
Jelang siang, kelompok sudah terbagi dua, yang laki laki berada di teras masih dengan berbagai cerita, sedang yang perempuan kini ada di dapur. Tak lagi ada kegiatan belanja, karena Nadia sudah membawa bungkusan tadi, isinya adalah persiapan untuk makan siang, sekarang mereka tinggal mengolahnya.
Nadia hanya duduk, tak ada seorangpun yang mengijinkan Nadia ikut memegang apapun, itu karena memang perutnya yang hanya menunggu hari saja, tak lama Risda juga diminta untuk lebih baik menyingkir, karena pertanyaannya lebih banyak dari pekerjaan yang dipegangnya.
Risda senyum kecut dan memilih duduk di samping Nadia, keduanya kembali terlibat perbincangan panjang, khususnya mengenai kehamilan Nadia. Ada cerita memang soal ini, karena umur pernikahan Nadia dan Usman sudah hampir mencapai tiga tahun barulah Nadia hamil, ini juga membuat Risda agak tenang, karena dia juga sudah dua tahun menikah, tapi belum hamil juga.
Tapi tak lama, perhatian Risda sekarang tersedot ke Faridha, betapa tangannya begitu cekatan mengerjakan semuanya, ia juga yang menangani gulai, memberesi yang lain, hingga tak sampai dua jam, semuanya sudah tertata rapi di meja makan. Risda bertambah salut dan suka pada Faridha, kemampuannya di dapur hampir sepuluh kali lipat dari kesanggupan Risda, itu luar biasa.
Mila yang keluar memanggil yang lain untuk makan siang, walau Jamil, Asrul, Farhan dan Usman agak heran dan sama sama melihat jam, tapi semuanya sama sama berdiri, menurut Jamil utamanya, jam makan siang terlalu cepat, dzuhur saja belum, tapi karena sudah di panggil, akhirnya semuanya masuk juga.
"Ayah belum balik ?". Risda yang tanya sambil siapkan makanan Asrul.
Jamil tertawa kecil. "Jangan jangan ayahmu sudah lima kali tambuh dia".
Risda senyum saja. "Ayah memang kemana Kek ?".
"Ke tempat temannya".
Bukan hanya Risda, tapi yang lain juga tampak terkejut dan angguk angguk kepala mendengar cerita Jamil bahwa Walikota saat ini teman kecil Haris, dia sejak pagi ke kantornya, sampai sekarang nggak pulang juga, pasti cerita mereka sudah panjang entah kemana. Natalia yang tampak paling serius mendengar cerita pamannya.
"Maksud Paman, Bang Arifuddin Pohan ?".
Jamil menatap Natalia sesaat. "Lia kenal ?".
Natalia ambil ponselnya, menunjukkan photo profil WA Udin. "Yang ini Paman ?".
Jamil menatap sebentar saja dan anggukkan kepala. "Iya, Lia kenal dia ?".
Natalia anggukkan kepala. "Bang Arif dulu sering telephon Mama, kalau mereka telephonan, Mama selalu menangis, teringat Bang Haris".
Jamil senyum saja. "Haris sama Udin sekarang. Mereka pasti sudah makan siang, mana pula nggak makan mereka, sudah ayo, makan .. makan".
Mendengar ini, semuanya jadi senyum merekah dan memulai makan siangnya, Nadia terus menatap ke Risda dan Faridha yang terus melayani Asrul dan Farhan. Nadia geleng kepala, karena selama ini ia tak pernah lakukan itu, Usman selalu ambil sendiri, makan bahkan sering tak di temani.
Baru saja semuanya selesai makan terdengar suara mobil berhenti, Risda langsung berdiri, ia yakin itu ayahnya. Dan memang benar, Haris yang baru sampai langsung disambut Risda, mengandeng tangan ayahnya memasuki rumah, Haris memang ikut sampai ke ruang makan, tapi tak ikut makan, sudah kenyang.
“Eh, Far. Kapan nyampe nya ?”.
Farhan langsung berdiri, Faridha juga ikut berdiri setelah melihat kode Farhan. “Sampe tadi pagi Paman, ini …”. Farhan senyum lebar.
“Faridha ?”. Haris langsung menebak.
