
Usai sarapan, Haris mengambil kunci mobil, ia iseng saja sebenarnya, Haris menuju kantor walikota, mencoba menemui sahabatnya Udin, Haris hanya ingin melihat saja apa reaksi Udin, apalagi Jamil mengatakan kalau Udin pernah bertanya tentangnya, ini membuat Haris punya keyakinan kalau Udin juga ingin bertemu dengannya.
Haris ternyata datang terlampau cepat, saat Haris sampai dan bertanya di Pos Satpam, ternyata orang yang Haris cari belum sampai ke kantor, dan memang biasanya juga jam segini belum nyampai dianya, sehingga membuat Haris terpaksa berdiri menunggu di depan pos.
Udin datang dengan mobil yang tak biasa ia pakai, sehingga membuat Satpol PP yang berjaga di pos tidak tahu kalau yang baru masuk itu pimpinannya. Udin begitu terkejut melihat Haris berdiri di pos, walau sudah banyak rambut putihnya, tapi Udin masih bisa mengetahuinya.
Udin menjamin itu temannya Haris, karena tanpa Haris tahu, sebenarnya Udin mengikuti perkembangan Haris di media sosial, juga diberita berita majalah dan koran online, sehingga perkembangan Haris sedikit banyak Udin ketahui, Udin sumringah, turun dari mobil dan langsung mendekati Haris.
“Hai … Arianda, aku nggak mimpi kan ?”.
Haris langsung mendekat. “Jin nggak senyata ini Kawan ..”.
Keduanya sama tertawa dan langsung berpelukan. Semua yang melihat sama sama terkejut, mereka belum pernah melihat pimpinannya sampai begitu, sehingga semua yakin kalau itu orang yang istimewa, kalau tidak, mana mungkin pimpinan mereka bahkan turun dari mobil dan mengejarnya.
Tiga anggota Satpol PP yang ada di pos saling pandang, padahal tadi mereka hampir saja meminta Haris untuk menjauh, untung saja hal itu belum sempat terjadi, kalau tidak mereka akan sangat malu tentunya, atau jangan jangan bisa ke semprot karena mengusir teman dekatnya.
Udin membawa Haris masuk ke ruangannya, tak lama minuman juga datang, Haris terus tertawa renyah, Udin juga begitu, keduanya tentu tak menyangka jika mereka masih bisa ketemu setelah puluhan tahun tak pernah berkomunikasi. Udin yang banyak bercerita, Haris hanya angguk angguk kepala saja.
“Bentar Ri, aku telephon Faisal dan Ryan dulu ya”.
Haris mengacungkan jempolnya. Udin tentu tak kenal nama Haris, yang ia tahu adalah Arianda, Arianda Nasution. Nama Haris itu baru ada setelah mereka tak ketemu lagi, nama yang datang saat Haris dibawa ayahnya ke Bandar Lampung, sehingga teman temannya disini hanya kenal Arianda.
Udin meletakkan ponselnya. “Mereka datang sebentar lagi”.
Haris tertawa. “Memang Faisal sama Ryan disini Din ?”.
Udin anggukkan kepala. “Faisal itu kan PNS Ri, dia sekarang Kepala Dinas Pariwisata disini. Kalau Ryan polisi dia, baru baru ini dia pindah tugas disini, Ryan Kapolres disini Ri”.
Haris mendelik. “Ah, kawanku hebat hebat rupanya”.
Udin menggeleng dan tertawa kecil. “Tak lebih hebat dari Senior Manager kan ?”.
Haris makin mendelik. “Ah, kau Din. Tapi, darimana kau tahu ?”.
Udin hanya tersenyum, ia mengambil majalah yang ada di laci mejanya dan menyerahkan ke Haris. Baru membuka halaman pertama, Haris langsung menggeleng, ini berita tentang pengalihan perusahaan PMA ke PMDN yang sukses di tangani Haris, gerakan nasionalisasi beberapa perusahaan sawit besar di daerah perbatasan, pantas saja Udin tahu posisinya, Haris juga menjadi terharu, tak sangka jika Udin ternyata intens mencari info tentangnya.
Padahal Haris bertindak sebaliknya, Haris benar benar tak peduli apapun kecuali hidup dan pekerjaannya, Haris tak pernah berpikir tentang apapun dan siapapun di masa lalunya, Haris terlampau sakit dengan apa yang terjadi, sehingga melupakan semua hal yang berhubungan dengan masa lalunya.
