Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Separuh Hidupku Hilang


__ADS_3

Lufti sudah menyelesaikan semua prosedur untuk jenazah Natalia. Kesimpulan juga sudah diambil, jenazah di semayamkan di rumah kediaman Agung, walau ini menjadi pertanyaan panjang Lufti mengingat Natalia memiliki keyakinan yang berbeda dengan mereka, tapi Agung menepisnya. Lufti pasrah dan mengikuti semua arahan yang di simpulkan Agung.


Semua anggota keluarga juga tak ada yang keberatan, setelah Risda sadar penuh, semuanya kembali ke rumah mengiringi jenazah Natalia. Di rumah yang menunggu hanya ada Widya, karena widya tak tahu bagaimana konsepnya, ia meminta teman gurunya yang seagama dengan Natalia untuk menyiapkan penyambutan jenazah.


Rekan rekan Widya ini walau awalnya bingung, tapi akhirnya mengerjakan apa yang Widya minta setelah mendengar penjelasan siapa yang meninggal dan siapa pemilik rumah ini. Seorang pendeta yang tadi di telephon Widya juga sudah datang, sang pendeta yang bermarga batak ini tak harus tanya tanya, karena ia kenal betul dengan Agung, tahu dimana rumah Agung.


Sudah puluhan kali Mahdan menelephon Haris, tapi tak masuk. Itu artinya Haris sedang berada di pesawat, akhirnya Mahdan hanya mengirim pesan, dengan harapan, turun dari pesawat, Haris aktifkan ponsel, dia bisa membaca pesan Mahdan agar langsung ke rumah, tidak ke rumah sakit lagi.


Jenazah sudah sampai, teman teman Natalia juga sudah berada disana, semua menangis begitu melihat jenazah Natalia, kidung pujian langsung menggema di rumah Agung. Awalnya banyak tetangga yang heran, tapi setelah tahu, semuanya malah melontarkan pujian terhadap keluarga Agung.


Para tetangga tahu bagaimana kehidupan keluarga ini yang cukup alim, semua anak dan menantu perempuannya pakai hijab. Tapi penghormatan mereka kepada sang besan itu patut diberikan pujian, apa yang terjadi sekarang di rumah Agung adalah bukti kecintaan mereka pada Natalia, semua saling sambut cerita, salut dan bangga dengan sikap yang diambil keluarga Agung.


“Kenapa di bawa kesini, kenapa nggak di rumahnya saja, kan beda agama”. Tanya tetangga ke tetangga yang lain.


“Bu Lia itu tinggal sendiri, kalau disana bagaimana ngurusnya. Dokter Meeta kan besannya, Bu Lia itu ibunya Risda, istrinya Asrul. Mereka menyanyangi Bu Lia sepenuhnya. Ya, prosesnya kan harus dengan agamanya Bu Lia, soal tempat apa masalahnya”.


Semuanya sama anggukkan kepala. Ada banyak tetangga yang tahu cerita tentang Risda dan Natalia menyambung cerita, ini membuat semuanya kembali anggukkan kepala dan kembali melontarkan pujian pada keluarga besar Agung, sesuatu yang belum tentu bisa dilakukan setiap orang.


Haris yang baru turun dari pesawat langsung aktifkan ponsel, mata Haris terbeliak membaca pesan Mahdan yang memintanya langsung ke rumah. Ini tentu menimbulkan tanya besar di hati Haris, kecurigaannya langsung membuat denyut jantung Haris menguat, Haris langsung menghubungi Mahdan.


Hanya ukuran detik Mahdan angkat telephon, belum lagi Mahdan bicara, Haris sudah paham sekarang. Mendengar nyanyian dari ponsel Mahdan membuat Haris tahu apa yang sudah terjadi, Haris langsung terduduk.


“Paman sudah sampai ?”.


Haris sudah terisak. “Paman masih di bandara Dan”.


“Okey … okey .. Paman disana saja, tunggu saja, Mahdan jemput”.


Haris tak menjawab lagi, ponsel juga sudah terputus. Mutia langsung berikan kunci kontak mobil ke Mahdan, Mutia mendengar obrolan Mahdan dengan Haris, Mahdan ambil kunci dan segera menuju mobil dan langsung tancap gas menuju bandara, Mahdan tak mau terjadi apa apa, maka sebaiknya jemput saja, tak baik membiarkan Haris datang sendiri.


Haris terisak di bangku ruang tunggu kedatangan. Haris tak peduli dengan lirikan banyak orang yang heran melihatnya menangis sendirian di bandara. Tapi Haris tak kuat, ia tak mampu menahan air matanya. Menyesal kenapa tidak datang lebih cepat, sehingga masih bisa bertemu adiknya.


