Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Ariana Sakit Apa ?


__ADS_3

Hari hari Risda memang begini, pagi pagi sudah berada di sekolah, bahkan sering masih belum menyentuh pukul 07.00 WIB. Risda sangat bahagia melewati hari harinya, apalagi ia berada dalam lingkungan keluarga yang selalu mendukung setiap keputusan yang diambilnya.


Ada desakan agar Risda juga melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 seperti yang sedang Asrul jalankan, tapi tampaknya Risda tak begitu tertarik, Risda sudah senang dengan kondisinya hari ini, bagi Risda itu sudah lebih dari cukup.


Risda tak ada jam lagi, awalnya ada rencana pertemuan guru Pra Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), tapi pertemuan ini akhirnya gagal karena salahsatu guru yang di plot sebagai narasumber Bu Mariana berhalangan hadir karena putrinya melahirkan.


“Jadi, kita bagaimana ?”. Tanya guru yang satu.


“Nggak tahu juga, apa kita nunggu lagi atau bagaimana ?”. Tanya yang lain.


“Kalau yang ditunggu jelas, ya nggak apa juga kali, tapi kalau nggak tahu kapan datangnya, kita yang kering nanti nunggunya”. Celutuk


yang lain.


“Setuju kalo itu mah, nunggu juga ada limitnya ya kan ?”. sambut yang lain.


Risda sama sekali tidak komentar, hanya menunggu apa yang menjadi keputusan guru guru yang lain. Risda merasa, dalam proses MGMP kali ini, Risda tetap sama dengan MGMP sebelumnya, hanya sebagai peserta, pendengar dan penerima materi semata, sehingga tak yakin untuk menyampaikan usul apapun, kalaupun ada, Risda lebih tertarik membiarkannya tak ada, mumet jadinya.


Risda malah asyik memainkan jari telunjuknya di layar ponsel miliknya, Risda merasa lebih sayik membaca status media sosial orang orang yang dikenalnya ketimbang ikut berbagi komentar, karena Risda sudah sangat jelas prinsipnya, akan ikut apapun keputusan yang diambil.


Akhirnya salahsatu guru ambil inisiatif dan menghubungi Bu Mariana, ia sengaja aktifkan speakernya agar semua mendengar. Semua saling pandang, jelas sekali kalau Bu Mariana memang tak bisa datang, putrinya baru saja melahirkan, belum beberapa menit, tak ada yang bisa diandalkan disana.


Tak ada yang berani menggantikan posisi, sehingga pertemuan Pra MGMP bubar dengan sendirinya. Merasa tak ada yang urgent lagi, Risda menuju parkiran dan meninggalkan kompleks sekolah, pulang.


Sama seperti biasa kalau Risda pulang cepat, tak ada satu orangpun yang sedang berada di rumah, hanya ada satpam saja, itupun tentunya di pos dekat gerbang, tak ada satpam yang berani masuk jauh ke dalam. Sehingga Risda saat masuk rumah hanya menemukan ruang kosong yang melompong.


Usai makan siang, Risda memilih mandi, tapi Risda agak terkejut ada yang membuka pintu kamar, saat melihat jam di tangannya, masih pukul 12.45 WIB, jam yang terlalu siang jika suaminya Asrul sudah pulang, karena biasanya Asrul kembali dari kampus paling cepat pukul 15.00 WIB.


Penasaran, Risda membuka pintu sedikit dan berusaha mengintip, tapi tindakan ini ternyata salah besar, yang datang ternyata memang Asrul, melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka, Asrul langsung mendorong masuk, Risda langsung menjerit kecil, karena sedang tidak pakai apa apa.


Asrul tertawa renyah, membuat posisi meraka sama dan langsung mengejar Risda lebih dekat. Risda mau bilang apa, tak ada. Sehingga pilihan terbaiknya adalah ikut dan mengikuti semua tindakan Asrul, justru keduanya kini saling berusaha menguasai permainan, hingga sama sama menang, sama sama kalah, sama sama melemah.


Asrul masih memeluk istrinya erat sebelum mengakhiri acara mandi siang berjamaah mereka, memakai kembali pakaian masing masing dan memilih merebahkan diri di atas tempat tidur, bercerita sedikit tentang hari ini, apa saja yang baru dan bagaimana bentuk barunya.


Tapi itu tak lama, Asrul pada ujungnya hanya bisa tertawa kecil, membelai kepala istinya perlahan, saat Asrul masih punya cerita, ternyata Risda sudah lelap. Asrul geleng kepala saja, dan ikut memejamkan mata, tak lama juga, Asrul ikut pula melayang jauh mengejar mimpi siangnya.


Risda merasa ada yang datang, walau masih cukup mengantuk, Risda berdiri juga, keluar kamar dan menuju pintu depan, kini seperti sedikit memaksa, sudah pencet bel, juga ada suara lain yang berasal dari arah yang sama, ketukan di pintu.


