Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Menyusur Panorama Sibolga Tapanuli Tengah (3)


__ADS_3

Haris meneriaki semuanya agar kembali ke kapal, semua akan beranjak ke Pulau Putri sekalian hendak makan siang, Farhan dan Faridha menjadi yang terakhir naik dan masih dalam kondisi yang basah kuyup. Karena yang basah bukan hanya mereka berdua, tak ada yang protes, bahkan kapal juga menjadi banyak basahnya.



Pulau Putri, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara


Hanya berjarak beberapa menit saja kapal kembali sandar di Pulau Putri, pulau yang tidak begitu besar, tapi persis seperti yang tadi, airnya sangat bening di padu dengan pasir yang putih bersih, sehingga kembali mengundang selera untuk kembali mandi mandi.


Lapar menahan selera Farhan, Faridha dan Risda untuk menceburkan diri ke laut, makan menjadi pilihan utama sekarang. Mila, Lena dan Natalia yang menjadi tukang bagi, memang ada pondok disana, tapi rata rata memilih mencari tempat makan yang sesuai selera di pinggiran pantai.


Usai makan, semua kembali dengan aktivitas masing masing, Farhan dan Faridha kembali mandi mandi, Asrul dan Risda hanya duduk duduk saja sambil memandangi Farhan dan Faridha yang semakin lama semakin tambah lengket dan mesranya, Asrul terus buang nafas berat dan geleng kepala, semakin pusing, pusing sendiri.


Haris sudah melempar pancingnya di dermaga, kali ini Jamil dan Natalia ikut menemani, sedang Lena dan Mila masih memilih hanya duduk di pondok, memilih berperan sebagai penjaga barang barang yang mereka bawa. Mila dengan hanya melihat lihat kegiatan para cucunya sudah begitu senang, Lena juga demikian, mendengar cucunya tertawa, Lena sudah sangat gembira.


Asrul kembali memandang sekeliling, pada dasarnya semua pulau di gugusan Mursala ini sangat indah, tidak kalah dari berbagai tempat yang saat ini begitu populer sebagai destinasi wisata nasional, sama dengan yang lain, yang kurang disini adalah fasilitas, bahkan untuk kamar mandi saja sangat memprihatinkan, sama sekali tidak mendukung sebagai tempat wisata.


Asrul selalu sepakat, destinasi wisata akan lebih maksimal jika ditopang dan di sokong oleh keberadaan infrastruktur yang memadai, fasilitas memberi arti lebih bagi pengunjung, membuat para wisatawan lebih nyaman. Tempat ini memang indah, sangat indah, tapi bagaimana mau nyaman, untuk sekedar buang air saja kita begitu sulit, ada kamar mandi, tapi belum masuk kita sudah puyeng duluan.


Alami memang sangat diminati, tapi alami saja tidak cukup, kita berwisata dengan membawa keluarga, akan ada banyak kegiatan disana, sehingga membutuhkan fasilitas pendukung. Asrul sangat yakin kalau ada perbaikan di sisi itu, destinasi ini akan melonjak tinggi, akan sangat di minati.


Asrul kembali menggeleng, ternyata tak juga tahan, kembali membuka jilbabnya dan menyerahkan semua ke Asrul dan kembali berenang. Asrul sama sekali tak tertarik mandi lagi, sehingga hanya memilih menonton saja. Iseng, Asrul membuka ponsel Risda dan mengambil banyak photo, tidak hanya photo Risda, tapi juga kegiatan Farhan dan Faridha.


Iseng. Asrul mengirimkan beberapa photo yang menurutnya bagus ke ponsel ibunya, termasuk photo Farhan dan Faridha yang sedang berpelukan sambil berendam di air. Tapi Asrul yang jadi pusing, karena ibunya malah membalas dengan emot love yang banyak, hingga dua baris sakin banyaknya.


“Mama nggak takut lihat Farhan sama Faridha tuh Ma”. Asrul kirim chat.


“Eh, Elu ngapain pake ponsel Risda ?”.


Asrul tertawa, tak menyangka ibunya tahu dengan cepat kalau yang ngetik pesan adalah dirinya, bahkan pake bahasa elu segala, itu artinya ibunya marah, biasanya memang begitu, walau agak heran juga, kenapa ibunya langsung tahu kalau yang ngirim pesan bukan Risda.


“Kok mama tahu ?”.


“Ya, tahulah. Risda tuh punya ciri khas ngirim pesan”. Balas Meeta.


“He.. he.. he.. ketahuan dong”.


