Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Pilihan Akan Selalu Tepat


__ADS_3

“Sebaiknya kita permisi Gung. Sudah sore ini”.


Agung tersenyum dan angkat bahu. “Mau kemana ini Ris ?”.


Haris tersenyum lebar. “Ke rumah, saya juga pingin ketemu Natalia”.


Agung anggukkan kepala. Benar juga memang, Haris harus kesana, karena Agung yakin jika Natalia juga merindukan Haris, sama seperti Haris yang tentu saja sudah begitu rindu pada adiknya Natalia.


“Pake mobilku saja Ris”. Agung menyerahkan kunci mobilnya.


Haris tertawa kecil. “Jadi kau besok pakai apa Gung ?”.


Agung kembali tersenyum tipis. “Masih ada yang lain”.


“Nggak usah lah Gung. Naik Taksi sajalah, di rumah juga ada mobil kan ?”.


Agung tertawa. “Atau mau coba make motor ?”.


Haris ikut tertawa. “Ide bagus, aku pakai motornya saja, biar cepat sampai dirumah”.


Agung hanya tertawa, merogoh kantongnya dan menyerahkan kunci motor ke tangan Haris. “Okeylah kalo begitu”.


Kebetulan Risda pakai celana panjang, hari ini tidak pakai rok seperti biasanya, sehingga makin memudahkan Risda ikut di boncengan Haris. Agung dan Ibu Asrul masih sempat lambaikan tangan, sementara Asrul hanya bisa


geleng kepala, Risda pergi begitu saja, permisi saja tidak.


Tapi Asrul bisa memahami, bagaimana isi hati dan perasaan Risda sekarang, ia baru tahu soal ayahnya dan bertemu. Risda tentu saja terlena sekarang, semua isi kepalanya hanya milik ayahnya, Asrul kemudian memilih tersenyum, ia saja begitu, walau tiap hari ketemu ayahnya, tapi juga punya rindu, bahkan setengah hari saja tak melihat ayahnya Asrul langsung bertanya tanya.


Bagaimana dengan Risda ?, ini pertemuan pertama sejak ia tahu kalau Pak Nas adalah ayahnya, tentu Risda pantas untuk tidak peduli apapun lagi, Asrul paham itu, ia tahu bagaimana perasaan wanita yang sangat ia cintai itu, sehingga tak masalah Risda seperti mengabaikannya, pergi begitu saja.


Sepanjang jalan Haris dan Risda tampak begitu bahagia, keduanya terus mengumbar tawa, Haris merasakan bahagia yang tiada terkira, sama dengan Risda yang merasa dunia bagai miliknya, apalagi Haris menuruti semua keinginan Risda.


Entah sudah berapa kantongan plastik yang berisi makanan yang bergantungan di motor, tapi tampaknya belum juga, bahkan disimpang menuju rumah mereka, Risda masih meminta ayahnya berhenti untuk membeli martabak.


“Ayah sukanya rasa apa Yah ?”.


Haris hanya angkat bahu. “Terserah, semuanya ayah mau”.


Risda hanya tertawa dan memesan dua porsi dengan rasa yang berbeda, Haris yang melihat banyaknya kantongan plastik sudah berpikir, apakah semua makanan ini bisa habis untuk mereka bertiga, rasanya sangat tak mungkin, itu terlalu banyak.


Tapi, ini perjalanan pertama Haris dengan putrinya, sehingga tak ada protes, tak ada pertanyaan, pokoknya semua yang di minta Risda Haris kabulkan seratus persen, Haris hanya ingin Risda senang, itu saja.

__ADS_1


Natalia terkejut saat membuka pintu, ia langsung berteriak memanggil abang dan berhamburan memeluk Haris yang juga langsung menyambut pelukan Natalia dengan erat setelah mengecup ubun ubun Natalia berulang kali.


Risda hanya begong, sedikit terdiam dan tampak sangat heran melihat tingkah ibunya. Ibunya berhamburan begitu saja, seluruh fokus hanya untuk ayahnya, yang juga abang kandung ibunya. Natalia bahkan tampak sedikit meronta melompat di pelukan Haris, Risda seakan tak ada.


