Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Ketimpa Dahan Patah


__ADS_3

Asrul tak berani bertanya ke Risda soal ini, entah kenapa Asrul tak yakin bisa tutup mulut jika dugaannya benar. Masalahnya Pak Nas sudah hampir sebulan tidak pernah nampak batang hidungnya, padahal ini tidak biasa, biasanya Pak Nas datang minimal sekali seminggu.


Asrul tahu tujuan Pak Nas yang sebenarnya, ia hanya ingin melihat putrinya Risda, hanya saja memang, yang dilihat belum tahu posisi Pak Nas untuknya, Asrul yang sudah tahu malah diminta merahasiakannya.


Asrul siap dan Alhamdulillah, sampai detik ini Asrul masih berhasil dengan komitmennya, diam dan bungkam soal hubungan Pak Nas dan Risda, tak secuil pun Asrul membongkarnya, walau kadang sering menggelitik hatinya, tapi Asrul masih bisa menahannya.


Keceriaan Risda sudah kembali, setidaknya Asrul melihat luarnya begitu, bagaimana yang di dalam, Asrul tentu tak bisa jawab, apakah sama dengannya atau tidak, Asrul jelasnya sekarang dalam posisinya lain di mulut lain di hati.


Mulut Asrul terdengar manis dan penuh senyum, tapi hatinya kacau balau, hati Asrul dipenuhi kecemasan yang panjang, utamanya tentang Pak Nas yang lama tak datang, sedang tempat bertanya tak ada yang bisa membantu.


“Pak Nas lama nggak kelihatan ya Rul ?”.


Asrul menoleh dan senyum tipis. “Rindu ?”.


Risda langsung meruncingkan bibirnya. “Ada ada saja, masa nanya nggak boleh”.


Asrul tertawa kecil. “Gua sih bingung doang Ris, masa rindu sama gua belom cukup, masih rindu sama Pak Nas juga”.


Risda mendelik. “Lu ngomong apa sih Rul, puyeng gua dengernya”.


“Iya, betul itu, muda ?, mudaan gua, ganteng ?, gantengan gua. Iya kan Say ?”.


Risda melotot, matanya membulat tajam ke arah Asrul. Siapa yang tak kesal, yang di tanya lain, jawabnya lain, yang dijelaskan lain, tanggapannya jauh sesat entah kemana, ingin rasanya Risda mencekik Asrul dengan sekuat tenaga, kesal kuadrad.


“Gua serius Ris. Mending Lu cuma rinduin gua saja, lebih heppy itu. Gua janji, gua juga bakal rinduin elo, walau kita sedang ketemu”.


Asrul malah tunjukkan muka super serius membuat Risda makin kesal. Emosi juga jadinya, melihat tingkah laku Asrul yang seenaknya saja, ngomong asal keluar saja, ngapain pula merindukan seseorang yang sedang berada di depan kita.


“Lama lama gua racun biar mati lu Rul, benar”. Ancam Risda.


“Kalau mati demi lu mah, gua pasrah Ris, serius”.


Risda makin mendelik. “Mati aja sendiri, emang gua peduli apa ?”.


Asrul geleng kepala. “Entah elu yang nyesel Ris”.


“Nyesel apaan ?, ngapain nyesel ?”.


Asrul angkat bahu. “Mana enak di tinggal laki laki perkasa macam gua”.

__ADS_1


Risda sudah kesal tingkat tinggi, ingin rasanya mengulek ulek Asrul dan dijadikan pargedel, tapi tak mungkin juga. Akhirnya Risda mengalah, ia memilih tersenyum manis dan gelengkan kepala saja.


“Sadar lu sekarang kan ?”. Asrul malah nyolot.


“Apa lu bilang ?”.


Asrul tak sempat mengelak, bahkan harus merunduk, pukulan Risda bertubi tubi menghantam punggungnya, Risda terus menghajar Asrul lengkap dengan dengus kesalnya, Asrul tak bisa berkutik sama sekali.


“Enak aja lu ngomong, gua sate baru tau lu”. Geram Risda.


Asrul kembali berdiri tegak, bahkan sedikit menggoyang tubuhnya. “Eh, lu pake parfum apa sih Ris”.


Risda menggeleng dan buang nafas berat, nggak tahu mau ngomong apa. Bukannya tobat, Asrul malah nanya yang lain, pertanyaan yang membuat emosi Risda naik lagi, tapi Risda berusaha menahan diri, yang keluar hanya geleng kepala dan senyum yang sangat tertahan.


“Mau lu apa sih Rul ?”. Risda sudah berkacak pinggang.


Asrul malah tampak santai. “Masa lu nggak tahu”.


Risda menggeleng. “Gua memang nggak tahu, lu jelasin deh”.


Asrul menggeleng. “Nggak ada sih. Cuma pengen saja”.


“Pengen apa ?”.


Risda mendelik. “Nikah saja sana, ngapain ngomong ke gua”.


Asrul geleng kepala. “Nggak bisa, memang harus ngomong ke elu Ris”.