Andaikan mungkin Haris tak pernah ketemu Risda, maka kemungkinan Haris juga akan tetap bagai hilang di telan bumi, bahkan komunikasi saja tak ada, saat sampai di Kalimantan, Haris terpaksa menjual ponselnya karena kekurangan uang, nomornya memang ia simpan, tapi akhirnya tak terpakai lagi karena Haris baru bisa beli ponsel setelah dua tahun berikutnya, setelah promosi ke kantor.
"Jadi, ini yang membuat kau langsung kenal aku Din ?".
Udin tersenyum dan angkat bahu. "Kau pikir aku sehebat apa Ri, sampe sampe masih ingat wajahmu setelah 42 tahun tak ketemu, teman kita SMP saja belum tentu kita ingat kalau nggak ketemu lagi. Ri .. Ri .. kita pisah saat kita masih anak anak, bahkan masih TK, sekarang kita sudah punya cucu, kita sudah kakek kakek, aku nggak sehebat itu kawan".
__ADS_1
Haris menggeleng, ia juga memang, Haris juga tadi langsung memeluk karena melihat Udin yang langsung mengenalnya, padahal yang ada di depannya sama sekali jauh dari apa yang dibayangkannya. Sudah sangat jauh tentunya, tapi Haris begitu yakin itu Udin.
"Yah, itu sudah terlampau lama memang Din, tapi aku masih ingat rambut ikalmu Din, tahi lalat mu dan yang paling menyakinkan adalah senyuman mu, entah kenapa, aku masih belum lupa itu".
Udin kembali memberikan beberapa majalah lain yang langsung membuat Haris terpaku, di setiap majalah ini ada berita yang menampilkan photonya besar besar, memang sudah cukup lama Haris ikut ambil bagian dalam gerakan nasionalisasi perusahaan asing, bahkan Haris pernah mendampingi mentri untuk hal ini.
"Pertama aku melihat photomu, entah kenapa aku sangat yakin itu kamu Ri, bahkan bulu kudukku merinding, walau aku heran kenapa ada kata Haris. Satu waktu, aku ketemu dengan Paman Jamil, aku menanyakanmu, dia mengatakan kau di perkebunan Kalimantan, aku semakin yakin itu kamu".
Haris menggeleng. "Tak lama setelah tamat kuliah aku memang langsung ke Kalimantan Din, aku disana sampai sekarang".
"Paman Jamil memang memberikan tiga nomor waktu itu, tapi nomormu tak bisa di hubungi, tapi aku bicara banyak dengan Tante Ireth ibumu, juga dengan adikmu Lia, itu yang membuat aku 100% yakin kalau itu kau Ri, apa lagi itu Ri, luka di atas keningmu itu”.
Haris tertawa dan memegangi keningnya. “Masih ingat kau Din”.
Udin garuk kepala. “Kan aku pelakunya”.
Haris dan Udin sama sama tertawa, Haris kembali memegangi keningnya, ini akibat dari permainan patok lele, Udin yang berperan sebagai pemukul, Haris yang jadi tukang tangkap, mungkin terlalu keras, tangkapan Haris meleset, malah menimpa keningnya dan tergores, itu murni kecelakaan, tak ada unsur kesengajaan.
“Tante Ireth juga masih ingat aku, aku banyak meminta photomu dari tante, itu ku bandingkan dengan yang di majalah itu, membuat aku benar benar percaya itu memang kau Ri”.
Haris kembali menggeleng. “Entahlah Din, aku terlampau larut dengan hidupku”.
Udin tertawa kecil. “Semua juga akan begitu Ri, dengan apa yang kau alami”.
Udin anggukkan kepala. “Tante menyampaikan semuanya Ri, aku tahu semuanya dari tante, aku merasa, kekecewaanmu itu pantas kawan, jika itu menimpaku, aku mungkin bisa lebih parah”.
Haris kembali menghela nafas. “Ibu benar benar menceritakan semuanya Din ?”.
Udin kembali anggukkan kepala. “Kau tahu Ri, tante selalu menangis jika kami bicara di telephon. Dua minggu sebelum tante meninggal, kami masih bicara, awalnya aku juga ingin berangkat, tapi ternyata tidak seperti disini, tante hanya satu hari saja di semayamkan, aku batal datang".
