Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Menyusur Panorama Sibolga Tapanuli Tengah (1)


__ADS_3


Persiapan sudah 100%, sekarang tinggal berangkat saja, karena mobil yang dibawa Haris tidak muat, maka Usman dan Nadia akan ikut mengantar hingga ke dermaga, semua peralatan yang dianggap perlu sudah di muat, sekarang tinggal orangnya saja, naik dan siap berangkat.


"Lho, nggak ada yang bawa baju ganti ?". Haris menatap heran.


Semua juga ikut memandang heran. "Kenapa bawa baju ganti Yah ?". Risda yang bertanya lengkap dengan herannya.


Haris menepuk jidat pelan. "Lha, nanti nggak mandi mandi apa ?. Lagian, kita kan nginapnya di sana, besok pagi kita lanjut ke Pulau Mursala, Pulau Kalimantung sama apa lagi tadi ya ... iya, Pulau Putri". Jelas Haris.


"Emang ada penginapan disana Yah ?". Masih Risda.


Haris anggukkan kepala. "Ada, makanya bisa nginap. Ayo, ambil pakaian".


Mendengar ini, semua kembali bergegas menuju rumah untuk mengambil pakaian, Haris hanya menatap saja, karena pakaiannya semua ada di tas adiknya Natalia, Asrul juga tampak santai, karena itu urusan Risda, beda dengan Farhan, ia harus ikut masuk, pakaian Farhan tak berada di tempat yang sama dengan Farida.


Faridha paling duluan ambil pakaian, ia juga yang paling sumringah, Faridha sudah berulang kali mendengar nama pulau pulau itu, tapi belum pernah sampai kesana, hanya mendengar cerita banyak temannya yang mengatakan Pulau Putri dan Pulau Kalimantung di gugusan kepulauan Mursala itu sangat indah, ini membuat Faridha terus tersenyum merekah, senang akan sampai juga kesana, tidak hanya sebatas mendengar cerita saja.


Nadia kembali mendapat banyak pelukan sebelum semuanya naik ke kapal, Nadia dan Usman melambaikan tangan hingga kapal yang membawa Haris dan keluarga beranjak ke Pulau Poncan. Nadia terus mengembangkan senyum, seandainya ia tak hamil besar begini, sudah pasti Nadia tak akan mau di tinggal, pasti akan ikut serta, bersama sama dengan Risda khususnya, Nadia selalu senang. Tapi mau bilang apa, kemungkinan akan ada banyak, pilihan tak ikut akan lebih baik.


Setelah kapal tak tampak lagi, Usman dan Nadia melangkah meninggalkan dermaga, kali ini harus pulang terpisah, Nadia yang kini membawa mobil mereka, sedang Usman harus membawa mobil kantor yang di pakai Haris, karena memang kurang mungkin juga di tinggal disini, walau sebenarnya bisa, tapi akan lebih nyaman kalau di bawa pulang.


Hanya butuh kurang lebih 20 menit, sebenarnya itu juga sudah termasuk lambat, rombongan sudah sandar di Pulau Poncan, petugas hotel langsung menyambut, semua memang sudah di boking Faisal terlebih dahulu, hanya saja Faisal tidak bisa ikut karena masih hari kerja.


Semua sudah kebagian kamar, Risda dengan Asrul, Haris dengan Farhan, Faridha dengan Natalia, Jamil dengan Lena, karena tinggal sendiri, Mila meminta ekstra bad dan bergabung dengan Faridha dan Natalia. Hanya terpisah beberapa menit saja, semua sudah kembali berkumpul di cafe hotel.


Pengunjung memang lagi tak ada selain mereka, sehingga mereka bebas melakukan banyak hal. Jamil yang memang hobby nyanyi mulai mengeluarkan suara emasnya, yang lain sama sama tertawa, Faridha dan Farhan sampai terpingkal pingkal, bagaimana kakek kakek nyanyi lagi remaja, tampak lucu.


Haris sudah membawa peralatan pancingnya ke dermaga dan mulai melakukan satu hobby besarnya itu, memancing. Tak butuh waktu lama, Haris sudah mendapatkan hasil pancingan, walau tak seberapa besar, tapi Haris sudah sangat senang, bahkan hasil itu mengundang Natalia, Asrul dan Risda datang mendekat.


"Ikan apa Bang ?". Natalia sudah memegang ikan hasil pancingan Haris.


"Kalau orang sini bilang, namanya Tando. Nggak tahu bahasa nasionalnya apa". Jelas Haris.


Akhirnya ketiganya menonton Haris yang terus memancing, ketiganya sama tertawa saat Haris kembali mendapatkan ikannya. Risda bahkan tampak riang sekali, Natalia juga ikut riang, bahkan keduanya hingga menjerit kecil saat Haris kembali berhasil mendapatkan ikan. Asrul senyum dan geleng kepala, senang sekali melihat kegembiraan istri dan ibu mertuanya.


