
Mahdan termenung lama, jelas jelas yang bakal menjadi lawan dalam kasus yang akan ia tangani ini adalah Agung, ayahnya Mutia, bolehlah dikatakan calon ayah mertua, bagaimana Mahdan bisa melakukan ini, taruhlah bicara profesional, tapi pasti akan ada benturan, Mahdan mendesah dan memandang calon kliennya.
“Bagaimana saya menjelaskannya Pak Rudi ?, agak bingung saya”.
Rudi mengerutkan keningnya. “Maksud Pak Mahdan ?”.
Mahdan kembali menggeleng. “Sebenarnya masalahnya sampai bagaimana ini Pak Rudi, bisa Pak Rudi jelaskan dengan detail”. Mahdan menggeleng lagi. “Soalnya Pak Rudi, ini …”. Mahdan tampak ragu meneruskan ungkapannya.
Kerut kening Rudi meningkat. “Ada masalah apa Pak Mahdan ?”.
Mahdan balik menggeleng dan tertawa kecut. “Ini soal Pak Agung Laksana”.
“Kenapa Pak Mahdan ?”.
Mahdan lagi lagi menggeleng, menggaruk kepala juga. “Ini calon ayah mertua saya Pak Rudi”. Akhirnya lepas juga.
Rudi jadi ikut menggeleng, lama ia memandangi Mahdan. Rudi paham dengan apa yang di rasakan Mahdan, se profesional apapun, hubungan seperti itu akan sangat mengganggu, bagaimana Mahdan mungkin melawan calon ayah mertuanya, tapi Rudi juga punya banyak alasan lain soal ini.
Sebenarnya, bisa saja Rudi beranjak ke pengacara lain, tapi ia sudah sreg dengan Mahdan, sudah banyak kasus yang ia tahu dengan mudah di menangkan Mahdan, termasuk beberapa kasus yang menimpa keluarganya, sehingga Rudi begitu yakin ingin memakai jasa Mahdan dalam kasusnya ini.
Rudi punya pemikiran lain. “Atau begini saja Pak Mahdan. Kalau Pak Mahdan menemui calon mertua bapak, menceritakan apa yang saya inginkan, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin calon ayah mertua Pak Mahdan mau menerima, jadi, kita tak perlu harus ke pengadilan segala”.
Mahdan memandang Rudi lama, anggukkan kepala. “Termasuk jalan keluar juga Pak Rudi. Sekarang, coba Pak Rudi uraikan duduk persoalannya lengkap”.
“Ini soal lahan parkir rumah sakit peninggalan ibunya Pak Agung yang sekarang di kelola istrinya dr. Meeta, dulu suratnya itu pernah dipisah oleh adiknya Pak Agung, Pak Dimas, dia menjualnya ke saya”.
“Pak Dimas ?”. Mahdan agak heran karena baru pertama dengar nama itu.
Rudi anggukkan kepala. “Iya Pak Mahdan, itu adiknya Pak Agung. Sekarang tinggal di Inggris. Masalahnya Pak Mahdan, Pak Agung menyatukan tanah itu dengan rumah sakit, saya pernah datang ke tukangnya. Tapi saya kalah Pak Mahdan, ternyata ada surat yang masih utuh, tanahnya belum dibagi”.
“Surat tanah yang sudah dibagi itu ada Pak Rudi ?”.
Rudi anggukkan kepala. “Ada Pak Mahdan, ini”.
Rudi mengeluarkan surat dari dalam tasnya, Mahdan menerima dan membaca, tentu tak bisa memberikan penjelasan, data banding tak ada. Rudi tak punya copyan surat yang katanya utuh itu.
Mahdan akhirnya hanya bisa mendesah panjang. “Maunya Pak Rudi seperti apa ?”.
Rudi ikut mendesah. “Kalau boleh, tanahnya balik ke saya, tapi kalau tak bisa, setidaknya Pak Agung mengembalikan uang yang sudah saya serahkan ke Pak Dimas, itu saja Pak Mahdan”.
“Berapa uangnya Pak Rudi ?”.
“1 Milyar Pak”.
Mahdan mendelik. “1 Milyar ?”.
