Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Dunia Memang Terlampau Sempit Untuk Bersembunyi


__ADS_3

Haris kembali memandangi Asrul lekat, ia yakin jika Asrul akan memegang janji yang mereka buat, apapun alasannya, Haris belum siap untuk membuka semuanya pada Risda, ada ketakukan besar yang mengejarnya.


“Bapak pasti terkejut melihat Risda pertama kali, saya yakin itu, karena wajah Risda tak ada bedanya dengan wajah Tante Lia”.


Haris sudah bisa tertawa kecil. “Bapak seperti disambar petir Rul”.


Asrul jadi ikut tertawa. “Saya sudah menebak itu. Tapi, sejak hari pertama Bapak ketemu, Pak Nas lama nggak datang, kenapa ?”.


Haris menggeleng. “Kamu sampai pikirkan kesana Rul”.


“Awalnya sih nggak Pak Nas, tapi sekarang justru kepikiran”.


Haris kembali tertawa kecil. “Bapak linglung waktu itu, bingung sekali, makanya Bapak langsung ambil cuti dan terbang ke Jakarta, memastikan Risda”.


Asrul tertawa kecil dan anggukkan kepala. Asrul bisa membayangkan sekarang, bagaimana terkejutnya Haris saat melihat Risda, itu tentu sangat pasti.


Haris kini yang justru merasa heran, biasanya orang yang ikut dalam program seperti ini adalah mereka yang berasal dari keluarga sederhana, atau bahkan mungkin keluarga yang kurang mampu, tapi kenapa dengan Asrul.


Haris tahu siapa dan bagaimana keluarga Agung temannya, keluarga yang memiliki tingkat ekonomi yang berada di atas rata rata. Almarhum kakek Asrul, ayahnya Agung adalah pemilik dan pengelola 40 usaha SPBU yang tersebar hampir di seluruh Jawa, bahkan ada di Bali dan Nusa Tenggara.


Selepas kepergian ayahnya, Agung yang mengelola kegiatan 40 SPBU itu, sedang nenek Asrul, ibunya Agung, bukan hanya sebatas seorang dokter spesialis, tapi juga pemilik 3 klinik dan 1 rumah sakit ternama di Jakarta.


Bahkan itupun belum juga cukup, keluarga Agung punya resort di Nusa Tenggara dan Sumatera, itukan jadi aneh kedengarannya, bagaimana keturunan dari orang orang seperti itu hari ini ada di pedalaman Kalimantan Utara.


“Jadi, kenapa bisa kesini, ayahmu mengijinkan ?”.


Asrul hanya senyum dan anggukkan kepala. “Ayah tidak masalah Pak Nas”.


“Agung tidak keberatan kau disini ?”. Haris masih bingung.


Asrul mengangguk. “Tidak Pak. Ayah tidak masalah”.


Haris menggeleng. “Entah apa isi pikiran Agung”.


Asrul tertawa saja, Asrul yakin jika Haris mengatakan itu karena tahu persis bagaimana keluarga Asrul di Jakarta, pertanyaan pertanyaan Haris memberikan isyarat ke Asrul bahwa Haris kenal betul dengan keluarganya.


Hal yang berbeda dengan teman temanya, termasuk Risda. Mereka sama sekali tak tahu bagaimana Asrul yang sebenarnya, karena selama sekolah hingga kuliah, Asrul tetap memilih naik angkot atau ojek.


Asrul membawa mobil hanya kalau menemani ibunya atau pembantu di rumhanya belanja, itupun hanya sekali seminggu saja, selebihnya Asrul tak pernah memakainya, bahkan saat ada janji main futsal, Asrul lebih suka naik ojek saja, padahal dirumah ada mobil, yang bahkan surat suratnya atas namanya.


Alasan Asrul cukup sederhana, dengan begitu ia lebih bebas kemana saja pergi, hingga ke gang sempit misalnya, coba kalau pakai mobil, perjalanan akan terbatas, bahkan teman juga bisa menjadi terbatas pula, Asrul tak mau itu.


“Apa yang kau kejar disini”.


“Pengalaman”.


Haris menggeleng.”Memang ada niat jadi guru ?”.


Asrul geleng kepala. “Kurang sebenarnya Pak. Kembali dari sini saya niat kuliah lagi Pak, saya lebih tertarik jadi dosen seperti Paman”.


“Bagus juga memang. Rencana mau dimana ambil S2 nya ?”.


“Di Jakarta saja Pak”.