Faridha senyum malu malu, menyalami dan mencium tangan Haris. Kemudian di susul Usman dan Nadia. Haris tampak senyum lebar, ada rasa senang yang tinggi telak menyambar Haris, ia kemudian memilih duduk, walau sama sekali tetap tak mengambil makanan.
“Kamu anak adiknya Meeta yang disini kan ?”.
Usman anggukkan kepala. “Iya Paman, saya Usman. Ini istri saya Nadia”.
Haris angguk angguk kepala. “Tinggal disini dimana Man ?”.
“Saya di Parombunan Paman”.
“Yang arah ke GOR ya ?”.
Usman anggukkan kepala. “Iya Paman”.
“Paman juga pernah kesana waktu kecil, jalannya masih tanah semua, belum ada GOR waktu itu”. Jelas Haris.
Perbincangan kemudian memanjang, tapi rasanya jelas, Haris tidak mengenal ayah Usman, mereka bahkan baru pindah ke kota ini saat Usman sudah berumur hampir tiga tahun, jauh setelah Haris meninggalkan kota ini.
“Kita jalan jalan kemana Yah ?”. Risda yang alihkan topik.
__ADS_1
Haris angguk kepala. “Ayah sudah ngomong tadi dengan teman, jam dua nanti kita ke Pulau Poncan, siap siap saja. Sekarang jam berapa ?”.
Asrul melihat jam di tangannya. “Baru setengah satu Yah”.
Haris angguk kepala lagi. “Jam dua kita sudah berangkat. Kita naik dari hotel itu, pakai fasilitas mereka. Usman, Nadia, Ikut ?”.
Usman melirik ke Nadia sebentar. “Maunya sih ikut Paman, tapi …”.
Lagi lagi Haris anggukkan kepala. “Iya juga memang, tapi nggak apa apa di tinggal ini Man ?”.
Usman menggeleng. “Nggak apa apa lah Paman”.
Sekarang semuanya masih berkumpul di ruang makan, menggunakan meja makan sebagai tempat berkumpul, rencana keberangkatan ke Pulau Poncan masih termasuk lama, sehingga masih punya waktu yang banyak untuk berbincang tentang berbagai topik yang lahir begitu saja.
“Kak Nadia orang Aceh kan Kak ?”.
Nadia senyum menatap Farhan sebentar. “Iya Dek, orang tua Kakak juga masih disana, saudara saudara yang lain juga semua tinggal disana, hanya kakak saja yang tinggal disini, setelah jadian sama abangmu”.
“Sibolga Aceh, gimana ketemu awalnya ya Kak ?”.
Nadia hanya senyum saja, Usman yang langsung menyampaikan kisahnya, bagaimana ia pertama kali ketemu Nadia, mereka tabrakan disebuah pesta di Barus, baju Nadia dan Usman sama sama kotor kena gulai, mereka kenalan disitu, saling tukar nomor dan akhirnya jadi.
Usman tertawa kecil. “Waktu ketemu sama Bang Asrul kemarin itu, kita masih belum resmi itu, Nadia kemari hanya singgah saja, sebenarnya di Barus, ada keluarga yang meninggal. Kita pacarannya jarak jauh gitu Far. Lebih jauh Farhan lagi kan ?”.
Farhan ikut tertawa. “Iya juga sih Bang. Mirip mirip gitu lah, sama sama berawal dari tabrakan, tapi Farhan beda lho Bang, kalau Farhan menabrakkan diri”.
Semuanya menjadi tertawa, Faridha jadi senyum malu malu, jadi teringat saat mereka pertama kali kenalan, Faridha yang jalan menunduk dari dalam kamar mandi hampir tertimpa material bangunan yang sedang di bongkar, untung Farhan cepat datang dan menolongnya.
Giliran Asrul semua juga ikut tertawa, tiga tahun bersama sama di pedalaman Kalimantan membuat keduanya punya perasaan di hati masing masing, sempat lama tak ketemu setelah pulang dari pedalaman, begitu ketemu, mereka jadi sepakat untuk membina rumah tangga.
"Ceritanya Cinlok lah ya Bang ?". Nadia masih terus tertawa.