Rudi anggukkan kepala. “Memang saya setornya segitu ke Pak Dimas Pak Mahdan”.
“Ada kuitansinya Pak Rudi ?”.
Rudi kembali membuka tas, ambil dan serahkan ke Mahdan. “Ini Pak Mahdan”.
Mahdan membaca, benar, disitu memang tertera angka 1 milyar, yang membubuhkan tanda tangan memang Dimas Adi Mulyo. Mahdan menghusap muka, tapi rasanya pantas untuk di coba, apa salahnya Mahdan mencoba menemui ayah kekasihnya Mutia dan mencoba melakukan negoisasi.
Mahdan anggukkan kepala. “Okeylah Pak Rud. Kita coba”.
Rudi sumringah. “Saya berharap berhasil Pak Mahdan. Kalau tidak, terpaksa saya lewat pengadilan, walau mungkin akan sulit minta bapak kawal”.
Mahdan tertawa tertahan. “Mudah mudahan selesai Pak Rudi”.
Mahdan masih tercenung panjang jauh setelah Rudi pergi. Mahdan membolak balik surat tanah dan sesekali melihat kuitansi yang terletak di meja. Mahdan membuang nafas berulang kali, menghusap muka, benar benar resah, Mahdan belum tahu harus mengambil langkah bagaimana, tapi sudah kadung janji dengan Rudi.
Mahdan meraih ponselnya, tapi kemudian memilih tepuk jidat, mana ada kontak Agung di ponselnya, yang ada cuma kontak Mutia, apakah mungkin tidak lucu meminta nomor kontak Agung ke Mutia, Mahdan makin resah. Tapi, tekadnya sudah bulat, Mahdan memberesi berkas Rudi dan keluar kantor.
Mahdan memilih langsung menuju rumah Agung, kalau disana ada, berarti bisa langsung ngobrol, kalau tidak, disana bisa meminta nomor kontaknya, menghubungi dan bertanya bisa bertemu dimana. Semua ada jalannya, pikir Mahdan yang langsung melaju, sehingga tak butuh waktu lama Mahdan sudah sampai di depan rumah keluarga Agung, rumah kekasihnya Mutia.
Mahdan turun di depan pos satpam. “Bapak ada Mas ?”.
__ADS_1
“Sudah keluar tadi Pak. Ada perlu apa Pak ?”.
Mahdan anggukkan kepala. “Ada yang mau di bicarakan Mas. Bisa minta nomor kontaknya Mas ?”.
Satpam memandang Mahdan lama, tentu dua satpam yang ada disana tak kenal Mahdan sama sekali, Mahdan baru kali ini menunjukkan muka kesini. Melihat cara memandang para satpam, Mahdan yakin mereka menaruh curiga. Mahdan senyum, punya akal, ia membuka ponselnya, membuka galeri photo, menunjukkan photo itu ke kedua satpam.
Keduanya tampak melongo, sekali melihat layar ponsel, sekali melihat wajah Mahdan, keduanya saling pandang. Tentu satpam ini bingung, photo yang di tunjukkan Mahdan adalah photo selfinya dengan Mutia, photo dengan senyum yang merekah dan tampak begitu mesra.
Belum sempat satpam ngomong apa apa, tiba tiba Farhan muncul. “Kok Abang nggak masuk Bang ?”.
“Abang nggak di kasi masuk Far”. Jawab Mahdan bergurau.
Dua satpam langsung keluar dari posnya. “Nggak ada Far, mana ada, si Abang memang nggak bilang mau masuk”. Satpam bela diri.
Mahdan hanya tertawa. “Iya, iya. Becanda tadi”.
Farhan ikut tertawa. “Gua pikir benaran, gua tabok lu pada, ngalangin masuk bakal abang ipar gua”.
Dua satpam sama sama nyengir. “Mana berani kita”.
Mahdan kembali masuk mobil saat pagar terbuka lebar, masuk ke halaman disusul Farhan. Kedua satpam saling pandang dan geleng kepala, ada kesal ada gembiranya juga, kesal karena dibuat candaan yang berbahaya, gembira karena baru tahu kalau Mutia ternyata sudah punya pacar, mereka juga sering obrolin Mutia yang sudah berumur tapi belum nikah juga.
