Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Menikmati Hidup, Bisakah ?


__ADS_3

Husain masuk ke kamarnya, merebahkan tubuh dengan segala pikiran yang masih belum tenang sama sekali, Husain hanya bisa mencoba menerima semua, nyatanya memang begitu, ibunya Farhan yang satu marga dengannya yang meminta, ia tak punya keberanian untuk menolaknya, itulah faktanya.


Faridha juga sudah berbaring, tapi sama sekali belum bisa memejamkan mata, ingatan Faridha justru pada ungkapan Risda yang memaksanya menghubungi Farhan malam ini juga. Ada banyak keraguan di hati Faridha, tapi kemudian merasa apa salahnya, tangan Faridha meraih ponselnya.


Sudah menemukan nomor Farhan, tapi jari Faridha tak juga menekan tombol panggil sama sekali, akhirnya Faridha beralih ke WA, menuliskan sesuatu di layar dan menghilangkan ragu dengan mengirimkannya ke Farhan. Mata Faridha tetap di layar, karena hanya ukuran detik, jelas terlihat, Farhan sedang menulis, artinya Farhan sedang menuliskan balasan chatnya.


Faridha tersenyum membaca balasan Farhan yang sudah seperti sedang berpuisi, tapi Faridha sekarang mulai bingung, nggak tahu mau jawab apa. Akhirnya, Faridha hanya mengatakan, selamat tidur Bang, mimpi indah, sudah malam. Dan Faridha kembali senyum, balasan Farhan hanya emot love saja. Tapi itu sudah cukup membuat Faridha sumringah senang.


Faridha cukup lama memandangi layar ponselnya, hingga status Farhan tak online lagi, baru Faridha meletakkan ponselnya dan memejamkan mata, malam sudah cukup larut dan Faridha juga cukup letih, sehingga tak butuh waktu yang lama, Faridha akhirnya terlelap juga.


Faridha tersentak saat mendengar suara adiknya Hasan yang menggedor pintu sudah dengan nada kesal. Faridha langsung melonjak saat melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 06.20 WIB, Faridha keluar kamar dan langsung menuju kamar mandi dengan terburu buru.


Faridha sama sekali tak peduli dengan omelan Hasan yang kini sudah dengan pakain seragam sekolahnya. Ini tentu saja membuat Hasan semakin geram, apalagi Faridha malah mengibaskan tangannya saat Hasan ingin meraihnya.


“Woi .. mana, biar duluan aku”.


Faridha menoleh sebentar. “Brisik”.


Hasan sudah sangat geram, tapi Faridha tetap masuk kamar mandi, dengan menggerutu Hasan dengan terpaksa menunggu, Hasan menunggu jajan sekolahnya, biasanya memang begitu, keuangan kan Faridha yang pegang, semua gaji ayahnya di serahkan ke Faridha, sehingga Faridha yang membagi jajan setiap pagi.


Ayah mereka Husain saat berangkat shalat subuh sekalian untuk berangkat kerja, bahkan sudah menjadi kode bagi semuanya, jika ayah mereka shalat subuh di rumah, 99% sang ayah mungkin tak berangkat kerja, lagi libur atau bagaimana, sehingga berangkat sekolah komando ada di Faridha.


“Kakak capek tu Dek, baru nyampe semalam. Sabar napa ?”. Irham mendekat.


Hasan masih geram. “Aku tugas apel Bang, mau cepat”.


Irham merogoh kantongnya. “Nih, kalau mau cepat juga. Biar abang yang tunggu kakak”. Irham serahkan uang yang diambil dari kantongnya.


Hasan langsung menyambar. “Dari tadi kek Bang”. Hasan langsung balik kanan.


“Woi … main terbang saja”.


Hasan berhenti, tertawa kecut. Kembali mendekat, menyalami Irham dan mencium tangannya, Hasan juga berteriak permisi ke kakaknya yang masih di kamar mandi, tapi tak ada jawaban. Hasan langsung melangkah pergi, Irham hanya menggeleng, begitu nakalpun Hasan, Irham begitu sangat menyanyangi adiknya itu.


Sebenarnya Irham juga sudah mulai resah, jam sudah menunjukkan pukul 07.05 WIB namun kakaknya belum muncul juga, Irham sudah ingin mengeluarkan buku PR nya, tapi tak jadi, kakaknya sudah muncul dengan seragam sekolah lengkap. Irham berdiri dan ikut langkah Faridha keluar rumah.


Pintu dikunci, kuncinya titip ke tetangga, Faridha membuka dompetnya dan memberikan dua kali dari yang biasa ke Irham, sang adik senyum saja, Faridha lakukan itu karena ia juga tadi dengar Irham memberikan uangnya pada Hasan. Si bungsu pergi saja, berarti yang diberikan Irham sesuai angka biasanya.