Asrul anggukkan kepala. "Iya, begitu Nad. Tapi kakakmu ini dulu jual mahal, payah juga abang baru berhasil, bahkan sudah pulang ke Jakarta dulu".
Haris yang dari tadi hanya menyimak jadi tertarik satu hal. “Rul ..”.
Asrul melirik. “Iya yah ?”.
Haris tertawa kecil lebih dulu. “Ayah malah jadi tertarik, bagaimana Agung dan Meeta ketemu, itu juga kejutan kan ?, Agung yang dari kecil ada di Jakarta ketemu dengan Meeta yang sedari kecil di Padang Sidimpuan, ada jarak ribuan kilometer, bagaimana mereka ketemunya ?”.
Ternyata tidak hanya Haris, Risda dan Faridha juga ikut menunjukkan wajah serius, Risda malah tak pernah kepikir selama ini, bagaimana ayah dan ibu mertuanya bisa bersatu dengan jarak yang begitu jauh. Tentu pasti ada cerita panjang di dalamnya, Risda jadi ikut tertarik ingin mengetahuinya.
Asrul tertawa kecil. “Itu berawal saat Papa rencana mau buka SPBU di Lubuk Pakam Yah, Papa melakukan observasi dulu, waktu itu Mama masih kuliah, sedang praktik, semacam magang begitu. Papa sakit, karena tak ada saudara, dokter meminta Mama untuk menemani Papa selama di rumah sakit”.
Haris senyum. “Jadi begitu saja ketemunya”.
Asrul malah tertawa. “Si Papa punya banyak siasat, sudah sembuh tapi masih saja ke rumah sakit, pengen ketemu Mama saja sebenarnya, hingga Papa mendapat nomor kontak Mama baru Papa pulang, bahkan SPBU nya nggak jadi”.
Sejak saat itu, Agung intens menghubungi Meeta yang juga selalu menyambut komunikasi dengan baik, tahu Meeta sudah selesai kuliah, Agung langsung membawa ayah dan ibunya menuju Padangsidimpuan dan melakukan lamaran. Meeta dan keluarganya terkejut, apalagi Meeta baru sebatas Sarjana Kedokteran, belum sampai ke profesi dokter.
Tapi Kakek Asrul menyakinkan kalau Meeta akan melanjutkan semua impiannya di Jakarta, bahkan Kakek berjanji membangun klinik khusus untuk Meeta. Sehingga semuanya sepakat, tak butuh waktu lama, hanya berjarak dua bulan setelah itu, Agung dan keluarga muncul lagi di Padang Sidimpuan untuk akad nikah.
"Jadi bukan SPBU yang di Padang Sidimpuan Rul ?".
Asrul melirik Haris sebentar, menggeleng. "Bukan Yah, itu malah ada saat Papa dan Mama sudah menikah cukup lama. Saat Kakek Sidimpuan pensiun, Papa buat SPBU itu supaya kakek punya kesibukan, semua itu memang untuk kakek. Setelah Kakek meninggal, itu di tangani oleh Tulang Besar".
Haris dan yang lain angguk angguk kepala, Jamil, Mila dan Lena yang tampak cukup melongo, baru tahu kalau cucu menantunya ini berasal dari keluarga yang super kaya, pantas saja Asrul dengan mudahnya cerita soal pembangunan rumah ini, di awal Jamil agak resah, takut tabungan cucunya terkuras karena itu, tapi kini menjadi begitu tenang, yakin semuanya tak ada kendala.
Mila dan Lena juga menjadi berubah pemikirannya, diawal keduanya juga punya perasaan yang sama, bahkan takutnya juga ada, takut kalau rencana pembangunan itu bisa merusak ekonomi cucunya, tapi saat ini keduanya tampak lega dengan senyum yang mengembang sempurna, tak ada lagi ragu yang sejak tadi pagi mengganggu pikiran keduanya.
