
Haris merasa, itulah yang terbaik, termasuk untuk dua surat yang masih tersisa, Haris merasa akan lebih baik diberikan untuk kepentingan umum, Haris berpikir, bagaimana jika tanah kebun yang ada rumah Wak Jainal itu di jual saja dan uangnya untuk membantu pembangunan masjid.
Menurut Haris itu akan lebik baik, sehingga rencana pembangunan masjid itu akan lebih cepat selesainya, menurut Haris, sebaiknya begitu, karena kalaupun tetap di pegang, siapa yang akan mengurusnya, Wak Jainal maupun ibunya Indah setahu Haris tidak memiliki keluarga.
Haris masih ingat, Wak Jainal dulu mengatakan, kalau Ibunya Indah adalah anak Panti Asuhan, sama dengan Wak Jainal, yanga juga sama, dibesarkan di Panti Asuhan juga, walau tidak dari panti asuhan yang sama.
Takdir kemudian menemukan mereka, sayangnya hingga meninggal dunia, keduanya tak punya keturunan, itulah yang membuat Haris menjadi istimewa saat dibawa ayahnya ke sini, ayah Haris sendiri kenal dengan Wak Jainal waktu kegiatan kegiatan perkemahan nasional.
“Mun, kalau tanah kebun tempat tinggal Wak Jainal kamu beli saja mengapa ?”.
Maimun mendelik. “Dijual maksud Abang ?”.
Haris anggukkan kepala. “Iya Mun”.
Maimun tampak berpikir, kemudian mengangguk. “Boleh Bang, berapa kira kira ?”.
Haris menggeleng. “Kalo itu mana Abang tahu Mun, yang tahu harga kan kamu, yang mau beli juga kamu, terserah kamulah berapa”.
Maimun geleng kepala dan tertawa kecil. “Abang ada saja, masa yang mau beli yang menentukan harganya”.
Haris angkat bahu. “Memangnya kenapa ?”.
Maimun kembali tertawa. “Sebetulnya Bang, kalau abang jual itu sesuai keadaan sekarang, itu bisa mencapai tiga ratus atau tiga ratus lima puluh juta juga. Itu dia Bang Ris, aku nggak punya uang sebanyak itu”.
Haris tertawa kecil. “Jadi berapa yang ada ?”.
Maimun menatap Haris lama. “Ini serius Bang ?”.
Haris anggukkan kepala. “Iya, abang serius”.
Maimun masih geleng kepala, tampaknya segan mengatakan, tapi terus terang, Maimun juga tertarik untuk memiliki lahan itu, anak pertamanya sebentar lagi akan tamat dari Fakultas Pertanian, itu akan sangat bagus untuk pengembangan usaha anaknya.
Maimun kembali menatap Haris. “Benaran aku boleh nawar ni Bang”.
Haris kembali tertawa kecil. “Kan, sudah dari tadi abang bilang”.
Maimun menghusap wajahnya. “Bang, aku Cuma punya punya uang dua ratus lima puluh, itupun kalau abang mau”.
Haris mengacungkan jempolnya. “Sepakat”.
__ADS_1
Maimun kembali menghusap wajahnya. “Yang benar ini Bang”.
Haris tertawa kecil kembali. “Serius, abang serius. Okey, kamu urus saja, sekarang tanah itu milikmu”. Haris menyerahkan suratnya.
Maimun masih tampak ragu. “Uangnya Bang ?”.
“Kita bicarakan nanti saja, aman itu”.
Maimun terus menggeleng, ia tak menyangka Haris sebegitu mudahnya melakukan transaksi, padahal Maimun tahu jika di jual ke orang lain, harganya akan jauh lebih tinggi, tapi menurut Maimun ini berkah, rezeki bagus anaknya.
Suara mengaji terdengar, Maimun mengajak Haris dan Fadli langsung menuju musholla yang tadi mereka bicarakan, tapi Maimun permisi mandi dulu sebentar, semuanya angguk kepala. Saat Maimun berdiri, yang tersisa di ruang depan kembali tinggal berempat.