__ADS_1


Haris menatap Asrul lama. “Kenapa nggak keluar negeri saja”.


Asrul menggeleng. “Nggak lah Pak, ngapain, di Jakarta saja sudah cukup”.


Haris ikut menggeleng, ini gelengan yang menandakan Haris masih tak mampu menguras herannya, bagaimana Asrul mau mati matian di pedalaman ini, lepas kuliah dia cukup ambil alih beberapa usaha ayahnya, semua selesai.


“Yang ambil alih pengelolaan Klinik sama Rumah Sakit siapa Rul ?”.


“Mama”.


“Ibumu ?”.


Asrul mengangguk. “Mama juga dokter Pak, sekarang mama yang menangani semuanya, bahkan Mama sudah buka rumah sakit baru di Surabaya”.


“Kenapa kau nggak kuliah kedokteran kemarin ?”.


Asrul menggeleng. “Saya phobia darah Pak”.


Haris jadi tertawa. “Nggak mungkin jadi dokter juga ya, masa dokter phobia darah”.


Asrul juga tertawa.”Itu dia Pak. Tapi, adik saya dua duanya sekarang kuliah di kedokteran”.


“Memang kalian adik kakak berapa ?”.


Asrul kembali tertawa kecil. “KB Pak, Keluarga Besar. Kami ada 7”.


Haris tampak terkejut, hingga membuka mulut. “7 Orang ?”.


“Yang paling kecil ?”.


“Sekarang masih SD”.


Haris geleng kepala. “Jarang itu, ada dokter anaknya banyak”.


“Setidaknya ada satu Pak, Mama saya”.


Haris dan Asrul sama sama tertawa. Haris tentu heran, sebegitu banyak dokter yang ia kenal, belum pernah ia menemukan ada yang anaknya sampai 7 seperti itu, selama ini yang terbanyak yang Haris ketahui adalah dokter yang bertugas di klinik perkebunan, anaknya 4 orang.


“Ibumu orang mana Rul ?”.


“Mama orang Sumatera Utara Pak”.


“Medan ?”.


Asrul geleng kepala. “Bukan Pak, Padangsidimpuan”.


Haris anggukkan kepala, ia tentu tahu Padangsidimpuan, walau Cuma pernah lihat di peta, namun yang jelas, Haris memastikan kalau ia pernah setidaknya melewati kota itu, atau bahkan pernah singgah di kota itu, saat ayahnya meninggalkan kampung halamannya menjuju Bandar Lampung, pasti harus melalui kota itu.


“Pernah ke kampung ibumu ?”.


Asrul mengangguk. “Sering Pak, minimal dua tahun sekali, Kakek masih ada”.


“Kakekmu masih ada ?”.

__ADS_1


Asrul anggukkan kepala. “Nenek juga baru meninggal dua tahun lalu, belum lama”.


Haris hanya mengangguk saja. “Ibumu orang batak berarti”.


Asrul anggukkan kepala. “Batak Mandailing, Lubis”.


Haris hanya anggukkan kepala, Lubis memang termasuk marga mandailing, sama dengan marganya, ayah Haris dulu pernah mengatakan begitu, Haris tak tahu info lengkapnya, yang ia tahu hanya itu saja.


Haris menatap Asrul lagi, teringat dengan wajah Agung, ternyata ia sering ke Padangsidimpuan, kampung mertuanya. Haris bahkan sudah sekian tahun, sudah berusia hampir 46 tahun, tapi belum pernah ke Sumatera Utara, khususnya Kota Sibolga, padahal disana ada Paman dan Bibinya.


Kini Haris yang geleng kepala, ia malah bertemu dengan anaknya di pedalaman, sekarang ia bercerita dengan anak sahabatnya di pedalaman pula. Asrul dan Risda tampak akrab, mereka mungkin tak tahu jika orang tua mereka berteman juga.


Dulu Haris terbang ke sini, ke Kalimantan ini dengan tujuan agar dapat menjauh dari semua kisah dan sejarah tentangnya. Tapi, hari ini faktanya apa, Haris dipertemukan dengan orang orang yang berhubungan erat dengan kisah hidupnya.


Benar, Haris baru sadar sekarang, apa yang coba ia hindari tak berarti sama sekali, faktanya, kemanapun ia pergi sejarah akan ikut dan bahkan mengikuti dengan setia. Benar kata orang bijak, dunia terlalu sempit menjadi tempat bersembunyi.


