Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Sakit Kepala Yang Terus Menyiksa


__ADS_3

Walau sudah lebih tiga bulan, tapi kepala Risda tak juga sehat, kepalanya terus terasa pusing dan sering berdenyut denyut sendiri, pikiran Risda pada cerita hidupnya membawa Risda pada kepanikan yang terus menerus, ada rasa jengah, ada rasa malu dan juga rasa kasihan pada ibu dan ayahnya.


Satu hal kini yang sangat Risda inginkan, jangan ada siapapun yang bertanya siapa ayahnya, karena Risda akan sangat sulit menjawabnya, Risda tahu, tapi tak bisa memberi penjelasan apa yang dikatahuinya dengan lengkap.


Ini setuasi yang sangat jauh beda dengan saat Risda masih sekolah bahkan hingga kuliah dulu, Risda merasa memang tak lagi punya ayah, yang ia tahu ibunya hanya hidup sendiri, sering Pamannya Firman yang ambilkan raportnya, ada yang bilang kalau Firman adalah ayahnya, Risda waktu itu hanya tertawa, termasuk saat Firman malah mengaku sebagai ayahnya.


Mau bohong ?, Risda juga tak punya kekuatan untuk itu, sejak kecil Risda tak biasa berbohong, ia selalu menyampaikan seluruh yang ia tahu dengan lengkap, tanpa menutupi apapun. Sehingga, pilihan terbaiknya tetap kesana, kalau boleh, jangan ada yang bertanya siapa dan dimana ayahnya.


Saat bel pulang berdering, Risda seakan tak minat pulang kerumah dengan cepat, hari ini dan mungkin seterusnya Risda hanya akan di antar ibunya, tapi kembali pulang kerumah Risda harus sendiri saja, karena ibunya menerima tawaran menjadi guru di sekolah swasta.


Ini membuat Natalia dari sekolah yang berdekatan dengan tempat Risda mengajar langsung ke sekolah barunya, sehingga tidak mungkin lagi pulang sama sama dengan Risda seperti yang selama ini mereka lakukan bersama.


Risda memilih duduk dikantin dan berpikir pikir. Akhirnya Risda teringat Asrul, Risda merasa Asrul akan dapat banyak membantu, bagi Risda, nyatanya memang Asrul adalah teman terbaik, teman paling baik, sebulan lalu mereka janjian ketemu, tak jadi, tidaklah salah kalau Risda yang datang.


Itu kemudian yang membawa Risda tanpa pikir panjang langsung mengambil langkah menuju rumah Asrul yang sudah beda Walikota dengan tempat tinggalnya. Dan Risda tampak cukup gembira saat turun dari taxi, ia mendapati Asrul sedang memotong bunga dihalaman rumahnya.


“Hei… mimpi apa ?”.


“Mimpi Siang”.


Asrul menerima jabat tangan Risda dan menghentikan pekerjaannya. Asrul dan Risda sama sama tersenyum dan menuju kursi yang ada ditaman halaman samping rumah Asrul yang sedikit tertutup, Risda langsung duduk sementara Asrul kembali berdiri masuk rumah dan keluar lagi dengan membawa dua botol air mineral.


“Minum dulu”.


“Makasih”. Risda langsung meraih minuman dan meneguknya.


Asrul terus memperhatikan Risda. Sebagai teman yang sudah lama sering bersama, Asrul dapat menangkap kegelisahan yang sedang menguasai Risda, Asrul juga yakin kalau kedatangan Risda kali ini sama dengan kedatangannya sebelum sebelumnya, karena sedang punya masalah pelik.


Asrul selalu siap menjadi pendengar keluh kesah Risda, selalu begitu sejak masih SMA dulu. Asrul sangat yakin dengan itu, apalagi melihat Risda yang masih dengan pakaian mengajar.


“Dari sekolah tadi Ris ?”.


Risda anggukkan kepala. “Langsung kesini”.


Asrul ikut ikutan angguk kepala. “Kamu tampak resah Ris, kenapa ?”.


“Pusing Rul”.


Kening Asrul agak berkerut. “Pusing ?, kenapa ?, Cowokmu .. atau …”.