"Kak, ayo ...".


Risda menoleh dan tertawa menunjuk Farhan dan Faridha yang sudah berada di dalam air. "Enak Dha ?".


"Ayo Kak, airnya hangat". Faridha terus melambai.


Risda menoleh ke Asrul, yang ditoleh hanya anggukkan kepala. Tapi, anggukan itu langsung berubah menjadi gelengan dengan kening yang berkerut tajam saat Risda membuka jilbabnya, membuka rok dan hanya menyisakan baju dan celana ketatnya, semua berpindah ke tangan Asrul, termasuk dompet, jam tangan dan ponsel.


Asrul bahkan mendelik saat Risda dengan enaknya melompat dari dermaga, Haris sampai melirik dan langsung geleng kepala, sementara Natalia hanya tertawa, ia tak heran dengan itu, di Teluk Jakarta, Risda bahkan mau mandi mandi diantara kapal penangkap ikan yang lagi sandar, apalagi di tempat begini.


Melihat Risda, Faridha dan Farhan yang berenang kian kemari, Asrul akhirnya menuju kamar hotel, meletakkan semua pakaian Risda, ganti pakaian dengan baju kaos dan celana pendek, Asrul berlari menuju pantai, melompat dan mengejar Risda, yang dikejar bukannya menjauh, malah ikut berenang mendekat, hingga keduanya berpelukan, bahkan bibir keduanya sudah bertemu sekilas.


Farhan menutup mata Faridha dengan telapak tangannya, Faridha tertawa kecil, buat ulah pula, Faridha menyambar pipi Farhan dengan ujung hidungnya. Farhan jadi terkejut, ini pengalaman pertama ia di cium seorang


gadis, Farhan menggeleng, kini jadi berani memeluk pinggang Faridha dari belakang.


Keduanya kini berada diatas ban dalam besar bekas, posisi masih sama, Farhan memeluk Faridha dari belakang, Faridha menyandarkan kepala, sehingga dua pipi mereka saling menempel satu sama lainnya. Risda mencolek Asrul sambil angguk kepala mengarah ke sebelah, Asrul hanya senyum dan tertawa kecil, tapi kemudian geleng kepala, adiknya tampak begitu mesra.

__ADS_1


Sekarang ada dua pasangan yang tiduran di pasir pantai, sama sama sedang membuat istana pasir, sama sama tertawa saat ombak yang agak besar dengan mudah menyapu bersih istana meraka, tak jera, kembali melakukannya lagi, disapu ombak lagi, dibuat lagi, demikian terus hingga sore menghampiri.


Atas saran Haris, semuanya ramai ramai mendaki bukit, tujuannya untuk melihat sunset. Haris dan yang lain hanya bisa menggeleng, Risda dan Faridha sama sama mengumbar manja ke pasangan masing masing, keduanya memeluk tangan sang pasangan dan menyandarkan kepala di bahu prianya, hingga sunset menghilang.


Bisik bisik Asrul dan Risda sekarang jelas, keduanya sepakat kalau Farhan dan Faridha sebaiknya memang di nikahkan saja setelah selesai SMA, kemesraan keduanya membuat Asrul maupun Risda sama sama khawatir, jika dibiarkan lama lama, keduanya takut akan menjadi terlampau jauh, jelas sekali, sekarang keduanya sama sama seakan tak punya jarak, sangat dekat, bahkan tak lagi segan pada Asrul, Risda dan yang lainnya.


“Dek, apa Farhan nggak perlu di ingatkan gitu Dek, Abang takut ..”.


Risda menatap Asrul lekat. “Maksud Abang ?”.


Asrul menggeleng. “Abang jadi takut Dek, mereka terlalu dekat dan terlalu nempel kayaknya, nanti gimana gimana bagaimana ?”.


Risda masih menatap Asrul lekat. “Gimana gimana apanya Bang ?”.


Asrul angkat bahu. “Iya, gimana gimana gitu, masa Adek nggak paham sih, ah”.


Risda malah tertawa, ini membuat Asrul jadi kesal, ia langsung mencubit pelan kedua pipi istrinya, Risda terus tertawa sambil menggelengkan kepala, Risda tentu paham yang dimaksud Asrul, tapi menurut Risda, Asrul terlalu jauh pikirannya, Risda percaya Farhan, percaya juga dengan Faridha.


“Tapi Bang, kalau nggak salah. Ada dulu yang Risda tahu, baru satu jam pacaran tapi sudah nyium sampe puluhan kali. Abang kenal ?”.


Asrul tak bisa jawab, Asrul memilih terkekeh, memeluk Risda sebelum mendaratkan ciuman di pipi istrinya. Asrul tentu tak bisa komentar, karena yang disebut Risda itu adalah dirinya sendiri. Baru satu jam sepakat pacaran, Asrul sudah berulang kali ambil kesempatan, Asrul jadi malu sendiri.