“Risda mana ?”.


“Mandi”.


“Temanin gih. Nonton pula”.


Asrul tak menjawab lagi, berdiri menuju pondok, letakkan barang barang Risda, tinggalkan juga dompet dan ponselnya, kemudian ikut kembali mandi menyusul Risda, walau sebenarnya Asrul sudah sangat tidak tertarik. Tapi sampai di air, Asrul balik ceria bermain bersama Risda.


“Udah dong Dek, sudah pucat ini, udahan dong”. Asrul mengelus bibir Risda yang memang sudah memutih.


“Bentar napa Bang”.


“Nggak. Udah”.


“Bentar lagi napa Bang”.


“Nggak, udah. Ayo”.


Walau awalnya meronta, tapi Risda akhirnya diam, malah memeluk leher Asrul yang menggendongnya naik kedarat. Asrul kemudian duduk di pasir, mendudukkan Risda di antara kedua kakinya, mengelus wajah dan bibir Risda yang sudah memutih.


“Sudah mau biru ini bibir, masih mau mandi juga”.


Risda senyum saja, menggeliat. “Mandinya enak soalnya, angat airnya”.


“Ayo, mandi air tawar sana, nanti kulitnya bersisik lho”.

__ADS_1


Risda senyum tipis saja dan ikut tarikan tangan Asrul menuju kamar mandi yang memang tersedia di pulau ini, Asrul tak lupa sambilkan pakaian ganti dan handuk, Risda tak bisa lama, begitu disiram air tawar, Risda langsung menggigil, Asrul hanya tertawa, membiarkan Risda pergi lebih dulu menuju pondok.


Usai mandi dan ganti pakaian, Asrul ingin menyusul Risda ke dermaga, bergabung dengan Haris yang masih terus melemparkan pancingnya, sekarang bukan hanya Haris, Jamil juga sudah ikut memancing, Natalia masih konsen sebagai tukang pungut ikan yang di dapat abang dan pamannya, sekarang dibantu Risda.


Tapi langkah Asrul terhenti saat ada yang memanggil namanya, Asrul menoleh dan menghampiri Lena yang tadi melambaikan tangan memanggilnya. Asrul melangkah cepat karena yakin ada yang penting yang membuat neneknya begitu intens memanggil namanya.


"Iya Nek".


"Itu HP Asrul kan ?".


Asrul melirik dan anggukkan kepala. "Iya Nek, itu ponsel Asrul".


"Sudah dari tadi berdering terus, sudah empat atau lima kali".


Asrul langsung meraih ponselnya mendengar penjelasan neneknya. Kening Asrul langsung berkerut saat menemukan ada lima panggilan tak terjawab dari Usman, Asrul tentu saja langsung penasaran, duduk di dekat Lena dan memanggil Usman kembali, satu panggilan terlewatkan, Asrul kembali mengulang.


"Iya Bang Rul". Usman menjawab juga.


"Iya Us, tadi kenapa Dek ?".


"Oh, itu Bang. Adek abang sudah mules mules, sudah di klinik bidan kami sekarang, mobil sudah di hotel, tadi Usman titip kuncinya ke sepupu adek abang yang kerja di sana, di resepsionis, namanya Nabila".


"Oh, iya .. iya ... Nadia sudah bagaimana Dek ?".


"Masih belum Bang, masih bukaan lima kata bidannya".


"Oh, iya .. iya .. jaga terus ya Dek".


"Iya Bang, sudah dulu ya Bang".


"Okey .. Okey".


Telephon mati, Asrul tampak gugup, yang Asrul bayangkan sekarang betapa Nadia menahan sakit, Asrul sudah pernah melihatnya walau secara tidak langsung, Asrul membayangkan rasa sakit yang dialami Istri Sumpeno saat melahirkan Dhea, ini yang membuat Asrul menjadi gugup.


"Nggak apa apa tu Nek, namanya ibu mau melahirkan. Sing Penting tenang wae, doa ama Gusti Allah".


"Nenek".


Asrul kembali memeluk dan mencium pipi Lena, Asrul juga tahu kalau istri kakeknya ini memang orang Jawa, tapi baru kali ini Lena menggunakan bahasa Jawa ke Asrul, ini yang membuat Asrul jadi tertawa, resahnya langsung hilang, sekarang mereka malah cerita panjang bagaimana orang tua Lena transmigrasi ke sini dari Jawa Tengah puluhan tahun yang lalu.


