
Dokter Muhli terlebih dahulu bicara dengan Meeta sebelum melakukan pemeriksaan ala kadarnya pada Asrul. Risda langsung sumringah mendengar dokter Muhli yang mengatakan Asrul tak apa apa, Risda bahkan tanpa segan langsung memeluk dan mencium Asrul didepan semua orang.
Bahkan dokter Muhli ikut menggeleng, ada rasa terkejut juga melihat ulah Risda. Ada juga perhatian khusus, dokter Muhli tahu kalau sebenarnya Risda lah yang jadi targetnya pagi ini, dokter Muhli masih bertanya tanya bagaimana caranya beralih ke Risda, Muhli hanya menunggu momen itu, sehingga tak beranjak dari tempatnya.
Asrul duduk, menghela nafas. “Adek periksa juga kenapa dek ?, ini dokter spesialis jantung okey lho”.
Risda mengerutkan keningnya. “Kok jadi adek sih Bang ?”.
Asrul angkat bahu. “Ini kesempatan lho dek”. Asrul mendekat ketelinga Risda.”Adek kan ada gejala jantung, periksa saja, apa salahnya”.
Risda tampak memandang Asrul lekat, tapi kemudian merasa kalau apa yang dikatakan suaminya ada benarnya, apalagi Risda juga sudah lama tak melakukan pemeriksaan, sekarang sedang mengandung pula. Risda sering dengar kalau orang yang punya riwayat jantung punya resiko jika berbadan dua.
Risda kembali memandangi Asrul yang kembali anggukkan kepala, Risda masih pikir panjang, tapi rasanya tidaklah salah juga, Risda juga ingin tahu bagaimana kondisinya, ada kesempatan begini, apa salahnya, pikir Risda. Semuanya yang harap harap cemas langsung sumringah saat Risda anggukkan kepala.
Dokter Muhli langsung melakukan prosedur pemeriksaan yang lengkap, untungnya Risda seperti tak menyadari, padahal ada perbedaan yang besar antara pemeriksaan yang dilakukan ke Asrul dengan pemeriksaan yang dilakukan padanya, Risda sama sekali tak menyadari jika ini hanya sebuah strategi.
Semuanya keluar ruangan kecuali Asrul dan Meeta, keduanya tetap mendampingi Risda dalam pemeriksaan penuh yang dilakukan dokter Muhli, jantung keduanya sangat tidak tenang, tapi hanya bisa menonton saat dokter Muhli di bantu tiga perawat wanita melakukan pemeriksaan terhadap Risda.
Hampir satu jam barulah pemeriksaan usai, sekarang Meeta dan Asrul harap harap cemas, keduanya langsung mengikuti langkah dokter Muhli, sedang Risda atas saran perawat masih tetap diatas ranjang pemeriksaan hingga dianggap sudah sangat tenang, membuat Risda tak ikut ke ruangan dokter Muhli.
“Bagaimana dok ?”. Meeta sudah tak sabar.
Muhli senyum tipis, tapi dengan gelengan kepala. “Resiko memang ada dok, sekecil apapun, itu tetap disebut resiko, jika tidak di manage dengan baik, tetap bisa menimbulkan hal buruk”.
“Maksud dokter ?”.
Muhli angkat bahu. “Ada resiko, tapi masih mungkin kita atasi”.
Meeta dan Asrul langsung lega, Asrul berulang kali menghusap wajahnya, bibirnya juga sudah komat kamit mengucapkan rasa syukur pada yang kuasa. Dokter Muhli yang tampak tenang membuat Asrul menjadi ikut tenang, walau jantungnya sama sekali belum bersahabat.
“Sebesar apa resikonya dok ?”. Asrul sudah bisa bertanya.
Muhli senyum tipis. “Tergantung bagaimana Bu Risda menghadapinya, bagaimana Pak Asrul mendampinginya, untuk saat ini, masih sederhana, hanya butuh pengetahuan dan kecepatan mengambil tindakan jika ada gejala”.
Asrul anggukkan kepala. “Artinya, Istri saya harus paham keadaannya dok ?”.
Dokter Muhli angguk kepala, kemudian memberikan penjelasan, menurut dokter Muhli, akibat penyakit jantung dalam kehamilan, terjadi peningkatan denyut jantung pada ibu hamil dan semakin lama jantung akan mengalami kelelahan. Akhirnya pengiriman oksigen dan zat makanan dari ibu ke janin melalui ari ari menjadi terganggu dan jumlah oksigen yang diterima janin semakin lama akan berkurang.
Janin mengalami gangguan pertumbuhan serta kekurangan oksigen. Sebagai akibat lanjut ibu hamil berpotensi mengalami keguguran dan kelahiran prematur (kelahiran sebelum cukup bulan). Terutama bila selama kehamilannya sang ibu tidak mendapat penanganan pemeriksaan kehamilan dan pengobatan dengan tepat.
