
Sudah sekuat tenaga Natalia menahan agar air matanya tak mengalir, tapi Natalia tak mampu, sudut bibirnya bergetar dan sudut matanya mengalir air bening yang cukup deras. Natalia tak punya kekuatan yang cukup untuk terus menahan diri dari rasa sedih yang menguasai bathinnya.
“Mama kok nangis sih ?”.
Natalia menggeleng. “Tidak Ris, mama tidak nangis”.
“Apa ?.. itu ?”.
Natalia menyapu sudut matanya dan berusaha tersenyum. Natalia tak menyangka Risda bisa sekuat itu, tak ada tampak rasa sedih yang menguasai wajahnya, padahal ia akan pergi sangat jauh meninggalkan ibu kandungnya.
Tapi, Natalia sesungguhnya menyimpan rasa bangga, pada sisi lain Natalia senang berkesan bahagia kalau Risda tumbuh menjadi gadis tegar, kuat, berprinsip dan mandiri. Itu adalah harapan Natalia sejak Risda lahir 21 tahun yang lalu.
“Kami berangkat Ma”.
Natalia anggukkan kepala. “Hati Hati Ris”.
Natalia memeluk Risda dan membelai pundaknya. Natalia juga melakukan hal yang sama, pelukan kemudian terlepas, Risda tampak mantap menaiki kapal motor yang cukup besar itu dan menghilang dikerumunan penumpang lainnya. Risda tak tampak menoleh kebelakang sama sekali.
Natalia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Suara terompet kapal yang meraung seakan mengetuk ngetuk jantung Natalia, air matanya kembali mengalir, rasa sedih yang cukup dalam menyusup jauh kedalam hatinya, meremas remas jantungnya hingga dada Natalia terasa sesak dan panas.
Baru setelah kapal yang mambawa Risda dan kawan kawannya sudah cukup kecil dan mulai menghilang dari pandangan Natalia melangkahkan kakinya menuju parkir dan masuk mobil.
Natalia sudah menghidupkan mobilnya, tapi sama sekali belum bergerak, mata Natalia masih berusa mencari cari kapal yang membawa putri semata wayangnya, tapi memang tak lagi ada. Kapal itu sudah benar benar hilang, lenyap dibalik pulau.
Natalia akhirnya beranjak dari pelabuhan dan menuju rumahnya yang cukup jauh dari pelabuhan. Sepanjang jalan Natalia terus membayangkan anak gadisnya Risda yang mantap memilih mengikuti program menjadi guru di daerah tertinggal, terluar dan terbelakang.
__ADS_1
Itu memang program pemerintah yang harus diikuti oleh semua sarjana pendidikan sebelum benar benar menjadi guru. Satu sisi Natalia merasa menyesal membiarkan putrinya memilih FKIP, tapi alasan Risda setelah tamat SMA tak dapat dibantah Natalia, apalagi dia juga alumni FKIP, ayah Risda juga alumni FKIP, Natalia juga saat ini seorang guru.
Sama dengan Ayah Risda sebelum kepergiannya meninggalkan Jakarta dulu, juga seorang guru. Walau Natalia juga tak tahu saat ini Haris, Ayah Risda kerja apa dan tinggal dimana. Ini juga menjadi PR besar dalam kehidupan Natalia, ia punya janji dengan mendiang ibunya, terus mencari keberdaan Haris, ayah dari putrinya, yang juga abang kandung satu satunya.
Natalia membuka pintu rumahnya, duduk dikursi depan dan kembali menangis. Natalia merasa sedih karena sejak hari ini ia akan tinggal sendiri dirumah ini, tanpa teman. Ibunya, nenek Risda meninggalkan mereka sejak Risda masih duduk di kelas XI SMA.
Natalia dulunya berharap Ayahnya bisa pindah ke Jakarta untuk tinggal bersamanya, tapi harapan itu tak ada, Kakek Risda terus bergulat dengan sakitnya hingga pergi untuk selamanya meninggalkan Natalia dalam duka.
Setelah mendengar Kakek Risda meninggal, Nenek Risda lebih banyak merenung dan sakit sakitan, puncaknya Ireth juga meninggalkan dunia selamanya, hanya berjarak 6 bulan setelah kepergian Pram.
Natalia tinggal berdua dengan putri semata wayangnya, dan kemudian Risda juga memilih pergi. Kini Natalia betul betul sendiri, air matanya terus mengalir deras dan semakin pilu saat mengingat Ayah Risda yang pergi meninggalkan mereka sejak Risda masih dalam kandungan.
Dikapal Motor menuju Kalimantan.
