
Ayah Haris tertunduk, matanya ia katup lumayan kuat. Ya, dulu dia harus jauh jauh sampai ke Medan, jauh dari tempat mereka tinggal hanya untuk sebuah pengakuan jika mereka resmi menjadi suami istri. Dikota Sibolga tidak ada lembaga yang dapat melegalkan hubungan mereka, para pemuka agama baik yang Islam maupun yang Kristen tak ada yang siap, sementara tawaran untuk mengalah salah satu dari mereka menemui jalan buntu, sementara niat untuk hidup bersama sudah sangat bulat, dan tak seorangpun yang dapat menghalanginya.
Berdua mereka pergi ke Medan, disana, di Kantor Catatan Sipil merekapun resmi menjadi Suami Istri. Saat itu Pram dan Ireth sangat bahagia, mereka habiskan malam pertama di Bukit Lawang, kemudian berjalan-jalan ke Danau Toba. Hampir seminggu barulah mereka kembali ke Sibolga. Pram dan Ireth tidak begitu peduli dengan ketidak senangan orang tua keduanya, tak ada satu orang tuapun yang menerima mereka, baik orang Tua Pram, maupun orang tua Ireth, tapi karena Pram sudah bekerja dan penghasilannya lumayan, mereka langsung ngontrak rumah dan tinggal diinti kota Sibolga. Hingga setahun kemudian Haris lahir, ingin mengambil hati ayah dan mertuanya Pram menamai anaknya Arianda. Ari diambil dari nama ayahnya Arisman, sedang Anda diambil dari nama ibu mertuanya Vandalena.
Teori Pram lumayan jitu, sejak kelahiran Haris, baik ibunya maupun ibu mertuanya mau mengunjungi rumah mereka, walau jelas ketahuan alasannya adalah Haris, cucu mereka. Tapi itu sudah cukup bagi Pram dan Ireth. Cucu memang sering menjadi pengobat sakit hati yang paling ampuh, cucu dapat merobah semua suasana yang runyam dalam hubungan kekeluargaan. Dan Haris, kelahiran Haris menjadi hal yang amat menggembiran Pram dan Ireth, menjadi belahan jiwa yang sangat berkilauan dan tak terhitung banyak mutiaranya.
Petaka itu muncul saat tahun kedua bagi Haris, sindiran dari para tetangga yang terus dari awal perkawinan mereka terus tak pernah surut. Pasangan tak resmilah, rumah tangga celakalah, hingga rumah penghuni neraka, puncaknya Haris yang dipanggil anak haram. Tapi itu tidak menjadi halangan bagi Pram dan Ireth, mereka tetap rukun hingga Ireth hamil untuk yang kedua kalinya. Kehamilan itu hanya sebentar menghantar gembira, masuk bulan ke 4, Pram dipecat dari kantornya hanya karena fitnah yang dilontarkan anak buahnya, dan itu semakin dipicu dengan Pram yang beristrikan orang yang bukan seagama dengannya.
“ Sangat aneh kalau Bapak tetap percaya dia “.
“ Memang kenapa ?”.
Arfan tepuk jidat. “ Dia itu aneh Pak “.
“ Anehnya.. “.
“ Masa Bapak ngga’ Paham “.
“ Banyak yang begitu Kok, artis juga sering begitu “.
Arfan geleng kepala. “ Ini Sibolga Pak, bukan Jakarta “.
Arfan keluar ruangan bosnya, Pram yang nguping dari ruang sebelah hanya bisa urut dada. Pram sangat terkejut ketika Mitha asisten Bosnya datang memanggil.
“ Bang Pram. Dipanggal Bos “.
Pram hanya anggukkan kepala dan langsung beranjak menuju ruang kerja bosnya. Pram sangat kecewa dengan cibiran Arfan yang kebetulan berselisih langkah dengannya. Pram berusaha tersenyum dan meneruskan langkahnya, walau hati Pram cukup sakit, apalagi Arfan dulu masuk ke Perusahaan ini atas rekomendasi dari Pram sendiri.
“ Bapak manggil Saya “.
“ Silahkan duduk Pram “.
__ADS_1
Bos Pram tampak resah, berkali kali ia menghusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pram sudah mendapat gelagat buruk, tapi Pram tetap berusaha tenang dan terus memaksakan senyumnya.
“ Aku terpaksa Pram “.
“ Maksud Bapak ?”.
“ Demi kenyamanan di kantor ini… “. Bos Pram kembali buang nafas berat, berat sekali malah. “ Aku minta pengertian kamu Pram “.
“ Maksud Bapak ?”.
“ Sebaiknya kamu mundur Pram “.
“ Tapi..”. Pram kecut. “ Salah saya apa Pak ?”.
“ Sulit Pram. Tapi aku pikir itulah yang terbaik, Aku mohon kamu paham dengan semua ini “.
Pram hanya geleng kepala, sepuluh kali Pram bicara, setengah mati menyakinkan bosnya bahwa itu tak ada, tapi bosnya sudah termakan fitnah, semua udah begitu keras.