“Terserah adek lah, abang pusing”.


Risda kembali tertawa. “Abang ingatkan Farhan bagus juga sih Bang, tapi ngomong pelan saja, abang jangan keras keras bilangnya”.


Asrul menggeleng. “Emang abang pernah ngomong keras ke Farhan ?”.


Asrul dan Risda kembali mengitari hotel yang tampak sangat indah di malam hari, apalagi bulan sedang bagus, cahayanya begitu terang, satu pemandangan yang sangat indah, mengundang romantisme yang maha dahsyat, sangat cocok untuk pasangan yang sedang bahagia bahagianya, Asrul dan Risda begitu menikmatinya.


Asrul dan Risda terus melangkah menyusuri pantai sambil bergandengan tangan sambil bercerita ngalor ngidul begitu saja, baru kali ini Asrul dan Risda berada di setuasi yang begini, memang terasa beda dan sangat menyejukkan, semilir angin menambah suasana lebih nyaman, sangat tenang, membuai perasaan.


Asrul dan Risda kembali terkejut, keduanya spontan sama sama berhenti melangkah, mata keduanya terbeliak saat menemukan Farhan dan Faridha sedang meyandar di pohon kelapa, bukan soal berdiri menyandarnya, tapi wajah keduanya menempel satu sama lain.


Asrul mendehem, spontan Farhan melepaskan pelukannya, Faridha tampak begitu malu, langsung memasang wajah tertunduk, sama sekali tak berani menatap wajah Asrul maupun Risda, Farhan juga hampir sama, tapi ia masih mampu menatap, Farhan cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Asrul sangat ingin menutup mulut Risda yang malah cekikikan, Asrul tak tahu kenapa Risda malah tertawa seenaknya, padahal Asrul sudah agak kesal, Asrul tak siap melihat pemandangan itu, Asrul tak ingin adiknya pacaran dengan cara kebanyakan begitu, Asrul takut mereka tak mampu menahan diri, bukan karena apa, lebih karena Faridha yang masih SMA.


Farhan menarik tangan Faridha yang mengikut saja menuju ke arah hotel, mata Asrul dan Risda terus menatap, Asrul lega saat melihat keduanya menuju café, bergabung dengan yang lain yang sudah lebih dulu berada disana, kembali berkaraoke ria, kini yang pegang mikrofon tak lagi Jamil, tapi beralih ke Natalia.


Asrul menarik Risda dan keduanya sama sama duduk di pohon kelapa tumbang yang tak jauh dari pantai, Asrul terus menggeleng, karena Risda masih juga belum selesai tertawanya, masih saja cekikikan, Risda entah kenapa merasa lucu melihat Farhan dan Faridha yang terkejut mendengar deheman Asrul.


“Adek kenapa sih ?, ketawa terus”.


Risda masih cekikikan. “Lucu Bang. Masa abang nggak merasa lucu”.


Asrul balik menggeleng. “Apanya yang lucu”.


“Abang sih, ganggu kemesraan orang saja abang”. Risda balik tertawa.


Asrul menggeleng. “Faridha itu masih SMA Dek, pacaran nggak boleh gitu kali”.


Risda tertawa lagi. “Siapa bilang, mereka kan nggak pacaran lagi”.

__ADS_1


Asrul menggeleng lagi. “Iya, salah, nggak pacaran, tunangan mereka mah. Tapi, seharusnya Farhan tahu itu, Faridha masih SMA, jangan begitu, nanti jadi kebiasaan bagaimana ?”.


Risda masih saja tertawa. “Abang macam nggak saja”.


Asrul kembali menggeleng, ada kesalnya juga, kali ini Asrul langsung menarik wajah Risda sangat dekat dan mengulang apa yang tadi mereka lihat yang dilakukan Farhan dan Faridha, Risda yang langsung disambar jadi kelabakan, bahkan sampai ngos ngosan saat Asrul menyudahi aksinya.


Risda meninju pelan bahu Asrul. “Abang rusuh”.


Gantian Asrul yang cekikikan. “Kurang Dek ?”.


“Tauk”. Risda malah manyun.


Asrul masih tertawa kecil, kembali menarik wajah Risda, tapi kali ini ada persiapan yang matang, sehingga keduanya nyaman melanjutkan kegiatan yang tadi dengan durasi yang cukup panjang, tapi keduanya sama sama menghentikan kegiatannya saat melihat ada nelayan tradisional yang sedang menangkap ikan di pinggiran pantai.