Saat semuanya datang berkumpul karena hari sudah mulai sore, Asrul langsung menyampaikan prihal Nadia kesemuanya. Semua langsung setuju kalau mereka pulang dan mengunjungi Nadia lepas shalat maghrib. Ini yang membuat semua beranjak ke kapal dan kapalpun langsung menerobos lautan kembali ke pantai Sibolga.


Sepertinya memang tak ada yang sabaran, semua saling bertanya kapan berangkat ke klinik menjenguk Nadia. Haris juga sama, sehingga semua langsung ke mobil, kecuali Jamil, Lena dan Mila, ketiganya memilih besok saja kesana. Asrul yang mengemudi, hanya beberapa menit saja, sudah sampai di depan Klinik tempat Nadia melahirkan.


Risda, Faridha dan Natalia langsung turun dan masuk, padahal mesin mobil saja belum mati, ketiganya menuju perawat yang sedang jaga, tapi bingung mau nanya bagaimana, karena mereka tak tahu nama lengkap Nadia, Asrul muncul.


"Ruangan adik saya Nadia di mana Kak ?".


Perawat senyum. "Nadia yang mana Bang ?".


"Cut Nadia Aulia Shifa. Suaminya Usman Serawi Lubis".


Perawat anggukkan kepala. "Kamar nomor 10 Bang. Silahkan ..".


Risda dan Faridha yang paling cepat, keduanya bahkan setengah berlari menuju kamar yang di tunjuk, Risda membuka pintu perlahan, Usman anggukkan kepala saat melihat kepala Risda nongol di pintu, dengan senyuman Risda dan Faridha masuk, kemudian tak lama di susul Natalia. Usman melangkah keluar, karena yakin Haris, Asrul dan Farhan tidak akan berani masuk.


Risda duduk di tepi ranjang, mengelus kepala Nadia. "Sakit Dek ?".


Nadia anggukkan kepala. "Mules terus Kak, hanya diam sebentar sebentar saja".


Risda terus mengelus, tadi ia menyangka akan melihat bayi, tapi ternyata belum sama sekali, hanya menemukan wajah Nadia yang mulai memucat. Faridha terus mengurut pelan kaki Nadia, Faridha juga tampak kasihan, tapi ia tentu paham begitu memang seorang ibu yang akan melahirkan, apalagi ini anak pertama.

__ADS_1


Diluar Usman ngobrol dengan para lelaki, Haris hanya menyampaikan kalau itu memang sudah semestinya, semua ibu akan mengalami hal yang sama, yang perlu adalah ketenangan, kita harus tenang menghadapinya, semuanya akan indah pada akhirnya. Usman hanya angguk angguk kepala, terima apa yang dikatakan Haris, walau hatinya terang, saat ini sangat khawatir, sangat takut.


Satu jam, dua jam, tiga jam, lima jam sudah. Tapi keadaan tetap sama, lebih banyak hening dari pada bersuara, tapi tak ada satu orangpun yang memejamkan mata, semua duduk terpaku dengan pikiran masing masing. Farhan terus memperhatikan Usman yang tampak kasak kusuk, tapi Farhan mau bilang apa, menunggu kelahiran memang begini, semua juga begitu.


Tepat pukul 01.00 WIB Faridha setengah berlari memanggil Usman, Usman langsung bergegas masuk, proses terberat sedang berlangsung, Risda dan Natalia bersama Usman terus memberikan semangat, Bidan juga melakukan hal yang sama, Faridha hanya bersandar di dinding, terus memperhatikan, jantungnya ikut turun naik bersamaan dengan erangan Nadia yang semakin kuat.


"Dorong terus Cut, dorong terus, iya .. lanjut, teruskan". Bidan terus memberi semangat. "Jangan berhenti Cut, jangan di jeda".


Nadia mendorong sekuat tenaga dan terkulai, tapi satu sosok mungil sekarang sudah ada di tangan bidan yang senyum merekah. Risda dan Natalia juga mengembangkan senyum, Faridha hingga mengelus dada, Usman bahkan sudah menitikkan air mata, Nadia tersenyum lemah saat Risda mengecup pipinya.


Suara tangisan bayi juga melegakan Haris, Asrul dan Farhan yang berada diluar, ketiganya saling berbalas senyum, itu artinya Nadia sudah melewati semuanya, Nadia sudah menjadi ibu yang sempurna. Farhan tak tahan, ia masuk ruangan, memeluk Nadia yang masih tertidur, dua tangan Nadia spontan merangkul Farhan dengan erat, Nadia sekarang menangis.