Risda melotot. “Kenapa gua ?”.


Asrul angkat bahu. “Kan nikahnya ama lu”.


Risda menggeleng berulang kali, tapi kini Risda memilih tertawa kecil saja. Risda tak lagi peduli dengan semua omongan Asrul, Risda sambar tasnya dan pergi saja meninggalkan Asrul, Risda kesal karena yakin semua itu hanya cara Asrul yang ingin menggodanya.


Risda tahu bagaimana hubungan antara Asrul dan Wiwik, mereka bahkan lebih dari sekedar dekat, sehingga Risda yakin semua ungkapan Asrul bohong belaka, ini yang membuat Risda super kesal dan meninggalkan Asrul begitu saja.


Sedang Asrul masih mengekori punggung Risda hingga hilang dari pandangan matanya, Asrul menghela nafas panjang. Mungkin caranya salah, seharusnya Asrul bicara dengan serius, bukan dengan cara begini.


Padahal itu memang benar benar isi hati Asrul, muatan dari hatinya yang paling dalam. Asrul mengakui jika memang sangat mengukai Risda dan memang ingin menjalin hubungan dengan Risda, ini serius, ini bukan iseng

__ADS_1


belaka.


Akhirnya Asrul memilih pulang juga, tapi belum sampai seratus meter dari sekolah Asrul menghentikan langkahnya, ada yang jelas memanggil namanya, Patrik tergopoh gopoh dan tampak sesak begitu sampai di depannya.


"Bu Guru Pak Guru, Bu Guru".


Asrul terkejut. "Kenapa Bu Guru Risda ?".


Patrik menunjuk kebelakang. "Bu Guru Pak Guru, dia ketimpa dahan".


Tak perlu lagi mendengar penjelasan Patrik, Asrul langsung berlari kencang ke arah yang di tunjuk, Patrik yang masih ngos ngosan juga ikut menyusul. Tanya seseorang yang ketemu, Asrul kembali berlari menuju rumah tempat tinggal Risda.


Asrul langsung menerobos masuk. Asrul seketika tercengang, Risda masih tergeletak belum sadarkan diri, keningnya masih berdarah. Asrul panik bukan main, ia meminta kain yang dibasahi, seseorang mengambilnya dan menyerahkan ke Asrul.


Perlahan Asrul melap kening Risda dan menepuk nepuk pipi Risda pelan, cukup lama juga, sampai Asrul sudah sangat panik dengan dada yang terus berdebar tak karuan baru Risda pelan pelan membuka matanya.


Wajah yang pertama Risda lihat adalah Asrul. "Rul..".


Asrul menghela nafas panjang. "Mana yang sakit Ris, mana yang sakit".


Risda menggeleng, tapi saat itulah Risda langsung meringis dan memegang keningnya, Asrul langsung menghusap kening Risda lagi, Asrul benar benar pucat, Asrul tak sangat linglung, apalagi ia tahu ini pedalaman, atak ada perawat atau dokter sama sekali disini.


Asrul gigit bibir, hanya bisa menonton dan menggeleng melihat mereka yang mengoles luka Risda dengan obat obatan tradisional. Asrul benar benar panik, ia tahu itu hanya akan menyelesaikan luka luar saja, yang di dalam tak akan tersentuh apa apa, ini jelas tak baik.


Asrul tak ingin pulang, satu detikpun Asrul tak berani meninggalkan Risda, Asrul terus membelai kepala Risda dan mengipasinya jika Risda tampak kepanasan. Asrul betul betul tak bergerak dari samping Risda.


"Kok bisa sih Ris, kok jadi begitu, pening gua mah".


Risda hanya menggeleng, tapi meringis lagi. "Nggak tahu Rul, tiba tiba saja, dahannya jatuh waktu gua lewat, kena deh".


Asrul kembali membelai kepala Risda. "Lu nggak usah main geleng geleng dah, asal geleng, meringis lu Ris, anteng aja, gua disini, gua nggak bakal pergi".


Risda hanya senyum tipis, kini Risda menemukan ketulusan dan kepanikan Asrul, ini semuanya nyata, Risda jadi merasa kalau Asrul adalah teman yang baik, teman yang sangat peduli dan perhatian padanya, melihat kepanikan Asrul, Risda sangat yakin jika Asrul benar benar khawatir padanya.


"Coba tidur saja Ris".


Risda angguk kepala, tapi meringis lagi. "Sakit benar Rul".


Asrul mendesah panjang. "Nggak usah gerakin kepala lagi Ris, coba tidur saja, ayo, pejamkan mata".

__ADS_1


Risda merasa agak lucu, sikap Asrul padanya sangat beda, Risda baru sadar jika Asrul orangnya penyayang, orang yang perhatian. Tapi, mungkin bisa jadi karena Asrul anak pertama, lelah juga, akhirnya Risda tertidur juga. Asrul terus memandangi wajah Risda, dalam keadaan tidurpun, begitu cantiknya.


… Bersambung …


__ADS_2