Risda agak mendelik. “Cowok ?.. cowok apaan ?”.


“Ya.. Pacar kamu ?, bukan ?”.


Risda mencibir. “Aku nggak punya pacar, emang kamu pacaran terus”.


Asrul menggeleng. “Macam nggak tahu saja kamu Ris, punya pacar aja nggak, bagaimana bisa terus pacaran”.


Risda mencibir lagi. “Gayamu nggak punya”.


“Emang nggak punya”.


“Wiwik ?”.


Asrul geleng kepala. “Masih juga nanya Wiwik. Ris .. Ris .. lama lama kau mengherankan, masih muda sudah pikun”.


“Pikun apaan ?”.


Asrul mendelik. “Ngapain nanya Wiwik ?”.


Risda dan Asrul sama sama tertawa. Risda juga tahu kalau Wiwik sudah menikah dengan teman SMA nya dulu, bahkan Risda datang waktu resepsinya, Risda hanya asal ngomong aja tadi, dan memang tahu kalau Wiwik sudah

__ADS_1


meninggalkan Asrul sejak mereka di pedalam dulu.


“Aku bisa kok punya pacar lagi, asalkan ….”.


Risda melirik Asrul agak tajam. “Asalkan apa ?”.


Asrul menggaruk kepalanya yang nggak gatal. “Asalkan kamu mau”.


“Aku ?, maksudnya ?”.


Asrul tertawa kecil. “Kalau kamu mau jadi pacarku, kan otomatis aku punya pacar lagi. Gimana ?”.


Risda mendelik. “Aku ?”.


Asrul angkat bahu. “Gimana ?”.


“Mau kamu gimana ?”. Risda tampak menantang.


“Mau aku ya… kamu mau. Beres”.


“Beres beres, apanya yang beres”.


“Lha.. kan beres. Asrul dan Risda pacaran. Selesai”.


“Semudah itu ?”.


Asrul anggukkan kepala dan langsung menjabat tangan Risda. “Deal ?”.


“Deal”.


“Yes”.


“Ee..e.. tunggu dulu”.


Asrul menatap Risda lekat. “Apa yang ditunggu”.


“Nggak jadi… nggak jadi”. Risda buru buru bicara.


“Nggak jadi ?, nggak bisa dong. Tadikan sudah deal”.


“Tadi salah ngomong”.


“Nggak bisa begitu dong”.


Risda jadi bingung sendiri. Sejujurnya ini keadaan yang sama sekali tidak diharapkan Risda terjadi hari ini, masa selama ini Risda mati matian menghindar dari rayuan Asrul, eh .. tiba tiba dengan mudahnya terjerat kata sendiri.


Kalau bicara hati, sejujurnya Risda juga tak menampik kalau ia yakin akan bahagia jika bisa bersama dengan Asrul, orang yang selama ini menjadi tempatnya mencurahkan segala keresahan yang ia punya. Tapi Risda punya pikiran lain yang membuatnya memaksa membuat halangan sendiri dengan apa yang Asrul inginkan.


“Bukan begitu Rul, tapi ….”.


“Nggak tau, yang penting tadi udah deal”.


“Rul, tunggu dulu”. Risda tampak memelas. “Tunggu dulu dong, jangan main deal deal aja”.


“Nggak bisa gitu dong”.


“Tapi Rul”.


“Nggak pake tapi. Sekali deal tetap deal. Okey ?”.


Risda lemas. Ia tertunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Bukan tidak suka dengan keadaan ini, tapi Risda membayangkan cerita demi cerita yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya, setelah Kakek dan Neneknya, kemudian Ayah dan Ibunya.

__ADS_1


Apakah Risda juga harus mengalami cerita yang sama, memaksakan diri menikah dengan orang yang keyakinannya berbeda. Risda tak punya keberanian melakukan itu semua, yang Risda takutkan kejadian yang menimpa Kakek dan Neneknya, kisah yang menguasai Ayah dan Ibunya kemudian turun padanya, Risda takut dengan itu.


“Aku takut Rul”.


Asrul menatap wajah Risda lekat kembali. “Takut kenapa ?”.


