Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kecurigaan Jamil (2)


__ADS_3

Jamil terdiam. Tapi pikiran aneh itu semakin kuat mengikatnya, Haris mungkin anggap almarhum Indah adalah ibunya, hingga Haris tak begitu tahu jika ibunya juga dia tak tahu dimana. Jamil akhirnya memilih diam, tak lama Jamil berdiri.


“ Paman istirahat dulu ya “.


“ Okey.. kekamar aja Paman “.


Haris membawa pamannya Jamil kekamar tidurnya yang tak seberapa lebar. Saat hendak keluar Jamil memegang tangan Haris.


“ Ada apa Paman ?”.


“ Duduk “.


Walau sedikit heran, Haris duduk ditepi ranjang bersebelahan dengan Paman Jamil. Haris memperhatikan wajah Jamil yang lumayan kelabu.


“ Ada apa Paman ?”.


Jamil buang nafas berat. “ Kamu punya cerita yang agak mirip Ris “.


“ Mirip ?, maksud Paman ?”.


“ Dia tak tahu siapa ayahnya, kamu tak tahu siapa Ibumu, iya kan ?”.


Kening Haris berkerut. “ Ibuku sudah meninggal Paman“.


Jamil tersenyum, pikiran Jamil benar. Haris mengira Indah adalah ibunya. Jamil menepuk nepuk bahu Haris yang makin bingung. “ Ayah kamu tak pernah cerita, ibumu bukan Mbak Indah ?”.


Haris baru sadar, dan mengangguk-angguk. Ayahnya pernah cerita kalau ibu kandungnya memang bukan Indah. Tapi karena Indah amat sayang padanya, Haris tak pernah kepikiran soal itu. Haris baru sadar, memang ada kemirian hidupnya dengan Natalia, Haris tak kenal ibunya, Natalia tak kenal ayahnya.


“ Kamu tahu Ris, Ibu kandungmu orang Tukka ?”.


Kali ini Haris terkejut. “ Orang Tukka ? Masa sih Paman ?”.


“ Ya, Ibu Kandung Kamu Orang Tukka, dan bermarga Sitompul “.


“ Sitompul ? Maksud Paman ? Sama dengan….. “. Haris jadi tambah bingung.


“ Ya, Ibu kandung kamu marganya sama dengan Mama Lia“.


Haris tertawa kecil. “ Berarti bisa saja dong, kalau Mama Lia kenal dengan Ibu Kandung Haris, mereka berasal dari daerah yang sama dan bermarga sama “.


“ Bisa saja Ris “.


Haris diam sebentar. Telunjuknya ia mainkan. “ Tapi Tukka besar kan Paman ?”

__ADS_1


“ Ya, Tukka itu Kecamatan “.


“ Kalau begitu belum tentu kenal Paman, bisa aja lain Desa, Ibu Kandung Haris desanya apa Paman “.


Jamil geleng kepala. “ Kecamatan disana bukan seperti kecamatan disini Ris, beda sekali tentunya. Disana kecamatannya kecil, Cuma beberapa Desa, Ibu kandung kamu di Pasar Tukka “.


Haris hanya mengangguk angguk saja. “ Paman Tidur aja dulu “.


Jamil tak lagi menjawab, ia langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan melurus-luruskan badab. Jamil tak bisa tidur, walau jam sudah pukul 23.00 WIB. Jamil masih mendengar Haris dan Natalia berbalas tawa, dan terdengar benar begitu manjanya Natalia pada Haris. Jamil benar benar tak bisa tidur, walau badan sudah dibolak balik kekanan kekiri tapi tetap saja Jamil tak bisa tenang. Hingga Natalia pulang, bahkan sampai subuh datang menjelang Jamil benar-benar tak bisa tidur.


“ Ris, kita kerumah Natalia “.


“ Boleh, tapi mamanya cantik lho, nanti paman ?”. Haris masih bergurau.


“ Hus.. mau ngga’ ?”.


“ Iya.. deh “.


Haris memeluk pinggang Pamannya Jamil. Yang terbayang dimata Haris adalah, bagaimana Pamannya jumpa dengan calon mertuanya dan tentunya akan menjawab keraguan Mama Natalia selama ini.


Pada saat Natalia membuka pintu ia terkejut melihat wajah Haris dan Pamannya Jamil, Natalia tampak gembira dan mempersilahkan mereka masuk.


“ Mama kamu dimana Lia ?”.