“Ayah kemana Far ?”. Tanya Mahdan sambil menerima minuman botol yang diberikan Farhan.
Farhan angkat bahu. “Mana Farhan tahu Bang. Papa sih maunya aja, nggak jelas di mana kantornya”. Farhan melirik jam di tangannya. “Biasanya, jam begini Papa memang diluar Bang, tapi nggak tahu di belahan mana, Papa di benua mana sekarang mah, Farhan angkat tangan Bang. Nggak tahu”.
“Minta nomor kontak ayah saja Far, biar abang telephon gitu”.
Farhan buka ponselnya dan mengirimkan kontak ke ponsel Mahdan, ini juga buat Mahdan bingung, dari mana Farhan tahu nomornya. Tapi Mahdan nggak ambil pusing, paling paling dari Mutia, Mahdan langsung hubungi Agung, tapi sudah tiga kali, tiga tiganya tak diangkat.
“Biasanya kalo Papa nggak angkat gitu Bang, lagi di jalan itu, lagi nyetir. Biasanya, kalo lagi nyetir, Papa tuh nggak open sama ponselnya”.
Mahdan anggukkan kepala. “Bisa jadi begitu mungkin Far”.
Farhan tertawa kecil, angguk kepala. “Emang abang mau ngomongin apa sama Papa ?, lamar Kak Mutia ?”.
Mahdan jadi ikut tertawa. “Tapi itukan sudah sepakat Far, minggu depan”.
Mahdan anggukkan kepala. “Insha Allah Far”.
Farhan langsung tertawa lebar. “Wah, lamaran kuadrad dong ya”.
Mahdan jadi ikut tertawa, bahkan sekarang jadi geleng geleng kepala, tak menduga Farhan ngomongnya begitu, lamaran kuadrad. Tapi iya juga memang, nanti akan ada lamaran untuk dua wanita sekaligus di rumah ini, untuk Mutia dan Reni, kalau begitu yang dikatakan Farhan benar, lamaran kuadrad.
“Abang ada yang mau di omongin sama ayah Far”.
“Soal apa Bang ?”.
Mahdan hela nafas lumayan panjang. “Ini Far. Ada yang nuntut ayah”.
Farhan mendelik. “What ?, nuntut ?”.
Mahdan anggukkan kepala. “Ada yang nuntut Ayah gitu Far, masalah tanah ini”.
Farhan kembali menggelengkan kepala. “Maksudnya orang yang nuntut itu minta jasa abang gitu Bang ?”.
Mahdan anggukkan kepala. “Begitu Far. Makanya, Abang mau ngobrol ke ayah ini. Kalau ayah sepakat dengan apa yang diminta beliau itu, kan nggak harus repot ke pengadilan gitu Far”.
Farhan anggukkan kepala. “Gitu ya Bang. Masalah tanah mana niBang ?”.
“Lahan parkir Rumah Sakit Surabaya”.
Farhan lumayan mendelik, cukup terkejut juga dengan apa yang baru di katakan Mahdan. Farhan selama ini merasa kalau rumah sakit Surabaya aman aman saja, karena itu adalah peninggalan neneknya, itu rumah sakit yang sudah cukup lama, sehingga terdengar aneh jika bermasalah.
“Lahan Parkir Rumah Sakit Surabaya ?, memang kenapa Bang ?”.
“Ada yang nuntut ayah soal itu Far”.
__ADS_1
Mahdan akhirnya menceritakan duduk perkaranya dengan lengkap. Mahdan merasa, Farhan sudah cukup dewasa untuk melihat dan mendengar kondisi itu, atau mungkin mudah mudahan Farhan dapat memberikan solusi yang bagus agar persoalan ini dengan mudah dapat diselesaikan.
Farhan mendesah, tepuk jidat. “Ternyata ulah Paman Dimas belum tuntas”.
“Memangnya kenapa Far ?”.