“Kakek memang serius, ia menyekolahkan mama hingga mendapat profesi dokter, bahkan mama terus lanjut hingga mendapat gelar spesialis. Tapi, kakek tak sempat melihatnya, ia meninggal dunia saat mama masih kuliah spesialis, hanya nenek yang sempat, itupun tidak lama. Hanya tiga bulan setelah peresmian klinik, nenek juga meninggal dunia”. Terang Asrul melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
Risda memperbaiki duduknya. “Jadi Bang, jarak antara Kakek dengan Nenek meninggal hanya beberapa bulan saja Bang ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Hanya delapan bulan tepatnya, mereka ternyata perginya cepat, sehingga abang nggak kenal dan jumpa dengan kalau dengan kakek, kalo nenek sempat, nenek meninggal waktu abang masih banyi”.
"Rumah sakit Bang ?".
Asrul senyum lebar, acungkan jempolnya. "Itu murni jerih payah Mama, pembangunan rumah sakit sama sekali tak ada campur tangan Papa, semuanya murni hasil kerja keras mama sendiri, cuma yang di Semarang memang adalah campur tangan Papa juga lah, tanahnya itu tanah peninggalan Kakek".
"Bukan yang Surabaya ?".
Asrul menggeleng. "Rumah sakit Surabaya itu punya nenek, nenek yang ngelola itu dulu"
Risda angguk angguk kepala, baru tahu kalau semua itu benar benar usaha keras ibu mertuanya, Faridha juga ikut menggeleng, salut dan semakin hormat pada calon ibu mertuanya, ternyata bukan hanya sang ayah calon mertua, tapi Bou nya juga seorang pekerja keras, bahkan mampu mendirikan rumah sakit sebesar itu, Faridha tentu tahu, karena sudah menginjakkan kaki ke rumah sakit itu.
Asrul melanjutkan ceritanya, di awal Meeta sempat kehilangan semangat untuk membangun rumah sakit dan memilih bertahan di klinik, itu karena Asrul malah memilih kuliah di pendidikan, Meeta sempat down, karena impiannya untuk bangun rumah sakit bukan hanya untuknya, tapi untuk anak anaknya.
Tapi, semangat itu bangkit lagi saat Mutia diterima di kedokteran, Meeta kembali konsen untuk membangun rumah sakit, semangat itu bertambah berkali lipat, saat Reni juga ikut kuliah di kedokteran, tapi Meeta tetap saja punya ganjalan, selalu merindukan anak laki laki sebagai penerusnya.
"Itulah mengapa, Mama sangat super gembira saat Farhan juga ikut jejak Mutia dan Reni. Mama bahkan seperti hidup kembali, Asrul lihat itu, kegembiraannya atas Farhan itu ratusan kali lipat dibanding saat Mutia dan Reni. Nggak tahu kenapa". Jelas Asrul panjang lebar.
Haris tertawa kecil. "Meeta masih orang Mandailing Rul".
Asrul agak mengerutkan kening. "Kenapa memangnya Yah ?".
Haris sedikit menggeleng. "Orang Batak pada umumnya memang begitu Rul, bukan hanya Mandailing saja, orang Batak sangat serius dalam hal garis keturunan, maka anak laki laki tetap menjadi prioritas, karena dari anak laki lakilah keturunan berlanjut, perempuan akan pergi ke keluarga mertuanya".
Asrul menggeleng, kalau memang untuk meneruskan marga, marga apa ?, toh ayahnya adalah orang Banten, mereka tidak punya marga layaknya orang Mandailing seperti ibunya, tapi Asrul merasa, apa yang menjadi kesimpulan ibunya tentu karena hal yang menurutnya besar, bukan hal lain yang membandingkan.
Asrul tertawa kecil juga. "Papa mungkin akan banyak dekat dengan Mandailing Yah, menantunya sepertinya tak jauh jauh dari Mandailing".
Haris jadi ikut tertawa kecil. "Iya juga ya, baru sadar Ayah".
Asrul menggeleng kecil. "Risda Nasution, Faridha Lubis, pacarnya Reni juga Pulungan Yah, kalau semua jadi, itu sudah lebih 50% kan ?, entah Mutia, Asrul belum pernah lihat dia pacaran atau semacamnya, kalau Ariana tentu saja belum, masih SMP, anak kecil". Asrul kembali tertawa kecil, masih juga geleng kepala.
"Pulungan ?, pacar Reni Pulungan ?". Haris bahkan merubah cara duduknya.
Asrul anggukkan kepala. "Iya Yah, kenapa ?".
