Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Menuju Perkebunan


__ADS_3

Acara perkemahan sudah tuntas, Farhan sudah banyak berbincang dengan Tomy, utamanya soal keadaan Kabupaten Kotawaringin Timur tempat tinggal Tomy, ia juga tahu persis perkebunan tempat Haris bekerja, sehingga Farhan cukup tertarik untuk ikut kesana, karena memang waktu yang dibenarkan untuk libur masih ada.


“Kamu serius mau ke Kotawaringin Timur ?”.


Farhan anggukkan kepala. “Serius Tom. Saya ada paman di perkebunan itu”.


“Paman ?”. Tomy agak mengenyitkan keningnya.


Farhan anggukkan kepala. “Iya Tom. Tepatnya, ayah mertua kakak tertua saya”.


Tomy kemudian hanya angguk anggukkan kepala mendengar penjelasan Farhan, Tomy juga memberikan penjelasan tentang sulitnya medan menuju perkebunan, karena jaraknya dari ibukota kabupaten, tempat tinggal Tomy masih cukup jauh.


“Kalau memang serius, saya bisa antar kamu kok kesana”.


Mata Farhan langsung berbinar. “Serius kamu Tom ?”.


Tomy anggukkan kepala. “Serius, kita bisa naik motor, paling sekitar enam atau tujuh jam nyampai kesana”.


Farhan memang senyum, tapi jantungnya bergerak aneh juga, perjalanan naik motor tujuh jam itu bukan jarak yang dekat, dalam kondisi normal dengan kecepatan minimum, itu sudah bisa menembus 210 KM, dengan asumsi 30 KM ditempuh dalam waktu satu jam.


“Kenapa nggak telephon paman kamu saja Far, biar jeput kamu, kan lebih aman begitu”.


Farhan menggeleng. “Kurang enak begitu Tom, saya mau membuat kejutan begitu, tiba tiba, duarrrr… ada di perkebunan”.


Tomy hanya geleng kepala, tapi apa yang dikatakan Farhan menurut Tomy memang asyik juga, Tomy juga terbiasa dan suka melakukan itu, ia suka mendatangi rumah keluarganya yang jauh tanpa bilang bilang sebelumnya, sehingga pada saat ia sampai, semuanya sama sama terkejut, itu sangat menggembirakan.


“Okey Far, terserah kamu saja. Kalau begitu, kita pesan tiket ke Palangkaraya, dari sana, kita baru jalan darat ke Kotawaringin Timur”.


“Masih jauh tuh Tom ?”.


Tomy menggeleng. “Nggak juga Far. Itu cuma sekitar 190 KM saja, jalan darat sekitar empat jam lebih sedikit”.


Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hanya senyum saja, bagaimana perjalanan empat jam lebih dibilang dekat, tapi terserahlah, batin Farhan. Yang jelas, ia memang pengen melihat langsung kehidupan pamannya Haris di perkebunan, tentu jauh beda dengan kehidupan di kota.


Farhan hanya menganggukkan kepala saat Tomy permisi mencoba mencari tiket untuk mereka, Farhan yang memang sudah cukup capek, sehingga menerima saran Tomy untuk istirahat saja di penginapan, untuk yang satu ini Farhan harus acungkan jempol, ketahanan fisik Tomy bisa sepuluh kali lipat dibanding dirinya.


Selepas Tomy pergi, Farhan merebahkan badannya, mungkin memang sudah berada di posisi yang sangat letih, Farhan tak lama langsung tertidur cukup pulas, apalagi suasana dalam penginapan sangat sejuk, berbanding terbalik dengan kondisi cuaca di lokasi perkemahan.


Farhan terbangun, kening Farhan langsung berkerut saat melihat jam yang ada di tangannya, sudah pukul 20.00 WIB, bahkan isya sudah lewat, kening Farhan makin berkerut saat melihat dari balik jendela, Tomy tampak berdiri lesu sambil memainkan ponselnya.


Farhan beranjak keluar dan mendekat ke Tomy. “Kenapa Tom ?”.


Tomy memandang wajah Farhan dengan pandangan yang sama sekali tidak semangat, perasaan Farhan malah jadi tidak enak, apalagi melihat jam, seharusnya mereka sudah berangkat, tapi mengapa Tomy malah memandangnya dengan pandangan yang begitu lesu.


“Kenapa memang Tom ?, jam berapa terbangnya”.


Tomy menggeleng. “Tak ada penerbangan Far, bahkan besok pun tak ada, tiket baru ada untuk lusa”.