Risda benar benar sangat terkejut melihatnya. Tapi kemudian Risda jadi tertawa lucu dan geleng kepala, demi Tuhan, baru kali ini Risda melihat ibunya segembira itu, belum pernah dalam sejarah hidup Risda ia melihat ibunya berteriak gembira sampai begitu rupa.


Haris memeluk bahu Risda dan Natalia saat memasuki rumah, kemudian ketiganya sama sama duduk di sofa panjang. Risda kembali bengong melihat ibunya yang terus bergelayut di lengan ayahnya, Risda benar benar bingung, tak menyangka jika ibunya ternyata semanja itu, Risda tak pernah lihat ini sebelumnya.


Risda berdiri. “Ayah mau teh atau kopi ?”.


Haris melirik dan tersenyum. “Kopi saja Ris”.


Risda anggukkan kepala. “Bentar Risda buatin”.


Risda langsung berlalu menuju dapur, tapi di pintu tengah Risda berhenti dan menoleh kebelakang, Risda kembali geleng geleng kepala melihat ibunya yang masih terus dengan sikapnya yang tadi, bermanja ria, seakan tak mau lepas dari samping Haris walau hanya sedetik saja.


Risda kembali menggeleng dan meneruskan langkahnya. Tapi ini memang terlihat aneh di mata Risda, ia baru sadar sekarang, ternyata itulah sifat asli ibunya, seorang wanita yang manja ternyata, pemandangan itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang Risda hadapi selama ini.


Risda sekarang jadi punya rasa kasihan melihat ibunya, ternyata selama ini ibunya memendam rasa, merubah gaya dan sikap sedemikian rupa, sehingga yang terlihat Risda adalah wanita mandiri yang tangguh, yang kuat, dan siap hadapi masalah apapun yang mengganggu.


Risda menghela nafas panjang, kini mengaku betapa hebat dan tangguhnya sang ibu selama ini, ia mampu menutupi semua sifat aslinya agar anaknya tak mengetahui apa yang sebenarnya yang menjadi isi kepalanya, ia mampu merubah dirinya sedemikian rupa, menanggalkan semua sikap aslinya.


Saat Risda kembali ke depan, gelengan kepala masih setia menemani Risda, ibunya masih seperti yang tadi, atau sama dengan apa yang dilakukan Risda saat di rumah Asrul, memeluk lengan Haris dan menyandarkan kepala di bahu Haris, Natalia tampak begitu mengekploitasi sikap manjanya.


Risda meletakkan kopi yang baru ia buat dan duduk di depan dua orang penting dalam hidupnya, dua orang yang membuat Risda ada di dunia, walau Risda kini merasa sangat aneh, aneh sekali malah, perasaan Risda jadi bercampur aduk.


Risda benar benar menjadi resah, masih bingung dan benar benar merasa aneh dengan dirinya sendiri, bagaimana dua orang yang memang harus ia panggil ayah dan ibu, adalah dua orang kakak beradik kandung, Risda benar benar resah.


Akhirnya Risda ambil inisiatif, matanya tak bisa berlama lama melihat ibunya yang terus bergelanyut manja pada ayahnya, Risda berdiri, meminta ibunya bergeser dan Risda langsung duduk diantara keduanya, dada Risda berdesir hebat, saat keduanya secara bersamaan mencium pipi kiri dan kanan Risda.


“Jadi benaran kamu mau nikah sama Asrul Ris ?”.


Risda agak terkejut, melirik ibunya sebentar dan tersenyum. “Mama suka ?”.


Natalia anggukkan kepala. “Mama memang suka sama Asrul, dia anak baik, dan mama yakin, dia juga akan menjadi suami yang baik”.


“Kenapa mama yakin ?”.


Natalia tertawa kecil. “Kayaknya bukan hanya mama yang yakin Ris, kamu juga”.


Risda akhirnya tertawa kecil juga. “Mama tidak marah kalau untuk itu, Risda jadi ikut keyakinan Ayah ?”.

__ADS_1


Natalia senyum dan geleng kepala. “Pilihan akan selalu tepat Nak. Yang terpenting seberapa yakin kita dengan pilihan itu. Mama tidak keberatan jika itu memang yang menjadi pilihanmu”.


Bukan hanya Risda yang sumringah, Haris juga terdengar menghela nafas lega. Haris tak menyangka Natalia semudah itu menyetujui apa yang menjadi keputusan Risda, dengan begitu, Haris tak harus mengatakan apapun, tanpa ia minta, Natalia ternyata memilih setuju dengan keputusan Risda.