Irham meyalami Faridha dan beranjak pergi, arah mereka berbeda, Irham hampir setengah berlari karena waktu memang sudah mendesak, tapi Faridha tampak santai saja, ia sudah pasrah bakal terlambat, dikejarpun mungkin tak akan dapat lagi, Faridha memilih pasrah saja.

__ADS_1


Untungnya Faridha salah perhitungan, sampai di gerbang sekolah, semuanya tampak masih hilir mudik, seharusnya ini sudah jam apel pagi, tapi sepertinya tak ada aktivitas itu, ternyata semua sibuk menunggu pejabat dinas pendidikan, ada sedikit perayaan atas keberhasilan Faridha dan kawan kawan memenangkan debat.


“Telat Dha ?”.


Faridha menoleh, ada Lita. Faridha senyum kecut. “Kelamaan bangun aku Lit, nggak tahu kenapa, nggak biasanya”.


Lita tertawa kecil. “Ngobrol panjang sama si Babang ?”.


Faridha menggeleng. “Ngobrol apanya, Cuma chat saja kok”.


“Diminta kumpul ke kantor guru tuh, ayo”.


Faridha senyum dan anggukkan kepala, berjalan berdua menuju kantor guru, sampai disana Faridha langsung mendapat banyak ucapan selamat dari para gurunya, disana bahkan ada Ibu Kepala Sekolah, ia tampak sangat sumringah, memeluk Faridha dan Lita serta mendaratkan banyak ciuman di pipi keduanya.


Faridha terus mengembangkan senyuman, semua anggota tim debat sudah ada disana, termasuk juga pimpinan rombongan Aswin Siregar, guru mata pelajaran Bahasa Inggris ini sudah menceritakan semuanya, bagaimana timnya menjalani lomba debat tanpa beban, tapi rasa plong mereka itulah yang membawa mereka mampu mengimbangi tim yang lain.


Ada acara seremonial di halaman sekolah, para anggota tim lomba debat berdiri di depan bersama dengan para guru. Jika urusan yang begini, Parulian yang selalu maju ke depan, karena berbicara luwes dan banyak canda itu bagiannya Parulian, kalau yang lain, termasuk Faridha, akan menggambarkan keseriusan saja.


“Bayangkan Coy. Kawan kita Faridha, disana dia bukan hanya bawa kita jadi juara, dia yang paling keras kepala dalam debat, tuan rumah saja geleng kepala dia buat. Bahkan Coy, Faridha juga mengenalkan kita kepada seluruh keluarga tunangannya, tajir coy, kita di bawa makan enak, sip lah pokoknya”. Oceh Parulian.


Semua siswa tertawa lepas, malah ada lengkap dengan tepuk tangannya. Tapi Faridha mendelik dan menggeleng ke arah Parulian, Faridha berulang kali menghela nafas panjang sampai menghusap muka. Kesal melihat Parulian yang mengoceh hingga ke sana, untuk apa ?.


“Emang sayang ya, gadis termanis dan paling keras kepala ini ternyata sudah ada yang punya. Tapi enjoy Coy, tunanganya ganteng, sip”. Parulian acungkan jempolnya. “Bisa lima bahasa asing lagi, masih kelas XII SMA, itu juga menjadi satu lecutan bagi kita. Ada yang bisa komunikasi dengan dua bahasa Internasional ?”.


Semua siswa terdiam. Parulian angguk angguk kepala, kemudian terus mengoceh, tapi pada ujungnya memang memberikan motivasi kepada semuanya agar lebih intens dalam menguasai bahasa asing, karena itu penting untuk memastikan kita bisa bersaing, tidak hanya lokal, tidak sekedar nasional, tapi juga internasional.


Lita senyum senyum saja dari tadi, mengakui kalau Parulian memang jago dalam hal berkomunikasi dengan banyak orang, sesuatu yang Lita sendiri kurang yakin mampu menjalankannya, Lita bahkan mungkin hanya ngomong saja, untuk berinteraksi dengan banyak orang seperti yang dilakukan Parulian akan sangat sulit bagi Lita.


Tapi sampel yang diambil Parulian adalah hal pribadi Faridha, seharusnya tidak seperti itu, kenapa tidak cerita saja soal Farhan yang menjadi penyampai topik dan menjawab pertanyaan juri kehormatan dengan bahasa mereka, itu seharusnya cukup, tak usah mengaitkannya dengan status Faridha.


Acara selesai, begitu semuanya bubar, Faridha dan tim kembali ke ruang guru, sebentar lagi ada pejabat dinas pendidikan yang akan berkunjung, bahkan setelahnya bersama sang pejabat, tim akan bergerak ke beberapa lokasi yang sudah di atur sebelumnya.


Begitu Faridha duduk, Wali Kelasnya Bu Astria langsung mencolek. “Jadi kamu sudah tunangan Dha ?, sejak kapan ?”.


