Saniah yakin, Faridha akan mampu membawa Farhan lebih baik, lebih sukses dan lebih rileks.
Saniah kembali mengelus bahu Faridha.“Berikan yang terbaik saja Boru, Farhan itu anak yang baik, semua mengakui itu. Begitu Kak Meeta cerita soal kamu, Abang langsung pingin kenal”.
Faridha hanya menunduk, ia kini menemukan ketulusan di setiap perkataan Saniah, ini kemudian mendorong Faridha menyampaikan semua isi kepalanya, rasa bingungnya, masih gamangnya dan semua hal tanpa Faridha tutupi sedikitpun. Saniah tampak santai, malah semakin melebarkan senyumnya.
“Apa yang aneh Boru ?”.
Faridha menggeleng. “Tampak terlalu mudah Nanguda”.
Saniah kembali senyum tipis. “Terlalu mudah bagaimana boru ?”.
Faridha kembali menggeleng. “Iya Nanguda, rasanya bagai mimpi begitu, Nanguda tahu bagaimana keadaan saya, bagaimana keluarga saya, apakah semua ini cukup pantas. Saya bukan siapa siapa Nanguda, apakah bisa mengimbangi Bang Farhan ?”.
Saniah tampak mengerutkan keningnya, tapi Saniah penuh dengan senyuman. Ternyata yang dikatakan Risda sepenuhnya benar, Faridha adalah gadis yang tahu diri, tidak serta merta dan lebih memilih kesederhanaan. Bukan orang yang langsung biru matanya saat melihat uang.
Saniah tampak sumringah senang, artinya Farhan tidak salah pilih. Saniah sekarang sepakat dengan Risda, kalau Farhan akan bahagia bersama dengan gadis pilihannya ini, Saniah sudah bisa memberikan gambaran, sudah melihat dan merasakan langsung, gadis baik yang sangat baik untuk dijadikan istri.
Saniah merangkul bahu Faridha erat. “Menurutmu Nanguda bagaimana ?”.
Faridha kembali menggeleng. “Nanguda apa yang kurang ?, Nanguda Guru Besar, tentu seimbang dengan Uda”.
Saniah tertawa kecil. “Tidak begitu jalan ceritanya boru, bukan begitu”.
Sambil merangkul bahu Faridha, Saniah memulai cerita panjang tentang hidupnya, sebuah cerita yang tentunya jauh dari apa yang dipikirkan Faridha, Saniah memilih menceritakan semuanya agar Faridha tidak selalu melihat perbedaan pendapatan pasti menciptakan jarak yang jauh.
Saniah berasal dari Dusun Simandiangin, Desa Sabungan, Kecamatan Sungai Kanan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Ayahnya bekerja sebagai penyadap karet, hanya penyadap, bukan pemilik. Hasil sadapan karet dibagi tiga, penyadap hanya kebagian satu bagian saja.
Awalnya ibu Saniah bertanam kangkung di pinggiran Sungai Kanan, setiap pagi di petik, diikat dan dijual ke Pasar Langga Payung. Tapi kemudian, pekerjaan ini berhenti, saat ada seorang Mantri Kesehatan yang bertugas di Puskesmas Langga Payung meminta ibu Saniah buatkan catering untuknya.
Mantri kesehatan itu adalah ayah dari Meeta dan Fauzan. Setiap pagi dan sore, Saniah yang bertugas mengantar rantangan itu ke rumah kontrakan Sang Mantri Kesehatan yang berdekatan dengan Puskesman, beliau meminta begitu, karena disana dia hanya tinggal sendiri, keluarganya masih di Padangsidimpuan, ia pulang setiap akhir pekan.
Dikampungnya ada Pesantren yang mengelola Ibtidaiyah (setingkat SD), Tsanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMA). Saniah bersekolah disana, sehingga Saniah memiliki pengetahuan agama yang cukup, bahkan sering menjadi tempat bertanya ayah Meeta dan Fauzan jika berbenturan dengan persoalan agama.
__ADS_1
Pertemuan dengan Fauzan saat Fauzan dan kawan kawannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampungnya, saat itu Saniah sudah kelas III Aliyah, hanya tinggal menunggu EBTA/ EBTANAS, yang kemudian berganti nama jadi UN.