Risda membuang nafas agak berat, Risda mencoba tenang dan memulai cerita tentang Kakek dan Neneknya, kemudian Risda juga membahas tentang Ayah dan Ibunya.


“Apakah aku juga harus mengulangi hal yang sama ?”.


Asrul tampak senyum. “Tidak perlu Ris”.


Kening Risda berkerut. “Maksudnya ?”.


“Soal itu nanti aja kita bahas”.


“Tapi Rul”.


“Soal apa lagi ?”.


Risda kembali menggelengkan kepala, sekarang Risda langsung menceritakan apa yang dialami oleh Kakek dan Neneknya, kemudian berlanjut dengan apa yang terjadi pada Ayah dan Ibunya, kini dengan cerita yang selengkap lengkapnya, tanpa ada sisa sedikit saja, selengkap lengkapnya tanpa mengurangi apapun juga.


“Aku bukan wanita yang sempurna Rul. Ceritaku bahkan cerita yang bisa membuat banyak orang malah mungkin jijik mendengarnya”. Keluh Risda.


Asrul malah tertawa kecil, menggeleng kepala. “Gua nggak peduli”.


Risda menatap Asrul yang kebetulan juga sedang menatapnya. Asrul begitu menikmati pemandangan yang dekat di wajahnya, Risda yang tampak sayu dengan isi pikiran yang jelas mengambang. Tapi, terlihat sangat cantik di mata Asrul.


Asrul tersenyum manis, menggeleng. Risda ikut menggeleng, menghela nafas juga dan mengalihkan pandangan kembali ke taman, jemari Risda kini mengurut kening dengan perlahan, karena kepalanya kembali sedikit berdenyut, ini keresahan baru Risda sekarang.


“Kepalaku sakit Rul, berdenyut terus, bahkan sudah tiga bulan ini”.


Asrul merangkul bahu Risda. “Nanti atau besok kita periksa”.


“Periksa ?”.


Asrul anggukkan kepala. “Atau besok kita ke tempat mama”.


Risda mendelik saat Asrul enak saja mencium pipinya. “Apa sih Rul ?”.


Asrul bukannya tobat, malah ambil kesempatan sekali lagi, muka Risda langsung memerah, tapi entah kenapa, kini Risda malah menyandarkan kepalanya di leher Asrul yang merangkulnya, bahkan sekarang membiarkan Asrul yang sudah berkali kali mengecup puncak kepalanya.


Entah kenapa, Risda ternyata semudah itu merasa nyaman di samping Asrul, kini Risda sadar, sadar sesadar sadarnya, kalau ia juga tak bisa menutupi perasaannya selama ini, Asrul sudah berulang kali mengatakan niatnya untuk menjalin hubungan serius dengan Risda, tapi selama ini Risda menolaknya dengan halus.


Tapi, hari ini Risda benar benar kalah, ia tak lagi memiliki kemampuan untuk menolak, karena pada dasarnya, Risda juga punya perasaan yang hampir sama, hanya saja rasa takutnya selama ini selalu menang, sehingga tak punya keberanian yang cukup untuk mengakui hal yang sama pada Asrul.


"Jadi aku benaran kalah ya Rul ?".


Asrul agak mendelik. "Kalah ?, maksudnya ?".


Risda menggeleng. "Aku kalah, dikalahkan oleh perasaanku sendiri. Selama ini aku hanya takut Rul".


Asrul senyum tipis. "Kenapa jadi takut ?".


Risda menggeleng. "Entahlah".


Asrul hanya tertawa kecil, ia sama sekali tak peduli dengan rasa takut Risda, entah rasa takut apa itu, yang jelas, saat ini Asrul hanya ingin menikmati awal kebahagiaan bisa bersama dengan Risda. Asrul sama sekali tak peduli apapun nanti yang akan terjadi, yang jelas, Asrul memang sangat menginginkan Risda menjadi teman hidupnya.


Dan kini keinginan itu sudah selangkah lebih maju, Risda sudah setuju memulai membangun hubungan yang serius, itu tentu membuat Asrul bagai melayang di udara, sekarang sudah ada banyak khayalan yang muncul di benaknya, yang tentunya semua bermotif bahagia.


… Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2