Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kenyataan Yang Ada


__ADS_3

“ Haris kak, Haris …. “. Jamil tak bisa meneruskan.


“ Haris, maksud kamu. … “. Dada Ireth langsung kacau.


“ Haris, suami Natalia “.


“ Kenapa Mil, Kenapa dia “.


Jamil menatap wajah Ireth lekat. “ Dia Anakmu Kak, dia anakmu “. Jamil tertunduk dan menutup mukanya. “ Haris itu anakmu Arianda Kak, Dia Arianda anakmu Kak, darah dagingmu “.


................................................................................... 00


Ireth langsung pucat pasi. Yang ada bersama mereka disana sama terdiam dan menutup mulut dengan tangan. Wak Marni, wawaknya Natalia yang sedang megang sendok besar tak kuat mengangkat sendoknya hingga terjatuh kelantai. Perempuan separuh tua itu malah terjatuh lemas, semua yang didapur mengejar perempuan separuh tua itu dan membopongnya kebangku panjang. Haris, Natalia, maupun Miranda yang mendengar sendong jatuh dan kegaduhan didapur hanya saling pandang. Tapi Natalia terang semakin bingung, dan Haris sudah menangkap sinyal tak baik.


“ Kau.. kau.. Mil.. kenapa ?”. Jika Inang Tua Haris tak ada disana dan tidak menangkap, mama Natalia mungkin langsung bersentuhan dengan lantai.


Jamil masih tertunduk. “ Benar Kak, itu Benar “.


“ Jamil “. Mama Natalia masih sadar, tapi pandangannya berkunang.


“ Haris itu adalah anakmu Arianda Kak Ret, ibu angkatnya di Bandar Lampung menambah nama pangkalnya Haris, menjadi Haris Arianda “.


Pandangan Ireth berkunang. Ireth merasa begitu bodohnya, saat pertama kali Ireth berkenalan dengan Haris, jelas ada perasaan aneh yang menguasainya, apalagi mendengar nama Arianda, yang sama dengan nama anak yang ditinggalkannya, tapi saat itu Ireth tak begitu kepikiran soal itu, apalagi nama Arianda sangat banyak, temannya dikantor juga ada yang bernama Arianda, bahkan Ireth Mama Natalia sudah empat kali menangani client dengan Nama Arianda, hingga saat itu ia merasa nama Arianda bukan hanya dimiliki anak yang pernah dilahirkannya, banyak oarng yang memiliki nama itu, bahkan banyak sekali. Dan kini Ireth terbodoh, ternyata ia benar benar anaknya.


“ Yang kuat Kak “.

__ADS_1


Ireth terus menggelengkan kepalanya yang masih berdenyut, mereka berjalan beriringan menuju ruang depan dimana Natalia dan Haris masih duduk dengan bingung, masih dengan pakaian pengantin yang melekat ditubuh masing-masing. Begitu melihat Mama dan Paman Jamil keluar baik Natalia maupun Haris langsung menebar senyum. Tapi senyum mereka langsung pupus mendapati tak adanya balasan secuil senyumpun dari Mama Lia maupun Paman Jamil. Apalagi melihat mama Natalia yang bersimbah air mata membuat Haris maupun Natalia hanya mampu terdiam. Mama Natalia dan Paman Jamil langsung duduk dihadapan Haris dan Natalia.


Natalia masih berusaha tersenyum. “ Mama Kok nangis “.


Mama Natalia tak bisa menjawab. Malah air matanya kembali turun, matanya terus tertuju pada Haris. Dipandangi terus Haris jadi serba salah, ada resah yang langsung muncul menusuk jantungnya hingga berdebar-debar.


“ Kenapa Ma “. Natalia mulai menangkap resah dimata mamanya.


Paman Jamil buang nafas berat. “ Pernikahan ini batal, tidak boleh dilanjutkan, tidak boleh, harus batal “.