Nadia sangat terharu, awalnya ia menyangka akan menghadapi ini hanya berdua dengan suaminya, keluarga tentu tak ada, mereka berada jauh disana, sedang keluarga mertuanya sedang liburan ke Danau Toba, tapi ternyata Nadia di dampingi banyak saudara, bahkan semua sama dengan Nadia, tak ada yang memejamkan mata, tak ada yang tidur, semua sama sama terjaga.


Farhan tetap tersenyum walau matanya juga sudah berlinang. Semua memandang ke arah Usman yang menggendong anaknya karena sudah selesai di iqamahkan, Usman membawanya ke Nadia, ibu muda ini tampak senyum merekah, meninggikan cara tidurnya dibantu Risda dan Natalia agar bisa menggendong putrinya.


Risda mencolek pipi sang bayi. "Aih, cantik seperti ibunya, jadi pingin".


"Buatlah". Asrul spontan jawab.


Risda mendelik, tubuhnya ia senggolkan ke Asrul, membuat semuanya sama tertawa, termasuk Nadia. Hati Nadia memang sudah berbunga bunga, pertama kali melihat wajah anak yang dikandungnya selama sembilan bulan ini ternyata melahirkan banyak kesenangan, Nadia sama sekali sudah lupa rasa sakitnya.


Sampai pagi menjelang, belum ada yang beranjak tidur. Resmi semalam suntuk semuanya sama sama terjaga, sekarang hanya mempersiapkan Nadia untuk di bawa pulang, setengah jam berikutnya, semua sudah berada di rumah kediaman Usman di Aek Parombunan.


Usman melakukan video call pada ayahnya yang langsung diangkat, ayah dan ibu Usman yang sedang liburan langsung memutuskan pulang pagi ini juga, keduanya langsung tak sabar mendengar cucunya sudah lahir, bahkan adik adik Usman sudah langsung berkemas kemas.


"Hai .. Tulang".


Fadli terkejut melihat wajah Farhan. "Eh Kau Far, ngapain disitu ?".


Farhan tertawa. "Tulang nya, ngapain pergi lama lama".


"Hei, kau jangan pulang dulu Far, serius ini, Tulang mau jumpa, okey ?".


"Ogah ah, Farhan mau pulang sekarang". Farhan memanasi Fadli.


"Pulang lah, biar tulang rudal pesawatmu".


Farhan langsung ngekeh. “Juragan ikan mana punya rudal, bom ikan iya”.


Fadli ikut ngekeh, Fadli memang pamannya yang paling suka bergurau, sehingga Farhan suka memanasinya. Fadli juga suka memulai, sehingga selalu saja seru jika mereka berkomunikasi.


Fadli yang kembali mendelik saat layar ponsel mengarah ke Asrul yang melambaikan tangan, kemudian ke Risda yang juga melambai, bahkan dengan kedua tangannya, Fadli semakin sumringah, senyumnya mengembang sempurna.


"Sialan. Kok nggak ngomong ngomong ente semua pada datang ?".


Farhan kembali terkekeh. "Yang rusuh itu Tulang".


"Rusuh apanya ?, Enak saja, ente yang rusuh, datang nggak ngomong ngomong".


"Ngapain Tulang liburan".


"Liburan, ya Liburan. Kok di tanya ngapain. Tapi kan, kalau Farhan ngomong mau datang, Tulang kan nggak pergi lah. Siapa yang salah ?".


"Iya sih, yang ada kan anak durhaka, mana pula ada Tulang durhaka".


Fadli terkekeh. "Sudah Far, banyak kali ceritamu. Tulang langsung pulang ini".


Farhan hanya anggukkan kepala, telephon mati. Faridha yang dari tadi mendengar, geleng kepala saja, baru kali ini Faridha melihat ada keponakan yang asal ngomong sama tulangnya, ada tulang yang asal ngomong sama keponakannya, tapi muaranya lucu, dan itu sebagai bukti nyata kalau mereka memang sangat dekat.


Menit berikutnya semua sudah tak lagi sadar, termasuk Usman. Yang laki laki semuanya sudah terlentang di ruang tengah, sama sama tertidur di depan televisi yang masih menyala, yang perempuan juga sama sama tertidur di kamar, Nadia juga sudah tertidur, hanya Indri yang terbangun, sepupu jauh Nadia yang sudah tinggal bersama mereka satu tahun terakhir, saat Indri masuk SMP.

__ADS_1


…. Bersambung …


__ADS_2