Para mahasiswa pertanian itu semuanya laki laki, sehingga memilih menambah porsi rantangan ibu Saniah karena mereka tinggal di rumah kontrakan ayah Fauzan. Dengan begitu, setiap pagi dan sore Saniah ketemu dengan Fauzan, biasanya Fauzan cuek saja, bahkan hanya diam tak bersuara saat teman temannya menggoda Saniah dengan kata kata.
Ada kedekatan dengan Fauzan saat ia meminta tolong Saniah untuk mencucikan pakaiannya, sehingga jadilah Saniah menjadi tukang cuci pakaian Fauzan selama mereka melaksanakan KKN, selama dua bulan tentunya. Dan setiap mengantar pakaian, Saniah tidak hanya antar pakaian saja, tetapi tetap saja dengan mengembalikan uang yang selalu terselip di kantong celana Fauzan, uang yang bervariasi jumlahnya, selalu lebih dari tiga lembar.
Sering Fauzan memaksa Saniah untuk mengambil saja uang itu, tapi Saniah tak mau, ia tetap bersikeras mengembalikannya. Dan ternyata, itulah ujiannya. Fauzan bukan teledor, tapi ia memang sengaja menyelipkan uang disana, ingin menguji kejujuran Saniah, ternyata ia tertarik dekat dengan Saniah.
Setelah acara KKN selesai, ayah Fauzan juga pindah tugas kembali ke Padangsidimpuan tiga bulan sesudahnya. Ibu Saniah tidak memasakkan makanan lagi, ia memilih kembali bertanam kangkung, naas, saat banjir, ibu Saniah tergelincir dan hanyut, jenajahnya baru ketemu dua hari kemudian.
Setahun setelah itu, ayah Saniah juga mulai sakit sakitan, untuk menutupi kebutuhan hidup, Saniah yang menggantikan peran ayahnya untuk menyadap karet, pergi pagi dan pulang hampir sore, demikian terus yang dihadapi Saniah, tapi ia bekerja dengan tulus, ini bukan hanya soal makan, tapi juga kebutuhan berobat ayahnya.
Saniah hanya punya satu orang kakak, tapi kakaknya yang sudah menikah tak bisa menolong banyak, karena kondisi ekonomi mereka juga setali tiga uang dengan Saniah, sehingga Saniah tidak juga mungkin mengharap banyak, mau berkunjung dan menanya khabar saja sudah sangat luar biasa.
Siang itu ada banyak kejutan buat Saniah, tetangganya datang ke kebun karet yang disadapnya, meminta Saniah segera pulang, Saniah menangkap masalah yang ada, sesegera mungkin pulang ke rumah, tapi saat sampai disana, orang sudah ramai, sudah ada bendera merah, ayahnya sudah tak ada.
Saniah tercenung saat semua pelayat pulang, ada tiga orang yang masih duduk berhadapan dengannya, Fauzan bersama ayah dan ibunya. Saniah tak menjawab apapun saat Ayah Fauzan mengatakan sebenarnya mereka datang ingin melamarnya untuk Fauzan.
Kakak Saniah pasrah saja, dan membiarkan Fauzan membawa Saniah ke Padangsidimpuan setelah menyelesaikan urusan NA di kantor desa, usai acara tiga hari kepergian ayah Saniah, malam itu juga mereka berangkat ke Padangsidimpuan, seminggu setelahnya, Saniah dan Fauzan resmi menjadi suami istri.
Saniah kembali mengeratkan pelukannya di bahu Faridha. “Apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Nanguda lewat dari ujian itu dan udamu suka itu”.
Faridha tertawa kecil. “Jadi, Nanguda nggak pernah mau terima uangnya ?”.
Saniah ikut tertawa kecil. “Pernah sekali, waktu itu udamu ngamcam. Kalau kau nggak mau nerima, ku cium kau, mau ?”. Saniah menirukan gaya bicara Fauzan waktu itu. “Tentu Nanguda takut, ambil uangnya dan berlari pulang, tapi setelah itu, nggak pernah ada lagi uang di kantong pakaiannya”.