Risda mempercepat langkah dan langsung mencak mencak saat membuka pintu yang kembali diketuk berulang kali, Risda langsung gelabakan karena menemukan Ariana yang dipapah lemas oleh gurunya, Risda langsung mengejar dan ambil alih adik iparnya.


Ariana juga membuat sang guru geleng kepala, begitu melihat Risda, manjanya langsung melonjak naik, awalnya masih bisa melangkah sendiri, sekarang sama sekali nggak mau lagi, Ariana tampak lunglai di pelukan Risda.


“Riana kenapa Bu ?”.

__ADS_1


Bu Guru Ariana menggeleng. “Dia tiba tiba pingsan Bu ?”.


Risda langsung mendelik. “What ?”.


Bu Guru menggeleng. “Saya juga nggak tahu persisnya Bu, saya di minta petugas UKS membawa Ariana pulang, karena Ariana katanya minta pulang”.


"Oh, makasih Bu, kalau begitu".


Bu Guru anggukkan kepala. "Kalau begitu kami permisi Bu".


Risda tak menjawab lagi, ia hanya anggukkan kepala saat sang guru yang lain ikut permisi, saat yang sama Asrul muncul, tak ada pertanyaan, Asrul lansung mengeluarkan mobil, menggendong Ariana masuk, Risda ikut masuk dan mereka langsung tancap gas menuju rumah sakit.


Tentu gempar, seisi rumah sakit langsung heboh saat melihat Asrul datang dengan menggendong adiknya Ariana, bahkan ada Risda yang ikut buru buru berjalan di belakang mereka dengan wajah cemas yang tampak sudah memucat. Para perawat datang bawa kereta dorong, tapi Asrul sama sekali tak memakainya.


Mutia dan Reni langsung memeriksa keadaan Ariana yang memang tampak lemas, Mutia masih tampak sangat tenang, beda dengan Reni yang tampak sangat cemas, persis dengan Risda yang sama sekali tak ada tenangnya, dan makin ricuh saat Farhan muncul bersama ayahnya.


“Dek, dek, adek kenapa ?”. Farhan membelai dan menciumi pipi adiknya.


Ariana membuka mata, ia langsung senyum tipis. “Kepala Riana sakit Bang”.


Farhan langsung membelai kepala adiknya, juga mencium keningnya. “Sakit gimana dek ?, bagian mana ?”.


Ariana menggeleng. “Cuma denyut Bang, dibelakang”.


Mutia dan Reni hanya menggeleng, dari tadi mereka sudah bertanya itu, tapi Ariana hanya mengeluarkan keluhan, buka mata saja tak mau. Tapi, begitu Farhan datang, semuanya terbuka, Mutia hanya senyum senyum saja, sedang Reni sudah agak kesal juga, kok hanya ke Farhan baru mau memaksakan bicara.


Reni menatap ayahnya sebentar. “Mama lagi ada operasi Yah, paling satu jam lagi”.


Agung mengangguk, Agung akhirnya memilih duduk di dekat Asrul, membiarkan Mutia melakukan pemeriksaan akan jauh lebih baik menurut Agung ketimbang ikut nimbrung nanya nanya seperti Farhan, walau sebenarnya ia juga diliputi kecemasan, berharap istrinya cepat datang, apapun itu, Agung masih lebih menyakini istrinya ketimbang putrinya Mutia.


Setelah memberikan beberapa obat, Ariana akhirnya tertidur. Farhan langsung memindahkan Ariana ke kamar yang sudah disiapkan perawat sebelumnya, semua ikut kesana, para perawat yang ikut ambil bagian, senyum saja tak ada yang berani, raut wajah tegang semuanya membuat yang lain tak berani bicara.


“Adikmu sakit apa Tia ?”.


Mutia memandang ayahnya sayu. “Masih diagnosa sih Yah, nanti kita lihat hasil pemeriksaan selanjutnya, tapi Tia menduga, adek kena Neuralgia Oksiptal”.


Risda mengerutkan keningnya. “Penyakit apaan tu Tia ?”.


Mutia menatap kakak iparnya sebentar. “Itu rasa nyeri di bagian belakang kepala yang disebabkan oleh radang pada syaraf. Tapi, itu masih perkiraan saja Kak”.


Risda mendesah. “Nggak bahaya kan Tia ?”.


Mutia hela nafas panjang. “Tergantung penyebabnya Kak”.

__ADS_1


Risda tetap tampak pucat walau penjelasan Mutia jelas mengatakan walaupun sangat menyakitkan, tapi neuralgia okspital tidak dianggap mengancam nyawa, hanya saja memang, penyakit ini menyebabkan kesemutan, berdenyut atau nyeri yang menusuk di bagian belakang kepala dan dileher bagian atas.


“Pada beberapa kasus, bahkan hal ini bisa mengakibatkan nyeri disertai pembengkakan pada seluruh kulit kepala”. Jelas Mutia.