Tapi semuanya sudah tinggal sesal yang tak berguna, Natalia sudah tak ada. Kini hanya tinggal jenazahnya saja. Haris benar benar terpukul, semangat hidupnya langsung ciut, ini benar benar membuat Haris kehilangan tenaga, semua rasanya kosong, Haris juga tak bisa membayangkan bagaimana kondisi putrinya Risda.


Mahdan sudah sampai, ia menemukan Haris dan menarik tangan Haris yang berdiri lemah, berjalan begitu pelan untuk mencapai mobil. Mahdan sudah yakin dengan kondisi ini, itu pula yang membuat Mahdan bersikeras menjemput. Begitu keduanya naik, Mahdan langsung tancap gas.


“Separuh hidupku hilang Dan. Keinginan untuk hidup lama jadi berkurang”.


Mahdan menggeleng. “Paman masih punya Kak Risda, Bang Asrul, masih punya Dahrul, punya saya, Mutia, Reni, Iskandar, Farhan, Faridha, Tomy. Paman juga punya Aditya dan Arvia, hidup Paman harus panjang untuk melihat semuanya”.


Haris menunduk dan kembali terisak, tapi Haris juga mengangguk pelan, apa yang dikatakan Mahdan sepenuhnya benar, ia punya nama nama itu, nama nama yang selama ini mengisi hidupnya, Haris memang tak hanya dekat dengan Asrul, tapi juga yang lainnya, hanya Farhan, Mahdan dan Tomy yang memanggilnya Paman, sedang yang lain nyaman dengan panggilan ayah.


“Bibimu Dan”.


Mahdan menggeleng. “Semuanya terlalu cepat Paman. Bibi Lia dibawa pihak sekolah ke rumah sakit karena pingsan, Mutia dan Mama sempat berbincang dengan Bibi saat Bibi sadar beberapa saat. Tapi kemudian drop lagi, hingga bibi pergi”.


“Tidak ada info sebelumnya Dan ?”.


Mahdan menggeleng. “Tak ada Paman, dua hari yang lalu, saya dan Mutia masih ke rumah Bibi Lia, bibi sehat sehat saja, bercanda seperti biasanya. Tapi memang ada yang aneh, dan itu baru Mahdan rasakan sekarang”.


Haris melirik sebentar. “Kenapa Dan ?”.

__ADS_1


“Bibi bilang pengen tidur bersama Arvia, bibi bilang rindu ke Arvia dan kesal kenapa kami tak bawa Arvia. Paman tahu tadi Arvia bagaimana ?”.


“Memang kenapa Dan ?”.


Mahdan buang nafas berat. “Arvia tak mau beranjak dari kaca, ia terus memandangi Bibi Lia dari jauh. Tiba tiba Arvia mengangis, kami semua mendiamkan, tapi Arvia benar benar tak mau diam. Sesaat kemudian dokter Hisyam keluar dan katakan Bibi sudah pergi”.


Haris tampak tercenung. “Via merasakan kepergian neneknya ?”.


Mahdan anggukkan kepala. “Mahdan yakin, saat Via menangis, disitulah bibi pergi”.


Haris menggeleng. “Arvia … dia begitu dekat dengan neneknya, Natalia juga sangat sayang ke Arvia, kita semua tahu itu”.


Risda langsung memeluk ayahnya dan kembali mengangis tersedu saat Haris sampai, Haris juga tak kuasa membendung tangisannya, ia tak menyangka adiknya akan pergi secepat ini, Haris memandangi wajah Natalia yang sudah memucat, tak ada yang bisa Haris katakan, hatinya benar benar hancur lebur, Haris memeluk Dahrul dan Aditya yang datang ke pangkuannya, terus dengan tangisannya.


Semalaman Haris tak bisa tidur, ia terus memandangi wajah adiknya Natalia, Haris tak tahu apakah selama hidupnya Natalia sudah lebih banyak merasakan bahagia atau lebih banyak di hantam duka. Haris hanya bisa semaksimal mungkin membuat Natalia tertawa, tapi itu bagi Haris sama sekali tak cukup sebanding dengan 22 tahun deritanya bersama Risda.


Hingga pemberangkatan jenazah dan penguburan selesai, Haris belum bisa kurangi dukanya, ini yang membuat Haris tetap bertahan di depan kubur Natalia yang berdampingan dengan kuburan ibu mereka, Margaretha. Haris duduk bersimpuh dan terus memuaskan tangisnya, hati Haris benar benar hancur berkeping.


Mahdan meminta yang lain balik duluan saja, biar Mahdan yang menunggu Haris selesai dengan tangisannya. Yang lain setuju dan bergerak meninggalkan pemakaman, Mahdan kini duduk tak jauh di samping Haris.


