Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Menguak Kenangan


__ADS_3

Haris melirik jam yang ada ditangannya, hampir maqhrib sudah. Haris berdiri dan permisi, Haris salam lagi dan cium tangan Mama Natalia, Mama Natalia entah kenapa memang begitu senang dengan Haris, ia bahkan ikut antar Haris hingga kepagar rumah bersama Natalia. Diatas taxi Haris terus sumringah, Haris tak menyangka ia dapat sambutan yang begitu baik dari Mama Natalia.


Setelah hari itu Haris merasa begitu yakin akan berhasil membangun hidupnya dengan Natalia, kini tak lagi ada penghalang yang memungkinkan menjadi alat pemisah mereka, Haris dan Natalia begitu lega, mereka membangun kebersamaan dengan mulus, berjalan baik dan apa adanya.


Dan Haris memang benar benar cinta pada Natalia, Haris amat sangat mencintai Natalia, ada sesuatu yang lain dalam pikiran Haris jika tak bertemu dengan Natalia, kalaupun tak bisa ketemuan, maka ponsel yang akan jadi korban, untuk itu walau sudah selesai kuliah dan bahkan sudah jadi guru, tapi tampang Haris masing sering kelihatan dikampus, hampir tiap hari malah, Haris terus hadir disana, pulang sekolah Haris pastikan langkah menuju kampus. Yang jelas hanya untuk mengisi hari bersama Natalia. Tiada hari tanpa Natalia, sehari tak bertemu Natalia rasanya setahun.


Cinta kadang memang dari terasa begitu aneh dan sangat lucu, baru aja ngobrol lama, begitu pisah, malamnya ponsel akan berdering dan ngobrol lagi hingga berjam jam. Kadang kadang yang diomongin juga udah hampir ngga’ ada lagi, kadang kadang lebih banyak diam, kemudian sama ketawa, diam lagi dan hanya bicarakan sesuatu yang gunanya tak jelas sama sekali, tapi itulah, kata tak begitu tak senang, hati juga ikut tak tenang.


OO oo OO


Dengan gembira ayah Haris membuka amplop surat anaknya, dan menemukan satu photo, Haris sedang memeluk pinggang seorang gadis dari belakang, gadis yang memang cantik. Ayah haris cukup senang, anaknya dapat wanita yang cantik. Lama ayah Haris memandangi photo itu dengan senyum yang penuh mengisi bibirnya.


Tapi Ayah Haris lumayan kecewa, sama saat Haris pertama kali melihat kalung salib yang ada dileher Natalia, Ayah Haris kecewa bukan karena apa, dia hanya khawatir terhadap kelanjutan hubungan itu, ayah Haris terus memandangi photo yang dikirim anaknya Haris, ini calon menantu ayah, itu tulisan yang ada dibelakang photo itu.


Ayah Haris membuka lipatan surat Haris.


Ayah….


Saya sudah bekerja disini, Haris dibantu Amang Tua Saruksuk yang Kepala sekolah itu, lumayan juga sih, Haris ingin sekali membawa Ayah dan Wak Jainal tinggal disini. Disini kita bisa jalan jalan ke Monas, ayah tahu Monas kan ?, tuga yang tinggiiii sekali, diatasnya banyak emas. Kita juga bisa jalan jalan ke Ancol, tapi pantainya Ancol itu ngga’ lebih bagus kok dengan Pantai disana. Cuman enak Yah, disini bagus, bersih.


Ayah…


Namanya Natalia, dia cantik, baik, kita pacaran sudah lebih dua tahun,  hingga akhirnya menyimpulkan untuk menikah. Kita menikah seminggu setelah Natalia diwisuda. Ayah harus datang, ngga’ boleh ngga’.


Tapi Haris kok pede benar ya, mestinya Haris nanya dulu, Ayah setuju ngga’ ?, wak Jainal setuju ngga’ ?. tapi harus setuju. Ini pilihan Haris. Okey..