Farhan makin menggeleng. “Entahlah Bang, ini kasus ketiga yang lahir dari tindakan Paman Dimas. Nggak ngerti kenapa si paman ini bisa begitu modelnya, bisa brengsek gitu ya, bingung saya Bang”.
Mahdan tak tahu mau jawab apa, ia tentu sama sekali tak mengerti soal Dimas, jangankan mengenalnya, mendengar namanya saja baru hari ini, bagaimana Dimas di keluarga ini Mahdan juga sudah barang tentu tak paham sama sekali.
“Paman Dimas, maksudnya ini bagaimana Far ?”.
Farhan tertawa kecil, kembali menggeleng. “Itu paman dulu di bawa kakek kemari, di sekolahin gitu Bang. Tapi lama lama ngelunjak, waktu kakek meninggal, buat ulah pula dia, ngaku ngaku adiknya ayah gitu”.
Mahdan hanya menggeleng, kurang tahu tentang Dimas, tapi dari cerita Farhan, Mahdan mulai menangkap persoalannya, Dimas tidak hanya sekedar mengaku adiknya Agung, tapi juga melakukan banyak tindakan tak benar, menguasai dan malah menjual beberapa asset milik kakeknya Farhan, Mahdan menangkap itu.
Tiba tiba Mutia dan Reni muncul, Mutia sudah heran sejak masuk pagar tadi, karena melihat mobil Mahdan ada di rumahnya, mereka pulang cepat karena diminta ibu mereka pulang lebih awal, bahkan Meeta juga mengaku akan menyusul dalam waktu yang tidak akan lama.
Mutia lebih dulu mendekat dan duduk di samping Mahdan, Reni langsung saja masuk kamar setelah bincang ringan nanya khabar dengan Mahdan. Farhan senyum simpul penuh makna, kemudian berdiri pergi, Farhan seperti mengerti saja, biarkan kakaknya berdua dengan Mahdan.
“Kok Tia pulangnya cepat ?, Reni juga, kenapa ?”.
Tia malah menggeleng, membuat kening Mahdan lumayan berkerut. “Nggak tahu Bang, Mama nyuruh pulang lebih awal, nggak tahu kenapa”.
Kening Mahdan makin berkerut. “Kok Tia nggak nanya gitu ?”.
Mutia geleng kepala. “Nggak nanya sih Bang, di minta pulang lebih awal, ya pulang saja, kenapa harus nanya nanya, yang nyuruh Mama”.
Mahdan angguk kepala saja, ia hanya ambil positifnya saja, itu artinya kekasih hatinya ini adalah anak yang patuh pada orang tua secara paripurna, semua omongan orang tua di dengar utuh tanpa ada embel embel nanya nanya, di banyak sisi ini bagus menurut Mahdan, ia suka itu.
Mahdan senyum lebar. “Iya juga kalo gitu”.
Mutia ikut tertawa. “Abang ngapain kemari ?”.
Mahdan malah jadi niat menggoda. “Entahlah, mungkin abang terlampau rindu, jadi begini, datang kesini, ke kediaman kekasih hati”.
Mutia langsung cemberut. “Gombal lagi, nggak bosan apa Bang ?”.
Mahdan senyum simpul dan menggeleng. “Nggak tuh, nggak bisa bosan kali. Akan begini sampai kita sama sama tua nanti”.
Mutia makin menggeleng. “Asal betul saja, nanti nggak”.
Mahdan makin melebarkan senyumnya. “Oh, nggak. Yang ini memang tahan lama ini Yang, benar”.
Akhirnya Mutia tertawa kecil, walau masih ada gelengan. Keduanya saling pandang dengan penuh senyuman. Kembali Mutia yang lagi lagi kalah, ia tetap menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan jika mereka bertemu pandang. Mutia tidak kuat menantang mata Mahdan.
Faktanya memang, Mutia sekarang merasa ada perubahan dalam hatinya, kadang Mutia juga heran kenapa terus kepikiran Mahdan. Bahkan sekarang jika tak ada pasien, Mutia sudah terbiasa duduk terdiam sambil merenung, yang terbayang adalah wajah Mahdan, hal yang selama ini tidak pernah Mutia alami, kata Reni itu tandanya Mutia lagi kasmaran, Mutia hanya tertawa saja mendengarnya.