Haris maupun Natalia jelas sangat terkejut. Natalia langsung protes. “ Tak bisa begitu dong, masa.. “.


“ Terserah.. tapi pernikahan ini mesti batal “. Potong Paman Jamil. Membuat Natalia jadi diam.


“ Apa dasarnya Paman ?”. Haris angkat bicara.


Jamil tak kuasa menatap kedua ponakannya, Jamil tertunduk. “ Karena kalian dilahirkan oleh wanita yang sama “.


Kepala Haris maupun Natalia langsung panas. Natalia malah langsung menggigil, Natalia gemetar memandang Paman Jamil dan Mamanya bergantian. Haris masih tak percaya apa yang didengarnya. Mulut Haris ternganga. Tegang bagai habis kena setrum ribuan vol.


“ Kau, Haris, Natalia. Kamu kakak beradik Kandung, satu ayah satu ibu “.


“ Benar itu Ma “.


Mama Natalia mengangguk bersamaan dengan tangisannya yang pecah tak terbendung, bahkan kini Iret tertunduk dan memukul mukul kepalanya yang terus menggeleng. Natalia makin gemetaran, satu jerit yang kuat  terdengar dari mulut Natalia dan langsung jatuh pingsan dipaha Haris. Haris tak bisa ngomong apa apa lagi. Bibirnya kelu, pandangan ikut ikutan kabur.

__ADS_1


Tidak percaya Pamannya Jamil adalah sebuah kebodohan, terlalu gila jika pada Paman Jamil pun tidak percaya. Haris memeluk kepala Natalia yang jatuh pingsan dikakinya, Paman Jamil langsung mengangkat tubuh Natalia dan menidurkannya dibangku panjang dan Jul Suami Miranda langsung mengambil buku dan mengipasnya. Si tukang rias termangu didepan pintu kamar pengatin yang masih harum, ia bahkan lebih lima menit bagai patung disana, tanpa ada gerak.


Para undangan yang mendengar jerit Natalia langsung berhamburan memadati pintu depan rumah, saling bertanya, bahkan saling dorong. Suami Miranda mendekat kearah pintu.


“ Saudara saudaraku semua, tolong jangan padati pintu, pengap saudara, Natalia pingsan, tolong, agar ada angin “.


“ Emang kenapa Pak ?”.


“ Hanya masalah kecil, tolonglah “.


Akhirnya yang memadati pintu berangsur angsur berkurang dan bahkan tak ada lagi yang berdiri disana, semua sudah kembali duduk dikursi yang disediakan, tapi semua diliputi kebingungan, dengan penuh pertanyaan, ada apa, apalagu, musik yang tadi mengalun syahdu ikut berhenti, mati total.


Teman teman Haris maupun Natalia yang lumayan banyak disana diselimuti pertanyaan yang senada, tapi yang ada hanya bisik bisik saja.


“ Hil, lihat sana, ada apa ?”.


Hilman yang disuruh Widya menggeleng. “ Ente kenapa ?”.


“ Iya Wid, kamu aja “. Sambung Firman.


Akhirnya Widya berdiri dan masuk kerumah, Widya langsung mengambil alih kipas yang ada ditangan Pak Jul, Widya dengan hati-hati mengipas Natalia dan memanggil-manggil namanya pelan.


Ireth pindah duduk kesamping Haris dan memecahkan kembali tangisnya sambil erat memeluk Haris, membenamkan kepalanya di dada Haris. “ Kamu anak mama Ris, Kamu anak mama “.


Haris hanya diam saja, Haris masih bingung, pikirannya sangat kacau sekali menerima kenyataan ini. Rasanya Haris bagai berada diawang awang, badannya terasa bagai melambung diudara, ringan sekali seluruh tubuhnya. Justru Widya yang amat terkejut mendengar kata kata Mama Natalia itu, hingga Widya tanpa sadar menghentikan kipasannya dan terpelongo memandang Haris.

__ADS_1


.... BERSAMBUNG ....


__ADS_2