Mahdan hanya diam, dia mencoba memahami perasan Haris, apapun itu, Mahdan yakin sakit sekali kehilangan adik yang kita cintai, apalagi model begini, dimana Haris punya kisah kelam dengan adiknya sebndiri, tentu dukanya lebih menggores.


“Kenapa nggak pulang Dan ?”.


Mahdan menggeleng. “Nanti paman sama siapa ?”.


Haris ikut menggeleng. “Paman bisa sendiri Dan”.


Haris terdiam, menghela nafas sangat dalam. Haris tahu bagaimana Mahdan, pengacara muda ini memang menantu Agung yang paling dekat dengan Haris, mereka sering sharing dan berdiskusi, Haris banyak mendapat masukan dari Mahdan dan sebaliknya juga, Mahdan banyak sepakat dengan pendapat Haris.


Suasana rumah benar benar kehilangan aroma meriah, Dahrul dan Aditya bahkan tampak ikut dirundung kesedihan, kebiasaan mereka yang seenaknya bermain bola dan main perang perangan seperti kehilangan minat, keduanya sama sama memilih duduk merenung disamping Haris yang masih dilamun luka.


Semua sama sama setengah berlari menuju kamar Farhan mendengar Faridha yang tiba tiba menangis keras, Meeta dan Mutia bahkan tabrakan dipintu sakin sama sama terburu burunya, Ariana langsung pucat saat memegang kaki keponakannya yang teramat panas, Mutia langsung mengangkat Arvia dan membawanya ke kamarnya diikuti oleh semua yang tadi ikut berlari.


Mahdan menggeleng saat memegang kening Arvia yang sangat panas, ini yang tadi Mahdan takutkan, mengikuti rangkaian kejadian beberapa hari ini, terutama saat Arvia yang tak mau beranjak dari memandangi Natalia, walau itu bak mitos, tapi Mahdan yakin ada hubungan dengan itu, batin Arvia mungkin terluka, itu yang membuat putri kecil Farhan ini menjadi demam tinggi.


Mutia dokter spesialis anak, jadi bukan masalah besar menghadapi yang seperti ini, Mutia tetap tenang karena memang selalu membawa perlengkapannya pulang ke rumah, Mutia jaga jaga yang seperti ini, sehingga saat terjadi begini, Mutia tidak kerepotan untuk melakukan pertolongan.


“Kak, Via kenapa Kak ?”. Faridha masih terus menangis.


Mutia mengelus bahu Faridha. “Udah anggak apa apa, tenang saja, nggak apa apa. Bentar lagi turun ini Dha, jangan malah buat Via jadi takut”.


Faridha angguk kepala, tapi terus mengelus kening Arvia. Rasa takutnya benar benar tinggi, Faridha membayangkan materi mata kuliahnya tentang anak yang demam tinggi, pikiran Faridha langsung mengarah kesana, sehingga pikirannya langsung kacau, apalagi Farhan tak terlihat sama sekali.


Semuanya sama menggeleng dan memilih beranjak keluar saat Faridha memasang wajah manyun tingkat tinggi begitu Farhan dan Tomy muncul. Tomy yang baru sampai dengan Farhan bahkan tak sempat menyentuh Arvia, Tomy ikut berbalik mengikuti tarikan tangan Iskandar.


“Jangan ganggu, ada peluang Perang Dunia Ketiga”. Ungkap Iskandar.


Tomy menggeleng. “Abang ada saja”.


Reni langsung mencubit perut Iskandar yang langsung meringis, Meeta, Agung dan Haris sama menggeleng, tapi ketiganya sama dengan Asrul, Risda, Mahdan dan Mutia yang akhirnya tertawa kecil, masuk akal juga apa kata Iskandar, apalagi melihat betapa manyunnya Faridha saat melihat wajah Farhan.

__ADS_1


Semuanya memilih kembali duduk di ruang tengah, persis di depan kamar Mutia, Reni dan Tomy, semuanya hanya bisa menunggu apa yang terjadi, tapi tampaknya semua menjadi tenang karena tak ada terdengar keributan apapun dari dalam kamar Mutia yang kini hanya di tinggal Farhan, Faridha dan Arvia tentunya.


Hanya berjarak tak sampai 20 menit, semua mata memandang ke arah Farhan yang sekarang menggendong Arvia yang sudah tertidur, di belakang Farhan, Faridha ikut melangkah, tangan Faridha memegangi pakaian Farhan, keduanya berjalan santai saja, tak menegur siapapun, keduanya kemudian menghilang masuk ke kamar mereka, semuanya saling pandang dan sama sama tersenyum.


Agung menggeleng. “Yang satu baru 20 tahun, yang satunya baru 19 tahun, sudah punya anak. Untung masih aman aman saja, nggak ada potensi perang dunia III”. Agung menggeleng lagi sambil tepuk jidat.


