
Hampir sore juga baru Fadli dan keluarganya sampai ke rumah anak sulungnya Usman, adik Usman Feby yang masih SD dan Deasy yang SMP langsung berlari masuk, Fadli, istrinya Risna dan adik Usman lannya Lukman hanya berjalan perlahan biasa saja, tampak tak buru buru sama sekali.
Deasy langsung menuju keponakannya, keributan yang dibuat keduanya membuat Risda dan Faridha terbangun. Setelah mencium keponakannya berulang kali, Deasy langsung memeluk Risda dan menyalami Faridha. Deasy belum kenal dengan Faridha, sehingga hanya menebak saja.
Keributan diluar membuat Faridha melangkah ke arah suara, Faridha langsung menggeleng, Feby sudah berada di atas tubuh Farhan dan menggoyang goyang kepala Farhan hingga terjaga, melihat Feby, Farhan langsung memeluk membuat Feby jadi terlentang, Farhan mencium pipi Feby yang terus tertawa riang, Faridha senyum lebar melihatnya, ikut gembira dengan riangnya Feby ketemu Farhan.
Saat Asrul bangun, ia ikut menggelitik Feby, ini membuat Feby beralih memeluk Asrul. Anak bungsu itu tampak sangat gembira melihat abang abangnya, satu setuasi yang tak hanya membuat Faridha tertawa, tapi juga semua yang ikut melihat, Fadli tahu bagaimana Feby pada Farhan dan Asrul, tak jauh beda dengan sepupunya yang lain, bedanya memang, dengan Asrul dan Farhan mereka jarang ketemu, hanya lewat video call saja selama ini.
Asrul dan Farhan langsung berdiri saat melihat Fadli, Risna dan Lukman. Feby masih memeluk Asrul, sehingga saat Asrul berdiri, Feby berada dalam gendongannya, untung Feby lumayan mungil, padahal tahun ini akan masuk SD, sehingga Asrul tak merasa berat sama sekali.
Asrul dan Farhan menyalami Fadli, Risna dan Lukman. Kemudian memperkenalkan Haris dan Natalia, Farhan mengenalkan Faridha yang juga langsung menyalami semuanya lengkap dengan senyuman termanisnya. Fadli juga senyum merekah, melihat Faridha, Fadli mengakui apa yang dikatakan kakaknya, kalau calon menantunya memang cantik luar biasa.
“Hei, sudah besar masih juga di gendong”. Fadli mencolek putrinya Feby.
Feby tak mau turun, bahkan lebih mengeratkan pelukannya ke Asrul. Ini membuat Asrul melemparkan senyum. “Nggak apa apa Tulang, aman itu, iya kan Feb ?”.
Feby anggukkan kepala. “Abang Rul kan kuat Yah”.
Fadli hanya geleng kepala. Risna juga melakukan hal yang sama, keduanya langsung masuk kamar, membelai kepala menantunya. Risna lengkap dengan pelukan dan ciuman gemasnya, kemudian sama sama beralih ke sang cucu, bergantian Risna dan Fadli menggendong dan menciumi cucunya, sehingga membuat sang bayi jadi membuka matanya, tentu membuat keduanya tambah senang.
Kini Deasy sudah memeluk Faridha, tentu Faridha juga melakukan hal yang sama, senang melihat sepupu Farhan yang begitu cepat akrab dengannya. Feby sudah turun dari gendongan Asrul, ikut juga memeluk Faridha dan sekarang Feby sudah duduk manja di pangkuan Risda.
Rasa senang langsung menyambar Risda tentunya, padahal ini pertemuan langsung kedua mereka, pertemuan pertama juga bisa nggak masuk hitungan, waktu hari pernikahan mereka, waktu itu Feby masih 4 tahun, tapi faktanya sekarang Feby sudah menunjukkan manjanya, mungkin karena sudah terbiasa melihat wajah Risda lewat video call yang mereka lakukan rutin sekali seminggu.