Haris memandangi Lufti, Widya dan Natalia satu persatu. “Aku menjual tanah itu, maksudnya untuk membantu pembangunan masjid”.
Lufti agak mendelik. “Maksud Lu apasih Ris”.
Haris mengangguk. “Uang yang dua ratus lima puluh hasil penjualan tanah itu, nanti semuanya di serahkan ke panitia pembangunan masjid”.
Lufti, Widya dan Natalia sama melongo, Lufti sudah salah menebak Haris, di awal tadi, Lufti merasa mulai aneh melihat Haris yang main jual saja, tapi mendengar penjelasan Haris, Lufti menghusap dadanya, itu bahkan sangat luar biasa, sama sekali jauh dari perkiraan Lufti.
Haris tampak menghusap air matanya. “Itu akan menjadi amal jariyah untuk Almarhum Wak Jainal, tak ada yang bisa aku lakukan sekarang Luf, hanya itu”.
“Apa lu kagak butuh Ris ?”.
Haris menatap Lufti syahdu. “Aku bisa cari untukku Luf, aku bisa cari”.
“Risda ?”.
Haris kembali geleng kepala. “Aku sudah siapkan untuk Risda dari hasil keringatku sendiri, kau tenang saja Luf, aku sudah pikirkan itu, seluruh milikku adalah milik Risda”.
Lufti terdiam, kalau Widya dan Natalia sejak awal memang diam, Natalia memang sudah komit tak akan mencampuri apapun keputusan abangnya, apapun yang Haris simpulkan bagi Natalia itulah yang paling benar.
Maimun muncul, Haris dan Lufti langsung beranjak mengikuti langkah Maimun, Haris tak lupa membawa surat tanahnya, bukan Cuma yang di dekat musholla, tapi tanah kosong yang satunya lagi yang berjarak hampir dua kilometer dari lokasi musholla.
Usai shalat maghrib berjamaah, Maimun memperkenalkan Haris pada jamaah yang hadir, kebetulan lumayan banyak. Maimun menjelaskan apa yang menjadi tujuan Haris, semua jamaah tampak sumringah dan bersama sama mengucapkan hamdalah.
Secara langsung Haris menyerahkan surat tanah kepada ketua BKM yang disaksikan seluruh Jamaah. Ketua BKM langsung menyucapkan terima ksaih kepala Haris dan berjanji akan menjaga amanah ini dengan baik.
Microfon diserahkan ke Haris. Haris hanya gelengkan kepala dan mengatakan kalau tanah ini adalah milik Wak Jainal, sesuai wasiatnya semua diserahkan ke Haris karena memang Wak Jainal tak punya keturunan, semuanya anggukkan kepala, karena memang kenal betul dengan Wak Jainal.
__ADS_1
“Bapak Ibu sekalian, tanah kebun yang juga menjadi rumah tinggal Wak Jainal sudah ditebus oleh Kepala Desa kita Maimun dengan harga dua ratus lima puluh juta rupiah, uang itu nanti akan di serahkan langsung oleh Maimun ke Panitia pembangunan untuk dana awal pembangunan masjid, untuk saat ini, hanya itu yang bisa saya berikan, Insha Allah, jika ada rezeki, nanti saya tambah”.
Seluruh jamaah terkejut, bahkan ada yang sampai melongo, sudah memberikan tanah, sekarang penjualan tanah lainnya juga untuk pembangunan masjid, hampir seluruh jamaah geleng kepala dan senyum sangat bahagia.
Yang paling terkejut adalah Maimun, ia tak menyangka ternyata Haris menjual tanahnya bukan untuknya, ternyata untuk dana pembangunan masjid, bibir Maimun bahkan sampai bergetar menahan haru, Maimun benar benar tak menduga hal itu.