Asrul dan Risda mendekat ke pantai, menonton nelayan tradisional yang sedang menarik pukat dengan tangan, mungkin berat itu yang ada dipikiran Asrul saat melihat nelayan tradisional ini sampai masuk ke air, ikatkan tali pukat ke pinggang dan berjalan menuju darat, karena jika hanya menarik dengan tangan, tampaknya keduanya sudah tak kuat.


Udara semakin dingin, akhirnya Risda dan Asrul sepakat untuk masuk kamar, kali ini keduanya sama terkejut, ternyata café sudah kosong, bahkan sudah tutup, tak ada lagi aktivitas disana, itu artinya, Asrul dan Risda menjadi orang terakhir yang melangkah menuju tempat istirahat, yang lain sudah lebih dulu.


“Sudah tidur semua Bang, tinggal kita”.


Asrul tertawa kecil. “Masalahnya apa Dek ?”.


Risda menggeleng. “Nggak ada”.


“Ayo cepat, malam gini banyak yang gentayangan lho”.


Risda kecut, ikut berlari kecil dibelakang Asrul, masuk, kunci pintu dan langsung menghamburkan diri ke atas ranjang, langsung tidur. Asrul juga melakukan hal yang sama, sudah terlampau letih akibat dari kegiatan seharian ini.


Pagi menjelang, Asrul dan Risda sama sama terjaga, sama sama ke kamar mandi dan melaksanakan shalat subuh berjamaah, hanya berdua. Selepas itu, keduanya sama keluar untuk menghirup udara pagi yang tentu saja menyejukkan, ternyata yang lain punya pikiran yang sama, Haris sudah berada di dermaga lengkap dengan segelas kopi dan pancingnya.


Asrul sedikit memicingkan matanya melihat Farhan dan Faridha ikut mendekat ke dermaga, di tangan Farhan ada pancing, Asrul belum pernah melihat Farhan memancing sebelum ini, sehingga menjadi ikut melangkah ke dermaga, tentu saja Risda langsung mengekor di belakangnya.


Asrul mendelik saat Risda ambil pancingan Haris dan ikut memancing, tapi Asrul kemudian malah ikut duduk disamping Risda, teringat waktu di pedalaman dulu, Risda yang lebih dulu berhasil mendaratkan ikan, mungkin kali ini kejadiannya bisa sama, Asrul hanya melirik Risda yang tampak serius menunggu pancingnya.


Asrul hampir melonjak saat Risda tiba tiba berteriak, Asrul jadi geleng kepala, saat ditarik ikannya hanya ukuran tiga jari, sangat kecil, ngapain pula sampai teriak begitu, teriakan Risda juga membuat yang lain menggeleng, hanya Faridha yang tertawa kecil, lucu juga mendengar Risda teriak saat pancingnya di tarik.


Melihat ayahnya terus menerus mendaratkan ikan, Risda kehilangan selera, ia meletakkan begitu saja pancingannya dan mendekat ke ayahnya, membolak balik sambil menghitung ikan hasil pancingan Haris. Asrul mengambil alih pancingan Risda, hanya beberapa detik saja, Asrul hampir kelabakan karena ikan besar menarik pancingnya.


Semuanya sekarang malah berkerumun dekat Asrul yang tampak mulai susah payah mengatasi perlawanan ikan. Hampir lima belas menit baru ikan berhasil di taklukkan Asrul, kali ini Risda bahkan hampir meloncat loncat, senang melihat ikan yang didapat Asrul sangat besar menurut Risda, beratnya saja hampir 2 Kg.


“Ikan apa namanya ini Yah ?”. Risda bertanya sambil mengangkat ikan besar yang terus menggeliat di tangannya.


“Orang sini bilang Ikan Gabu”.


Faridha mendekat dan mencolek ikan yang di tangan Risda, keduanya sama tertawa saat ikat makin meronta karena colekan Faridha, Risda hampir tak kuat menahan rontaan ikan, melihat ini Asrul langsung mengambil alih, takut juga kalau ikannya lepas lagi.


Farhan mendekat. “Memang namanya Gabu Paman, dibakar enak ini”.


Haris anggukkan kepala, ikan ini memang enak dibakar, termasuk ikan pavorite di sini, harganya juga lumayan mahal, ikan ini menjadi konsumsi yang ekonomi menengah ke atas, termasuk ikan yang juga sangat laris di pasaran, jika mendapatkan ikan ini, akan sangat mudah menjualnya, tidak hanya ke luar daerah, di dalam kota saja akan sangat banyak yang mengincarnya.


Matahari sudah mulai naik, semuanya sepakat berhenti memancing dan kembali menuju hotel, acara di lanjutkan dengan bakar ikan, ternyata hasil pancingan pagi ini, cukup untuk semuanya, walau yang besar hanya satu, tapi ikan yang di dapat Haris dan Farhan cukup banyak dan sudah layak untuk di bakar, sehingga itu menjadi menu untuk semuanya di pagi ini.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2