Jika seorang ibu hamil menderita penyakit jantung, selain ibu hamil harus berada dalam pengawasan seorang dokter, sebaiknya memperhatikan beberapa hal, berusaha untuk relaksasi dan selalu berpikir positif agar jantung tetap memompa darah dengan lancar ke seluruh tubuh dan ke ari ari janin.
Istirahat yang cukup, minimal delapan jam pada malam hari, satu atau dua jam siang hari. Posisi tidur sebaiknya miring ke salah satu sisi tubuh agar peredaran darah dari ibu ke janin lancar. Hindari aktifitas yang melelahkan agar jantung tidak bertambah berat beban kerjanya, dan belajarlah untuk latihan pernafasan dengan benar. Hal ini penting sebagai proses adaptasi tubuh terhadap pembesaran perut yang semakin mendesak rongga dada (diafragma).
“Bahkan dalam keadaan normal tanpa kelainan jantungpun kadang beberapa ibu hamil juga mengeluh agak sesak nafas akibat semakin membesarnya rahim, dan itu normal saja Pak Asrul”. Jelas dokter Muhli. “ Yang penting, Pak Asrul perhatikan setiap perubahan atau keluhan yang terasa lebih berat dari biasanya, misalnya sesak nafas, nyeri dada atau dada berdebar debar lebih cepat, pusing dan mudah pingsan. Dalam keadaan seperti ini segera periksa ke dokter”. Lanjut dokter Muhli.
Kemudian, lebih jauh dokter Muhli mengatakan, teratur minum obat jantung yang diresepkan dokter dan diimbangi dengan diet khusus penderita jantungMenjaga agar tidak mengalami infeksi saluran pernafasan, Minum suplemen zat besi secara teratur sesuai anjuran bidan atau dokter untuk mencegah anemia selama kehamilan berlangsung.
Mengkonsumsi makanan bergisi terutama yang mengandung zat besi dan asam folat. Yakni sayur mayur berwarna hijau gelap. Menghindari minuman berkafein, kopi dan minuman beralkohol Menghindari nikotin (rokok).
“Dan yang terpenting, menjaga kebersihan diri selama hamil, terutama kebersihan alat kelamin agar tidak terjadi infeksi saluran kencing. Kontrol kehamilan sesuai jadwal yang telah ditentukan dokter”. Tutup dokter Muhli.
“Jadi, menantu saya aman kan dok ?”.
Muhli anggukkan kepala. “Mudah mudahan dok, Insha Allah”.
Meeta tampak lega. “Alhamdulillah kalo begitu dok”.
__ADS_1
Muhli senyum lebar. “Yang penting itu tadi dok, ikuti semua itu. Selama Bu Risda bisa ikuti, Pak Asrul terus kontrol, mudah mudahan bisa berjalan aman, jangan di pandang mudah dan menunda”.
“Maksudnya dok ?”. Kejar Asrul.
Muhli kembali tersenyum. “Maksudnya, Bu Risda maupun Pak Asrul jangan pernah menggunakan kata nanti, sebentar, tahan dulu, sabar sedikit dan kata lain yang menggambarkan penundaan. Tak ada kata tunggu, jika ada gejala, langsung ke dokter, tak ada penundaan”.
Asrul dan Meeta sama sama anggukkan kepala. Asrul tentu siap sekali dengan semua petunjuk dokter Muhli, Asrul akan selalu siap jika ada kendala, Asrul berjanji tidak akan ada penundaan, gerak cepat. Meeta juga memberikan janji yang sama, akan selalu sigap untuk memperhatikan menantunya.
“Terima kasih dok”.
Muhli kembali senyum lebar, Meeta dan Asrul sama sama berdiri, dan keduanya sama sama terkejut saat mendapati Risda yang sedang berdiri di pintu. Meeta awalnya begitu gugup, tapi kemudian sumringah saat mendapati senyum Risda yang mengembang sempurna.
“Tadi Risda dengar yang di katakan dokter ?”.
Risda anggukkan kepala. “Dengar Ma, Insha Allah Risda siap ikut”.
Meeta mengelus pipi menantunya. “Jangan pernah tutupi apapun ya sayang. Kita akan hadapi sama sama, Risda ibunya, kan Mama neneknya”.
Risda tersenyum lebar, Asrul sangat lega. Ketiganya sama sama keluar ruangan. Yang menunggu di luar merasa tak perlu bertanya, melihat senyum ketiganya yang mengembang sempurna, semua merasa yakin kalau Risda dalam posisi yang aman, posisi yang di idamkan semua anggota keluarga.
