
Kebetulan bulan sedang purnama, pemandangan langit dari halaman belakang rumah kediaman orang tua Asrul sangatlah indah, cahaya bulan yang terang benderang membawa suasana yang begitu syahdu, ini tentu menjadi moment yang paling baik bagi semua pasangan, inilah yang ada di kepala Asrul.
Tapi Asrul harus menahan langkahnya untuk mendekati Risda yang sudah lebih dulu berada disana, langkah Asrul tertahan oleh lengan ayahnya yang menahan bahunya, Asrul angkat bahu dan paham gelengan kepala ayahnya, sesuatu yang pantas juga, membiarkan Risda berdua dengan Haris, ayahnya.
Asrul senyum tipis, kembali angkat bahu dan melangkah mengikuti ayahnya kembali masuk rumah, Asrul tak punya pilihan yang bagus, akhirnya memilih menyalakan televisi dan menonton berita, tapi itu tak lama, Reni, Mutia dan Ariana datang dan mengambil alih remote TV.
Asrul menggeleng saat melihat Reni mengganti chanel dengan tanyangan sinetron. Asrul selalu pusing jika bicara soal sinetron, kepala Asrul bahkan sering langsung berdenyut, menurutnya sama sekali tak ada faedah yang bisa diambil dari menonton cerita yang sama sekali tak masuk akal itu.
Asrul berdiri, menunjuk satu demi satu yang ada di ruangan tengah. “Dokter, dokter, calon dokter, anak SMP, sinetron. Macam nggak ada tontonan lain”. Gerutu Asrul.
Hanya Ibu Asrul yang melirik, itupun hanya lirikan, sedang yang lain sama sekali cuek, bahkan seakan tak ada yang baru bicara, apa yang dikatakan Asrul sama sekali tak di dengar yang lainnya, semuanya tetap fokus ke layar televisi.
Asrul kembali geleng kepala dan beranjak pergi, tujuan yang paling masuk akan hanya kamar, Asrul ingin membuka laptopnya, tapi Asrul tak jadi buka, untuk apa ?, nggak ada, bahkan tugas kuliah juga tak ada sama sekali untuk hari ini, tak ada yang penting, laptop sama sekali tak penting dibuka.
Asrul merebahkan badannya, tapi tak ada sinyal untuk istirahat lebih cepat, Asrul kembali berdiri, berjalan ke arah jendela dan menyibak tirai, Asrul akhirnya tersenyum tipis, mata Asrul menangkap dengan jelas istri dan ayah mertuanya yang asyik berbincang sambil memandang bulan.
Asrul menutup tirai dan beranjak kembali ke ranjang, memilih tiduran sambil membuka buka layar ponselnya, Asrul memahami dan sangat mengerti, sejak akad nikah dua bulan lalu, ini pertemuan pertama antara Risda dan ayahnya, tentu keduanya sama sama sangat merindu.
Asrul merasa, penting bagi Risda untuk punya waktu banyak dengan ayahnya, jarak mereka yang jauh membuat pertemuan tidaklah mudah untuk dilakukan, waktu untuk mereka berdua seperti itu tentu sangat sedikit, bukan sesuatu yang mudah.
Sedang Asrul sendiri punya waktu yang banyak untuk bersama dengan Risda, kenapa ia harus mengganggu ?, membiarkan Risda bersama ayahnya akan sangat baik tentunya, itu akan banyak memberikan arti, bagi keduanya. Dan Asrulpun larut dengan layar ponsel miliknya.
Sedang Risda masih terus memeluk lengan ayahnya sambil menyandarkan kepala ke bahu Haris, dengan begitu Haris dapat sesering mungkin mencium ubun ubun putrinya, perbincangan mereka juga semakin renyah, ada banyak senyum dan tawa kecil yang lahir dari bibir keduanya.
“Apapun ceritanya, suami harus di nomor perdana”.
Risda anggukkan kepala. “Risda paham Yah”.
Haris tersenyum lebar. “Harus menomorsatukan kepentingan suami”.
Risda kembali anggukkan kepala, rasanya Risda juga paham dengan apa yang dimaksudkan ayahnya, dari buku buku yang Risda baca, memang semuanya mengatakan hal yang sama, seorang istri harus patuh dan menurut kepada hal yang diingankan suami, sepanjang itu tidak melanggar aturan agama.