“Nanguda menikah dengan Udamu hanya seorang tamatan SMA. Tapi Boumu Meeta memaksa Nanguda kuliah, karena sudah tiga tahun tamat SMA, maka Nanguda tak ada peluang masuk negeri, sehingga Nanguda kuliah di swasta, Nanguda kuliahnya di Padangsidimpuan”.
Faridha tampak terkejut. “Bou Meeta ?”.
Saniah anggukkan kepala. “Usai Nanguda kuliah S1, Udamu lolos PNS. Kami pindah ke sini, Boumu kembali memaksa Nanguda ambil S2. Rejeki bagus, usai S2, Nanguda lolos PNS Dosen. Balik lagi Boumu memaksa Nanguda ambil S3”.
Faridha makin melongo. “Bou Meeta ?”.
Saniah kembali anggukkan kepala. “Itulah Boumu, dialah yang membuat semuanya jadi begini boru. Nanguda jadi semangat tinggi, terus mengejar apa yang bisa di kejar, itulah yang membuat Nanguda berhasil meraih gelar Profesor saat usia Nanguda baru mencapai 45 tahun”.
Faridha menggeleng. “Nanguda hebat”.
Saniah ikut menggeleng. “Apanya yang hebat Boru ?”.
Faridha tersenyum manis. “Nanguda Profesor muda, hebatkan ?”.
Saniah menggeleng lagi. “Dari luar memang begitu Boru, orang juga akan mengatakan hal yang sama, apalagi mereka tak tahu apa yang membuat semua terjadi dengan begitu mudahnya”.
Faridha hela nafas dalam, apa yang diceritan Saniah memang memberikann banyak hal baru bagi Faridha, bahkan kalau di takar, keadannya sekarang jauh lebih baik dari Saniah dulu, tapi Nangudanya ini kini adalah Profesor muda, jutaan orang menghormatinya, wanita yang 23 tahun lalu adalah seorang penyadap karet.
__ADS_1
Faridha kembali menghela nafas, namun begitu, tetap saja Faridha masih merasa kerdil dan masih belum menemukan kelayakan, semua sikap yang didapatkan di mata Faridha masih seperti angan angan, Faridha sama sekali tak berani walau hanya membayangkan kehidupannya di kemudian hari.
Faridha mendesah panjang. “Entahlah Nanguda, aku hanya takut tak memenuhi harapan Bang Farhan”.
Saniah tersenyum lagi, ada gelengan kecil kepala juga, Saniah kali ini benar benar makin tertarik dengan Faridha, makin suka dan makin bahagia, keyakinan Saniah juga terus meningkat tajam. Yakin Farhan akan dengan mudah menemukan kebahagiaannya bersama Faridha.
“Boru, semua itu pada intinya ada pada Mas Agung, Amangborumu[1]. Dialah yang sebenarnya kaya, kakek dan neneknya anak tunggal, ayah dan ibunya anak tunggal, dia juga anak tunggal, sehingga ia pemilik warisan dengan angka triliyun”.
Faridha kembali mendesah, kini terbayang wajah Agung. Wajah tampan nan ramah, selalu tersenyum dan sepertinya tidak pernah marah, atau bahkan tidak bisa marah, setidaknya itulah yang dapat Faridha bayangkan soal Agung, walau hanya sebentar dan hanya dialig sedikit, tapi Faridha menemukan hal itu dengan jelas.
“Mas Agung awalnya merasa begitu sepi, hidupnya mengalir begitu saja dan selalu merasa tak ada yang peduli. Saat ia bertemu Kak Meeta dan menikah, Mas Agung terkejut dan terkesan dengan perhatian yang diberikan keluarga padanya, Mas Agung menjadi berubah, rasa sayang itu menggugahnya, ia tak merasa sendiri lagi dan terus menunjukkan rasa peduli”.
Faridha anggukkan kepala. “Ayah Agung memang baik Nanguda, Uda juga hebat, Nanguda juga hebat”.
Saniah tertawa kecil. “Hebat apanya Boru, biasa saja”.