__ADS_1


Farhan jadi mendelik. “Jadi bagaimana ?”.


Tomy angkat bahu. “Mau bagaimana lagi Far. Menunggu lusa itu sama dengan bohong, atau …”. Tomy tampak ragu.


“Atau apa Tom ?”.


Tomy menghela nafas panjang. “Kita jalan darat”.


“Bus maksudnya Tom ?”.


Tomy anggukkan kepala. “Begitu maksudnya Far, kita naik bus ke Palangkaraya, dari sana kita nyambung lagi ke Kotawaringin”.


Farhan memandang Tomy cukup lama, membuang nafas berat sebelum mengalihkan pandangan ke halaman penginapan, Farhan berpikir, ia sudah melangkah sejauh ini, sudah ditinggalkan rombongan, jangan jangan kawan kawannya sudah sampai di Jakarta, sudah tidur di rumahnya mungkin, masa Farhan harus mundur.


Farhan kemudian menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal, masih dalam kebimbangan. “Jauh juga itu ya Tom ?”.


Tomy tertawa kecil. “Ya, jauhlah Far”.


“Berapaan emang ?”.


Tomy menggeleng dan kembali tertawa kecil. “Pontianak ke Kotawaringin Timur itu sekitar 898 KM lebih dikit lah, dalam waktu normal itu ditempul nyaris sekitar tujuh belas jam lewat dikit jugalah”.


Farhan mendelik. “Tujuh belas jam ?”.


Tomy kembali menggeleng. “Kalau kita besok bergerak pukul 08.00, perkiraan sampai lusa pagi, jika di jalani terus memang bisa sampai sekitar pukul 02.00 dini hari, tapi tak mungkin kan, bus biasanya akan memperlambat jalan, sehingga kita sampai disana pagi hari, sekitar pukul 06.00 gitu lah”.


“Satu hari satu malam Tom ?”.


Farhan menghela nafas sangat panjang, bahkan sekarang lengkap dengan mengurut kening, Farhan tak menyangka sampai sebegitunya. Tapi, makin kedalam Farhan justru makin tertarik, seumur hidup ia belum pernah naik bus sampai satu hari satu malam, ini tentu akan melahirkan pengalaman baru.


Farhan kembali buang nafas berat. “Sudah kadung Tom, siap. Kita berangkat besok”.


Tomy langsung melotot, mendelik terkejut, sama sekali tak menyangka jika Farhan malah setuju. “Kamu serius Far ?”.


Farhan anggukkan kepala. “Serius”.


Tommy mengulurkan tangannya. “Deal ?”.


Farhan menerima uluran tangan Tomy. ”Deal”.


Keduanya sama sama tertawa, Farhan hanya senyum senyum saja mendengar Tomy menelphon agensi bus, tak butuh lama, memang deal. Mereka akan menuju kampung halaman Tomy dengan menggunakan bus, perjalanan yang panjang.


Bagi Tomy itu tentu sama sekali tak masalah, beda dengan Farhan yang sekarang membayangkan akan bagaimana perjalanannya nanti, yang terbayang di kepala Farhan sekarang adalah Abang dan Kakak Iparnya, Asrul dan Risda, mereka dulu sampai tiga tahun berada disana, Farhan ingin juga melihatnya.


Pagi mengintip dengan cepat, Farhan tampak begitu semangat mengemasi barang barangnya yang sebenarnya tak banyak, Tomy sampai geleng kepala melihatnya, Tomy menemukan semangat Farhan yang tinggi, ini kemudian membuat Tomy jadi penasaran dengan Paman yang ingin ditemui Farhan di perkebunan.


Farhan cukup terkejut melihat Bus yang akan membawa mereka, tentu Farhan kenal betul dengan nama itu, karena Farhan juga sering menumpanginya di Jakarta, Damri. Farhan bahkan baru tahu kalau Damri punya rute hingga sejauh itu. Tomy kembali hanya geleng geleng kepala, tapi terang bahagia melihat semangat Farhan.

__ADS_1


Farhan dan Tomy bergegas naik saat semua penumpang di minta naik, Farhan tentu ambil kursi di pinggir sehingga dapat dengan leluasa melihat jalanan dari kaca bus, itu tentu pandangan yang sangat bagus di mata Farhan, satu pengalaman baru yang mungkin akan sulit untuk diulang berkali kali.


“Bus ini sampai ke Kotawaringin Tom ?”.


Tomy menggeleng. “Bisa jadi iya, tapi biasanya tidak”.


Farhan agak mengerutkan keningnya. “Kok bisa ?”.