Haris menggeleng saja. Bagaimana ia bisa lupa dengan marga itu, itu termasuk satu hal yang membuatnya mulus bersama dengan Natalia, yang membuatnya menjadi mudah masuk dalam kehidupan Natalia, bahkan sempat berperan sebagai suami bagi adik kandungnya sendiri, hingga membawa Risda ke kehidupan mereka.
Semua karena Ibunya Indah almarhumah, Indah tidak hanya menambahkan Haris saja di depan namanya, bahkan mengganti marga Haris menjadi marga yang di sandang Wak Jainal. Puluhan tahun juga Haris menyandang marga itu, baru setelah resepsinya yang gagal total Haris menghapus marga itu.
"Tapi, kalau di pikir pikir, keluarga Mama juga menikah dengan berbagai daerah, kan cuma Tulang Besar yang nikahnya sesama orang Sidimpuan". Farhan yang bicara sambil mencolek Usman.
Usman jadi tertawa kecil, mengingat semua, memang benar, semua istri dari keluarga ayahnya Fadli berasal dari berbagai kabupaten/ kota, bahkan ada yang beda provinsi, kalau Bounya, ibu Asrul itu sudah beda pulau tentunya.
"Iya sih Far. Wak Rohim, Tulang Besarmu saja yang nikah dengan orang Sidimpuan, ayah dengan Orang Nias, Uda Fauzan dengan Orang Labuhanbatu Selatan, Uda Sabar dengan Orang Rao, Pasaman Barat".
Asrul agak mengerutkan kening. "Bukannya Nantulang Sibolga orang Sibolga sini Man, setahu Abang begitu".
Usman anggukkan kepala. "Iya sih Bang, Ibu sudah kelahiran sini, bahkan Kakek juga sudah lahir disini, tapi bagaimanapun ibu kan keturunan Nias, ibu bermarga Zalukhu, sampai kapanpun orang akan mengatakan begitu, dan ibu juga akan dengan senang hati mengakuinya, walaupun tak ada lagi keluarga yang disana".
Haris mengacungkan jempolnya. "Sejarah tak akan pernah berubah Man. Kita harus bangga dengan sejarah kita, walaupun mungkin kita sudah jauh dari asal sejarah itu, tapi apapun itu, ada ikatan batin yang tak akan pernah tergantikan".
Semuanya sama anggukkan kepala, apa yang dikatakan Haris memang benar, dimana dan bagaimanapun kita sekarang, sejarah keturunan kita tak bisa lekang dari setiap hela nafas kita, di pulau manapun kita tinggal, itu hanya domisili, hanya identitas yang tertera di KTP, tentu ada kisah yang menyertai kita, itu adalah bagian hidup yang tak bisa kita tanggalkan, apapun alasannya.
Haris terus menggelengkan kepala, macam macam memang kisah asmara anak manusia, ada hal yang lucu, ada hal yang menggembirakan dan banyak kemungkinan perasaan lainnya, bagaimana dua insan di persatukan dengan berbagai cara, seperti kata istilah, asam di gunung garam dilaut, dalam kuali ketemu jua.
Haris mendesah, kisah asmaranya indah hanya di awal saja, ternyata Haris terjebak dalam kisah yang seharusnya tak ada, terjerat dalam kisah asmara yang salah. Tapi, kini ada Risda yang lahir dari kisah salah itu, setidaknya Risda sekarang sedang menjalani kisah asmaranya, semua itu benar, tak ada yang salah.
Haris tak pernah berpikir mengejar bahagia lewat kisah asmara setelah apa yang ia lalui bersama Natalia. Yang kini adalah bagaimana menjamin kisah asmara putrinya Risda berjalan dengan baik, sempurna dan membahagiakan, karena itulah saat ini sumber utama kebahagiaan Haris.
__ADS_1
Natalia tampak senyum sambil memandangi Risda dan Asrul, Natalia juga punya pikiran yang sama dengan Haris. Natalia sama sekali tak butuh kisah asmara, tak ada satu pintu pun dalam hidupnya yang terbuka untuk itu. Sekarang, seluruh hati dan hidupnya hanya untuk Risda, tak ada sisa untuk yang lain.
…. Bersambung …