Risda tertunduk dan terisak. Tak ada gerakan tangan Risda untuk berusaha menghapus air matanya. Risda membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya. Risda seakan menumpahkan semua yang tadi ia tahan sekuat tenaga, tak ada lagi mama didepannya, tak ada lagi wanita hebat yang tak mau diusiknya.
“Jadi.. tadi kamu tegar cuma sandiwara toh..”. Asrul ngomong juga.
Risda tak menjawab, melirik Asrul juga tidak. Tapi apa yang dikatakan Asrul memang benar, Risda sejujurnya hanya berlakon tegar didepan Mamanya, Risda tak mau larut dengan kesedihan sama dengan Mamanya, walau Risda sesungguhnya sangat sedih, tapi itu ia simpan dalam dalam, tak mau menunjukkan pada Mamanya, pilihan inipun Risda ambil setelah melakukan pertimbangan matang yang lumayan panjang.
“Kenapa didepan Ibumu kamu tampak kuat Ris ?”.
Risda akhirnya melirik kearah Wiwik. “Aku tak mau menambah rasa sedih Mama Wik”.
Wiwik dan Asrul kembali saling pandang. Ada rasa heran, ada rasa kasihan, ada juga rasa penasaran yang membuat Wiwik dan Asrul sekali lagi saling pandang, sama anggukkan kepala, sama angkat bahu dan juga sama sama geleng kepala. Hal yang diperlihatkan Risda wajar membuat teman temannya bertanya-tanya, Risda penuh senyum didepan mamanya, tapi terisyak isyak diatas kapal.
__ADS_1
Wiwik juga menemukan air mata ibunya tadi, tapi sama, Wiwik juga tak mampu menahan air matanya yang langsung turun mengucur. Wiwik cukup puas menangis didepan ibunya, Wiwik memang sedih, ya sedih aja. Lagipula siapa juga yang nggak sedih harus berpisah jauh dari keluarganya.
“Kalau kamu tak kuat, kenapa memilih ikut ?.. kamu kan …”.
Risda meremas jari sendiri. “Jika aku punya pilihan lain, aku akan memilihnya Wik”.
“Maksudnya apa sih ?”.
Risda akhirnya menyeka sudut matanya dengan saputangan yang diberikan Asrul padanya. Risda tahu ini memang pilihan berat, tapi untuk masa depan yang lebih baik, pilihan ini yang paling tepat.
“Tapi Wik, untuk masa depan kita yang lebih baik dan lebih pasti, apakah ada pilihan yang lebih baik dari ini ?”.
Wiwik tak punya jawaban, demikian juga Asrul yang hanya dapat angguk angguk kepala. Begitu juga dengan lima teman mereka yang lain yang juga sudah mendekat mengelilingi Risda.
Apa yang dikatakan Risda memang tepat, untuk masa depan yang lebih baik memang langkah mereka ini adalah langkah yang paling tepat, menjadi guru di daerah yang jauh untuk mendapatkan pengalaman dan pengakuan profesi guru.
Sesungguhnya apa yang dirasakan Risda berbanding lurus dengan apa yang dirasakan Wiwik. Sejujurnya, pengabdian yang akan dilakoni dengan mengajar didaerah yang tertinggal adalah bonus yang bakal didapat dengan kemungkinan terbentuknya pengalaman, tujuan yang sesungguhnya sama, menggapai dan memastikan adanya pengakuan sebagai seorang guru.
“Wik.. kita tidak datang dari keluarga yang mapan atau kaya, tanpa punya pengalaman dan pengakuan. Kita bisa apa Wik, kita bukan Aruan, Reshi atau Arman. Kita tak punya peluang semungkin mereka”.
Wiwik buang nafas berat. Apa yang dikatakan Risda sangat benar, jika Aruan, Reshi atau Arman tak mau ikut program Kegiatan Mengajar di daerah terluar, tertinggal dan terbelakang rasanya wajar karena mereka punya banyak hal yang dapat mereka andalkan, khususnya masalah ekonomi.
Mereka pada dasarnya memilih ikut dalam program ini adalah upaya nyata untuk mendapatkan pengakuan, satu upaya untuk mendapatkan predikat dan sertifikat sebagai seorang guru.
Pengabdian dan pemberdayaan masyarakat pedalaman pada dasarnya adalah imbas dari keinginan yang pertama, benar ingin mengabdi itu sangat besar, ingin berbagi dan memberi arti adalah harapan semua orang, teori itu takkan terbantahkan oleh siapapun, sama dengan isi pikiran Risda, Wiwik, Asrul dan kawan kawan mereka yang lain.
__ADS_1
... BERSAMBUNG ...