Tomy tersenyum tipis. “Rute awalnya itu hanya sampai Pangkalan Bun, tapi kalau ada penumpang yang banyak menuju Kotawaringin Timur, biasanya Bus mau melanjutkan perjalanan”.


Farhan anggukkan kepala. “Dari Pangkalan Bun ke Kotawaringin masih jauh jaraknya Tom ?”.


Tomy menggeleng. “Sekitar perjalanan enam jam lagi saja”.


Farhan jadi tertawa, dari kemarin begitu saja, Tomy selalu mengatakan dekat, sebentar lagi, tak jauh lagi dan sebagainya, padahal bagi Farhan, perjalanan lebih dari lima jam bukan perjalanan pendek, itu sudah masuk kategori panjang, bahkan unuk ukuran Jakarta, bahkan sudah teramat sayang panjangnya.


Farhan akhirnya letih dan mulai mengantuk saat bus sudah memasuki kawasan sunyi dengan pemandangan pepohan yang menjulang tinggi, mata Farhan mulai layu dan semakin meredup, dibantu oleh pemandangan hutan yang asri, tampak sejuk dan meningkatkan volume mengantuk.


Farhan mengucek matanya saat Tomy menggoyang bahunya, Farhan meluruskan badan, bus memang berhenti, Farhan memandang ke luar Bus, ini seperti rumah makan, tapi banyak bus disana, seperti pool tempat pemberhentian bus.


Farhan ikut langkah Tomy yang turun dari bus, Farhan menggeleng, ternyata mereka orang terakhir yang turun untuk beristirahat setelah sekian jam dalam perjalanan, sama dengan Tomy, Farhan juga memesan makanan kecil plus kopi, tampaknya itu menu paling okey untuk saat ini.


“Kita sudah dimana Tom ?”.


Tomy tersenyum kecil. “Ini perbatasan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah, sekarang ini, kita sudah masuk Kalimantan Tengah”. Jelas Tomy.


Farhan anggukkan kepala. “Hutannya masih banyak ya Tom ?”.


Hal ini dikatakan Farhan karena melihat jejeran perbukitan dengan pepohonan yang masih rindang, satu pemandangan yang tak akan di temukan di Jakarta, sepintas bagi Farhan, itu sebuah pemandangan yang sangat menyejukkan mata, Farhan nyakin, kalau kesana, pasti akan sejuk.


Tomy kembali tersenyum. “Ini namanya Kecamatan Delang, perbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Barat. Nanti di Kabupaten Lamandau, pemandangannya bagus Far, daerah itu sering kali dijadikan tempat peristirahatan bagi pengendara yang melintas”.


“Kita nanti singgah juga ?”.


Tomy menggeleng. “Ya, nggaklah Far, yang singgah tentunya hanya kenderaan pribadi, kalau bus kayak begini, ya, Cuma lewat saja”.


Farhan tertawa kecil juga. “Iya juga ya, kan kita bukan pariwisata”.


Tomy ikut tertawa. “Makanya cuma lewat saja”.


Keduanya kembali sama tertawa. Farhan sudah mulai merasakan sensasi perjalanan panjang menggunakan bus, setelah di pikir pikir, ternyata memang asyik juga, Farhan mendapatkan banyak pengalaman baru, model dan bentuk daerah baru yang memang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Ada banyak yang menarik perhatian Farhan, mulai dari bentuk rumah, kondisi daerah yang sama sekali berbeda dengan yang sering Farhan lihat, sampai bentuk jalanan yang menurut Farhan terlampau kecil, bahkan awalnya Farhan tak nyakin jika bus sebesar ini bisa lewat dijalan begini.


Tapi Farhan hanya geleng kepala, faktanya memang bisa, walau di beberapa titik jika dua bus ketemu, harus melambat saat berselisih, bahkan ada yang harus berhenti dulu salah satu agar bisa lewat dengan tenang, kadang setuasinya malah cukup menegangkan bagi Farhan.


Sebenarnya Farhan juga sudah pernah melewati medan yang hampir sama, waktu ia dan keluarganya pulang ke kampung ibunya di Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, tapi mereka selalu pakai mobil kecil, ternyata naik bus begini, sensasinya lebih bagus, karena pemandangannya lebih luas.

__ADS_1


Istirahat ternyata tak lama, begitu makanan dan minuman yang mereka pesan habis, para penumpang sudah diminta naik lagi, Farhan buru buru membayar makanan dan bergegas naik, perjalanan panjang akan dilanjutkan lagi.


…. Bersambung …


__ADS_2