“Terima kasih Ma”.


Natalia mencium pipi Risda dengan gemas. “Berbahagialah Nak, Mama hanya ingin kamu bahagia, hanya itu, mama tak butuh yang lain”.


Kini air mata Risda yang langsung turun, Risda tertunduk, ia tahu bagaimana ibunya begitu keras berjuang membuatnya hingga menjadi sarjana, perjuangan yang Natalia lakukan bukan perjuangan yang kecil, ia mengorbankan semuanya, bahkan berhasil merubah sifatnya, itu luar biasa.


Haris memeluk bahu Risda dan mengguncangnya perlahan. Haris seperti paham apa yang sedang di rasakan putrinya. Kini Haris yang kembali menemukan rasa bersalah, tidak hanya terhadap Natalia, tapi juga terhadap Risda.


Jika selama ini Haris tidak mengedepankan rasa egoisnya, dapat dipastikan Natalia dan Risda tak akan menghadapi masa masa sulit selama dua puluh dua tahun. Haris yang  memiliki pendapatan yang cukup bahkan baru bisa menopang adiknya Natalia setelah lama dibelenggu kesederhanaan yang maha dahsyat.


“Maafkan Ayah yang terlampau egois. Sikap tercela ayah itulah yang membuat kamu dan ibumu hidup dalam kondisi yang bagini, Ayah minta maaf soal itu”.


Risda menghapus air matanya. Pandangan Risda kini bergantian ke wajah ayah dan ibunya. Risda tahu jika ayahnya measa bersalah karena meninggalkan Jakarta untuk menghindar dari mirisnya cerita hidup yang menimpanya waktu itu.


Risda kembali memandangi wajah keduanya dan tersenyum. “Semuanya sudah berlalu Yah. Sekarang saatnya kita melihat ke depan. Ayah tak perlu lagi membahas hal yang sudah lalu, itu sudah lama, tak perlu lagi kita ungkit ungkit segala”.


Haris mempererat rangkulannya, Haris begitu puas dengan jawaban putrinya, semua memang sudah terlanjur begitu, Haris sepakat dengan apa yang dikatakan Risda, yang terpenting sekarang adalah bagaimana membangun upaya agar kedepannya semua dapat berjalan membahagiakan.


“Sebetulnya bagaimana dengan jantung Risda”.


Haris dan Natalia saling pandang, jantung Natalia langsung berdegub kencang, ia tak menyangka Risda akan menanyakan itu. Karena selama ini, Natalia selalu berusaha menutup cerita itu pada Risda, Natalia yakin Harislah yang membukanya.


“Itu baru gejala, yang terpenting, pola makan di jaga, semuanya akan aman”.


Risda menggeleng. “Jadi, selama ini menu makanan yang mama buat bukan untuk berhemat Ma ?”.


Natalia terlebih dahulu menghela nafas baru kemudian menggeleng. “Itu yang dokter sarankan Ris, mama ikuti semuanya”.


Natalia akhirnya membuka cerita, Risda hanya bisa terus menggeleng mendengar cerita yang di sampaikan ibunya, walau ada yang membuat Risda cukup terkejut, utamanya soal kiriman ayahnya, tapi Risda lebih memilih diam, sadar jika dugaan yang selama ini ada dikepalanya tak satupun yang benar.


Kemudian yang tertinggal hanya tawa, ketiganya sekarang bierbincang dengan penuh ceria, ada banyak tawa yang terdengar, semua isi kantongan plastik yang tadi di beli sudah berserak di atas meja, dan dugaan Haris benar, jangankan semua, menghabiskan separuhnya saja ketiganya sama sekali tak mampu.


Mungkin sama sama letih, akhirnya ketiganya sama tertidur di bangku panjang, Haris yang terbangun, perlahan Haris mengangkat Natalia dan Risda bergantian menuju kamar, menidurkannya kembali dan memasangi keduanya selimut.


Haris lama berdiri di pintu kamar, matanya terus mengarah ke dua orang terpenting dalam hidupnya, dalam hati Haris kini berjanji, akan memenuhi apapun yang keduanya inginkan, hidup Haris sepenuhnya untuk keduanya, selamanya.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2