Maimun mendekat. “Bang Haris, Bapak ibu jamaah semuanya, harga tanahnya tidak jadi dua ratus lima puluh juta, saya akan bayar tiga ratus juta”. Bibir Maimun masih tampak bergetar.
Haris meraih tubuh Maimun, keduanya berpelukan masih dengan posisi setengah berdiri, karena tegaknya diatas lutut, jelas ada air mata yang jatuh di sudut mata keduanya, Haris sangat terharu karena Maimun mau menambahinya, sedang Maimun terharu karena harapan untuk bangun masjid bagus di desanya akan dapat dimulai.
Banyak jamaah yang juga ikut menitikkan air mata, haru juga melihat apa yang di lakukan Haris, bayangan jamaah sekarang tertuju pada Jainal, semuanya berdoa mudah mudahan Jainal bahagia di alam sana, karena memiliki anak angkat yang tidak ingin memiliki hartanya secara pribadi, akan tetapi memberinya kepada umat.
Salahsatu yang tak sanggup menahan air matanya yang jatuh adalah Lufti, ia sama sekali tak mampu menahan haru yang datang tiba tiba, sejujurnya Lufti juga sangat ingin bisa melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan Haris, tapi untuk saat ini Lufti belum mampu melakukannya.
Haris mendekati Pak Ustadz. “Ustadz. Saya juga masih punya satu lahan lagi, tapi memang agak di ujung desa, masih kosong, itu ada sekitar dua hektar”.
Ustadz Soleh mengangguk. “Maksudnya Pak Haris, bagaimana ?”.
“Saya dengar tadi, Ustadz mau bangun madrasah, kalau ustadz bersedia, saya juga mau menyerahkan lahan itu untuk Pak Ustadz pakai”.
Semua mata kembali mengarah ke Haris, dari beberapa orang yang hadir, ada yang tahu soal lahan yang dimaksud Haris, tanahnya cukup luas, sudah datar, selama ini dipakai anak anak untuk main bola, semuanya kembali menggeleng kepala, masa semua harta Jainal tak satupun yang dikuasai Haris.
Masa semuanya diserahkan untuk kepentingan umum, ada banyak yang menggeleng karena merasa Haris berlebihan dan aneh, tapi ada juga yang menggeleng karena salut dan kagum dengan sikap Haris, karena pada dasarnya, dia bukan ahli waris Jainal, sehingga menyerahkannya untuk umat adalah tindakan baik.
“Maksud Pak Haris, mau menyerahkan lahan itu untuk madrasah ?”.
Haris anggukkan kepala dan menyerahkan sertifikat tanahnya. “Ini suratnya Pak Ustadz, silahkan di pakai”.
Tangan Ustdaz Soleh gemetar saat menerima sertifikat dari tangan Haris, ia sama sekali tak menduga akan dapat lahan dengan gratis, artinya dalam waktu dekat ia sudah bisa memulai membangun madrasahnya, satu hal yang sama sekali tak diduga.
Ustadz Soleh membolak balik surat tanah yang diberikan Haris. “Bagaimana kami dapat berterima kasih Pak Haris ?”.
Haris menggeleng. “Tak perlu Ustadz. Saya sudah komit, semua harta milik Almarhum Wak Jainal dan Ibu Indah harus untuk kepentingan umat. Saya pada dasarnya tak memiliki wewenang untuk menguasainya”.
Kembali hampir seluruh jamaah mengucapkan hamdalah. Maimun terus menatap Haris dengan gelengan kepala, Maimun sama sekali tak menyangka, isi pikiran Haris akan seperti itu, Maimun sekarang melihat Haris sebagai sosok yang luar biasa.
Tapi menang, ini akan sangat baik bagi Almarhum Wak Jainal, harta yang ia tinggalkan sekarang sepenuhnya milik umat, sebuah waqaf yang nilainya akan terus abadi hingga kiamat nanti.
… Bersambung …
__ADS_1