Haris malah merasa, dia sudah menjelma menjadi anak dan keponakan yang bisa disebut durhaka mungkin, sampai kini, Haris bahkan tak pernah berniat untuk mengunjungi paman dan bibinya di Sibolga, padahal dari sisi kemampuan finansial dan waktu Haris bisa melakukannya dengan mudah.


Kini Haris berpikir panjang, sudah saatnya menyusun rencana untuk kesana dalam waktu dekat, akan lebih baik jika mengajak Natalia ikut dengannya, atau bahkan sebaiknya juga membawa Risda, Haris sangat yakin, jika kedua orang penting dalam hidupnya itu belum sekalipun berkunjung kesana, seperti dirinya.


“Kamu tahu Rul, bapak sebenarnya lahir di Kota Sibolga, usia dua tahun kurang lebih baru bapak dibawa pindah ke Bandar Lampung”.


Asrul agak mendelik, ia tahu persis kota itu, daerah pantai yang banyak di kunjungi orang, Asrul bahkan setiap pulang mudik ke kampung kakeknya, pasti akan berkunjung ke kota itu, karena ada abang kandung dan kakak kandung ibunya yang tinggal disana, mereka pasti berkunjung.


“Kota Sibolga ?. Asrul tahu itu Pak, bahkan sering kesana”.


Haris jadi mendelik. “Pernah kesana Rul ?”.


Asrul tertawa lebar. “Bukan pernah lagi Pak, sering malah. Setiap ke Sidimpuan, kita pasti kesana, disana ada abang kandung dan kakak kandung ibu”.


“Oh ya, di Sibolga dimananya Rul ?”.


Asrul masih senyum tipis. “Kalau abangnya ibu itu di Kota Baringin nama kelurahan nya Pak, kalau kakaknya ibu itu agak ke dalam, Pasar Tukka”.


Bulu kuduk Haris langsung meremang, kata Tukka membuat dada Haris berdesir dan bergetar hebat, masa kecilnya disana, walau Haris tak ingat apa apa lagi, karena sudah meninggalkan Tukka saat usianya masih dua tahun.


Tapi, Haris tahu tempat itu, itu adalah kampung ibunya Margaretha, entah kakek dan neneknya masih ada disana, Haris tak bisa menjaminnya, sedang ayah dan ibunya saja sudah pergi untuk selama lamanya, bahkan keduanya meninggal dunia tanpa pernah lagi kembali kesana setelah sama sama meninggalkannya.


Akan tetapi, keluarga yang lain pasti masih ada. Haris sangat yakin, jika ia berhasil kesana, ia pasti bisa menemukan keluarga ibunya, karena menurut pamannya Jamil, Tukka tidak seluas yang ia sangka, semuanya dengan mudah dapat mencari info disana, apalagi masyarakatnya juga sangat terbuka.


Mata Haris menjadi panas, tapi ia mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Pilihan terbaik mungkin pulang saja ke basecamp. Haris tak yakin lagi balik ke Kotawaringin Timur, hari sudah terlampau sore, malam ini sebaiknya menginap di basecamp saja.


Haris permisi, Asrul menyalami dan mencium punggung tangan Haris, Haris hanya menepuk nepuk pelan punggung Asrul, kesepakatannya jelas, Asrul harus bungkam, jangan sampai membocorkan apapun pada Risda, karena Haris tak yakin Risda bisa menerimanya dengan baik.


Haris melangkah pergi, di atas truck yang membawanya ke basecamp, Haris kalah telak, air matanya runtuh juga, sudah sangat berusaha keras, tapi Haris sama sekali tak mampu menghempangnya, air mata itu tumpah ruah, sama sekali tak tertahankan.


Haris kini begitu rindu pada pamannya Jamil dan bibinya Mila, kepindahan bibinya Mila kembali ke Sibolga yang awalnya tinggal di Bandar Lampung sudah Haris ketahui, sehingga kemarin saat di Lampung memang tak mencari sang bibi, karena Haris tahu, bibinya Mila memang tak disana lagi.


Bagaimana khabar pamannya Jamil setelah dua puluh dua tahun tak bertemu ?, pikiran Haris benar benar kusut. Menyesal ?, ya, benarlah apa yang dikatakan orang banyak, penyesalan selalu datang terlambat, sakit.


Rindu itu sekarang begitu menusuk, bahkan sangat dalam, hingga Haris harus menekan dadanya, menahan kuatnya denyut jantungnya, semuanya menjadi seperti meninju ke arahnya, Haris kesakitan, sakit hati yang obatnya belum sama sekali berhasil ditemukan.


… Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2