Fadli dan para lelaki sudah terlibat obrolan serius di ruang tengah, semua duduk bersandar ke dinding, Risna tentu tak akan bisa jauh dari cucunya, bayi kecil yang sedang terbangun itu terus menjadi bahan tertawaan semuanya, hanya pergerakan kecil saja sudah tampak lucu bagi semuanya, Risna benar benar larut, ternyata punya cucu itu menyenangkan sekali.
“Seharusnya kita pernah jumpa lho Bang”. Celutuk Fadli ke Haris.
Haris anggukkan kepala. “Iya juga kan ?. waktu Asrul nikah dengan Risda kemarin, Fadli datang kan ?, tapi kok saya nggak ingat, malah kemarin enak saja ngaku nggak kenal sama Fadli”. Haris malah tertawa sekarang.
Fadli juga ikut tertawa. “Aku juga lupa lah Bang. Mungkin karena kemarin itu, kita nggak banyak ketemunya, saya juga langsung pulang malamnya”.
Keduanya sama sama tertawa, pada nyatanya memang begitu, seharusnya mereka sudah pernah ketemu, tapi keduanya sama sama tak ingat, karena mungkin memang begitu kondisinya, Fadli yang waktu itu tak banyak waktu, anaknya yang ikut Cuma Feby, karena nenek menantunya Nadia baru meninggal dunia.
“Bang Lukman sudah mau selesai kan Bang ?”. Farhan yang nanya yang membuat topik jadi beralih.
Lukman anggukkan kepala. “Hampirlah Far, sudah mengajukan judul ini, Reni juga sudah ajukan judul kan ?”.
Farhan angguk kepala juga. “Iya Bang. Sepertinya sudah. Nggak langsung ambil S2 nanti Bang ?”.
Lukman menggeleng. “Niat sih Far, tapi Abang nggak bisa. Soalnya Abang sudah dapat kontrak kerja Far, mana bisa”.
Farhan mendelik. “Abang lulus yang kemarin ?”.
Lukman anggukkan kepala. “Alhamdulillah Far”.
“Dimana Bang ?”.
“Untuk Training Abang di tempatkan di Batam dulu, tapi itu Cuma enam bulan saja nanti, kalau untuk tempat tugasnya abang kebagian di Sabang Far, Aceh”.
Farhan angguk angguk kepala. “Padahal abang tamatnya masih satu tahun lagi ya Bang. Perusahaan mau begitu ?”.
Lukman anggukkan kepala. “Sama dengan Reni Far. Kita kan sekarang tinggal satu semester lagi, setelah itu magang dan nyusun skripsi saja, tinggal semester ini saja yang ada pertemuan, sesudah itu kan nggak ada pertemuan lagi, jadi mulai semester depan, Januari lah itu ya, kita sudah bisa banyak gerak”.
__ADS_1
Tak hanya Farhan, yang lain juga sama sama anggukkan kepala, Haris tampak sangat kagum pada Lukman, sudah mengantongi kontrak kerja saat masih Semester VII bukan hal yang mudah dilakukan, itu didapat juga bukan secara kebetulan tentunya, pasti karena kemampuan yang memang teruji.
Cerita berlanjut, Haris yang kemudian jadi kepikiran. Tampaknya anak anak Meeta dan Fadli berada di usia yang hampir sama, saat Haris menanyakan ini, Fadli tertawa dan angguk kepala, memang ada yang unik antara anak anaknya dengan para ponakannya dari kakaknya Meeta, beda hanya di Asrul dan Feby saja.
“Memang ada yang unik itu Paman”. Jelas Usman. “Tahun lahir saya sama dengan Mutia, tapi saya lebih dulu 6 bulan, saya Februari, Mutia Agustus”.
“Mutia se usia denganmu Man ?”.
Usman anggukkan kepala. “Sama Paman, sudah 26 kami, Bang Asrul kan 28 sekarang, iya kan Bang ?”.