Haris memandang Udin lama, Haris menjadi mendesah, mata Haris sudah sangat pedas, Haris makin tersadar, ternyata ia terlampau egois selama ini, Haris terlampau larut dengan dirinya, hanya peduli kepada kehidupan yang ia punya, padahal ada ratusan kehidupan lain yang mengingatnya, bahkan Udin sahabat kecilnya sampai sebegitunya ingin tahu keberadaannya.
Kini bayangan Haris juga beranjak ke ibunya, saat Haris memutuskan pergi, Ireth memang tak melarang, tapi Ireth terus memeluk Haris dengan kuat, hingga lebih dari setengah jam barulah Ireth melepaskan pelukannya, Ireth berbalik dan langsung masuk rumah.
Haris juga lebih setengah jam masih berdiri terpaku memandang ke pintu, yakin ibunya tak muncul lagi, barulah Haris melangkahkan kakinya, setelah itu Haris tak melihat kebelakang lagi, ia terus berjalan hingga ke jalan raya, naik bus sampai ke pelabuhan Merak, Haris lama tertahan karena kapal tak ada yang berangkat.
Awalnya Haris ingin pulang ke Bandar Lampung, tapi obrolan Haris di pelabuhan dengan kenalan barunya membawa Haris berubah pikiran, ia tak jadi ke Bandar Lampung, tetapi ikut dengan kenalan barunya jauh ke Kalimantan, kenalan baru ini pula yang membawa Haris masuk ke perkebunan sebagai pekerja harian.
Perubahan hidup Haris berlangsung setahun setelah itu, saat Haris bertemu dengan pemilik perkebunan, setelah ia tahu Haris seorang Sarjana, ia menarik Haris ke kantor, Haris makin larut dengan hidupnya, Haris 1000% fokus pada kerjanya, sehingga karir Haris terus membaik, sehingga dalam waktu tak sampai 15 tahun, Haris sudah menempati posisi senior manager.
Haris sudah merasa begitu nyaman dengan hidupnya, tak ada yang masuk ke dalam pikiran Haris kecuali bekerja dan menyalurkan hobby nya memancing. Dengan kondisi ekonomi yang semakin membaik, Haris mulai merambah jauh untuk menyalurkan hobbynya, hingga masuk ke pedalaman.
Ini pula yang membuat Haris berteman dengan Buang, seorang pemilik sampan yang lumayan besar dan tahu dimana tempat memancing terbaik, Haris sudah dibawa Buang kebanyak tempat, tak hanya di sungai, bahkan mereka juga memancing jauh ke laut, sampai hanya beberapa mil saja sudah di titik perbatasan.
__ADS_1
Pertemanan Haris dengan Buang inilah yang mengawali lahirnya perubahan konsen Haris, saat Buang membawanya ke Upacara HUT Kemerdekaan di pedalaman, Haris menemukan pemandangan yang mengaduk aduk jantungnya, bahkan berhasil membuat aliran darah Haris nyaris berhenti, Risda.
Semua sekarang terngiang di telinga Haris, kepalanya benar benar padat, hanya ada rasa menyesal sekarang, tapi yang namanya penyesalan memang selalu terlambat, tapi Haris benar benar kecewa dengan dirinya sendiri, apalagi melihat teman kecilnya Udin yang malah menjadi teman curhat ibunya yang pasti begitu menderita menahan rindu padanya.
Padahal sebagai seorang anak, semestinya Haris lah yang wajib memberikan hiburan kepada ibunya, Haris tidak mesti mengedepankan rasa kecewa dan menimpakan semua kesalahan pada orang tuanya, itu benar benar salah, itu benar benar tindakan yang seharusnya tidak Haris lakukan.
Haris bahkan melewatkan banyak hal, hingga kepergian ibunya, ayahnya, wak Jainal dan banyak hal lain yang seharusnya menjadi tanggung jawab Haris sebagai anak laki laki, tapi itu semua ia abaikan, Haris lebih mementingkan rasa kecewanya, tanpa ia sadari itu sudah melahirkan ribuan kekecewaan lain.
Udin menangkap haru di mata Haris, Udin kembali memberesi semua yang ada di atas meja, semua majalah di simpan kembali, Udin mulai bercerita serunya mereka semasa kecil, bagaimana Udin yang terhimpit meja saat berlari waktu ada gempa, Haris yang kembali masuk ruangan dan sekuat tenaga menegakkan meja yang menimpa Udin.
Suasana kembali ceria, Haris sudah mampu menghilangkan aroma sedih yang di awal begitu kuat menyerangnya, cerita bersambut, keduanya sama sama mereka ulang apa yang mereka alami bersama saat masih anak anak tempo dulu.
