Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Perbatasan Yang Butuh Sentuhan


__ADS_3

Perahu terus melaju cukup kencang karena memang mengikuti arus, Patrik yang memegang kemudi terus menerus memberikan penjelasan tentang area yang mereka lalui. Risda yang duduk didekat Patrik mendengar dengan seksama sambil menikmati pemandangan yang memang sangat luar biasa.


Sebenarnya di hati Risda ada rasa takut, pohon pohon yang menjulang tinggi bahkan menutup pinggiran sungai, Risda malah teringat film anaconda yang pernah ia tonton, atau film canibal, lokasi shootingnya persis dengan deretan hutan yang mereka lalui.


Tapi melihat Patrik dan rekan rekannya tampak santai, juga Asrul yang juga terus senyum senyum dan tertawa mendengar guyonan Samuel membuat Risda menjadi tenang, ia malah mencoba menikmati semilir angin yang memang sangat sejuk, cuaca yang tidak akan ditemuinya di Jakarta.


“Bu Guru pernah dengar Pulau Sebatik ?”.


Risda mengangguk. “Itu yang sempat ribut dengan Malaysia kan ?”.


Patrik mengangguk. “Iya Bu Guru. Jika kita sampai ke muara, kita sudah bisa melihat Pulau Sebatik dari sini”.


Risda tampak mendelik terkesan. “Terlihat dari sini ?”.


Patrik mengangguk. “Bahkan kalau Bu Guru tahan gelombangnya, kita bisa kesana dengan perahu ini, nggak jauh kok Bu”.


Risda geleng kepala. “Patrik ada ada saja”.


“Saya serius Bu Guru”.


Risda kembali geleng kepala. “Nanti saja Rik, tapi katanya mau mancing”.


Patrik tertawa kecil. “Iya juga Bu Guru”.


Risda hanya tertawa kecil, bagaimana mereka bisa mencapai pulau dengan perahu yang begini kecil, Risda begidik membayangkannya, bagi mereka warga lokal, tentu itu bukan masalah, jikapun terjadi apa apa, mereka bisa berenang dengan baik, bagaimana dengan Risda, ah, tidak, itu tidak penting.


“Di Sebatik ada namanya Pantai Batu Lamampu dan Pantai Kayu Angin. Sangat bagus pantainya Bu Guru”.


Risda melirik Patrik. “Pulau apa Rik ?”.


“Pantai Batu Lamampu dan Pantai Kayu Angin Bu Guru”.


Risda menggeleng. “Saya baru pertama dengar nama itu Rik, serius”.

__ADS_1


“Bagus Bu Guru pantainya, garis pantai panjang, sejauh 3 kilometer. Pasirnya coklat, bersih, enak disusuri berjalan kaki atau dengan motor”.


Risda hanya tersenyum, tapi rasanya mulai tertarik dengan ceritaPatrik, Risda termasuk orang yang suka dengan pantai, ia dengan ibunya sering jalan berdua menuju pantai Teluk Jakarta, disana juga Risda sering melihat orang memancing, bahkan ia dan ibunya punya kenalan dan akhirnya sering bertemu disana.


Namanya Pak Ridwan, sudah separuh tua, mungkin hampir 15 tahun diatas usia ibunya, tapi istri Pak Ridwan yang bernama Bu Laily masih sangat muda, sebaliknya, bisa jadi ada 10 tahun dibawah ibu. Pak Ridwan seorang dosen, dan istrinya merupakan mahasiswinya.


Pasangan ini memiliki hobby yang sama, memancing. Disitulah Risda ikut belajar memancing bersama Bu Laily, sakin seringnya mereka bertemu, Bu Laily kadang malah menelphon jika tidak menemukan Risda dan Ibunya saat sampai di pantai.


“Pantai itu termasuk pantai pavorit disini Bu Guru”.


Risda tersentak dari lamunannya. “Ada akses kesana kalau begitu”.


Patrik mengangguk. “Dari Ibu Kota Kabupaten Nunukan hanya butuh waktu kurang lebih satu jam dengan menggunakan kapal feri”.


Risda melirik Patrik. ”Kapal Feri ?”.


Patrik mengangguk. “Iya Bu Guru, ada kapal feri yang punya jadwal menyeberang ke Sebatik”.


“Kok dinamakan Pantai Kayu Angin Rik ?”.


Risda menganggukkan kepala. “Cemara dinamakan kayu angin ?”.