Asrul angguk kepala. “Iya Yah, Mutia sudah cukup umur itu”.
“Spesialisnya sudah selesai Bang Rul ?”.
Asrul menggeleng. “Belum Man. Tapi tahun ini kayaknya selesai dia”.
Usman kembali anggukkan kepala. “Tahun lahir Lukman sama dengan Reni, Lukman lebih tua 2 bulan, dibawah Lukman ada almarhum Fauzi, lahir di tahun yang sama dengan Farhan, tapi Fauzi lebih tua 5 bulan. Deasy lahir di tahun yang sama dengan Ariana, yang ini Ariana lebih tua 3 bulan. Beda Cuma itu Paman, disana ada Bang Asrul, disini ada Feby”.
Haris senyum tipis, dugaannya ternyata benar. “Almarhum Fauzi ?”.
“Fauzi meninggal masih kecil Paman, masih bayi, meninggal belum genap setahun”. Lukman yang menjawab. “Deman tinggi dia”.
“Yang jaraknya jauh Feby berarti ya Bang ?”. Faridha ikut menyela.
Usman tertawa. “Kalau kata orang disini anak kejepit”.
Semua ikut tertawa, tapi Faridha mengerutkan keningnya. “Maksudnya Bang ?”.
Faridha jadi ikut tertawa kecil, mengingat ingat, banyak memang yang seperti itu, merasa sudah nggak ada lagi, eh tiba tiba sang ibu hamil lagi, Faridha tahu ada beberapa orang yang dikenalnya begitu, bahkan ada karena kakaknya sudah besar dan sang ibu sudah cukup tua, menjadi malu karena hamil lagi. Tapi terang, baru sekarang Faridha tahu kalau itu namanya anak kejepit.
“Jaraknya jauh itu Dha. Deasy sekarang sama dengan Ariana sudah kelas IX SMP, sedang Feby baru tahun ini masuk SD. Berapa tahun itu, sembilan tahun juga itu”. Jelas Lukman sambil tertawa.
Cerita bertambah panjang, atas saran Fadli, sebaiknya Haris dan keluarga berkunjung ke Kota Tua Barus, disana ada banyak hal yang bisa di lihat, Haris dan yang lain tampak tertarik, Haris langsung menghubungi Faisal, ternyata Faisal tak bisa ikut, tapi janji menyiapkan teman untuk pemandu mereka, sang pemandu akan menunggu di Barus tentunya.
“Saya pikir tak usah masak lah, lagian sudah terlambat kalau mau masak. Kita makan dimana ini Bang ?”. Fauzi anggukkan kepala ke Haris.
Haris angkat bahu. “Kemana bagusnya saja Li, terserah Fadli saja”.
Risna yang tepuk jidat. “Iya juga ya, kita enak enak saja ngobrol, nggak ada yang kepikiran masak. Menantuku gimana ?, aduh”. Risna langsung berdiri.
Semuanya saling pandang. Terlalu larut dalam kehadiran bayi Usman dan terlampau asyik ngobrol sampai tak ada satu orangpun yang ingat makanan, mau masak juga sudah kelamaan, isya sudah hampir menjelang, lagian mau belanja bahan kemana malam malam begini, semua kedai di pastikan sudah banyak yang tutup, apalagi ini Parombunan, penduduknya tidak begitu banyak, kalau mau belanja mungkin harus ke bawah, kota Aek Habil atau ke Aek Manis, lumayan juga.
Risna keluar lagi. “Man. Sebelum kita pergi beli nasi untuk Nadia dulu sana, nasinya yang panas ya, biar disini di blender saja”.
Farhan langsung tertawa. “Nantulang mau buat Jus Nasi itu mah”.
Risna tertawa juga, mendorong pelan bahu Farhan. “Mau ?”.
Farhan menggeleng. “Ogah. Masa minum jus nasi”.