“ Aku menyesal dengan semua ini Pram, tapi aku tak bisa berbuat banyak, aku minta maaf tentang itu “.
“ Maafkan aku Pram, tapi.. aku tak bisa berbuat banyak “.
“ Tapi.. Tapi.. yang punya perusahaan ini kan Bapak “.
“ Benar.. itu benar. Masalahnya, aku milih yang banyak atau satu orang “.
“ Tapi Pak “.
“ Sekali lagi, Maafkan Aku Pram, aku tak bisa… “.
Pram tak lagi merasa perlu bicara. Pram meraih kertas dan balpoint yang ada dikantongnya, dengan tangan bergetar Pram menulis surat pengunduran diri dan Prampun lepas dari pekerjaannya.
__ADS_1
Kehidupan mereka drastis berubah, baru satu bulan Pram menganggur, rumah mereka sudah kosong, tak ada beras, tak ada lauk pauk, tak ada rempah rempah, tak ada apa-apa. Itu yang kemudian membawa Pram dan Ireth pindah kekampung Ireth yang tak seberapa jauh dari kota, Tukka.
Kehidupan di Tukka tak ada perubahan, bahkan semakin runyam saja. Dan keluarga Ireth bahkan ambil kesempatan untuk terus menekan Ireth, Ireth yang sudah mulai tak tahan akhirnya terbawa arus keluarga dan terus menekan Pram, mereka terus membuat setuasi yang menjadikan Pram tersudut, dan adat menjadi senjata utamanya, puncaknya Pram ditawarkan hal yang makin tak masuk akal, bila mau baru akan diberi pekerjaan. Jangankan Pram, Ireth sendiri tak sepakat dengan ide yang kurang fair itu.
“ Ayah harap kamu paham Ret “.
Ireth tetap tak bersuara, demikian juga dengan Pram, rasanya tak ada yang perlu dijawab, Pram tahu dan paham apa yang dimaksud oleh ayah mertuanya. Yang paling sial adalah tak ada satu orangpun yang berusaha memberi kata kata yang membantu Pram walau hanya sekedar basa basi, sedang Ireth yang diharapkanpun tak juga bersuara.
“ Kita Orang Batak.. bukan pesisir, Mestinya kamu paham itu, ayah ingin kamu tahu sedikit tentang adat, tidak seperti dia “.
Pram bagai disambar petir. Ekor mata ayah mertuanya jelas mengarah padanya. Pram tak paham dengan semua prihal adat. Lagian itu semua hanya sebuah seremonial bagi Pram walau akhirnya Pram sadar kalau ternyata adat itu begitu sakral dan penting, bahkan mampu membawa petaka jika tak diikuti dengan baik.
“ Kita orang batak.. belajarlah membangun harga diri “.
Ireth semakin menunduk, Pram juga tak tahu mau bilang apa lagi. Setelah mendengus cukup keras, ayah mertua Pram berdiri dan melangkah jauh. Tak lama, hanya berjarak detik, yang lainnya juga angkat kaki dan sama mendengus. Pram buang nafas berat, ia raih tangan istrinya Ireth dan menggenggam jemarinya perlahan, Pram merasa dadanya bagai terbakar saat menemukan tangan istrinya yang bergetar dan berkeringat dingin.
Pram mendekat, memeluk bahu istrinya. “ Maaf Ma.. “.
“ Papa Ngga’ salah “.
“ Papa Merasa begitu Ma “.
Ireth gelengkan kepala. “ Papa tidak salah. Nasib yang membuatnya jadi begini Pa, Papa harus sabar “.
Pram makin mempererat rangkulannya. Hanya dada Pram yang makin terguncang saat merasa bahunya ikut bergoncang lumayan kuat karena kepala istrinya yang sesunggukan bersandar disana. Pram tak tahu dosa apa yang telah dilakukannya. Pram juga tak tahu posisi adat yang dipahami ayah mertuanya. Sebagai orang Batak Pram memang punya kesalahan juga, Pram sama sekali tak paham dengan semua itu, apalagi selama ini Pram hanya sering melihat dan mengikuti adatnya orang pesisir, budaya yang lebih terbuka dan lebih ramah lingkungan, banyak pertimbangan yang amat sangat memudahkan orang orang. Pram melihat yang pakai adat pesisir itu juga rata rata orang batak semua, pemuka adatnya juga punya Marga Hutagalung, Nainggolan, dan Pasaribu, itu kan marga Batak ?, mereka memakai budaya pesisir dalam peraktek hidup mereka.
Pram berdiri. “ Papa keluar dulu Ma “.
Ireth angkat kepala. “ Papa kemana ?”.
“ Keluar sebentar “.
__ADS_1
Ireth kembali menunduk. Langkah kaki Pram langsung menuju keluar rumah, langkah Pram terasa tanpa tujuan. Pram terus saja melangkah dan akhirnya memilih duduk bergabung dengan bapak bapak muda dan beberapa anak lajang di Pos Kamling kampungnya yang tetap berisi penuh.
.... BERSAMBUNG ...