Asrul pulang dengan perasaan yang begitu lega, tampaknya yang lain juga mengalami hal yang sama, semuanya sudah kembali ke aktivitas masing masing, dari rumah sakit, Asrul langsung mengantar Risda ke sekolah tempatnya mengajar dan Asrul juga melanjutkan perjalanan menuju kampus, semuanya nyaman, karena hanya Tomy yang menjadi terlambat masuk kuliah.
Baru saja keluar dari ruang kuliah ponsel Farhan berdering, buru buru Farhan angkat walau ia tak kenal nomor yang memanggilnya, pikiran Farhan tak banyak, ia hanya ingin semua info penting dapat cepat di tangkap olehnya, sehingga walau dari nomor yang ia tidak kenal Farhan tetap meresponnya.
“Ini kamu kan Far ?”.
“Iya, iya. Saya Farhan Bu, ada apa Bu ?”.
“Ini Ibu Olivia Far”.
Farhan cukup terkejut. “Bu Via, ada apa Bu ?”.
Jantung Farhan langsung bergemuruh.”Kak Risda kenapa Bu Via ?”.
“Risda pingsan Far. Ada tabrakan di depan tadi, Risda terkejut”.
Farhan langsung gugup. “Iya, Iya Bu Via. Farhan kesana sekarang”.
Farhan langsung menutup ponselnya, berlari menuju parkiran dan tancap gas menuju sekolah tempat Risda mengajar, di tengah perjalanan, Farhan sudah menghubungi pihak rumah sakit agar mengirim ambulan dan juga meminta Tomy segera ke sekolah Risda mengajar.
Farhan baru sampai dan sedikit lega melihat Tomy sudah berdiri di pos jaga, Farhan berhenti disana, serahkan kunci ke Tomy. “Tom. Ke kampus Bang Asrul, bawa dia langsung ke rumah sakit”.
Tomy mengerutkan keningnya. “Kakak Ipar ?”.
“Sebentar lagi ambulance datang”.
Tomy tak menjawab lagi, langsung menuju mobil dan sedikit melaju menuju kampus Asrul, hanya berjarak detik, ambulance memasuki komplek sekolah, Farhan berlari menuju UKS, petugas ambulan langsung mengeluarkan ranjang dorong, Farhan angkat tubuh Risda dan meletakkannya ke ranjang dorong.
“Permisi Bapak Ibu, Terima kasih sebelumnya. Bu Via, Farhan bergerak”.
Olivia anggukkan kepala. “Kasih kabar ya Far”.
Farhan anggukkan kepala. “Iya Bu Via, nanti Farhan beri khabar”.
Ambulance melaju kencang, di teras rumah sakit Meeta, Mutia dan Reni sudah mondar mandir, dokter Muhli juga sudah menyiapkan semuanya dan menunggu di ruang khusus, begitu ambulan sampai, petugas bersama Farhan langsung mendorong Risda menuju ruangan, dokter Muhli sudah siap dan langsung melakukan prosedur pemeriksaan.
Hampir satu jam barulah pemeriksaan selesai, dokter Laila juga sudah datang, ikut melakukan pemeriksaan juga. Keduanya sama menggeleng, membuat Meeta, Mutia, Reni dan Farhan jadi memucat. Farhan begitu takut dengan gelengan kepala kedua dokter itu, sehingga dengan cepat mengejar.
__ADS_1
“Kakak ipar saya bagaimana dok ?”.
Dokter Muhli merangkul bahu Farhan. “Itu hanya terkejut Far. Tapi, terlambat sedikit memang bisa fatal. Entahlah, riwayat jantung memang begitu, tidak bisa terkejut dalam frequensi yang tinggi”.
Farhan ikut menggeleng. “Keponakan saya dok ?”.
Dokter Muhli tersenyum tipis. “Mudah mudahan aman Far”.
Farhan dan yang lain cukup lega. “Kok Kakak bisa pingsan gitu dok ?, kata rekannya tadi, anak anak lagi kerja bakti, tiba tiba ada yang kecelakaan, suaranya cukup besar, tiba tiba kakak pingsan”.
“Kira kira begini Far. Jantung berfungsi untuk memompa darah melalui pembuluh darah serta arteri dan dibutuhkan tekanan tertentu untuk mempertahankan aliran darah. Jika jantung berdetak terlalu cepat atau lambat, tekanan darah tidak terjaga dengan baik. Akibatnya, aliran darah ke otak terganggu dan menyebabkan pingsan. Denyut jantung terlalu cepat jika lebih dari 150 denyut per menit dan terlalu lambat jika kurang dari 50 denyut per menit”. Jelas dokter Muhli.
“Kenapa kakak belum sadar dok ?”.
“Denyut jantungnya belum normal. Nggak apa apa, tenang saja, sebentar lagi Bu Risda akan sadar itu”.