Ayah…

__ADS_1


Haris sudah bulat dengan keputusan itu, Haris harap ayah memberi Do’a restu untukku dan Natalia, please ya Yah, Pleeeas…


Sembah sujud ananda.


Haris Arianda


Ayah Haris tersenyum, Haris minta persetujuan tapi maksa, Haris Haris, pikir Ayah Haris cukup geli. Tapi Ayah Haris kembali buang nafas, kenapa harus beda agama ?, bukan tak senang dengan orang yang lain agama, bukan anti dengan agama lain, tapi rasanya kurang pas nantinya, siapa yang harus mengalah, siapa ikut siapa, dan yang paling membuat Ayah Haris takut adalah pengalaman sendiri, ayah Haris dulu menikah dengan wanita yang beda agama, sama sama bertahan dengan agamany, akhirnya berantakan, bahkan mereka berpisah dan sama sama meningkalkan tanah kelahiran mereka.


Ayah Haris kini tinggal sendiri di Bandar Lampung setelah Haris mandah ke Jakarta meneruskan kuliahnya, sedang Ireth istrinya ayah Haris tak tahu kemana rimbanya, bahkan apa jenis kelamin anak keduanya pun ia tak tahu, Ibu Haris pergi setelah pertengkaran besar, ia pergi dalam keadaan hamil 6 bulan, walau hasil USG menyatakan anak keduanya perempuan tapi ayah Haris tidak langsung mengklaim anak keduanya perempuan.


“ Kenapa Bang ?”.


Pak Pram, ayah Haris tersentak. Adik perempuannya Mila muncul dengan adiknya Jamil yang sekarang sudah jadi Ustadz dikampung halaman mereka. Keduanya duduk didepan Pram.


“ Kok termenung Bang, ada apa ?”.


“ Mirip ya sama Abang “.


“ Ya iyalah, anaknya, kakak lucu “.


“ Bukan Haris, pacarnya Haris, lihat “.


Mila mendekat ke Jamil, berdua mereka kembali memandangi photo itu dengan seksama. Benar, ada banyak kemiripan dengan ayah Haris, bahkan tampak kalau Haris dengan wanita itu bukan sepasang kekasih, orang akan percaya bila itu dikatakan kakak beradik.


Ayah Haris meraih kembali photo itu dan memperhatikan photo itu dengan perlahan sekali, benar. Dan entah kenapa perasaan Ayah Haris langsung ngga’ enak menemukan kemiripan itu, ini bukan sekedar mirip, tapi terlalu mirip.


“ Mil .. “.

__ADS_1


“ Ya, Bang “.


“ Kamu yang berangkat ya, abang mungkin ngga’ maksakan“.


“ Okey Bang “.


Jamil hanya mengangguk sesudahnya. Ayah Haris memang rasanya tak mungkin paksakan diri berangkat menghadiri undangan yang ada ditangannya, walau Haris itu anaknya.


Sejak dua tahun belakangan ayah Haris tak bisa banyak bekerja, apalagi untuk pergi kemana-mana, penyakit gula yang sudah cukup lama menggerogotinya menjadi penghalang terbesar bagi semua rencana perjalannya. Ayah Haris lebih banyak berdiam diri dirumah, untung dia punya usaha yang lumayan besar yang dikelola oleh orang kepercayaannya, hingga ayah Haris hanya banyak menunggu dirumah, menuggu setoran dari hasil usahanya untuk keperluan sekolah Haris.


“ Haris final dengan pilihannya ?”.


“ Ya, iyalah, wong dia udah mau kawin, gimana sih ?”. Mila yang langsung menyambar.


“ Tapi Kak ?”.


“ Tapi apa ?”.


Jamil hanya menatap Kakaknya, tapi Mila seperti mengerti maksud Jamil, dan menepuk nepuk bahu adik bungsunya.


“ Sekarang jaman udah beda dengan kita dulu Mil, jadi ya.. itu lah, mau apa lagi, Haris kok yang memang mau “.


“ Jadi cara kawinnya gimana ?”.


“ Tanya tuh yang udah pengalaman “. Mila menunjuk ayah Haris.


.... BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2