“Risda belajar agama dari siapa ?”.
Risda kembali tersenyum. “Banyak baca buku Yah, tapi Farhan juga banyak ajari Risda, ngaji juga yang ajari Farhan”.
Haris agak mendelik. “Farhan ?”.
Risda anggukkan kepala. “Iya Yah. Farhan yang banyak ajari Risda”.
“Memang Farhan banyak tahu agama ?, bukannya dia nggak sekolah agama ?”.
__ADS_1
Risda tertawa kecil. “Farhan banyak baca buku Yah, dia itu termasuk kutu buku, buku yang Farhan baca banyak buku agama. Farhan juga sering diskusi dengan Ustadz Faisal, dia juga aktif di Remaja Masjid”.
Haris anggukkan kepala. “Farhan hebat juga kalo gitu”.
Risda kembali tertawa kecil. “Farhan itu anak yang pintar Yah”.
Haris angguk angguk kepala, rasanya semua anak Agung temannya pintar semua, menantunya Asrul juga sangat pintar menurut Haris, adik adik Asrul yang lain juga sepertinya sama, tingkat kesopanan mereka memberi bukti nyata, Haris selalu percaya, hanya orang yang pintarlah yang mampu berprilaku sopan yang tinggi.
Haris kembali merasa bersyukur, putrinya bisa berada dalam keluarga yang begini modelnya, dari beberapa hal yang Haris lihat, Haris yakin kalau Risda juga sangat bahagia berada di tengah tengah keluarga mertuanya, semua adik adik Asrul tampak sayang padanya, Haris senang dan bahagia untuk itu.
“Tapi kadang Risda heran lihat Abang”.
Haris agak mengerutkan keningnya. “Kenapa memang ?”.
“Seperti nggak niat kerja, pulang kuliah main tidur saja, Risda heran, kenapa nggak bantu bantu Ayah Agung”.
Haris jadi agak mikir, baru tahu kalau Asrul begitu. Haris tentu kepikiran juga, malah jadi ada rasa khawatir, jangan sampai Asrul malah terbiasa begitu, mau jadi apa tuanya nanti. Haris buang nafas berat, sekarang jadi ikut heran, kenapa Asrul malah begitu.
“Maaf ya Ris”. Haris tertawa kecil, tampak agak takut. “Nggak pernah kasi belanja Asrul kalo gitu ?”.
Risda menggeleng. “Pernah … sekali”.
Haris mendelik. “Sekali ?, kapan ?”.
Haris makin mendelik. “Sudah itu nggak lagi ?”.
Risda menggeleng. “Kalau Abang nggak, Ibu yang kasi”.
“Ibu Mertuamu ?”.
Risda anggukkan kepala. “Iya Yah”.
Haris menghela nafas berat, mungkin di banyak sisi Risda memang bahagia, tapi ada satu titik yang kurang tepat, Asrul yang belum niat bekerja. Ini tentu bukan masalah kecil, bukan masalah yang bisa di anggap remeh, benar memang Asrul masih kuliah, tapi itu magister, dan yang lebih penting, Asrul punya istri.
Menurut Haris, akan sangat tidak baik jika itu terus berlangsung, taruhlah Agung memang punya kemampuan yang cukup, tapi Agung juga manusia biasa, ada banyak peluang semuanya berubah dengan cepat. Apapun alasannya, Asrul sudah seharusnya mulai belajar untuk mencari nafkah.
“Ayah sama Ibu mertua Risda nggak pernah protes ?”.
Risda menggeleng. “Nggak Yah”.
“Mereka biarkan saja Asrul begitu ?”.
__ADS_1
Risda anggukkan kepala. Haris kembali buang nafas berat, satu sisi ia merasa keresahan putrinya, di sisi lain Haris juga segan pada Agung jika harus menanyakan hal tersebut, tentu ada banyak hal yang harus di perhatikan.
Haris tentu harus berpikir ulang soal ini, Haris takut jika salah cara dalam menyampaikan dapat memberi pengaruh negatif, atau jangan jangan mereka akan beranggapan jika Risda tukang mengadu, ini tentu sama sekali tidak baik.
“Risda nggak pernah tanya Asrul kenapa ?”.