Farhan anggukkan kepala, sedikit menjauh dari Risda yang sekarang di kelilingi Meeta, Mutia dan Reni. Asrul setengah berlari masuk ruangan, tapi langkahnya tertahan oleh hambatan tangan Farhan, Asrul bahkan mundur hingga mencapai dinding karena sekuat tenaga di dorong Farhan.
“Satu Jam. Lebih satu jam”. Farhan menunjuk jam di tangannya. “Ini yang di maksud tanpa penundaan”.
Asrul menggeleng. “Abang tadi ada masuk kelas Far”.
“Kelas ?, kelas apa ?”.
Asrul menunduk. “Iya, Iya, Abang salah, abang salah”.
“Bibir dokter Muhli belum kering, tapi abang sudah buat ulah”.
Farhan benar benar emosi, ia benar benar lupa kalau yang di depannya adalah abang tertuanya, tapi melihat kondisi kakak iparnya Farhan benar benar kalap. Dan Asrul juga pasrah dengan kemarahan Farhan, ini memang murni kesalahan Asrul, ia lupa dan tetap meneruskan kebiasaannya, menonaktifkan ponsel saat berada di ruang perkuliahan.
“Abang berhenti saja dari sana kalau memang aturannya begitu, masih banyak kampus lain, apa sih hebatnya ?”. Farhan masih berbesar suara.
Tomy menarik Farhan menjauh. “Itu abang kita lha Far, nggak boleh gitu”.
“Gua emosi Tom, gua nggak tahan. Gua nggak bisa .. “. Farhan malah menangis.
Tomy terdiam, Asrul semakin ciut. Asrul paham betapa besarnya rasa sayang Farhan pada kakak iparnya, itu yang membuat Farhan emosi tinggi, semua memang salah Asrul, salah besar, kenapa masih melakukan hal itu, mematikan ponsel. Padahal dokter Muhli sudah dengan tegas mengatakan, tidak ada penundaan.
Asrul akhirnya ikut menangis, Asrul memilih berdiri dan menuju tempat Risda yang masih terbaring lemah, bagaimana Asrul bisa tahu kalau ternyata Risda akan mengalami musibah sampai begini. Asrul sekarang mengharap agar Risda cepat sadar dan semua kejadian ini tak mengganggu keberadaan anak mereka, Asrul hanya bisa berharap itu sekarang.
Asrul mengelus kepala Risda.”Sadar dong sayang. Maafkan abang ya, maafkan abang, ini takkan terulang lagi”.
Asrul benar benar sesunggukan, Meeta, Mutia dan Reni mengalihkan pandangan sambil menghusap air bening yang mengalir dari sudut mata masing masing. Tomy sudah berhasil menarik Farhan keluar, kini keduanya sudah berada di ruangan Mutia, Tomy membiarkan Farhan meneruskan tangisannya.
Asrul hanya diam saat Ariana dan Agung muncul, Ariana hanya melihat kakaknya sebentar, kemudian sepuasnya memukuli Asrul dengan kedua tinjunya sambil berurai air mata, Asrul pasrah. Tadi ia di dorong Farhan, sekarang ia di pukuli Ariana, bagi Asrul bukanlah hal buruk untuk saat ini, karena memang semua salahnya, bahkan ia baru sampai setelah lebih 60 menit setelah Risda pingsan.
Ariana baru berhenti saat merasakan ada tarikan ke tangannya, Ariana berbalik dan langsung memeluk Risda yang sudah sadar. Kini malah Risda yang mengelus bahu Ariana memberikan ketenangan, Asrul mendekat dan memeluk keduanya secara bersamaan.
Hanya selang beberapa menit, Risda sudah bisa tersenyum, bingung mengapa sekarang ada di rumah sakit, Risda mengingat kebelakang dan menghela nafas, kejadian terakhir yang teringat olehnya ada tabrakan persis di depan matanya, dengan suara tubrukan yang sangat kuat.
Semuanya kembali lega, bahkan sudah beranjak pulang, Tomy yang bawa mobil, karena Farhan tampak belum tenang, Asrul ada di belakang bersama Risda dan Ariana, sedang Agung menggunakan mobil yang lain.
“Sekali lagi abang begitu, benaran Farhan tabok Bang, serius”. Ancam Farhan.
“Apa sih Far, dosa itu, kok mau main tabok”. Protes Risda.
Farhan menghela nafas.“Farhan benar benar kalap Kak, serius”.
__ADS_1
Risda hanya menggeleng, Asrul sama sekali tak punya nyali untuk menjawab, Asrul sadar dengan tindakannya yang salah, Asrul menerima dengan lapang dana emosi yang dimiliki Farhan. Sekarang Asrul sadar kalau adik adiknya sangat menyanyangi kakak ipar mereka, Asrul yang salah, Asrul berjanji, ini takkan terulang lagi.
…. Bersambung …