Risda kembali mendesah. Ia mendekat dan membelai wajah Ariana. “Adek kenapa sih ?, kok bisa begitu dek ?, Kakak kan jadi takut”. mata Risda sudah berkaca kaca.


Agung hanya menghela nafas panjang, begitu juga Asrul dan Reni. Mutia yang jadi sayu melihat ketakukan Risda, Mutia tahu semua memang sangat menyayangi Ariana, termasuk Risda. Kakak Ipar mereka itu memang sangat penyayang, bahkan Mutia juga sangat merasakannya.


Selalu ada rasa bahagia bagi Mutia melihat kakak iparnya, wanita muda yang jauh lebih mandiri dari Mutia dan Reni tentunya, sikap dan cara bicara yang membuat adik adiknya tenang, bahkan dalam banyak hal, cara pandang Risda jauh lebih dewasa ketimbang Asrul abang mereka.


Ini yang selalu membuat Mutia bersyukur atas pilihan abangnya, keberadaan Risda di rumah mereka membawa banyak hal, Mutia dan Reni punya teman curhat yang luar biasa, bahkan terkadang, mengadu kepada kakak iparnya lebih menyenangkan ketimbang mengadu kepada ibunya.


Risda selalu melihat persoalan dari banyak sisi, tapi lebih memilih menyalahkan diri dulu baru mencari celah kesalahan orang lain, itu yang membuat Mutia selalu bisa tenang mendengar nasehat kakak iparnya, sedang ibunya sering malah ngomel duluan, bukan langsung mencari celah menuntaskan persoalan.


Mutia terus memandangi wajah polos Ariana yang sedikit memucat, Mutia yang awalnya ingin mendekat kini memilih tetap berdiri di ujung ranjang, Mutia tak tahu harus berada dibagian mana jika mendekat ke adik bungsunya.


Kini ada Farhan dan Risda yang duduk disisi kiri dan kanan Ariana, dengan masih dalam mode cemas, keduanya tampak terus mengelus rambut Ariana, ini tentu membuat tidur Ariana semakin nyenyak.


Agung dan Asrul kembali saling pandang, kembali saling geleng kepala dan kemudian kembali ke posisi semula, memandangi wajah Ariana yang sudah tampak tak memucat lagi, kini Ariana memang layaknya orang yang sedang tidur lelap, bukan lagi seperti orang yang sedang sakit.


“Tia kasi obat tidur ke adek ya ?”.


Tia mendelik mendengar tuduhan abangnya. “Abang ada saja, ngapain ?”.


“Itu, kok lelap ?”.


Mutia menggeleng. “Eh, abang ganteng, emang kalau abang tidur lelap, pasti baru nelan obat tidur gitu Bang ?”.


Asrul menggeleng. “Nggak juga”.


“Sakit kepalanya sudah hilang, merasa tenang, lha, pasti bawaannya tidur dong Bang Sayang. Obat tidur ?, abang ada ada saja”. Reni yang membantah.


Agung dan Asrul kembali saling pandang, kini keduanya sama tertawa kecil, dua duanya memang buta tentang ilmu kedokteran, nggak ngerti sama sekali. Mutia langsung memanyunkan bibirnya saat melihat ayah dan abangnya malah tertawa kecil, sedang Reni hanya ambil gaya geleng kepala.


Farhan sudah berdiri, kini bergabung dengan ayah dan abangnya, duduk di sofa yang memang tersedia disana, tapi Risda masih terus di posisi yang sama, Risda kini malah sudah merebahkan kepalanya di ranjang Ariana, pertama tama, jemari Risda masih terus mengelus kepala adik iparnya.


Tapi lama lama elusan itu tak ada lagi, diam. Mutia mendekat, senyum kecil dan geleng kepala, yang tertidur sekarang bukan hanya Ariana, tapi juga kakak iparnya, ya, Risda tertidur sudah, tapi tangan kirinya masih seperti membelai rambut Ariana, tangan yang satu lagi menggenggam jemari Ariana dengan erat.


Reni ikut mendekat, sama seperti Mutia, Reni juga tersenyum tipis, yang Reni tahu itu adalah gambaran rasa sayang dan rasa khawatir besar kakak iparnya terhadap Ariana, kakak iparnya memang terlampau sayang ke Ariana, semua tahu itu, semua paham kebenaran itu.


“Kakak ketiduran tuh Bang”. Colek Farhan.


Asrul tertawa kecil dan geleng kepala. “Nggak apa apalah Far, dibangunin juga bakal balik kesitu juga”.

__ADS_1


Farhan ikut senyum, ia mengerti apa yang dikatakan abangnya, andaipun dibangunin, kakak iparnya tidak akan tertarik untuk pindah tidur, maka sebaiknya memang di diamkan saja, itu malah lebih bagus.


…. Bersambung …


__ADS_2