Semuanya sama tertawa, Usman langsung keluar untuk membeli nasi, semuanya kembali sama sama menggeleng, bisa bisanya lupa. Fadli masih mikir mau bawa kemana, akhirnya Fadli ambil keputusan membawa semuanya ke rumah makan ikan bakar yang ada di Tapian Nauli saja, nanti pulangnya bisa mampir ke bukit Panomboman Pintu Angin.
Hanya beberapa menit saja, tak sampai setengah jam Usman sudah kembali, Risna ambil apa yang ditangan Usman dan tak lama terdengar suara blender. Farhan geleng kepala, tak menyangka ternyata Nantulangnya benar benar melakukan apa yang tadi ia katakan, ini mengundang Farhan mendatangi Nantulangnya.
__ADS_1
“Aih, Jus Nasi. Enak nih ?”. Goda Farhan.
Risna senyum dan geleng kepala. “Selera bilang Far, biar Nantulang bagi dua ini”.
Farhan tertawa. “Nggak pake susu Nantulang ?”.
Risna jadi cekikikan. “Dasar kau ya Far. Enak saja”.
“Lho, supaya enak gitu Nantulang, biasanya jus kan begitu sih”.
“Nggak ada”.
Farhan gantian yang cekikikan, berjalan mengikuti Risna menuju kamar Nadia, kedua tangan Farhan ada di bahu Risna, ini membuat yang lain ikut tertawa. Fadli terus geleng kepala, dari semua keponakannya, yang paling usil memang Farhan, tidak hanya kepada Tulangnya, kepada istri istri mereka Farhan juga sama usilnya, tapi itu membuat semuanya memiliki rasa sayang lebih ke Farhan.
Waktu Meeta membuat video call di group keluarga yang mengatakan Farhan sudah bertunangan dengan Faridha semuanya sangat heboh, terutama para Nantulang Farhan, semuanya sumringah dan meminta Meeta menunjukkan photo calonnya Farhan, dari situ Fadli tahu kalau ternyata tidak hanya istrinya saja yang punya kepedulian tinggi ke Farhan, tapi juga kakak dan adik iparnya sama saja.
Empat orang Nantulang Farhan, Fauziah, Risna, Saniah dan Citha sama hebohnya saat mengetahui pertunangan Farhan, semuanya sebenarnya malah ingin Farhan menjadi menantu mereka, tapi memang terasa kurang mungkin, semua anak yang seusia atau yang cocok dengan Farhan laki laki semua.
Di Medan di rumah Fauzan yang ada hanya Taufiq, setelah kepergian Bulan, yang tersisa hanya Taufiq, di Padang Sidimpuan sama saja, abang terbesar mereka Rohim punya empat anak, semua laki laki, sedang si bungsu Sabar anak terbesarnya memang perempuan, tapi masih dua tahun usianya.
Sebenarnya ada kemungkinan juga dengan Deasy, jarak umur mereka masih tepat, hanya empat tahun, malah termasuk jarak yang ideal, sebenarnya ukuran yang sangat sesuai, bohong kalau Fadli tak juga menginginkan itu. Tapi Fadli tak pernah berharap sampai kesana, apalagi Farhan sangat dekat dan bahkan sering bergurau dengannya, sehingga merasa sudah seperti anak sendiri, bukan keponakan lagi.
Jujur saja memang, dada Fadli cukup berdesir saat tahu Farhan tunangan, Fadli juga menangkap hal yang sama pada istrinya Risna. Tapi kemudian Fadli bisa meredam debar jantungnya, pada akhirnya tetap bahagia, apalagi setelah tahu, Faridha yang menjadi pilihan kakaknya Meeta satu marga dengan mereka, Lubis. Itu termasuk pengobat hati Risna yang cukup mujarab, begitu juga Fadli.