Faridha tersenyum tipis dan anggukkan kepala. “Belum lama Bu”.


Faridha memilih kata itu karena rasanya tak mungkin juga malah membeberkan cerita yang dialaminya ke semua guru. Menurut Faridha, biarlah mereka yang menerka apa saja sesuai dengan isi pikiran mereka. Faridha sendiri sama sekali tak tertarik menceritakan itu, tapi ulah Parulian membuat semuanya tahu.


“Paribanmu Dha ?”. Masih Astria.

__ADS_1


Faridha anggukkan kepala lagi. “Iya Bu, anak kakak sepupu ayah”.


Astria ikut anggukkan kepala. “Kalau semua sudah setuju, nggak masalah sih Dha. Tapi Ibu rasa, kamu harus hati hati juga, status tunangan, jarang ketemu, sekali ketemu bisa bahaya itu”.


Faridha menggeleng. “Ibu ada ada saja”.


Astria tertawa kecil. “Ibu Cuma ingatkan saja Dha”.


Faridha kembali menggeleng. Guru guru yang lain juga banyak yang menyampaikan hal senada. Faridha benar benar malu, jengah dan entah apa lagi, ingin sekali Faridha meninju muka Parulian yang malah terus cengengesan seperti tak baru melakukan hal yang membuat malu temannya.


“Kamu nanti kuliah disini atau di mana Dha ?”.


Faridha menatap Bu Indira guru BPnya yang bertanya. “Rencananya di Jakarta Bu, Bou bilang begitu, harus disana katanya”.


“Bou ?, ibunya tunanganmu maksudnya ?”.


Faridha anggukkan kepala. “Iya Bu”.


“Jadi kamu akan satu rumah dong dengan tunanganmu ?”.


Faridha senyum malu, mukanya sudah sangat memerah. “Iya Bu”.


Kembali nasehat sahut menyahut dari para guru, kini bukan hanya guru yang perempuan saja, tetapi guru laki laki juga sudah ikut bicara, semua ungkapannya hampir sama, itu termasuk tindakan yang rawan, hubungan yang sudah di restui, sering ketemu, bisa tak kuat menahan diri.


Faridha hanya senyum senyum menggeleng saja, Faridha berfikir, apa jadinya kalau para gurunya tahu rencananya malah lebih jauh dari itu, tapi Faridha menahan diri saja, juga memegangi tangan Lita, memberi kode agar Lita tidak bicara, karena saat ini, baru Lita yang tahu cerita panjangnya.


Faridha sangat lega saat pejabat dinas pendidikan datang, tidak ada acara apa apa, semua anggota tim langsung naik ke mobil, ada juga kepala sekolah dan ketua rombongan. Faridha memilih duduk di kursi belakang, mereka hanya berdua saja disana dengan Lita.


Masih berjalan belum sampai seratus meter dari gerbang sekolah, Faridha melihat kiriman vidio di group WA anggota tim debat. Vidio yang berisi pidato aneh Parulian, Faridha kembali geleng kepala saat selesai menontonnya, iseng, Faridha mengirim vidio itu ke ponsel Risda.


Risda yang kebetulan sedang free langsung membuka kiriman Faridha, menonton hingga tuntas dan tertawa kecil penuh bahagia. Lucu juga dengan cara Parulian berbicara, membuat Risda menjadi geli, tapi yang menjadi fokus Risda bukan itu, ada baiknya juga hal itu.


Kenapa ?, dengan begitu teman teman dan seluruh yang ada di sekolah tahu kalau Faridha sudah punya Farhan, sehingga tak ada lagi yang mencoba mengganggunya, Faridha dengan begitu dapat lebih tenang dan lebih fokus pada kegiatan sekolahnya, kalaupun mungkin ada gangguan, paling mungkin datangnya dari Farhan.


Kegiatan saling berbalas pesan berlangsung, Risda dan Faridha sama sama asyik dengan ungkapan masing masing. Risda masih dengan caranya yang terus menerus memberikan keyakinan pada Faridha jika kondisi saat ini adalah kondisi terbaik.


Faridha termenung juga membawa pesan WA Risda, ada pesan yang menurut Faridha sangat menyentuh perasaannya. Cobalah menikmati hidup, menghadapi semua kenyataan senyata mungkin. Terima diri dengan cerita yang berlangsung, imbangi dengan rasa bersyukur, itu akan lebih mungkin membawa kita ke jalan terbaik yang dipilihkan kepada kita.


Faridha menghela nafas panjang, ada juga gelengan kepala dengan apa yang dikatakan Risda lewat pesannya. Faridha menutup layar ponselnya, karena Risda juga akan masuk kelas, Faridha mengantongi kembali ponselnya, menyandarkan kepala, menikmati hidup, bisakah ?.

__ADS_1


…. Bersambung …


__ADS_2