Patrik kembali tertawa. “Iya Bu Guru, orang sini bilang begitu. Tapi, sayangnya, abrasi pantai banyak merusak pohon kayu angin itu”.


“Ombak maksudnya ?”.


Patrik angguk kepala lagi. “Iya Bu Guru, pohon pohon Kayu Angin banyak yang tumbang dan menghilan, sekarang kalau tidak salah, hanya tersisa satu baris saja”.


Risda angguk angguk kepala. Itu memang selalu menjadi dilema di pantai, kerasnya hempasan ombak banyak merusak keindahan pantai, tapi saat ini ada banyak teori yang bisa dilakukan pemerintah, misalnya menyusun batu besar menjorok ke laut, ini ternyata cukup ampuh melemahkan ombak.


“Itu berbatasan langsung dengan Malaysia kan Rik ?”.


Patrik angguk kepala lagi. “Iya Bu Guru, dengan Kota Tawau”.

__ADS_1


“Kota Tawau”.


“Benar Bu Guru, bahkan kalau dari sana lebih dekat”.


“Dekat bagaimana ?”.


Patrik tersenyum renyah. “Iya Bu Guru, kalau dari Kota Tawau ke Sebatik naik speed board hanya butuh waktu 30 menit saja”.


Pantai masih cukup jauh, tapi sudah terlihat. Patrik menambatkan perahu di salah satu bakau di pinggir sungai, kegiatan memancing di mulai. Asrul bahkan tampak menjadi orang yang paling semangat, terutama karena baru kali ini Asrul memancing dengan menggunakan joran tradisional yang terbuat dari bambu itu.


Dan ternyata semangat Asrul terjawab dengan baik, mata pancing yang dipegang Asrul mendapat sambaran paling pertama, Asrul tampak sangat gembira saat berhasil mendaratkan seekor Baramundi yang menyambar pancingnya, tapi kening Asrul berkerut saat Samuel meminta Asrul melepaskannya.


“Kenapa Sam ?”.


Samuel menggeleng. “Itu masih terlalu kecil Pak Guru”.


Asrul mendelik. “Ini kecil ?”.


Samuel mengangguk, Asrul jadi heran sendiri, menurutnya ini sudah besar, sudah hampir satu kilogram, tapi katanya masih kecil. Asrul geleng kepala saja dan melepaskan ikannya walau dengan rasa kesal yang lumayan.


Tapi detik kemudian Asrul menjadi tercengang setelah mendengar teriakan Risda, mata Asrul membulat saat melihat apa yang diangkat Patrik dari mata pancing Risda, seekor Baramundi yang lebih tiga kali lipat dari ikan yang baru di lepasnya, Asrul tepuk jidat.


Tak sampai dua jam, semuanya bergegas membereskan peralatan masing masing, Patrik sudah menghidupkan mesin dan memutar haluan, mereka pulang cepat karena Patrik tak mau sampai di kampungnya hari sudah gelap, yang terpikir oleh Patrik adalah Asrul, yang masih harus berjalan ke kampung sebelah, karena ia tinggal disana, itu melewati hutan, walaupun sedikit, tapi jika gelap, pasti akan seram.


Lagi pula, hasil tangkapan juga sudah cukup menjanjikan, sudah ada lima ekor Baramundi ukuran cukup, artinya masing masing mereka sudah bisa membawa pulang satu ekor, itu sudah cukup.


Perjalanan pulang tampak melambat, itu karena perahu melawan arus, Risda yang kembali duduk di dekat Patrik yang mengemudi kembali memandang ke arah pantai, di ujung sana, tampak ada bangunan, walau kecil masih sangat terlihat.


“Itu sudah Malaysia ya Rik ?”.


Patrik mengangguk. “Iya Bu Guru, itu Kota Tawau”.


Risda anggukkan kepala, ada yang teramat kontras rasanya, Malaysia yang tampak sangat berkembang di wilayah perbatasan berbanding terbalik dengan negaranya. Di sini wilayah perbatasan sangat memprihatinkan, bahkan itulah yang membuat mereka melangkahkan kaki kemari, karena kurangnya tenaga.

__ADS_1


Risda tampak mendesah resah, apapun alasannya, seharusnya ke depan pemerintah harus memberikan fokus lebih kepada daerah perbatasan, keadaan perbatasan sangat membutuhkan sentuhan, dari banyak bidang, paling utama infrastruktur, Risda hanya bisa membatin dengan harapan.


…. Bersambung …


__ADS_2