“ Lama pulangnya ?”.


“ Pasti Lama kaya’nya Paman, soalnya mama juga mau matangkan persiapan pesta, kan waktunya ngga’ sampe dua minggu lagi Paman “.


“ Oh.. iya Ya “.


Sudah telalu sore, sudah pukul 17.00 WIB. Mama Natalia tak pulang juga, akhirnya Haris dan Paman Jamil pulang. Sialnya, begitu Haris dan Paman Jamil hilang ditikungan Mama Natalia muncul.


“ Mama kelamaan “.


“ Emang kenapa ?”.


“ Paman Bang Haris dari Sibolga tadi datang Ma “.


“ Sibolga ?”.


“ Ya.. “.


Natalia ambil tas pelastik dari tangan Mamanya dan beranjak masuk kedalam. Jujur, sebenarnya Mama Natalia cukup terkejut dengar nama kota itu. Kota kecil tempat dimana dia tinggal cukup lama.

__ADS_1


“ Sekarang dimana ?”.


“ Ya.. Mama sih kelamaan, baru aja pulang. Udah empat jam disini nungguin Mama “.


“ Ya.. udahlah. Ngga’ apa apalah, besok kan masih bisa “.


Natalia hanya mengangguk. Nama Sibolga tetap terasa tinggal dihati Mama Natalia, ia merasa ada sesuatu disana, ya.. kenangan masa lalunya, walau sudah puluhan tahun ia tinggalkan namun tetap melekat dihati Mama Natalia bahwa ia berasal tak jauh dari kota kecil itu.


Haris tentu merasa semua hari punya makna yang indah, apalagi kebersamaan itu hanya tinggal menunggu waktu aja. Haris setiap hari tetap jemput Natalia dan makan siang bersama ditempat tempat yang mereka sepakati bersama. Siang ini Haris masuk rumah makan yang lumayan besar juga disekitar Senen, sambil jalan jalan kata Natalia, Haris menerima aja.


Haris dan Natalia memilih duduk dimeja yang agak kepinggir, dari sana bisa sambil memandang kejalan raya yang sangat sangat padat, apalagi di jam makan siang seperti ini, pasti sangat ramai.


“ Paman dimana Bang ?”.


“ Di rumah, tidur kali “.


Haris dan Natalia sama tertawa. Walau sudah pasti menikah, Haris tetap kagum dan merasa perlu terus memandangi wajah Natalia yang katanya amat sangat cantiknya. Haris terus memandangi wajah Natalia yang sibuk dengan ponselnya, pasti balas SMS, sebab Natalia tampak senyum sendiri.


Haris harus melihat kebawah karena ada yang menyentuhnya. Haris senyum melihat seorang gadis kecil yang memandangnya, anak kecil yang menurut Haris paling berusia empat tahun, manis sekali, tapi Haris jadi agak bingung, anak siapa nih, itu yang ada dalam hati Haris. Haris membelai kepala anak itu, eh.. anak itu malah senyum lebar.


“ Tulang[1].. “.


Kening Haris berkerut, Haris ganti cara duduknya hingga menghadap anak itu. “ Kamu panggil Tulang ?.. namanya siapa ?”.


“ Indli Tulang.. “.


“ Tulang lagi, kok panggil tulang ?”.


Indri menggaruk pipinya. “ Mama Indri tuh.. ulungan, atanya.. panggilnya Tulang, gitu… “.


Haris tepuk jidat. Anak kecil ini memang benar, Haris tak habis pikir, anak sekecil ini tahu tutur, Natalia geleng geleng kepala dan terus tersenyum, Natalia bahkan tak bisa bicara, Natalia melongo menatap anak manis itu, heran dan sangat salut, luar biasa sekali.


Haris angkat anak itu kepangkuannya. “ Yang bilang siapa ?”.


“ Mama… “.


“ Oh ya.. Mamanya mana ?”.


“ Tuh.. “.


Haris dan Natalia ikuti tunjukan anak kecil itu, Haris dan Natalia menemukan seorang Wanita muda berjilbab dengan senyum penuh melambaikan tangannya, hanya berjarak dua meja dari mereka, disampingnya ada juga seorang laki laki yang juga penuh senyum, pasti ayah anak ini.


[1] Tulang = Paman dari Ibu (Saudara Laki laki Ibu)

__ADS_1


..... BERSAMBUNG ....


__ADS_2