Awalnya ada rasa khawatir meninggalkan Nadia hanya dengan Indri, tapi semuanya langsung sumringah saat adik kandung Risna datang berkunjung lengkap dengan seluruh keluarganya. Risna langsung memberikan penjelasan, sang adik Melan dan suaminya Arman sama sama anggukkan kepala, sehingga semua berangkat dengan tenang menuju rumah makan.
Acara makan yang meriah, ini juga termasuk salahsatu daya tarik Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, wisata kuliner yang sangat menjanjikan, sajian makanan yang sangat memanjakan lidah, bahkan mereka yang tinggal disini saja masih tetap menemukan hal istimewa, apalagi mereka yang berkunjung.
Faridha sampai heran melihat Farhan yang hanya menyantap ikan bakarnya saja, hanya sedikit nasi, bahkan kepala ikan yang tak disentuh di piring Asrul, Risda dan Haris ikut disambar Farhan, ini membuat Faridha ikut menyerahkan separuh ikannya sebelum Farhan menyambarnya. Farhan hanya senyum saat Faridha meletakkan ikan ke piring Farhan, sedang yang lain hanya menggeleng, Risda bahkan menaruh punggung telapak tangannya ke kening Farhan.
“Dek, kesurupan Putri Runduk kali ya Dek”. Risda menatap heran.
“Mungkin”. Jawab Farhan singkat dan meneruskan makannya.
“Masih kurang adekku sayang ?”.
Farhan hanya menggeleng, tak bisa bicara, mulutnya masih penuh ikan. Faridha akhirnya senyum walau masih menggeleng, baru tahu kalau Farhan ternyata hantu ikan, pantang melihat ikan yang agak besar, semua mau di habiskan. Tapi bukan hanya Farhan, yang sama getolnya ada Lukman, sekarang keduanya seperti sedang kompetisi makan ikan, sedang yang lain sudah selesai.
Keduanya sama menatap dan sama senyum ke arah Risna yang mendekatkan ikan dan sayur di hadapan keduanya, posisi duduk Lukman dan Farhan yang memang saling berhadapan membuat mudah, Risna cukup menggeser makanan ke tengah tengah keduanya.
Begitu selesai kandas tak bersisa, Lukman dan Farhan sama sama minum dan sama sama duduk bersandar, kekenyangan. Semuanya sama sama menggeleng menatap dua orang saudara sepupu ini, entah siapa yang menang, yang jelas keduanya sama sama tampak susah bergerak, makanan yang masuk terlalu banyak.
Hanya Faridha yang mendelik saat melihat angka yang tertera di bill pembayaran, hanya Faridha yang tertegun dan menggeleng melihat besarnya angka yang tertera disana, sedang yang lain tampak santai santai saja, Faridha tak menyangka yang mereka makan bernilai lebih dari 2 juta rupiah.
Semuanya sama berdiri, kali ini Usman dan Fadli yang mengemudi, tak ada yang protes saat mobil malah belok kiri dan mendaki jalan yang sangat berbukit, tapi saat mobil parkir dan semuanya turun, Risda dan Faridha langsung menarik tangan Asrul dan Farhan, pemandangan yang sangat menyejukkan mata.
Dari sini, Teluk Tapian Nauli jelas terpampang, lampu lampu dari bagan nelayan penangkap ikan indah menghiasi, seakan akan Kota Sibolga itu adalah kota besar, kota yang padat penduduk jika dilihat selintas, padahal yang tampak luas itu adalah lautan, lampu lampu itu milik para nelayan untuk memancing ikan masuk ke jaring bagan mereka, nelayan pemburu ikan teri.
Haris dan yang lain tidak balik ke rumah pamannya Jamil, karena Jamil mengaku tidak usah ikut karena tidak yakin kuat mendaki, sehingga Haris memutuskan menginap di rumah Usman dan pagi pagi langsung berangkat. Fadli mengacungkan jempol tanda sepakat, walau Fadli juga tentu tak bisa ikut, mereka belum ingin meninggalkan cucunya yang baru lahir.
…. Bersambung …
__ADS_1