“Abang mau mereka tengkar ?, gitu Bang ?”. Sengit Meeta.


Agung menggeleng. “Bukan begitu. Maksudnya salut juga, masih muda muda begitu sudah bisa saling mengerti, nggak mau ribut ribut begitu”.


Meeta menggeleng, tapi memang apa yang dikatakan Agung banyak benarnya, semuda itu, Farhan dan Faridha masuk dalam kategori keluarga yang adem anyem, sebesar apapun rajukan Faridha, tapi belum pernah sampai marah marah, Farhan juga bisa mengimbangi manja istrinya, sejak menikah, Farhan memang menjadi jauh lebih dewasa dari usianya.


Meeta kemudian memandangi anak anak dan menantunya, Meeta sangat bersyukur bisa punya anak dan menantu yang baik baik, tenang dan tidak suka keributan. Yang paling dewasa tentunya Asrul dan Mahdan, padahal dari segi usia Mahdan berada di bawah Mutia, hampir imbang dengan Reni dan Iskandar, tapi pola pikir dan gaya Mahdan bahkan seimbang dengan Asrul.


Mahdan sangat sesuai dengan Mutia yang juga sangat tenang dalam mengambil sikap, kadang Meeta sadar, kalau cara Mutia dalam beberapa hal jauh lebih tenang darinya, bukan karena Mutia seorang spesialis anak, tapi memang sudah begitu sejak masih SMP, tidak pernah terburu buru, mampu mengelola emosi dengan baik.


Berbanding terbalik dengan Reni yang mau meledak tiba tiba, mudah emosi dan bisa tepancing. Tapi Reni takluk di tangan Iskandar yang super ceria, suka bercanda dan siap melakukan apa saja, memiliki kepedulian yang tinggi, tidak segan segan, itu semua membuat Reni bisa diredam dengan baik.


“Kek. Nenek nggak balik balik lagi ya, kemana ?”.


Haris tercenung mendengar pertanyaan Aditya. “Nenek perginya jauh”.


Semua jadi sedikit menggeleng, tak ada yang menyangka Aditya tiba tiba bertanya begitu, tapi kemudian semua senyum tipis dengan gelengan yang lumayan panjang saat Dahrul maju memberikan penjelasan. Walau penjelasan Dahrul tidak begitu lengkap, tapi tampaknya Aditya magut magut seperti mengerti.


Haris dan Agung saling pandang dan sama sama tersenyum simpul. Keduanya senang melihat gaya Dahrul yang memberikan penjelasan, anak usia enam tahun mampu menjawab tanya aneh adiknya yang berusia empat tahun membuat dua kakek ini sumringah, itu potensi Dahrul, memiliki kemampuan seperti ayahnya, tenang dan jelas memberikan jawaban.


Mahdan yang tadi ingin memberi penjelasan ke Aditya sekarang memilih diam, senyum saja mendengar penjelasan Dahrul pada adiknya. Mahdan senyum karena sama dengan pikiran ayah mertuanya, Mahdan menemukan kelebihan Dahrul dalam hal ini, Dahrul mewarisi ketenangan dan ketegasan ayahnya.


Ariana berdiri dan melangkah menuju kamar Farhan, Ariana ingin mengetahui bagaimana keadaan ponakannya Arvia. Tapi Ariana hanya sampai mengintip saja, langsung mundur dan kembali mengunci pintu. Reni yang melihat Ariana tak jadi masuk anggukkan kepala saat Ariana menatapnya.


“Kenapa Riana nggak jadi masuk ?”.


Ariana menggeleng. “Teletubies Kak”.


Semua sama tertawa, mengerti apa yang dikatakan Ariana, maksudnya berarti Farhan dan Faridha sedang berpelukan. Meeta menggeleng, malah berdiri dan memastikan, Meeta benar benar menggeleng. Arvia masih tertidur, Faridha tidur menghadap Arvia, Farhan tidur juga, Farhan menghadap Arvia juga, berada di belakang Faridha, tidur dengan memeluk sang istri dari belakang.


Reni ikut berdiri, tapi duduk lagi saat Iskandar menarik tangan Reni. “Adek mau ngapain ?”.


“Mau melihat Arvia”.


Iskandar menggeleng. “Ngapain ?”.


“Mau lihat aja”.


“Teletubies”.


“Apaan ?”. Reni merengut sedikit.


Kali ini ketawa semuanya sedikit lebih lebar. Reni juga nggak jadi pergi, Meeta juga sudah kembali duduk. Ariana sudah beranjak keluar rumah dengan membawa Dahrul dan Aditya, nggak ada yang tahu ketiganya kemana, Ariana juga nggak minta kunci apapun, tak minta kunci mobil atau motor, sehingga semua yakin, ketiganya tetap berada di komplek rumah, mungkin ke taman.


…. Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2