Mahdan makin bingung, satu demi satu berdatangan, mulai dari calon ibu mertuanya, kemudian Risda dan Asrul, sang calon ayah mertua juga sudah muncul. Dan yang membuat Mahdan mengecilkan matanya, tak lama Iskandar dengan kedua orang tuanya juga muncul, malah ibunya juga sudah ucapkan salam.
Yang terakhir datang juga ikut terkejut melihat Mahdan ada disana, bahkan sedang asyik ngobrol dengan Mutia, padahal mereka memang sengaja tak beri tahukan hal ini ke Mahdan karena ibu Mahdan tadi malam mendengar Mahdan bertelephon dengan klien nya yang mendesak menuntaskan kasusnya hari ini.
Sehingga Ibu Mahdan tak menyampaikan rencana kunjungan mereka ke rumah keluarga Agung yang padahal sudah mereka rencanakan sejak malam sebelumnya, karena sang ibu merasa, ada urusan Mahdan yang tak bisa di wakilkan, sementara untuk kegiatan ini, tanpa Mahdan juga bisa, atau cukup dengan telephon saja, kesimpulan yang sekarang menjadi mentah, karena Mahdan bahkan lebih dulu sampai ketimbang mereka.
Mahdan masih dengan bingungnya saat semuanya berkumpul di ruang tengah, ayah Iskandar yang memulai pembicaraan, Mahdan baru tersadar sekarang, ternyata rencana kunjungan lamaran yang semestinya di rencanakan minggu depan di majukan ke hari ini, karena minggu depan dianggap terlalu lama.
Mahdan menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Mahdan terus memandangi mapnya, tujuan Mahdan tadi datang kemari adalah untuk mencoba berbincang dengan Agung soal permintaan Rudi, sekarang bolehlah dikatakan hampir hancur total, kemungkinan akan gagal besar.
Mahdan rasanya tak mungkin lagi menyampaikan hal ini dalam setuasi seperti ini, ada memang sedikit kecewa, tapi senang dan gembiranya jauh lebih banyak, ini malah sangat begitu membahagiakan, ini artinya akan mempercepat proses resminya hubungannya dengan Mutia, untuk saat ini, itulah yang paling Mahdan inginkan.
Acara bahkan sampai ke tukar cincin. Mahdan menggeleng karena ternyata ibunya sudah siapkan semuanya tanpa Mahdan ketahui, Mahdan hanya bisa mengikuti saja semua perintah yang di sampaikan, mengambil cincin pemberian ibunya dan memasangkannya ke jari manis Mutia, sama dengan apa yang dilakukan Iskandar untuk Reni, hubungan menjadi setengah resmi sekarang.
Akhinya, setelah semua rangkaian selesai, tanggal pelaksanaan akad nikah juga sudah di tetapkan, Mahdan bersama ibunya kembali pulang kerumah, tentu masih dengan senyuman yang tak lekang dari bibir masing masing, ada aroma rasa bahagia yang begitu menusuk.
Mahdan hanya mampu memandangi map berkas Rudi tanpa bisa beri komentar apapun tentang ini, sekarang nyatanya, dengan setuasi ini, masalah permohonan Rudi sontak terhenti. Entah kapan Mahdan baru berani kembali ke topik ini, Mahdan sendiri tak tahu, tanpa kesimpulan.
Kepala Mahdan sekarang malah dipenuhi senyum manis Mutia, senyuman yang membuat Mahdan begitu berbunga bunga, apa dan bagaimana nanti soal map ini, Mahdan seperti tak lagi tertarik memikirkannya, berharap semuanya berjalan begitu saja, dengan harapan ada peluang menyelesaikannya.
__ADS_1
Bayangan Mahdan sekarang sepenuhnya kini pada Mutia yang sudah meningkat status menjadi tunangannya, jalan yang tampak sebegitu bagusnya dan akan di lalui dengan semua kata bahagia. Mahdan sekarang jadi dengan mudah larut dalam hayalnya, segera menjadi suami Mutia, impian yang selama ini terlalu kuat menggoda hatinya.
…. Bersambung …