Suasana semakin meriah saat Faisal dan Ryan muncul, Ryan dan Faisal juga sama dengan Udin, sama sama memeluk Haris erat, ada rindu besar diantara sesama mereka. Empat teman kecil sekarang berkumpul, cerita tentunya tak melebar dari pengalaman masing masing, cerita masa kecil mereka, tempat tempat yang pernah mereka singgahi dan kehidupan pribadi masing masing, ternyata, hanya Haris yang belum punya cucu.
“Aku hanya punya satu anak perempuan, sudah menikah. Sekarang juga sedang disini, sudah dua tahun menikah, tapi belum juga diberikan rejeki”. Jelas Haris.
“Masih muda itu Ri, kesempatan masih panjang”. Sambar Ryan.
Haris anggukkan kepala. “Aku masih yakin kok, satu saat akan jadi kakek juga”.
Semuanya sama tertawa, Haris baru tahu kalau ketiga teman akrab masa kecilnya ini sering ngumpul bareng, dan ketiganya juga sering membahas topik mengenai Haris, Udin yang punya banyak info soal Haris, tapi memang hingga kini tak juga mendapatkan nomor kontak Haris, yang kurang itu saja.
Haris langsung membagi kontaknya dan menyimpan kontak tiga temannya, kedepan mereka tentu akan lebih banyak komunikasi, Haris yang paling jauh sekarang malah berpikir untuk berkunjung sesering mungkin. Cara terbaik tentu dengan menjalin kerjasama, ada peluang perusahaan tempat Haris bekerja menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah.
Keempatnya benar benar larut, tidak hanya dalam perbincangan saja, sekarang keempatnya sudah keluar kantor menuju salahsatu destinasi wisata yang dekat dengan pusat perkantoran. Faisal yang memberi penjelasan panjang, Ryan dan Udin sesekali ikut menyahut, sekarang Haris sudah mulai menemui titik temu jalinan kemitraan yang mungkin di bangun.
“Kita bisa bermitra Din. Kau ajukan saja draf kerjasamanya. Tunjuk satu tempat yang bisa kita bangun, buat proposal lengkap dengan RAB nya. Nanti aku usaha lah Din, kita bangun dari dana CSR untuk fasilitas umum”.
Udin merangkul bahu Haris. “Kan tinggal teken saja kau kawan. Gayamu, aku usaha, betulnya itu ?”.
Haris tertawa. “Itukan diplomasinya kawan”.
Semuanya sama tertawa, Faisal yang tampak semangat, sebagai kepala dinas pariwisata, tentu saja Faisal langsung tertarik dengan ungkapan Haris, bahkan Faisal langsung membuat janji akan menyusun permintaan Haris minggu ini juga, untuk itu Faisal mendapat acungan jempol dari ketiga temannya, Faisal ikut memberikan jempolnya, bahkan tampak begitu semangat, Faisal bahkan sudah membayangkan sesuatu yang menurutnya tepat untuk kota kecil ini.
“Ada beberapa titik lokasi yang saat ini masih dikuasai penduduk, tapi mereka juga tahu kalau itu tanah pemerintah kota, jika kita mengambilnya sekarang sama sekali tak masalah, itu juga tak akan mengganggu ekonomi mereka. Bila perlu, kita bisa melibatkan mereka dalam proyek itu”. Jelas Faisal yang di amini ketiga temannya.
Haris juga merasa tak masalah jika menyalurkan dana CSR kesini, pada dasarnya Haris punya hak paten untuk memilih kemana dana itu di sampaikan, perusahaan tempat Haris bekerja adalah perusahaan bertipe nasional, sehingga CSR nya dapat disalurkan keseluruh wilayah Negara Kesatuan Repoblik Indonesia.
Dari Sabang sampai Merauke punya hak yang sama. Yang penting penyalurannya memang untuk kepentingan publik, untuk organisasi sosial atau lembaga yang mengurusi kepentingan umum, bukan untuk pengelola individu, bukan untuk menyokong bisnis perseorangan.
Berempat mereka sekarang duduk menghadap pantai, suasana yang sangat indah tentunya, ditambah angin semilir yang menyapu wajah dengan pelan, gelak tawa terus berlangsung. Inilah jika pertemanan itu lahir dari hati, sampai ke ujung mana saja akan tetap abadi.
…. Bersambung ….
__ADS_1