Faridha tertawa kecil. “Rumah Nanguda saja bagus, agak mirip dengan rumah Bou di Jakarta ya Nanguda ?”.
Saniah ikut tertawa kecil. “Mirip memang, yang punya kan sama”.
Faridha agak mengerutkan keningnya. “Maksud Nanguda ?”.
Saniah kembali tertawa kecil. “Boru, Udamu memang pejabat, Nanguda juga guru besar. Tapi pendapatan kami tak sepadan dengan rumah ini. Mungkin kami bisa membangun rumah besar, itu sangat mungkin Boru, tapi untuk memiliki yang seperti ini, belum sampai sama sekali, bertahun pun kami ngumpulkan uangnya, belum tentu bisa”. Saniah menggeleng lagi. “Tidak seperti yang boru pikirkan”.
Kening Faridha makin berkerut. “Maksud Nanguda ?”.
Saniah kembali geleng kepala. “Rumah ini memang atas nama Udamu. Itu benar, secara hukum mungkin memang Udamu yang punya. Tapi, faktanya tak begitu Boru, sama sekali bukan. Ini rumah Boumu, Kak Meeta, dia yang bangun rumah ini”.
Walau agak terkejut, Faridha memilih melebarkan senyumannya, kini yang terbayang adalah wajah manis Bounya Meeta, ibu Farhan. Dokter paruh baya yang tak banyak cerita, penampilan juga tidak tampak berlebihan, tapi perlakukan ke anak anaknya luar biasa, apa yang diinginkan, semuanya terkabulkan.
Faridha senyum dan geleng kepala, ia tak menyangka akan masuk dalam keluarga yang luar biasa itu, semakin jauh perbincangan dengan Saniah, semakin dalam rasa kagum Faridha pada keluarga Farhan, tapi disaat yang sama, rasa mindernya juga meningkat tajam.
Faridha melirih Saniah sebentar, tapi kemudian menunduk dan tampak merenung. “Apakah aku bisa Nanguda ?”.
Saniah langsung senyum lebar, kembali membelai kepala Faridha. Kini Saniah benar benar jatuh hati ke Faridha, tapi ia menyimpannya dalam hati, sekarang Saniah sudah benar benar yakin kalau Farhan tidak salah pilih, kalau kakak iparnya tidak salah langkah. Saniah tersenyum karena merasa ikut bahagia, kakak iparnya akan punya dua menantu yang sama baiknya.
Saniah kini bahkan berhayal kalau Taufiq bisa mendapatkan gadis dengan penuh kesederhanaan seperti Faridha ini. Saniah yakin ia akan sangat bahagia jika mendapat yang seperti itu, apalagi saat ini, Saniah hanya punya Taufiq, satu satunya harapan mereka hanya Taufiq.
Saniah kembali membelai kepala Faridha. “Kita yang menentukan tujuan hidup kita berdasarkan pilihan yang ada. Sekarang Boru punya pilihan, saran Nanguda, pilihlah pilihan itu dengan penuh percaya diri. Tetap merendahkan hati, berikan semua rasa yang kita miliki, kebahagiaan itu akan bisa menjadi pasti”.
Walau terdengar bagai sedang berpuisi, tapi Faridha menemukan banyak kebenaran dari perkataan Saniah. Tampaknya memang benar, keluarga Farhan yang punya asset triliyun rupiah itu bukan seperti keluarga kaya kebanyakan, ini keluarga yang lain dari yang lain.
“Harus percaya diri Boru. Ambil hikmahnya dan lakukan yang terbaik untuk yang lain. Hiduplah dengan kebiasaan yang membantu, tak usah pikirkan sikap negatif orang lain. Kitalah yang tahu apa isi hati kita boru, hanya kita yang tahu apa yang menjadi tujuan kita berikutnya”.
Faridha makin merenung, apa yang ia dengar dari Saniah pelan pelan membuka mata hatinya, apa yang salah menjadi istrinya Farhan, apa yang salah menjadi menantu di keluarga yang demikian. Yang penting, bagaimana agar tetap dengan pikiran yang ada sekarang, walau diberikan limpahan, tetaplah dalam kesederhanaan.
__ADS_1
…. Bersambung …
[1] Suaminya Bou