Risda gelengkan kepala lagi. “Risda nggak berani Yah, takut nanti Abang tersinggung, kan jadi nggak enak”.
Haris membuang nafas berat untuk kesekian kalinya, walau sebenarnya Haris merasa kalau Risda berlebihan soal ini, rasanya kurang tepat juga kalau malah memilih takut, sebagai seorang istri, Risda menurut Haris harus berani membuka pikiran suaminya untuk memulai bekerja.
Tapi, untuk menyarankan Risda menghilangkan rasa tidak beraninya, Haris juga ikut ikutan tidak berani, Haris merasa kurang tepat juga mengajari putrinya untuk itu, masa Haris harus mengajari putrinya tidak takut pada suaminya, itu salah.
Tapi, membiarkan hal tersebut berlanjut juga rasanya tak mungkin. Haris jadi punya rasa bingung sekarang, tidak tahu mau mengatakan apa. Dan akhirnya Haris memilih untuk menyerahkannya pada waktu, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, mudah mudah tidak berlanjut selamanya.
Haris terus berfikir, sampai sampai lupa apa yang membuatnya datang ke sini, bahkan meminta Natalia untuk menutupi kedatangannya pada Risda, karena Haris ingin memberikan kejutan, karena besok adalah hari ulang tahun Risda.
Tapi apa mau dikata, bahkan Haris yang punya rencana sekarang malah larut dengan rasa pusingnya mendengar menantunya yang ternyata masih bergaya anak kuliahan juga, semua rencana yang ia susun rapi kemarin berantakan begitu saja, bahkan yang punya rencana sekarang malah lupa dengan rencana yang ia buat sendiri.
Cukup lama keduanya sama sama diam tanpa suara, Risda setidaknya sekarang merasa agak lega, paling tidak rasa herannya selama ini melihat sikap suaminya sekarang sudah drastis jauh berkurang.
Risda merasa sedikit tenang karena sudah dapat membagi isi hatinya, pada ibunya Risda memang sengaja tak mau bicara, Risda takut hal ini malah membuat ibunya kepikiran, tapi pada ayahnya Risda yakin yakin saja, Risda merasa, hal seperti ini hanya akan bagus jika ia sampaikan hanya ke ayahnya.
Haris melirik jam di tangannya. “Sudah jam sepuluh malam Ris, istirahat saja, Asrul pasti sudah menunggumu lama”.
Risda melirik sebentar dan berdiri. “Ayah istirahat juga”.
Haris anggukkan kepala. “Iya, ayah juga mau tidur ini”.
“Ayah nginap disini kan ?”.
Haris anggukkan kepala. “Iya, ayah nginap disini kok”.
Risda lebih dulu memeluk ayahnya, dengan begitu Haris bisa mencium kedua pipi putrinya sebelum berbalik pergi meninggalkan Haris seorang diri, Haris belum tertarik untuk istirahat.
Mata Haris terus mengekori Risda hingga hilang di balik pintu, kembali Haris menghela nafas panjang, Haris sekarang hanya bisa berharap, mudah mudahan sikap Asrul yang belum tertarik untuk bekerja bisa berubah dalam waktu dekat, bukan malah keterusan, itu akan sangat mengganggu pikiran.
Haris akhirnya beranjak juga, Haris menuju kamar yang tadi memang sudah di siapkan untuknya. Haris membaringkan tubuhnya, tapi matanya tidak bisa diajak tidur, masih terus terbuka, masih terus menikmati resah, kini malah jadi bertambah tambah.
Haris merasa, sekalipun Asrul memiliki orang tua yang serba berkecukupan dan tak kurang apapun, tapi posisinya sebagai seorang suami tetap saja mengharuskan Asrul mulai terjun ke dunia kerja, walaupun mungkin itu usaha yang dimiliki ayahnya.
Asrul bukan lagi anak lajang yang bisa berekpresi sesuka hati, atau kenapa Asrul tidak melihat adiknya Mutia, dokter muda itu juga sedang ambil spesialis, tapi pulang kuliah Mutia tidak tidur, dia selalu berada di klinik, atau bahkan Reni yang masih kuliah S1 juga sudah banyak berbuat di klinik ibu mereka.
__ADS_1
…. Bersambung …